NovelToon NovelToon
Negosiasi Di Ranjang Musuh

Negosiasi Di Ranjang Musuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Wanita Karir / Penyesalan Suami / Selingkuh / Menikah dengan Musuhku / Romansa
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: chrisytells

​Alicia Valero adalah ratu properti Madrid yang tak tersentuh—hingga ia mencium aroma pengkhianatan di balik kemeja suaminya, Santiago. Alih-alih meratap, Alicia memilih jalur yang lebih panas: balas dendam total. Ia akan merebut kerajaan Solera Luxury Homes dan menghancurkan Santiago.
​Namun, demi memenangkan perang ini, Alicia harus bersekutu dengan iblis: Rafael Montenegro.
​Rafael, pesaing suaminya yang kejam dan memikat, adalah bayangan gelap yang selalu mengincar kehancuran Solera. Ia memiliki tatapan yang menjanjikan dosa dan sentuhan yang bisa membakar segalanya.
​Alicia Valero kini menari di antara dewan direksi yang kejam dan pelukan rahasia yang terlarang. Persekutuan berbahaya ini bukan hanya tentang bisnis, tetapi tentang gairah yang menyala di atas tumpukan pengkhianatan.
​Dalam permainan kekuasaan, siapa yang akan menjadi korban? Apakah Alicia bisa mengendalikan serigala itu, ataukah ia akan menjadi mangsa berikutnya dalam kehancuran yang paling manis dan mematikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chrisytells, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 18 : Maut yang Merayap di Balik Pintu

Malam yang seharusnya menjadi puncak gairah antara Alicia dan Rafael berubah menjadi neraka dalam hitungan menit. Di dalam kamar penthouse yang kedap suara, aroma bensin yang tajam mulai menusuk indra penciuman Alicia. Ia terbangun dengan dada yang terasa sesak.

"Rafael..." bisik Alicia, suaranya parau.

Rafael, yang baru saja terlelap setelah kelelahan yang luar biasa, langsung terjaga. Instingnya sebagai pria yang terbiasa dengan bahaya mendeteksi sesuatu yang tidak beres. Ia menghirup udara dan matanya terbelalak. "Ada asap. Alicia, bangun!"

Rafael melompat dari ranjang, menyambar jubah sutranya. Namun, saat ia mencoba membuka pintu kamar besar itu, gagang pintunya terasa sangat panas. Ia menarik tangannya dengan cepat. "Sial! Apinya sudah sampai di depan pintu."

Tiba-tiba, suara ledakan kecil terdengar dari ruang tamu, diikuti oleh suara gemuruh api yang melahap segalanya. Listrik padam total. Suasana menjadi gelap gulita, hanya diterangi oleh cahaya merah yang mengintip dari celah di bawah pintu.

"Rafael, aku tidak bisa bernapas!" Alicia terbatuk hebat. Asap hitam pekat mulai masuk melalui saluran udara.

"Tetap di bawah, Alicia! Ambil handuk basah di kamar mandi!" teriak Rafael.

Alicia berlari ke kamar mandi, namun nasib malang seolah mengepungnya. Sistem kunci elektronik gedung itu mengalami gagal fungsi akibat panas yang ekstrem. Pintu kamar mandi yang tadi ia tutup kini terkunci rapat secara otomatis. Ia terjebak di dalam ruang sempit tanpa jendela, sementara asap mulai memenuhi ruangan itu.

"Rafael! Pintu ini terkunci! Aku terjebak!" jerit Alicia sambil menggedor-gedor pintu kaca tebal itu.

Di luar kamar mandi, Rafael dilanda kepanikan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Baginya, Alicia bukan lagi sekadar alat bisnis atau mitra gairah. Melihat wanita itu terancam maut membuatnya menyadari bahwa ia telah jatuh terlalu dalam.

"Mundur dari pintu, Alicia! Aku akan mendobraknya!" teriak Rafael.

Rafael menabrakkan bahunya ke pintu kayu jati kamar utama yang kini sudah mulai dijilat api dari luar. Ia harus keluar dari kamar ini untuk mengambil alat pemadam, atau mereka berdua akan terpanggang hidup-hidup. Dengan kekuatan penuh dan rasa sakit yang diabaikan, Rafael berhasil menjebol pintu kamar. Di depannya, ruang tamu sudah menjadi lautan api.

"Santiago... pria gila itu benar-benar melakukannya," desis Rafael.

Ia menyambar alat pemadam api di lorong, menyemprotkan jalur singkat menuju kamar mandi tempat Alicia terperangkap. Panasnya udara terasa seperti menguliti wajahnya. Rambutnya nyaris terbakar, namun ia tidak peduli.

"Alicia! Kau di sana?!"

"Rafael! Tolong aku... aku tidak kuat lagi..." suara Alicia melemah, diikuti suara benda jatuh. Alicia pingsan karena kekurangan oksigen.

"TIDAK! JANGAN ALICIA... JANGAN MENYERAH SEKARANG!" raung Rafael.

Ia mengambil kursi besi berat dari meja rias dan menghantamkannya ke pintu kaca kamar mandi berkali-kali. Prang! Kaca itu pecah. Rafael menerobos masuk, mengabaikan serpihan kaca yang menyayat lengannya. Ia menemukan Alicia tergeletak di lantai marmer yang dingin.

Rafael mengangkat tubuh Alicia, membawanya keluar menerobos koridor yang kini dipenuhi puing-puing membara. Plafon gedung mulai runtuh. Sebuah balok kayu berapi jatuh nyaris mengenai kepala Rafael, namun ia berhasil menghindar.

"Bangun, Alicia! Jangan menyerah! Kau tidak boleh mati di tempat sampah ini!" bisik Rafael, air matanya jatuh di pipi Alicia yang hitam karena jelaga.

Dengan sisa tenaga terakhir, Rafael membawa Alicia menuju balkon. Ia tidak bisa menggunakan lift atau tangga darurat yang sudah tertutup api. Ia melihat tangga penyelamat helikopter yang baru saja tiba di atas gedung. Dengan satu tangan mencengkeram tali penyelamat dan tangan lainnya memeluk Alicia erat, Rafael ditarik naik ke udara tepat saat ledakan besar menghancurkan seluruh lantai penthouse tersebut.

Di bawah sana, di kegelapan jalanan, Santiago menonton dengan mata terbelalak. Ia melihat sosok Rafael dan Alicia yang terbang menjauh dari api. "Kenapa kalian tidak mati?!" jeritnya, sebelum menghilang ke dalam gang gelap.

Pagi harinya, suasana di rumah sakit militer Madrid terasa tegang. Alicia terbaring dengan masker oksigen, sementara Rafael duduk di sampingnya dengan perban membungkus lengan dan sebagian wajahnya.

Saat Alicia membuka mata, hal pertama yang ia lihat adalah wajah Rafael yang hancur karena luka bakar ringan namun tetap memancarkan perlindungan.

"Kau... kau menyelamatkanku," bisik Alicia, suaranya hampir hilang.

Rafael menggenggam tangan Alicia, mencium jemarinya yang masih berbau asap. "Aku tidak akan membiarkan siapapun mengambil apa yang sudah menjadi milikku, Alicia. Bahkan maut sekalipun harus meminta izin padaku sebelum menyentuhmu."

"Santiago yang melakukannya, Rafael. Aku tahu itu," air mata Alicia mengalir, membasahi bantalnya. "Dia ingin kita terbakar bersama cintanya yang sudah membusuk."

"Dia sudah menandatangani surat kematiannya sendiri," kata Rafael, suaranya dingin dan tajam seperti pisau. "Aku akan memburu pria itu sampai ke lubang tikus manapun. Tapi untuk sekarang, kita harus fokus pada kesembuhanmu. Kita punya perang baru yang harus dimenangkan."

...****************...

Di sisi lain kota, di sebuah rumah persembunyian yang sederhana, Isabel sedang menatap layar ponselnya. Berita tentang kebakaran hebat di gedung Rafael Montenegro menjadi berita utama di seluruh dunia. Namun, Isabel tidak lagi berteriak atau menangis secara histeris. Ia telah belajar dari kesalahannya.

"Drama murahan tidak akan bekerja lagi," gumam Isabel pada seorang pria di sampingnya—seorang ahli strategi media sosial yang ia sewa dengan sisa perhiasannya. "Aku harus menjadi sesuatu yang tidak bisa mereka serang."

Isabel mulai beraksi. Ia mengunggah sebuah video ke akun media sosialnya yang kini memiliki jutaan pengikut baru. Dalam video itu, ia tampil tanpa riasan, mengenakan kaos polos, dan sedang membagikan roti kepada orang-orang miskin di pinggiran kota.

"Halo semuanya," ujar Isabel ke arah kamera, suaranya dibuat selembut mungkin, penuh dengan nada pengabdian. "Saya mendengar tentang musibah yang menimpa mantan suami saya dan Nyonya Valero. Meskipun mereka telah menghancurkan yayasan saya, saya tetap mendoakan keselamatan mereka. Mari kita lupakan kebencian. Saat ini, saya hanya ingin fokus melayani mereka yang terlupakan oleh kekuasaan dan kemewahan."

...****************...

Beberapa hari setelah Isabel mengunggah pidatonya. Video itu langsung viral. Ribuan komentar pujian membanjiri akunnya.

"Isabel adalah santa sejati!"

"Lihatlah, dia tetap baik meskipun dikhianati!"

"Alicia dan Rafael terbakar karena dosa mereka, tapi Isabel tetap bercahaya!"

Isabel tersenyum licik di balik layar. Ia mulai membangun narasi bahwa ia adalah korban dari "Elite yang Kejam". Setiap hari, ia mengunggah konten tentang kesederhanaannya, tentang bagaimana ia rela hidup susah demi menolong sesama, sementara Alicia dan Rafael tinggal di istana yang kini hangus karena keserakahan mereka sendiri.

Ia menggunakan tagar #SantaBumiValero dan #KeadilanUntukIsabel. Ia menciptakan sebuah gerakan "nirlaba" baru yang berbasis pada sumbangan kecil dari masyarakat luas—sebuah benteng pertahanan yang sangat sulit ditembus oleh Rafael karena menyangkut opini publik secara masif.

...****************...

Beberapa hari kemudian, Alicia yang sudah diperbolehkan pulang terkejut melihat perubahan opini publik. Saat ia dan Rafael keluar dari rumah sakit, mereka tidak disambut dengan simpati, melainkan dengan teriakan hujatan dari sekelompok orang yang membawa poster bertuliskan: "KEMBALIKAN IZIN YAYASAN ISABEL!" dan "ALICIA PENINDAS ORANG MISKIN!"

"Apa yang terjadi?" tanya Alicia, wajahnya pucat pasi.

"Isabel," jawab Rafael sambil menatap ponselnya. "Dia mengubah dirinya menjadi martir digital. Dia mencuci otaki publik dengan citra orang suci. Sekarang, jika kita menyerangnya, kita akan terlihat seperti iblis yang mencoba membunuh malaikat."

Di dalam mobil, Alicia melihat video terbaru Isabel yang sedang menangis sambil memeluk seorang nenek tua. "Dia menggunakan media sosial sebagai senjatanya. Dia tahu kita tidak bisa melawan 'kebaikan' palsu dengan kekuatan politik atau uang."

"Ini lebih berbahaya daripada tuntutan hukum," kata Alicia, suaranya bergetar karena marah. "Dia membangun kekuasaan berdasarkan simpati. Jika ini terus berlanjut, investor Solera akan menarik diri karena takut akan boikot publik."

Rafael mencengkeram kemudi mobil hingga buku jarinya memutih. "Dia pikir dia bisa bermain menjadi santa? Baiklah. Kita akan tunjukkan padanya bahwa setiap santa punya rahasia gelap yang terkubur di bawah jubahnya."

Malam itu, mereka menginap di salah satu hotel milik Rafael. Alicia tidak bisa tidur. Bayangan api dan wajah Isabel yang berpura-pura suci terus menghantuinya.

Ia mendekati Rafael yang sedang berdiri di balkon hotel, menatap sisa-sisa gedungnya yang menghitam di kejauhan. Alicia memeluk Rafael dari belakang, mencari kekuatan.

"Kita hampir mati, Rafael. Dan sekarang wanita itu menari di atas penderitaan kita dengan kedok amal," bisik Alicia.

Rafael berbalik, memeluk Alicia erat. "Jangan biarkan dia menang dalam pikiranmu, Alicia. Dia hanya sedang membangun istana pasir. Satu ombak besar dari kita, dan dia akan tersapu."

"Tapi bagaimana cara melawannya?" tanya Alicia. "Dia dicintai publik sekarang."

Rafael mencium dahi Alicia, matanya berkilat dengan rencana yang lebih licik. "Kita tidak akan menyerangnya secara langsung. Kita akan bergabung dengannya. Kita akan menawarkan 'sumbangan' besar untuk gerakannya di depan kamera. Kita akan memaksanya masuk ke dalam lingkaran kita lagi, di mana kita bisa mengawasinya setiap detik. Biarkan dia menjadi santa, dan kita akan menjadi donatur yang akan mengontrol setiap napasnya."

Alicia menatap Rafael, menyadari betapa kejam dan cerdasnya pria ini. "Kau ingin menjebaknya dengan kemurahan hati kita?"

"Tepat sekali," jawab Rafael. "Mari kita lihat seberapa suci dia saat uang dari 'iblis' masuk ke kantongnya. Kita akan membeli suaranya, Alicia. Dan saat dia lengah, kita akan bongkar semua kebohongannya di puncak popularitasnya."

Alicia tersenyum, sebuah senyum yang kembali penuh dengan gairah untuk membalas dendam. Drama ini belum berakhir. Jika Isabel ingin bermain menjadi santa yang suci, maka Alicia siap menjadi dewi yang akan menentukan kapan hari penghakiman itu tiba.

"Aku akan mengikuti rencanamu, Rafael," bisik Alicia. "Tapi ingat satu hal... setelah Isabel hancur, aku ingin Santiago ditemukan. Aku ingin dia merasakan panas yang lebih hebat dari api yang dia buat semalam."

"Itu janji, mi reina," balas Rafael sebelum menarik Alicia ke dalam ciuman yang penuh dengan janji kehancuran bagi musuh-musuh mereka.

1
🦊 Ara Aurora 🦊
Kk mampir yuk 😁
🦊 Ara Aurora 🦊
Alicia kasihnya 😢😢
(Panda%Sya)💸☘️
Semangat terus ya thor💪
nadinta
oh my god, Alicia. Perempuan mahallll
Ida Susmi Rahayu Bilaadi
cerita bagus gini yg nge like kok cm sdkt ya. minim typo, aq suka. semangat thor 💪💪💪
chrisytells: Makasih, kakak🙏
Harapan aku, makin banyak lagi yg baca karya aku🤗
Kalau boleh aku minta bantu promosi juga, wkwk 🤭😄
Rajin² tinggalkan komentar ya, kak😍
total 1 replies
BiruLotus
lanjut thor
d_midah
Rafael, pilis jangan jadi pria jahat😭
d_midah
jangan gitu dong Rel🥲
Tulisan_nic
Pembalasan yang elegan sekali Alicia,aku suka tipe wanita sepertimu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!