Bertemu kembali dengan Althan Alaric, mantan pacarnya yang sekarang menjadi aktor terkenal, bukanlah kabar baik bagi Vivi. Ia berusaha menjauh, tapi pria itu seolah sengaja mendekatinya untuk membalas dendam.
Vivi bisa memahami alasan Althan bersikap demikian. Namun masalahnya bukan itu. Jika Althan terus berada di dekatnya, Vivi takut pria itu akan mengetahui keberadaan Mikaila, anak yang dirahasiakan Vivi selama ini. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Sanggupkah Vivi terus menyembunyikan anak itu dari sang superstar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HANA ADACHI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 : Bukan Untukku Lagi
Vivi tertegun.
Pemandangan mesra di depannya itu benar-benar membuatnya shock.
Sebenarnya, Vivi bukannya tidak pernah berpikir kalau Althan akhirnya akan punya kekasih baru. Ia tau, cepat atau lambat, ini pasti akan terjadi.
Tapi ternyata, melihatnya secara langsung jauh lebih menyakitkan dari sekadar membayangkan.
Alhasil, Vivi hanya bisa menundukkan kepala sembari menahan sesak di dada.
"Oh, aku baru tau kalau personal stylish kamu baru. Dulu bukan yang ini kan, ya?" wanita cantik itu bertanya sambil menyandarkan kepala pada dada Althan.
"Iya, ini baru aku hire beberapa minggu," jawab Althan sambil mengelus elus pundak wanita itu. "Yaudahlah, tidak usah mengurusi dia, tidak penting. Ayo kita lanjutkan yang tadi,"
Vivi masih berdiri di depan pintu manakala Althan dan wanita cantik itu masuk sembari saling merangkulkan tangan.
Tidak penting katanya, Vivi mengepalkan tangan.
Ia mencoba memalingkan wajah, tapi mau bagaimana ia berusaha tidak melihat, tetap saja keliatan.
"Loh, mbak Vivi, kok nggak masuk?" Tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara Roni.
"Eh, iya Mas, itu..." Vivi tergagap dan langsung melirik ke arah Althan dan kekasihnya yang sedang sibuk bermesraan di atas sofa.
Roni ikut menatap ke arah yang sama dan langsung mengangguk paham. "Oh, maaf mbak kalau bikin kamu nggak nyaman. Kamu tau Kamelia, nggak? dia model papan atas yang udah sering masuk majalah internasional. Nggak tau sejak kapan, tapi kayanya mereka udah pacaran. Mbak Vivi tolong jangan sebarin ke siapa siapa, ya?"
"Nggak kok Mas, nggak bakalan saya sebarin, saya juga nggak berani," Vivi menggelengkan kepala cepat cepat. "Tapi, kayanya Pak Althan lagi sibuk. Apa besok aja kita lanjutkan pekerjaannya?" tanyanya, mencoba memberi alasan untuk kabur dari situasi itu.
"Eng..." Roni melongok ke dalam apartemen dan menipiskan bibir saat melihat dua sejoli itu sedang bermesraan di sana. "Memang agak kurang nyaman sih.. Tapi, bentar, biar aku tanya Althan dulu,"
Roni kemudian masuk dan berbisik kepada Althan. Beberapa saat kemudian, Althan tampak menoleh ke arah Vivi sambil berkata.
"Kesini aja, kita selesaikan pekerjaan kamu sekarang. Kebetulan, pacarku ini kan model, jadi dia bisa menilai apakah wardrobe plan yang kamu susun cocok atau tidak," ucapnya sambil menatap tajam ke arah Vivi.
"Atau..." pria itu menelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis. "Kamu nggak suka liat saya mesra mesraan di depan kamu?"
"Apa? Ah, bukan begitu Pak," Vivi buru buru menggelengkan kepalanya, kemudian langsung masuk ke dalam apartemen. "Saya hanya kurang terbiasa saja,"
"Oh, kalau begitu biasakanlah mulai sekarang," Althan menyandarkan kepala Kamelia ke pundaknya.
Vivi tersenyum canggung. Tenanglah Vivi.. Ingat, dia sekarang sudah bukan siapa siapa kamu lagi. Sekarang dia adalah seorang atasan, dan kamu adalah seorang karyawan, batinnya.
Dengan langkah pelan, Vivi pun duduk di kursi yang ada di depan mereka berdua. "Eng, jadi begini Pak. Ini adalah wardrobe plan yang sudah saya susun bersama Mas Roni kemarin berdasarkan jadwal Pak Althan. Silahkan dicek,"
Vivi menaruh sebuah map di depan meja. Althan tidak langsung menanggapi. Ia terlebih dulu menatap Vivi lamat lamat, memperhatikan ekspresinya.
Apa dia cemburu?
"Sayang?" sentuhan lembut Kamelia pada pipinya membuat Althan tersadar. "Itu loh diajak ngomong, kok kamu diem aja?"
"Ah..." Althan mengambil map itu dari atas meja, dan menyerahkannya pada Kamelia. "Aku nggak terlalu ngerti fashion. Gimana kalau kamu aja yang ngecek?"
"Oh, ya? Beneran nggak papa?" Meskipun belum mendapatkan jawaban dari Althan, Kamelia langsung merebut map hasil kerja keras Vivi itu. "Kalau gitu terserah aku ya..."
"Iya, anything for you sayang..."
Suara itu.
Nada lembut itu.
Vivi tanpa sadar kembali menundukkan kepala.
Suara itu… adalah suara yang ia rindukan selama lima tahun terakhir. Ia masih ingat jelas bagaimana dulu Althan selalu berbicara dengan nada yang sama kepadanya.
Tapi sekarang… semuanya bukan untuknya lagi.
"Hm.. menurut aku, gayanya nggak ada yang cocok," Kamelia menaruh kembali map itu ke atas meja. "Gayanya terlalu biasa. Mbak Stylish, sorry, siapa nama kamu?" Kamelia menunjuk ke arah Vivi.
"Saya Vivi," jawab Vivi pelan.
"Ya, Mbak Vivi. Aku ingin kamu cari referensi yang lebih luas lagi. Contohnya sering seringlah baca majalah fashion. Althan itu kan aktor terkenal, kamu nggak bisa mendandaninya seperti orang pada umumnya,"
Vivi mengangguk anggukkan kepala mendengar saran Kamelia. Meskipun dadanya terasa sesak, Vivi tak membantah. Kamelia punya sepak terjang yang lebih banyak perihal fashion. Pendapatnya juga masuk akal.
"Kalau gitu, aku tunggu revisinya. Nah, sekarang, kita berenang yuk sayang," Kamelia langsung berkata dengan nada manja pada Althan.
Althan tersenyum. "Oke," katanya sembari mengangguk. Sebelum pergi, ia sempat melirik sekilas ke arah Vivi.
Sepeninggal mereka, Vivi akhirnya melanjutkan revisinya sendirian di ruang tengah tersebut. Sementara dari luar, terdengar suara tawa.
Tawa Althan.
Tawa yang dulu pernah begitu akrab di telinganya.
Tanpa sadar, Vivi menoleh.
Dari kejauhan, ia bisa melihat mereka di kolam renang sedang bermain air, tertawa lepas, seolah tidak ada beban sama sekali.
Ah… Althan tertawa lepas.
Bibir Vivi sedikit melengkung, meski terasa pahit.
Syukurlah… dia bahagia, batinnya lirih.
Itu berarti… tidak sia-sia pengorbananku untuk kamu, Althan.
semoga althan segera tau kebenaran ny ,, klo vivi ninggalin dy krn Selina ,,
mungkin vivi di bawah ancaman Selina ,,
next kak
kalau kamu g membuat mereka berpisah juga g bakalan mereka pisah😡
/Chuckle//Chuckle//Chuckle//Chuckle//Chuckle/
sebenarnya vivi juga pengin ngaku kalau Mikaila anak althan, tapi dia takut kejadian masa lalu terulang kembali.
harusnya Vivi terus terang kenapa dia dulu ninggalin althan, biar althan kasih pelajaran sama wanita serakah itu kalau kebahagiaan althan sama Vivi g bakalan menghambat karirnya.
yang bukan dari harga, tapi dari nilainya siapa yang memberi dan kenanganny😭😭😭😭
sabar vi semua pasti akan terungkap tanpa harus kamu bicara