Gisel (23 tahun) adalah definisi "matahari" berjalan: ceria, blak-blakan, dan punya selera humor yang terkadang sedikit ‘nakal’. Hidupnya jungkir balik saat ia dipaksa menikah dengan Dewa, CEO dingin yang aura intimidasi-nya bisa membekukan ruangan. Dewa bukan cuma sekadar duda kaya, ia adalah pria yang menutup rapat hatinya demi mendiang istrinya dan ketiga anaknya yang super nakal.
Mampukah ocehan ceplas-ceplos Gisel mencairkan gunung es di hati Dewa? Dan bagaimana jadinya jika si gisel positive vibes ini harus menghadapi tiga anak tiri yang siap mengujinya, sementara sang suami masih bayang-bayang masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Ibu Negara Berkuasa!
Begitu mobil Dewa menghilang di gerbang, Gisel berkacak pinggang di tengah ruang tamu yang luas. Ia menarik napas panjang, menghirup aroma "kebebasan".
"Oke, Ibu Negara berkuasa! Mari kita lihat apa yang bisa kita lakukan," gumamnya dengan senyum nakal.
Ujian pertama datang dari Raka. Cowok SMA itu pulang lebih awal karena guru rapat. Ia langsung nyelonong masuk, melempar tas ke sofa, dan hendak naik ke kamar tanpa menyapa.
"Eits! Tuan Muda Raka," panggil Gisel sambil menghadang tangga. "Tas di tempatnya, sepatu di rak. Peraturan baru selama Papa di Bangkok."
Raka menatap Gisel dengan tatapan dingin warisan ayahnya. "Gue capek. Jangan berisik."
Gisel tidak gentar. Ia melipat tangan di dada. "Oh, capek ya? Padahal tadi aku mau pesan pizza jumbo atau sushi buat makan malam. Tapi kalau kamarnya berantakan dan yang punya nggak sopan... kayaknya menu malam ini sayur bening bayam aja deh. Bagus buat otak biar nggak kaku terus."
Raka terhenti. Perutnya memang lapar, dan ancaman "sayur bening" Gisel terdengar sangat nyata. Dengan gerutuan pelan, ia berbalik, mengambil tasnya, dan menaruh sepatu dengan benar. "Puas?"
"Pintar! Gitu dong, makin ganteng kalau nurut," puji Gisel sambil mencubit pipi Raka secepat kilat sebelum cowok itu sempat menghindar. Raka melotot, wajahnya memerah padam karena kesal sekaligus malu.
Ujian kedua adalah alya (anak ke-2). Dia pulang dengan wajah ditekuk dan langsung menangis di meja makan. "gisel... cowok yang aku taksir di sekolah ternyata suka sama kakak kelas! Aku mau diet aja, nggak mau makan!"
Gisel duduk di samping alya. Bukannya menenangkan dengan kata-kata puitis, Gisel malah berkata, "Hah? Diet? Rugi dong! Mending kita dandan yang cantik, foto yang paling hot, terus kita post. Biar dia tahu apa yang dia lewatin. Sini, aku ajarin cara bikin alis yang bisa bikin cowok minder!"
alya langsung berhenti menangis, matanya berbinar. "Beneran, Bu?"
"Iya dong! Kita tunjukin kalau klan 'Dewa' itu nggak ada yang galau gara-gara remah rengginang kayak dia!"
Terakhir, si kecil Diego. Dia menarik-narik baju Gisel. "Ibu, Diego mau main kuda-kudaan tapi Kak Raka nggak mau."
Gisel melirik Raka yang baru turun lagi mau ambil minum. "Raka, jadi kuda buat adikmu, atau... aku kirim foto kamu lagi tidur mangap ke grup kelas kamu? Aku punya fotonya lho pas kamu ketiduran di sofa kemarin."
Raka tersedak air minumnya. "Lo... lo licik banget!"
"Bukan licik sayang, itu namanya smart strategy," sahut Gisel santai sambil mengedipkan mata.
Akhirnya, sore itu rumah yang biasanya kaku berubah jadi arena bermain. Raka terpaksa jadi kuda-kudaan, Alya sibuk make-up bareng Gisel, dan Diego tertawa puas. Di tengah kekacauan itu, Gisel diam-diam memotret mereka bertiga dan mengirimkannya ke Dewa yang baru mendarat di Bangkok.
Pesan Gisel ke Dewa: Jangan iri ya, Mas Duda. Anak-anak lebih sayang aku sekarang. Fokus kerja aja di sana, jangan macem macem'!
Dewa yang baru keluar dari bandara Bangkok melihat foto itu. Ia tidak membalas dengan kata-kata, tapi ia tersenyum tipis—senyum paling tulus yang pernah ia miliki.
Ruang rapat di lantai 35 hotel mewah Bangkok itu terasa mencekam. Dewa duduk di kursi utama dengan aura yang begitu mengintimidasi. Para petinggi perusahaan konstruksi Thailand di depannya tampak berhati-hati saat mempresentasikan proyek high-rise building terbaru mereka.
Dewa tetaplah si "Tuan Batu Es". Matanya yang tajam menatap layar proyektor tanpa berkedip, tangannya sesekali mengetuk meja dengan irama yang membuat asistennya berkeringat dingin.
Bzzzt... Bzzzt...
Ponsel di saku jas Dewa bergetar. Biasanya, ia akan mengabaikannya sampai rapat usai. Namun, pola getarannya khusus—hanya untuk notifikasi dari Gisel. Dengan gerakan elegan namun cepat, ia merogoh ponselnya, mengira ada keadaan darurat dengan Diego atau anak-anak lainnya.
Ternyata, sebuah pesan WhatsApp masuk.
Gisel: Mas Duda, di Bangkok dingin nggak? Di Jakarta lagi panas banget nih... Aku sampai harus ganti baju yang 'adem'.
Dewa mengernyitkan dahi. Panas? AC rumah kan sentral, batinnya. Namun, rasa penasaran mengalahkan logikanya. Ia membuka foto yang baru saja terunduh.
Uhuk!
Dewa tiba-tiba tersedak ludahnya sendiri, membuat suara yang cukup keras di tengah keheningan rapat.
Di layar ponselnya, terpampang foto Gisel yang sedang mirror selfie di kamar mereka. Gadis itu mengenakan baju tidur satin tipis berwarna merah marun dengan tali spaghetti yang memperlihatkan bahu mulusnya. Rambutnya sengaja dibuat sedikit acak-acakan, wajahnya polos tanpa make-up namun bibirnya terlihat ranum karena polesan lip balm. Gisel berpose nakal dengan menggigit bibir bawahnya sedikit sambil mengerling ke arah kamera.
"Mr. Dewa? Are you alright?" tanya pimpinan rapat dengan wajah khawatir.
"Ya... I'm fine. Continue, please," jawab Dewa dengan suara yang mendadak berat dan serak.
Ia segera membalik ponselnya di meja, tapi bayangan bahu putih dan tatapan menggoda Gisel sudah terlanjur melekat di pikirannya. Konsentrasi Dewa hancur seketika. Grafik keuntungan di layar sekarang tampak seperti lengkungan tubuh istrinya. Ia meminum air putih dengan rakus, mencoba memadamkan "api" yang tiba-tiba menyulut dadanya.
Ponselnya bergetar lagi. Dewa tidak tahan untuk tidak melirik.
Gisel: Oh iya, lupa bilang. Jangan kelamaan di sana ya, Mas. Nanti 'kunci' kamarnya aku ganti lho kalau telat pulang. Semangat rapatnya, Papa Ganteng!
Dewa memijat pangkal hidungnya, berusaha meredam gejolak yang muncul. Ia menatap rekan bisnisnya yang masih bicara panjang lebar tentang semen dan baja. Dalam hati,
Rapat yang seharusnya berlangsung tiga jam lagi, tiba-tiba dipotong secara sepihak.
"Make it quick. I have an urgent matter to handle right now," ucap Dewa dingin. Padahal "urusan mendesak" itu hanyalah keinginannya untuk segera masuk ke kamar hotel dan menghubungi istri kecilnya yang nakal itu.