Mira akhirnya harus kembali ke desa setelah kehilangan pekerjaannya di kota.
Kepulangan itu bukan karena keinginan, melainkan keterpaksaan yang lahir dari keadaan.
Rumah yang dulu ia tinggalkan masih sama, orang tuanya tetap setia dengan rutinitas sederhana.
sementara ia datang membawa beban kegagalan dan kegelisahan yang sulit ia sembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chiknuggies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18 Harapan Mungil
Aku menatap semak-semak yang hampir kosong itu. Rasanya aneh, dulu tempat ini penuh daun liar, sekarang tinggal rumput kering dan tanah yang cepat panas.
Kalau begini terus, aku pulang pun nggak bisa bawa apa-apa, pikirku. Tapi kata jamur itu menempel di kepala.
Jamur tumbuh di tempat lembap. Jamur nggak butuh matahari. Jamur bisa tumbuh dari serbuk kayu.
Serbuk kayu…
Aku langsung teringat tumpukan serbuk halus yang menempel di kaki bapak waktu Rerindang ditebang. Serbuk itu masih ada di sekitarku sekarang, menumpuk bak bukit kecil.
Kalau serbuk itu, di campur air, taruh di tempat gelap…
Bukankah itu bisa jadi jamur? Jamur yang bisa dimasak. Jamur yang bisa dijual, kalau berhasil. Jamur yang bisa jadi sesuatu untuk festival.
Aku menuruni bukit sambil membawa satu keranjang jamur. Jumlahnya tidak banyak, tapi cukup untuk dimasak pagi ini, dan yang kering akan aku tanam.
Setidaknya ibu tidak perlu bingung mencari lauk.
Di bahu kiriku, dua kantong besar serbuk kayu yang ikut bergoyang setiap langkah. Serbuk itu ringan, tapi volumenya membuatku harus berhenti sebentar untuk mengatur napas.
Aku tetap membawanya pulang karena sudah terbayang apa yang ingin kulakukan nanti. Gudang belakang rumah sedang kosong. Tidak ada panen yang disimpan, tidak ada hasil kebun yang menumpuk.
Ruang itu lembap dan gelap, kondisi yang sebenarnya cocok untuk menumbuhkan jamur. Serbuk kayu dari Rerindang bisa dipakai sebagai media. Tinggal dicampur air, dimasukkan ke plastik kecil, lalu disimpan di sudut gudang.
Tidak rumit. Tidak butuh lahan luas. Tidak perlu menunggu musim.
Aku menatap keranjang jamur di tanganku. Bentuknya kecil-kecil, beberapa masih basah oleh embun. Rasanya menyenangkan bisa membawa sesuatu pulang, meski sederhana.
Rumah mulai terlihat di ujung jalan. Aku mengencangkan pegangan pada kantong serbuk kayu itu. Ada rencana kecil yang ingin segera kucoba begitu sampai rumah.
°°°°°
"TIDAK!" Suara bapak memecah udara pagi bahkan sebelum aku sempat menurunkan keranjang ke lantai dapur. Nada itu bukan marah, tapi keras seperti orang yang kaget dan tidak siap.
Aku refleks mundur setengah langkah. "Pak… jamurnya buat festival, aku kepikiran-”
"Jamur itu susah," potongnya cepat. Ia mengusap tangan ke celananya, seolah ada sesuatu yang harus dibersihkan padahal tidak ada apa-apa.
Aku membuka mulut, tapi bapak sudah melangkah ke arah kantong serbuk kayu yang kubawa. Ia menatapnya lama, seperti sedang menimbang sesuatu yang tidak ia ucapkan.
"Ini buat apa?" tanyanya, meski jelas ia sudah tahu.
"Buat media jamur, Pak. Di gudang kan kosong. Aku pikir-"
"Jangan," katanya lagi, lebih pelan tapi tetap tegas. "Nggak usah aneh-aneh."
Aneh-aneh? Aku menunduk, mencoba menyembunyikan rasa tersengat yang tiba-tiba muncul.
"Aku cuma mau bantu, Pak," kataku pelan.
"Yang begitu tuh, urusan bapak." Ia sibuk merapikan arit di meja, padahal arit itu sudah rapi sejak tadi malam.
Aku menggenggam pegangan keranjang jamur lebih erat. "Tapi Pak-"
"Cukup, Mira." katanya, kali ini lebih lembut, tapi tetap menutup pembicaraan.
Ia berbalik, berjalan keluar dapur tanpa menunggu jawabanku. Langkahnya pelan, tapi ada ketegangan di bahunya yang tidak bisa kusembunyikan dari mataku.
Aku tidak pernah di panggil menggunakan namaku sendiri dengan cara yang seperti ini. Apa lagi oleh bapak.
Aku berdiri sendirian di dapur, dengan keranjang jamur di tangan dan dua kantong serbuk kayu di lantai.
Rencana kecil yang tadi terasa sederhana kini menggantung di udara, tidak jelas apakah harus kulanjutkan atau kubiarkan saja.