Nigista, seorang gadis cantik yang terlahir dengan kelebihan yang tak biasa, harus berjuang untuk bertahan hidup di tengah caci maki orang-orang sekitarnya. Dia hanya ingin hidup normal, seperti manusia lainnya, tapi takdir sepertinya tak berpihak padanya.
Nigista Kanaya Putri, nama yang indah, tapi ironisnya, di rumahnya dia lebih sering dipanggil "Si pembawa Sial" oleh ibunya sendiri. Setiap musibah yang menimpa keluarga selalu saja dia yang disalahkan.
Tapi, Nigista memiliki kemampuan unik - dia bisa mendengar bisikan-bisikan dari orang-orang yang butuh pertolongan, sebuah kelebihan yang membuatnya sering merasa terjebak. Di sekolah, dia menjadi target bully-an teman-temannya karena sering menjerit-jerit ketika bisikan itu datang, membuatnya dicap sebagai "gadis aneh"
Yok ikuti kisah Nigista
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak Nya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nigista Dan Dunianya
Suasana di lokasi camping SMA Galaksi sangat berbeda hari itu. Anak-anak IPA dan IPS yang biasanya terpisah, kini bersatu padu membagikan sembako kepada warga desa setempat. Gala, ketua OSIS, menjadi kunci keberhasilan acara ini. Dia berhasil mengajak anak-anak IPS bergabung dengan anak-anak IPA, meskipun awalnya banyak yang menolak. Setelah Gala menjelaskan pentingnya kerja sama, mereka setuju, meski dengan terpaksa. Sekarang, mereka semua bekerja sama dengan baik, membagikan sembako sambil menikmati suasana camping.
"Lo gak lagi bercandakan gal?" Salsa masih tak percaya dengan keputusan yang sahabatnya itu ambil
"Lo liat raut wajah gua, bohong gak?"
Salsa, Tatang dan Yogi kompak menggelengkan kepalanya.
"Tap-"
"Gua gak suka dibantah mending kalian bantu yang lain, nanti mereka pada curiga lagi terutama rombongan Raden. Gue gak mau ya rencana gue hancur gara-gara ulah kalian bertiga." ucap Galaksi sebelum berlalu
"Ck! Lama-lama gue gedeg liat Gala, bisanya cuma nyuruh-nyuruh aja dia sendiri gak berpartisipasi dalam kegiatan ini." keluh Yogi
Di sisi lain, Gista dan teman-temannya dari kelas IPA maupun IPS membagikan makanan ke rumah-rumah warga satu persatu. Mereka terbagi menjadi beberapa tim, Raden dengan Gista dan 3 orang lain, Adara dengan Gibran dan 3 orang lain, Pipit, Irsyad dan 3 orang lain, Anita dengan Betrand dan timnya. Mereka berpencar, membagikan makanan dengan senyum dan ramah, menikmati interaksi dengan warga desa. Kerja sama antara IPA dan IPS mulai terlihat harmonis.
"Ck. Sial banget sih nasib gue harus bareng lo." sepanjang jalan Adara terus bergerutuk
"Menurut lo gue bahagia bareng lo? Gue merasa terkutuk tau gak." timpal Gibran
Adara memutar bola mata malas, ia benar-benar merasa bernasib buruk bisa satu tim dengan Gibran, orang yang paling ia benci.
'Kenapa sih gue gak satu tim sama Raden aja, kalo sama Raden pasti gue gak kesiksa kek gini..' batin Adara yang terus melangkah
"Gib, temen lo itu mau kemana? Kita kan bagi sembako kerumah warga bukan kekebun warga." ucap salah satu anak Ips yang satu tim dengan Gibran dan Adara
"Gak tau, emang rada gila tu orang, kalian bagi'in aja sembako nya gue susul Adara bentar setelah itu gue bantuin kalian." ucap Gibran sebelum berlalu
"Adara awas!"
Bruk
Adara jatuh tepat menindih tubuh Gibran, sehingga ia tak merasakan sakit sama sekali, namun Gibran lah yang merasakan sakit yang tak dirasakan oleh Adara.
"Cantik." gungam Gibran pelan, sangat pelan nyaris tak di dengar setan sekali pun.
Adara membuka matanya saat tak merasakan sakit disekujur tubuhnya, saat ia membuka mata. Matanya dan mata Gibran langsung bertemu sehingga terjadi aksi tatap-tatapan.
"Kalo dilihat-lihat Gibran ganteng juga, cuma sayang suka ngeselin."
"Kenapa liatin gue kayak gitu? pasti ganteng ya?"
Adara tersadar dari lamunannya, ia segera berdiri saat menyadari posisinya dan Gibran nyaris tak ada sela.
_____
Lain halnya, Raden dan Gista malah sangat menikmati kebersamaan mereka yang satu tim saat ini, dunia terasa milik berdua itu lah kata-kata yang teman-teman satu timnya lontarkan untuk keduanya.
"Kalian bertiga bagi kerumah warga sebelah kanan, gue sama Gista sebelah kiri. Nanti kita ketemu disini lagi, oke?" tutur Raden selaku ketua tim
"Oke!"
Kini tinggal lah Raden dan Gista, keduanya tampak canggung. Gista menatap Raden yang di rasanya sejak tadi tak henti-hentinya menatap dirinya.
"Raden, lo ngapain si natap gue kaya gitu?"
"Ya, kenapa gak boleh?"
"Hmm—Kita kapan mulai bagi-bagi sembakonya kalo lo liatin gue terus?"
"Ah, iya, ayo." Raden menggandeng tangan Gista membuat sang empuh terkejut
"Gista!"
Baru saja keduanya hendak melangkah namun terhenti saat mendengar suara seseorang, secara bersamaan keduanya memutar tubuh mereka.
"Dia lagi dia lagi, ganggu aja." gungam Raden pelan, ia mengeratkan genggaman tangannya pada Gista.
"Iya, kenapa Gala?"
"Gua boleh gabung sama kalian gak?" ucap Gala
Gista menoleh pada Raden sekilas, raut wajah laki-laki itu terlihat kesal. "Bo—"
"Gak boleh." potong Raden. "Tim kita udah pas 5 orang, mending lu cari kelompok lain aja yang kurang anggotanya." lanjutnya
Gala menatap tajam Raden, begitu pun sebaliknya Raden juga menatap tajam Gala.
"Kenapa masih di sini, lo gak terima? Sana pergi ganggu orang aja."
"Iya gue gak terima, lagian lo izinin atau enggak gue tetap bakalan gabung."
"Gak bisa gitu dong, gue ketua dari tim ini jadi gue yang nentuin siapa yang boleh dan siapa yang gak boleh gabung di sini. Dan gue gak mau lo gabung di tim gue, ganggu aja."
Gala terkekeh, "Lo cuma ketua tim, gue ketua Osis dan anak pemilik sekolah jadi terserah gue nau ikut tim mana."
Raden memutar bola matanya malas. "Jangan lupa, bokap gue salah satu donatur terbesar disekolah milik papa lo itu."
"Tap-"
"STOP!" pekik Gista yang berhasil membuat mulut keduanya terkatup rapat, tak ada yang bersuara lagi. "Kalo kalian ribut terus kayak gini kerjaan kita gak bakal selesai-selesai."
"Maaf.." cicit keduanya dengan kepala tertunduk bak seorang anak yang tenga di marahi oleh ibu mereka
"Gini aja, Gala boleh gabung sama tim kita supaya kerjaan kita cepat selesai." ujar Gista
Keputusan yang Gista ambil membuat Gala tersenyum lebar namun berbeda dengan Raden, tak ada senyuman di wajah pemuda itu.
"Ayo sta kita mulai bagi-bagi sembakonya." Raden kembali menggandeng tangan Gista
"Eh, gak boleh. Enak aja lo sama Gista, gue yang harus sama Gista itu." Gala melepaskan genggaman tangan Raden pada Gista dan sekarang dialah yang menggenggam tangan Gista
Raden benar-benar dibuat kesal oleh tingkah Gala. "mau lo itu apa sih sebenarnya?!"
"Maksud?"
"Lo it--"
"Udah-udah, lama-lama gue stres di dekat kalian berdua. Kita bagi sembakonya masing-masing aja.." ucap Gista sebelum berlalu meninggalkan keduanya yang masih terlibat aksi adu bacot.
"Sta sembakonya berat, gue bawain ya?" Raden menyusul Gista
"Gue aja sta yang bawainnya.." Gala tak mau kalah saingan, pemuda itu menawarkan bantuan juga pada Gista
"Gak papa, gue bisa sendiri mending kalian mulai bagiin sembako bagian kalian aja biar kita bisa balik ke tenda."
Akhirnya kedunya setuju.
'Gue harus cepat selesai supaya bisa bantu Gista..' batin Raden
'Gue harus lebih dulu dari Raden supaya bisa PDKT sama Gista.' batin Galaksi
Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing tanpa tau jika Gista sudah pergi lebih dulu.