Empat tahun lalu, Flaire Nathasha menghilang setelah melahirkan secara rahasia, meninggalkan Jaydane Shelby dengan luka pengkhianatan dan seorang putra balita bernama Jorden. Jaydane, sang penguasa bisnis sekaligus mafia, membesarkan Jorden dengan kebencian mendalam, mengira Flaire membuang anak mereka demi kebebasan dan karier.
Kini, Flaire kembali ke Jerman sebagai CEO Fernandez yang memukau dengan julukan "Queen of Lens". Kecantikannya yang tak tertandingi membuat Aurora, tunangan Jaydane, merasa terancam dan mulai menggali identitas ibu kandung Jorden yang misterius.
Jaydane yang dibutakan dendam mulai menghancurkan bisnis Flaire untuk memaksanya berlutut. Namun, di balik lensa kontak yang selalu menutupi warna mata aslinya, Flaire menyimpan luka trauma masa lalu difakta bahwa ia adalah korban pengasingan paksa keluarganya dan sama sekali tidak tahu bahwa bayinya masih hidup di tangan pria yang kini mencoba menghancurkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon caxhaaesthetic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MONSTER DAN CIUMAN PENAKLUK
"Jangan cemberut, Sayang. Itu penjelasan yang masuk akal bagi anak empat tahun," bisik Jaydane, jemarinya mengelus pipi Flaire yang merona. "Lagi pula, semalam kau memang bertarung dengan sangat hebat. Kau berhasil membuat 'piton'-ku menyerah... meski butuh lima ronde."
"Satu kata lagi tentang 'piton' atau 'ronde', dan aku akan benar-benar menggunakan teknik bela diri untuk menendangmu keluar dari jendela ini, Jaydane Shelby!" ancam Flaire dengan wajah cemberut yang menurut Jaydane justru terlihat sangat seksi.
Belum sempat Flaire menarik selimut untuk menutupi jejak-jejak "pertempuran" semalam, pintu kamar besar itu terbuka dengan suara brak! yang ceria. Jorden berlari masuk dengan pedang plastik di tangan kanan dan perisai mainan di tangan kiri.
"Mama! Papa! Jorden datang untuk mengusir monsternya!" seru bocah itu dengan semangat pahlawan kesiangan.
Jorden melompat ke atas tempat tidur, mendarat tepat di antara Jaydane dan Flaire. Namun, gerakannya tiba-tiba terhenti. Matanya yang besar terpaku pada leher jenjang Flaire yang putih bening, di mana terdapat beberapa bercak merah keunguan jejak hisapan posesif Jaydane yang ditinggalkan saat sesi doggy style subuh tadi.
"Mama!" Jorden memekik ngeri, wajahnya pucat pasi. "Monsternya benar-benar menggigit Mama! Lihat, leher Mama penuh luka merah! Papa... kenapa Papa tidak melindungi Mama?"
Flaire seketika mematung, tangannya refleks menutupi lehernya dengan wajah yang kembali meledak merah padam. Ia melirik tajam ke arah Jaydane, seolah berkata: Lihat apa yang kau lakukan, Monster Mesum!
Jaydane, dengan ketenangan seorang kaisar, justru terkekeh rendah. Alih-alih merasa bersalah, ia menyambar tubuh kecil putranya dengan gerakan cepat, menarik Jorden ke dalam dekapan lengannya yang kekar.
"Sshh... tenanglah, Jagoan," ucap Jaydane sambil membolak-balik tubuh Jorden dalam pelukannya. "Itu bukan luka gigitan monster. Itu adalah tanda bahwa Mama sudah resmi menjadi milik kita. Papa hanya... memberikan segel pelindung."
Jorden mengernyit bingung. "Segel pelindung?"
"Iya," Jaydane tersenyum hangat, sebuah ekspresi langka yang hanya muncul untuk keluarga kecilnya. Ia mulai menyerang pipi gembul Jorden dengan ciuman bertubi-tubi hingga bocah itu kegelian. "Dulu, sebelum Mamamu kembali, kau sama sekali lengket seperti lem di sisiku, Jagoan. Kau tidak mau lepas dari leher Papa. Sekarang kau malah lebih mengkhawatirkan Mama daripada Papa, hmm?"
"Aaah! Papa! Geli! Berhenti!" Jorden tertawa terpingkal-pingkal, mencoba melepaskan diri dari janggut tipis Jaydane yang menusuk-nusuk pipinya.
Flaire yang tadinya ingin marah, perlahan melunakkan tatapannya. Melihat Jaydane yang begitu gagah dan kejam di dunia luar, namun bisa berubah menjadi ayah yang begitu penyayang dan hangat di tempat tidur ini, membuatnya merasa sangat beruntung.
"Papa benar, Jorden," timpal Flaire sambil mengelus rambut pirang putranya. "Mama tidak apa-apa. Papa adalah pahlawan yang paling hebat, dia sudah mengusir semua monster jahat."
Jorden berhenti tertawa, lalu menatap kedua orang tuanya dengan serius. "Kalau begitu, karena monster sudah pergi, apa Jorden boleh ikut 'latihan bela diri' sekarang? Jorden mau kuat seperti Papa agar bisa menjaga Mama juga!"
Jaydane melirik Flaire dengan tatapan nakal yang sangat terbaca: Boleh saja, tapi latihannya di atas meja makan.
"Tidak sekarang, Jagoan," sahut Jaydane sambil menggendong Jorden di pundaknya. "Sekarang waktunya sarapan. Setelah itu, Papa akan membawamu dan Mama ke hanggar. Kita akan terbang ke Swiss untuk liburan keluarga yang sebenarnya."