not allowed to copy , cerita ini 100% hasil dari pikiran ku sendiri, jadi jangan copy cerita ini,
cerita ini berjudul *menikah dengan musuh!! *
pemeran perempuan dalam cerita ini sangat membenci seorang lelaki yang sangat nakal dan sering bolos waktu sma, dan nama nya adalah ALRESCHA dan kerap di panggil al/reska
ayana/ pemeran utama dari cerita ini sangat membenci al,namun al menyukai nya dari zaman sma hingga kuliah, namun al sama sekali tidak pernah mengungkapkan cinta nya kepada ayana, dan sekarang dia di pertemukan lagi, dan di paksa oleh kedua orang tua mereka untuk menikah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaNa/ji-eun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 18
Keesokan harinya, matahari bahkan belum sepenuhnya muncul, namun suasana di dapur sudah sedikit riuh. Ayana duduk di kursi makan dengan wajah lesu, sementara Al yang masih memakai kaos oblong tampak bingung berdiri di depannya.
"Kamu beneran mau makan itu sekarang, Na? Ini baru jam lima pagi," tanya Al sambil mengucek matanya yang masih mengantuk.
Ayana mengangguk pelan, bibirnya sedikit mengerucut. "Enggak tahu kenapa, tiba-tiba kepikiran banget sama rujak mangga muda yang dijual di dekat kampus kita dulu. Tapi bumbunya harus yang banyak terasinya dan pedas banget, Al."
Al menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Sayang, tukang rujak jam segini belum bangun. Lagi pula, perut kamu masih kosong, nanti kalau mualnya makin parah gimana?"
"Tapi aku pengennya itu, Al..." sahut Ayana lirih, matanya mulai berkaca-kaca—efek hormon kehamilan yang membuatnya jadi jauh lebih sensitif.
Melihat istrinya mulai berkaca-kaca, Al langsung panik. "Iya, iya, saya cari sekarang. Jangan nangis ya? Saya coba keliling pasar, siapa tahu ada mangga muda di sana."
Baru saja Al hendak menyambar kunci mobil, Mama Al keluar dari kamarnya sambil merapikan daster. "Ada apa ini pagi-pagi sudah ribut? Al, kamu mau ke mana?"
"Ini, Ma... Ayana nyidam rujak mangga muda jam segini," adu Al pada ibunya.
Mama Al bukannya kasihan pada Al, malah tertawa lebar. "Wah, itu tandanya cucu Oma memang mau dimanjain! Al, kamu jangan banyak protes. Dulu waktu Mama hamil kamu, Papa kamu sampai harus nyari tukang sate jam dua pagi di tengah hujan deras!"
Papa Al yang baru muncul di belakang pun hanya berdeham sambil tersenyum tipis, seolah teringat masa lalu. "Sudah, Al. Cepat jalan. Jangan biarkan istri kamu nunggu lama."
...****************...
Akhirnya, dengan penuh perjuangan, Al berhasil mendapatkan mangga muda dari pedagang di pasar tradisional yang baru saja buka. Ia bahkan rela mengulek bumbunya sendiri di dapur karena tidak menemukan tukang rujak yang buka sepagi itu.
Saat rujak itu tersaji, Ayana langsung menyantapnya dengan lahap. Anehnya, rasa mual yang sedari tadi menyerangnya hilang seketika digantikan dengan binar bahagia.
"Gimana? Enak?" tanya Al harap-harap cemas.
Ayana tersenyum manis, "Enak banget! Makasih ya, Papa Al."
Reva yang baru bangun tidur pun menghampiri mereka, mengucek matanya sambil melihat piring di depan Ayana. "Mama makan apa? Leva mau..."
"Eh, jangan Sayang, ini pedas banget buat Reva," cegah Ayana.
Reva memiringkan kepalanya, lalu mengusap perut Ayana. "Adek bayi suka yang pedes ya, Ma? Kasihan adek nanti kepedesan di dalem," ucapnya polos yang langsung mengundang tawa seisi rumah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Seminggu setelah kabar bahagia itu, tibalah hari yang paling dinanti: jadwal pemeriksaan USG pertama. Al sudah bangun lebih awal, bahkan ia sudah menyiapkan semua berkas dan vitamin Ayana di dalam tas. Ia tampak jauh lebih gugup daripada Ayana sendiri.
"Al, tenang saja. Kita cuma mau periksa, bukan mau ujian," goda Ayana saat melihat Al terus-menerus merapikan kemejanya di depan cermin rumah sakit.
"Saya cuma... terlalu bersemangat, Na. Saya ingin memastikan adek bayi sehat di dalam sana," jawab Al sambil menggenggam tangan Ayana erat.
Reva tidak ketinggalan. Ia duduk di antara mereka di ruang tunggu rumah sakit dengan tas ransel kecilnya yang berisi mainan. "Papa, nanti kita liat adek di TV ya?" tanya Reva polos, mengingat penjelasan Al bahwa mereka akan melihat bayi lewat layar monitor.
"Iya, Sayang. Reva nanti bisa lihat adek bayi yang masih kecil banget," jawab Al lembut.
Saat nama Ayana dipanggil, jantung mereka berdegup kencang. Di dalam ruang periksa yang tenang, seorang dokter spesialis kandungan menyambut mereka dengan ramah. Ayana diminta berbaring, dan gel dingin mulai diusapkan di perutnya yang masih rata.
"Kita lihat ya, ini kantung kehamilannya sudah terlihat jelas," ujar dokter sambil menggerakkan stik USG.
Layar monitor yang tadinya gelap mulai memunculkan gambar hitam putih yang samar. Al condong ke depan, matanya tidak berkedip sedikit pun.
"Nah, ini dia. Kecil sekali ya, seperti biji kacang," dokter menunjuk sebuah titik kecil di tengah lingkaran. "Dan dengarkan ini... ini adalah detak jantungnya."
Seketika, suara deg-deg-deg-deg yang cepat dan ritmis memenuhi ruangan. Suara kehidupan yang sangat nyata. Ayana menutup mulutnya dengan tangan, air mata haru seketika luruh membasahi pipinya. Al yang biasanya tegar, kini matanya berkaca-kaca hebat. Ia menggenggam tangan Ayana semakin kuat, seolah ingin berbagi getaran bahagia yang luar biasa itu.
"Itu adek, Pa? Adek bunyi?" seru Reva antusias sambil menunjuk-nunjuk layar.
"Iya, Reva. Itu suara jantung adek bayi. Dia sehat di dalam sana," bisik Al dengan suara serak karena emosi.
Dokter tersenyum melihat kebahagiaan keluarga kecil ini. "Kondisi janinnya sangat baik. Usia kehamilan masuk minggu ke-8. Ibunya harus cukup istirahat dan jaga asupan nutrisi ya, jangan terlalu stres dengan kuliahnya." Pemantauan Detak Jantung Janin
Keluar dari ruang dokter, Al tidak berhenti menatap foto hasil USG di tangannya.
"Na, terima kasih ya," ucap Al tiba-tiba saat mereka berjalan menuju parkiran. "Dulu kita berjuang untuk Reva, sekarang kita punya satu lagi amanah yang harus kita jaga bareng-bareng."
Ayana bersandar di bahu Al dengan perasaan damai yang luar biasa. Badai fitnah kemarin benar-benar telah berlalu, digantikan dengan simfoni detak jantung yang baru saja mereka dengar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Beberapa bulan berlalu dengan cepat. Perut Ayana kini sudah tampak membuncit dengan cantik di balik gamis longgarnya—kini ia telah memasuki trimester ketiga. Di tengah kesibukannya menjadi ibu rumah tangga dan menjaga Reva, sebuah surat elektronik yang dinanti-nanti akhirnya tiba.
"Al! Liat ini!" teriak Ayana antusias dari meja belajar.
Al segera menghampiri dengan wajah waspada—maklum, ia sudah jadi suami siaga yang gampang panik kalau istrinya berteriak.
"Ada apa, Na? Perut kamu kram?"
"Bukan! Ini... surat undangan Wisuda! Akhirnya, Al! Setelah semua drama kuliah online sambil nyuapin Reva, gue lulus!" Ayana menunjukkan layar laptopnya dengan mata berbinar.
Al menghela napas lega, lalu tersenyum lebar. Ia memeluk istrinya dari samping. "Selamat, Sayang. Saya tahu betapa beratnya perjuangan kamu. Kuliah di tengah fitnah, sambil hamil, dan tetap jadi ibu yang hebat buat Reva. Kamu layak mendapatkan ini."
Namun, raut wajah Ayana tiba-tiba berubah ragu. Ia melirik perutnya yang sudah besar. "Tapi, Al... wisudanya minggu depan. Perut aku sudah sebesar ini. Apa aku bakal kuat berdiri lama? Terus, apa ada baju toga yang muat buat ibu hamil?"
"Soal itu jangan khawatir. Saya yang akan urus semuanya. Kita cari penjahit buat modifikasi toga kamu supaya nyaman. Dan saya pastikan, saya dan Reva akan berdiri di barisan paling depan buat kasih tepuk tangan paling keras," tegas Al meyakinkan.
Reva yang melihat kehebohan itu ikut mendekat. "Mama mau sekolah? Leva ikut ya, Pa? Leva mau kasih bunga buat Mama!"