NovelToon NovelToon
Aku Ini Istrimu

Aku Ini Istrimu

Status: sedang berlangsung
Genre:KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Penyesalan Suami
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author:

Aku nggak pernah membayangkan kalau gaun putih ini bakal terasa seberat rantai besi. Menikah dengan Bara Adiwangsa bukan mimpi indah yang jadi nyata, tapi awal dari sandiwara panjang yang nggak tahu kapan selesainya.

Bara itu suamiku, tapi dia yang paling sering bikin aku merasa nggak berharga. Dia bisa bersikap manis di depan orang tuanya, lalu berubah jadi orang lain yang kasar saat dia bersamaku.

Capek? Banget. Karena suamiku mungkin berpikir dia bisa menginjak-injak harga diriku hanya karena dia merasa telah "membeliku". Dia bisa saja menatapku dengan jijik, mengacuhkanku seolah aku hanyalah pajangan mati di pojok ruangan. Dia bisa memuja masa lalunya atau mencari pelarian pada orang lain, tapi ada satu kenyataan pahit yang tidak akan pernah bisa dia hapus, sekeras apa pun dia mencoba.

"Tatap aku, Bara. Hina aku sesukamu, tapi jangan pernah lupa satu hal... Aku Ini Istrimu."

Bab 12 Kamar 027 18+

"Halo... Bara?  Kok lama banget angkatnya? Lo beneran lagi di jalan?"

Bara memejamkan mata rapat-rapat, keringat dingin mulai merembes dari pelipisnya. Tekanan jemari Maya di area sensitifnya terasa begitu geli, sementara suara Renata di seberang telepon terdengar begitu rapuh. Kontras yang gila ini membuat dadanya sesak, seolah nafasnya di kamar hotel itu mendadak habis.

"I-iya, Ren..." Bara akhirnya bersuara, namun nadanya terdengar parau dan terputus.

Maya tersenyum penuh kemenangan. Ia sengaja mendekatkan wajahnya ke leher Bara, memberikan kecupan-kecupan kecil yang basah sambil tangannya terus bergerak dengan gerakan yang semakin berani. Ia ingin melihat sejauh mana Bara bisa bertahan yang sambil menelpon istrinya di sana.

"Bara? Suara kamu kok aneh? Kamu beneran lagi nyetir, Kan?" tanya Renata di sana, nadanya mulai dipenuhi kecurigaan. Di ruang tengah rumah yang sunyi, Renata meremas ponselnya kuat-kuat, telinganya menangkap suara gesekan kain dan napas Bara yang memburu.

Bara menelan ludah dengan susah payah. Sentuhan Maya kini benar-benar membuatnya berada di ambang batas. "Iya, ini... jalanannya lagi mendaki, Ren. Aku... aku lagi fokus nyetir. Udah dulu ya, nanti aku telepon lagi kalau sudah sampai," ucap Bara dengan napas yang mulai tersengal.

Namun, Maya tidak membiarkan Bara lolos begitu saja. Tepat saat Bara hendak mengakhiri kalimatnya, Maya sengaja mengeluarkan desahan halus yang sangat tipis, nyaris seperti bisikan, tepat di dekat microphone ponsel.

"Ah... pelan-pelan, Sayang..."

"Ah..." bisik Maya namun gerakan tangannya justru semakin intens meremas milik Bara.

Bara tersentak, matanya membelalak kaget. Dengan gerakan secepat kilat, ia menyambar ponsel itu dari tangan Maya dan langsung menekan tombol merah untuk memutuskan panggilan. Napasnya memburu, jantungnya berdegup kencang.

Dalam batinnya, Semoga nggak denger... semoga nggak denger...

Di ruang tengah rumah yang sunyi, Renata menjauhkan ponsel dari telinganya. Ia menatap layar yang sudah kembali ke menu utama dengan kening berkerut.

"Lah, halo?"

"Halo, Bara?" ucapnya lirih ke arah layar yang membisu.

Renata terdiam sejenak, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. Panggilan itu terputus begitu tiba-tiba saat suaminya sedang bicara. Ia berusaha menarik napas panjang, memaksa logikanya untuk tetap berpikir jernih dan tenang agar tidak terjatuh dalam jurang kecurigaan.

"Mungkin sinyalnya tiba-tiba jelek," gumam Renata menghibur diri sendiri. "Atau baterainya habis lagi..."

Tanpa menaruh curiga lebih jauh tentang desahan tipis yang sempat mampir di telinganya... Ternyata yang di dengar Renata hanyalah suara kresek gangguan jaringan, renata meletakkan kembali ponselnya ke atas meja. Ia menyandarkan punggungnya di sofa, tidak menyadari bahwa di detik yang sama, suaminya sedang tenggelam dalam pengkhianatan yang paling dalam.

Kembali ke kamar 027.

Setelah memastikan panggilan benar-benar terputus, Bara melempar ponselnya ke ujung tempat tidur. Ketegangannya berubah menjadi gairah yang meledak-ledak saat ia menatap Maya yang sedang tertawa kecil penuh kemenangan di atas tubuhnya.

"Kamu hampir aja bikin ambyar!" geram Bara.

Maya tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru semakin menekan tubuhnya ke dada Bara, membiarkan rambut panjangnya tergerai menyapu wajah pria itu. Tangannya yang nakal kembali bekerja, kali ini lebih berani membuka kancing kemeja Bara satu per satu, memperlihatkan kulit yang mulai berkeringat karena hawa gerah, hingga keringat bercucuran.

Bara tidak bisa lagi menahan diri. Ia membalikkan posisi mereka dengan kasar hingga kini ia yang berada di atas Maya. Tatapannya gelap, penuh dengan hasrat yang sudah tidak terkendali. Ia membungkam bibir Maya dengan ciuman liar yang menuntut, sementara tangan Maya dengan sigap mulai menarik pinggang Bara agar semakin menyatu dengannya.

"Sayang... pelan-pelan," bisik Maya di sela ciuman mereka.

napasnya tersengal pendek-pendek. "Kamu... kamu.."

"Kamu yang bikin aku begini," geram Bara dengan suara rendah yang serak.

Tangannya yang gemetar karena gairah mulai menanggalkan kemejanya sendiri, membuangnya ke lantai tanpa sisa.

"Cuma kamu yang bisa bikin aku gila kayak gini. Cuma kamu."

Maya melingkarkan kakinya di pinggang Bara, menarik pria itu agar semakin menyatu dengannya. Ia mendesah halus saat merasakan kulit hangat Bara bersentuhan langsung dengan kulitnya yang sensitif.

"Ah... Bara... aku sayang banget sama kamu. Jangan pernah tinggalin aku ya?"

"Aku nggak akan ke mana-mana, Sayang. Malam ini... aku cuma milik kamu," bisik Bara tepat di telinga Maya, disusul kecupan-kecupan panas yang menjalar turun ke leher wanita itu.

"Mmmh... Bara... terus, Sayang... jangan berhenti," desah Maya, suaranya kini semakin berani. Dan jemarinya mencengkeram erat bahu Bara, kuku-kukunya sedikit menekan kulit pria itu sebagai pelampiasan rasa nikmat yang menjalar.

Bara mengangkat sedikit tubuhnya, menatap Maya dengan tatapan penuh. "Kamu cantik banget malam ini. Jauh lebih cantik dari siapapun yang pernah aku lihat."

"Dan aku cuma buat kamu, Mas... cuma buat kamu," sahut Maya dengan suara yang meleleh, menatap Bara dengan mata yang sayu karena gairah.

Kali ini Bara tidak lagi memberikan celah  suasana yang kian membara. Dengan napas yang menderu di ceruk leher Maya, jemarinya yang gemetar namun pasti mulai menanggalkan satu-satunya penghalang terakhir yang menutupi keindahan tubuh wanita itu.

Perlahan, pakaian dalam itu terlepas, jatuh tak berdaya di lantai karpet yang dingin, sangat kontras dengan suhu tubuh mereka yang kian memuncak.

"Mas... ahh... pelan-pelan," desah Maya, tubuhnya melengkung saat sentuhan tangan Bara mulai menjelajah kepemilikan wanita itu.

Bara tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan dengan tindakan yang semakin berani. Ia memainkan setiap jengkal kulit Maya, memberikan sensasi yang membuat wanita itu memejamkan mata rapat-rapat, menikmati setiap sentuhan yang diterima dari jemari pria itu.

"Lagi.. Ehmm...," bisik Bara serak, suaranya nyaris hilang ditelan gairah.

"Aahh, Mas! terus..." rintih Maya sambil mencengkeram sprei putih hotel itu hingga kusut masai.

Ruangan itu kini hanya dipenuhi oleh suara deru napas yang bersahutan dan desahan-desahan tertahan yang memenuhi sudut kamar 027. Bara seolah ingin menumpahkan seluruh rasa hausnya malam itu, melupakan sejenak statusnya, melupakan masalahnya, dan hanya fokus pada wanita yang sedang menggeliat nikmat di bawah kuasanya.

Setiap sentuhan Bara dibalas dengan pelukan yang semakin erat dari Maya, menarik pria itu masuk lebih dalam ke dalam pusaran kenikmatan yang memabukkan. Mereka berdua tenggelam dalam puncak adegan yang meluluhlantakkan segalanya, membiarkan dosa-dosa mereka menguap bersama keringat yang membasahi tubuh di bawah remang lampu kamar hotel.

Bara terengah-engah, tubuhnya ambruk di samping Maya dengan keringat yang masih membanjiri kulitnya. Aroma parfum Maya yang bercampur dengan hawa gerah ruangan itu memenuhi indra penciumannya, menciptakan rasa puas yang semu namun memabukkan.

Bara menatap langit-langit kamar, mencoba mengatur detak jantungnya yang perlahan melambat.

Maya tidak membiarkan kesunyian itu bertahan lama. Ia merangkak mendekat, menyandarkan dagunya di dada Bara yang masih naik-turun. Jemarinya mulai menari-nari di atas perut Bara, membuat pola-pola abstrak yang menggoda.

"Kamu hebat banget malam ini, Mas," bisik Maya dengan suara serak yang memanjakan telinga. "Lebih hebat dari biasanya. Kayaknya rasa kangen kamu ke aku bener-bener kamu keluarkan ya?"

Bara menoleh, mengecup dahi Maya dengan penuh sayang. "Kan aku sudah bilang, aku cuma bisa begini sama kamu. Di rumah... ah, sudahlah. Jangan bahas rumah."

"Kenapa? Kamu takut rasa bersalah itu datang lagi?" pancing Maya sambil tersenyum licik. Ia tahu persis bagaimana cara memainkan emosi Bara.

"Tenang aja, Sayang. Di kamar ini, nggak ada istri kamu kok, cuma ada kita berdua."

Bara menghela napas panjang, tangannya merengkuh bahu polos Maya. "Kadang aku merasa jahat banget sama kamu. Tapi setiap kali aku liat muka kamu, anehnya semua rasa salah itu hilang gitu aja. Kamu kayak candu buat aku."

"Bagus dong!" sahut Maya sambil mencium leher Bara dengan lembut.

"Aku mau kamu terus kecanduan sama aku. Aku nggak mau berbagi kamu sama siapa pun, apalagi sama perempuan yang nggak tahu cara nyenengin suaminya sendiri itu."

Bara terdiam sejenak. Kalimat Maya barusan menyentil egonya sebagai laki-laki. Ia teringat kembali bagaimana kaku dan pendiamnya Renata jika dibandingkan dengan Maya yang liar dan berani. Perbedaan itu seolah menjadi pembenaran baginya untuk terus mengulang dosa ini.

"Mas..." panggil Maya lagi, kali ini nadanya lebih serius.

"Hmm?"

"Kalau nanti kamu beneran harus pilih, kamu bakal pilih siapa? Aku atau dia?"

Pertanyaan itu membuat Bara sedikit menegang. Ia tahu ini adalah pertanyaan jebakan. "May, jangan mulai deh. Kamu tahu kan urusannya nggak sesederhana itu. Ada Papa, ada perusahaan..."

Maya mendengus, ia sedikit menjauhkan tubuhnya dengan wajah yang dibuat merajuk. "Tuh kan. Ujung-ujungnya pasti alasan itu lagi. Kamu cuma mau main-main aja ya sama aku?"

"Bukan gitu, Sayang," Bara langsung menarik Maya kembali ke pelukannya, tidak mau suasana indah ini hancur. "Aku bakal usahain semuanya. Percaya sama aku. Tapi nggak sekarang, ya? Malam ini kita nikmatin aja waktu kita."

Maya tersenyum di balik dada Bara, senyum kemenangan. Ia tahu ia sudah berhasil mengikat Bara lebih kuat malam ini. Ia kemudian bangkit sedikit, mengambil sebotol air mineral dari meja nakas dan meminumnya sedikit sebelum memberikannya kepada Bara.

"Minum dulu, Mas. Kamu pasti haus banget habis 'kerja keras' tadi," ucap Maya sambil terkikik.

Bara meminum air itu sampai habis. Hawa gerah di kamar itu perlahan mulai terasa lebih dingin karena AC yang mulai terasa, namun bara api di antara mereka belum sepenuhnya padam.

"May," panggil Bara sambil menatap mata wanita itu dalam-dalam. "Jangan pernah tinggalin aku ya. Apapun yang terjadi."

"Selama kamu masih jadi Bara yang aku kenal, aku nggak akan ke mana-mana, Mas," jawab Maya sambil kembali memberikan ciuman menuntut di bibir Bara.

Ciuman itu awalnya lembut, namun perlahan kembali memanas. Tangan Bara yang tadinya diam kini mulai kembali menjelajah. Sepertinya satu ronde saja tidak cukup untuk memuaskan rasa lapar yang sudah ia pendam berhari-hari.

Mereka kembali tenggelam dalam pergulatan hasrat di bawah selimut putih yang sudah berantakan, mengabaikan fakta bahwa jam sudah menunjukkan hampir tengah malam, membuat Bara benar-benar kehilangan akal sehatnya.

Kalimat manja Maya barusan seolah menjadi bensin yang menyiram api gairah yang sebenarnya belum padam sepenuhnya. Ia menarik pinggang Maya dengan sentakan pelan namun pasti, memaksa tubuh lihai wanita itu kembali menempel erat pada dadanya yang masih hangat oleh peluh.

"Satu ronde mana cukup buat bayar kangen aku, Syang," bisik Bara dengan suara berat yang serak, tepat di depan bibir Maya yang merekah.

Maya tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat provokatif di telinga Bara. Ia melingkarkan lengannya di leher Bara, menarik kepala pria itu agar kembali menyatu dalam pagutan yang jauh lebih dalam dari sebelumnya.

"Oh ya? Kamu masih kuat, Mas? Nanti kalau besok pagi kamu lemes-lemes aku nggak mau tanggung jawab lho, Mas."

"Udah diam!" geram Bara.

Ia langsung membungkam bibir Maya, kali ini dengan ciuman yang lebih rakus. Tangannya kembali bergerilya, menjelajahi lekuk tubuh Maya yang selalu berhasil membuatnya mabuk kebayang. Setiap sentuhan Bara dibalas dengan geliat nakal dari Maya yang semakin memancing adrenalin.

Hawa di kamar 027 yang tadinya sempat sedikit mendingin karena AC, kini kembali memanas. Suasana gerah itu justru menambah sensasi tersendiri bagi mereka. Desahan-desahan halus mulai kembali memenuhi ruangan, bersahutan dengan deru napas yang kian memburu.

"Ah... Bara... pelan-pelan, Sayang," rintih Maya saat Bara mulai memberikan tanda-tanda merah di ceruk lehernya.

"Kamu... kamu liar banget malam ini."

"Ini salah kamu sendiri, soalnya terlalu menggoda di tubuhku," sahut Bara di sela kegiatannya, yang sedang meremas area kepemilikan Maya.

Ronde pertama berbeda denga ronde kedua ini terasa jauh lebih intens dan emosional. Mereka seolah sedang berlomba untuk saling memuaskan, melupakan sejenak dunia luar yang penuh dengan kebohongan. Di atas ranjang yang sudah kusut masai dan bantal-bantal yang berserakan di lantai, Bara dan Maya kembali tenggelam dalam pergulatan hasrat yang meledak-ledak.

Setiap gerakan, setiap sentuhan, dan setiap kata cinta yang terucap di antara deru napas terasa begitu nyata, meski mereka tahu semua itu dibangun di atas pengkhianatan.

Hingga akhirnya, setelah waktu yang terasa sangat lama, keduanya mencapai puncak kenikmatan yang luar biasa. Suara erangan Bara dan desahan panjang Maya menyatu, memenuhi setiap sudut kamar sebelum akhirnya hening total. Mereka berdua ambruk, terengah-engah dengan tubuh yang saling bertindihan.

Keringat bercucuran, membasahi sprei hotel yang putih bersih itu. Bara memejamkan matanya, merasakan jantungnya yang berdegup sangat kencang, sementara Maya menyandarkan kepalanya di bahu Bara, benar-benar kelelahan.

"Gila... aku bener-bener capek," gumam Bara dengan suara yang hampir habis. Ia mengelus rambut Maya yang berantakan dengan sisa tenaganya.

"Aku juga, Mas... kamu bener-bener nggak kasih ampun," sahut Maya sambil tersenyum lemas.

Kini Matanya bersamaan perlahan mulai memberat karena rasa kantuk yang luar biasa setelah pelampiasan gairah yang menguras energi, selama dua jam lebih dengan istrihat sebentar lanjut ke ronde berikutnya. Dan Pada akhirnya mereka berdua terlelap dalam posisi saling berpelukan.

Ronde kedua yang mereka lakukan di atas ranjang itu, bukan untuk pertama kalinya...

1
Nanda
salam kenal yah...
neng aja
bintang 5 buat renata hehehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!