NovelToon NovelToon
Layangan Yang Tak Pernah Lupa

Layangan Yang Tak Pernah Lupa

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Kisah cinta masa kecil / Cintapertama / Idola sekolah
Popularitas:434
Nilai: 5
Nama Author: Ratna_dee

"janji ya kita harus bareng-bareng sampai besar nanti.. sampai aku bisa ajak kamu jalan-jalan keliling dunia!" seru Sena pada Arunika, gadis dengan rambut kepang duanya itu. "hm! Sena gak boleh ingkar janji ya, Aru bakalan nunggu janji Sena!" angguk gadis itu semangat sambil menyambut jari kelingkin Sena

namun sebuah kesalahpahaman menghantam keduanya, mengukir benci tanpa akhir. perpisahan tak dapat terelakkan hingga takdir mengikat keduanya kembali Cinta dan Benci, Rindu dan Dendam mempermainkan mereka dalam kisah masa-masa SMA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna_dee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

pagi yang indah

Mali dan Dharma membangunkan semua siswa yang masih nyaman dalam tidur lelap nya.

"bangun bangun bangun!!!! lima belas menit lagi matahari akan muncul, semuanya bangun kita akan menyaksikan sunrise lima belas menit lagi!!" teriak Dharma menggunakan Toa, membangunkan semua Siswa nya ikut

Deva yang paling pertama keluar dari tenda, karena semalaman itu dirinya tak bisa tidur. bayangan demi bayangan dari masa lalu mengganggunya tanpa henti, bahkan merasa kesal karena otaknya yang terus aktif memutar memori itu

dua menit kemudian, semua siswa sudah berkumpul di tepi tebing untuk menyaksikan Sunrise yang menjadi legenda di lembah awan. ada yang masih menggeliat manja, ada pula yang sudah bersemangat karena momen itu dari semalam di nantikan nya

Lusi, Yulia dan Claudia berdiri dengan sabar menunggu 12 menit lagi, matahari akan terbit menyambut hari baru itu. Kamera sudah mereka siapkan untuk menangkap momen itu dan mengabadikannya, Deva yang berdiri tegap dan menjauh dari banyaknya orang menatap ke arah timur dengan mata penuh harapan, harapan untuk hari baru tanpa bayangan masa lalu lagi, harapan yang sama di setiap paginya selama 7 tahun itu.

perlahan warna jingga mulai menyapa di balik lautan awan, memeberi sedikit cahaya untuk awan menampakkan pesonanya. mata para siswa mulai melek dan melebar, pesona lautan awan yang menyelimuti lembah dan hutan benar-benar memanjakan mata mereka semua

"ini serius kita masih di bumi? kita gak transgender ke dunia lain kan?" celetuk Aldo, Andre menoel kepala temannya itu

"transformasi anj*ng!! loe udah capek punya belalai gajah ya? loe pengen banget kayaknya jadi cewek!" gerutu Andre, celetukan Aldo dan Andre itu mengundang tawa teman-teman nya yang lain, masih ada lima menit sebelum matahari benar-benar menunjukkan kegagahan nya, warna jingga sudah menyebarkan pesona di atas awan dan perbukitan. sunyi.. mereka semua terdiam menatap betapa indahnya lautan putih bercampur warna jingga itu

"indah banget ya? tapi kayaknya loe kurang senang, loe gak apa-apa kan Dev?" tanya Alvin yang mendekat, dari banyaknya orang memang Alvin yang paling peka pada Deva

"gue baik.. cuma gak bisa tidur semalam" jawab Deva tak berkedip menatap ke arah timur

"keinget dia ya? Dev.. kalo loe kangen kenapa gak temuin dia? kita ada disini sekarang, kita punya banyak waktu dalam tiga hari ini untuk ketemu dia.. loe gak harus nyiksa perasaan loe kayak gini kan?" ucap Alvin, Deva terdiam sejenak

"untuk apa? untuk memperdalam luka yang udah lama? lagian siapa yang bilang gue keinget dia?" jawab Deva dengan acuh

"setelah malam, matahari akan terbit dan memberi cahaya saat pagi. loe mungkin bisa liat cahaya lagi kalo loe temuin dia sekarang.." Alvin masih mencoba membujuk sahabat nya itu

"matahari selalu terbit, tapi juga tak pernah libur untuk tenggelam. gue selalu liat cahaya Vin, justru kegelapan selalu hadir kalo gue keinget sama dia" ucap Deva yang masih keras kepala, Alvin tak lagi bicara dan menikmati matahari yang perlahan mulai tersenyum menyambut pagi

riuh suara siswa yang takjub melihat pagi yang tak selalu sama itu menjadi alarm untuk sekitarnya, membangunkan begitu banyak mata yang terlelap. burung-burung pun tak diam di tempatnya, mereka beterbangan di atas para siswa menambah indahnya pagi itu

"wahh... dari semua tempat yang pernah gue kunjungi, kayaknya tempat ini bakalan jadi ranking teratas dari keindahan bumi yang pernah gue lihat dalam sepanjang hidup gue!" seru Samudra semangat

"loe yakin? gue rasa loe harus meluruskan sedikit kesalahan dalam diri loe.. siapa tau kalo loe beri sedikit ruang untuk masa lalu itu menjelaskan sedikit hal mungkin loe gak akan menganggap lampu redup sebagai cahaya lagi, loe bakalan liat betapa gagahnya matahari yang selalu loe tolak" ucap Alvin setelah begitu lama terdiam karena ucapan Deva sebelumnya

Deva tak menjawab, dia hanya menanggapi dalam diam ucapan Alvin. rasanya tak sanggup bagi Deva membuka ruang yang sudah terkunci rapat itu, tak sanggup membayangkan betapa sakitnya luka yang berusaha dia sembunyikan itu, tak sanggup mengingat lebih lama wajah-wajah mereka di masa lalu itu

'Sena.. aku kangen.. Sen, tapi aku benci sama kamu! kamu pergi tanpa pamit, kamu bahkan gak bilang apapun, segitunya ya kamu benci aku Sen.. aku kangen.. tapi aku tetap bilang aku benci sama kamu, lain kali kalo aku ketemu kamu aku pengen mukul wajah kamu! aku gak nangis lagi kalo keinget kamu.. tapi rasanya sakit kalo inget kenyataan kamu yang benci sama aku secara tiba-tiba.. Sen.. kamu dimana?' batin Lusi menatap matahari yang masih oranye itu

Aru. nama itu tanpa sengaja Sena tulis di bebatuan dengan batu kapur yang sejak tadi di genggamnya, sadar dengan ketidak sengajaannya itu Deva membuang batu kapur dan kembali ke tenda. Alvin menatap nama yang terukir di batu itu dengan diam, dia tau betapa rindunya Deva pada pemilik nama itu

"loe udah bukan anak kecil lagi Dev.. tapi gue ngerti kenapa loe bersikap kayak gini.. luka loe sedalam itu ya? sampai loe nutup nya rapat banget bahkan untuk penjelasan pun loe tolak demi gak membuka luka itu" gumam Alvin sendiri

"kalo suatu hari loe ketemu dia tanpa sengaja, apa yang akan loe lakuin?" tanya Alvin lagi pada Deva yang memainkan ranting bekas api unggun semalam, Deva sempat terdiam, merenung membayangkan dirinya bertemu dengan Aru suatu hari

"emangnya apa yang bakal gue lakuin? dia cuma orang dari masa lalu dan gak sepenting itu" jawab Deva acuh

"loe pernah berfikir gak? kalo seandainya selama ini loe salah faham.. loe masih akan benci dia?" tanya Alvin lagi, pagi ini Alvin sudah terlalu banyak bicara dan tanya Deva bahkan hampir muak dengan Alvin

"kalo gue salah faham, gue bakalan temuin dia dan bilang.." Deva tak melanjutkan kalimatnya, dia merasa terjebak dengan pertanyaan Alvin. jika dia menjawab nya sekarang Alvin akan tau bagaimana perasaan nya yang sebenarnya

"loe gak perlu banyak tanya Vin, pagi ini loe terlalu banyak omong.. mending loe sikat gigi dulu deh!" lanjut Deva ketus

"gue udah cuci muka, udah sikat gigi juga! ya kali cogan sekeren gue belum sikat gigi sampai sekarang!!" kesal Alvin yang meninggalkan Deva disana dan bergabung dengan teman-teman nya yang lain

mata Deva tertuju pada Lusi yang terduduk menikmati pagi itu. bayangan Lusi yang di lihatnya dari belakang begitu menenangkan perasaannya, Deva bahkan memotret pemandangan itu entah mengapa dirinya begitu tertarik dengan pose duduk Lusi sekarang ini

"kalo gue dorong dia terus dia jatuh dari tebing, kira-kira dia masih hidup gak ya?" gumam nya menatap potret Lusi di hp nya

1
v_v aja🩵🩷🩶
bagus banget 😍💐💐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!