Cayra Astagina, sudah terlalu sering patah hati. Setiap hubungan yang ia jalani selalu berakhir dengan diselingkuhi.
Saat ia hampir menyerah pada cinta, seorang peramal mengatakan bahwa Cayra sedang menerima karma dari masa lalunya karena pernah meninggalkan seorang cowok kutu buku saat SMA tanpa penjelasan.
Cayra tidak percaya, sampai semesta mempertemukan mereka kembali.
Cowok itu kini bukan lagi si kutu buku pemalu. Ia kembali sebagai tetangga barunya, klien terpenting di kantor Cayra, dan seseorang yang perlahan membuka kembali rahasia yang dulu ia sembunyikan.
Takdir memaksa mereka berhadapan dengan masa lalu yang belum selesai. Dan Cayra sadar bahwa karma tidak selalu datang untuk menghukum.
Kadang, karma hadir dalam wujud seseorang yang menunggu jawaban yang tak pernah ia dapatkan.
Kisah tentang kesempatan kedua, kejujuran yang tertunda, dan cinta yang menolak untuk hilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diamora_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Yang Diam-diam Masih Peduli
Ia tak lagi menunggu balasan. Tapi hatinya tetap ingin memastikan, perempuan itu tidak kehujanan lagi.
...Happy Reading!...
...*****...
Saka kembali menaruh payung yang beberapa hari lalu ia berikan diam-diam untuk Cayra. Kali ini, tangannya terulur mengambil masker. Modelnya persis seperti yang ia berikan. Saka yakin itu masker baru. Mungkin Cayra membelinya sendiri karena yang lama sudah dipakai.
Pikirannya melayang ke pagi saat ia pertama kali memberanikan diri memberi masker itu. Waktu itu, Cayra sedang makan bubur ayam di depan komplek. Sendirian. Terlihat cuek tapi manis.
Padahal Saka tidak berniat mengikuti. Hari itu, ia hendak pulang ke rumah orang tuanya. Kebetulan saja melihat Cayra baru keluar rumah. Perempuan itu sedang duduk di tangga pagar sambil memakai kaos kaki dan sepatu.
Jaketnya tertutup rapi. Celananya ketat seperti hendak jogging. Tapi Saka ragu. Apakah memang benar Cayra mau jogging? Atau dia punya tujuan lain? Entahlah. Saka juga tidak tahu pasti.
Tangannya sudah memegang kunci mobil. Tapi tubuhnya malah diam berdiri di belakang mobil. Mengamati diam-diam. Mulut Cayra terus bergumam sendiri, seperti sedang berbicara pada udara pagi. Sedikit gila. Tapi lucu di mata Saka.
Beberapa saat setelah Cayra memakai sepatu, dia bersin. Cukup keras. Beberapa kali. Saka langsung menebak, mungkin ini efek kehujanan kemarin. Ia sangat tahu, Cayra itu gampang masuk angin.
Tiba-tiba, Cayra menoleh. Refleks, Saka langsung jongkok di balik mobil. Seperti maling yang baru saja tertangkap kamera. Jantungnya berdebar keras. Ia takut ketahuan.
Satu detik. Dua detik. Tiga detik.
Setelah merasa aman, ia mengintip lagi. Cayra sudah berjalan menjauh. Saka menghela napas. Lega. Tapi jantungnya masih berdebar seolah habis kabur dari kejaran polisi.
Ia mengangkat tubuh, lalu menyalakan remot mobil. Belum sempat masuk, ponselnya bergetar. Satu pesan masuk. Dari kakak pertamanya. Minta tolong belikan bubur ayam untuk anaknya yang sedang menginap di rumah orang tua mereka.
Saka membalas singkat, lalu masuk ke dalam mobil. Ia mengemudi perlahan, menyusuri komplek yang baru beberapa hari ini ia tinggali.
Sesampainya di depan, matanya menangkap sosok Cayra. Duduk santai, memainkan ponsel. Saka terdiam. Tepat di depan gerobak bubur ayam. Rupanya Cayra juga beli bubur.
Kebetulan? Atau takdir yang diam-diam ikut merancang kisah mereka?
Saka memarkirkan mobil tak jauh dari tiang listrik, beberapa meter dari gerobak.
Sebelum turun, ia membuka dashboard. Bukan untuk mencari payung, tapi masker. Ia ambil satu, masih tersegel dalam plastik. Ia kenakan perlahan, memastikan wajahnya tertutup.
Saat hendak menutup kembali dashboard, tangannya berhenti. Ia melihat satu masker lain. Yang ada stiker emoji kutu buku. Satu-satunya masker yang ia beri 'tanda tangan' tanpa harus menulis nama.
Ia mengambilnya dan menyelipkan ke saku celana.
Saka turun. Melangkah pelan ke arah gerobak. Cayra duduk membelakanginya. Tapi Saka bisa melihat dari samping, kadang dia mengusap hidung. Ia pasti sedang flu. Saka tersenyum kecil melihatnya.
Tak ada pembeli lain. Saka memesan bubur, lalu berdiri di sisi gerobak sambil pura-pura sibuk menatap jalan.
Beberapa menit kemudian, bungkus bubur sudah berpindah tangan. Saka membayar, lalu menyodorkan masker pada si penjual. Ia menunjuk arah tempat duduk Cayra.
"Tolong kasih ke dia, ya. Terima kasih."
Penjual itu hanya mengangguk. Tidak bertanya. Mungkin sudah biasa melihat kejadian aneh dari pelanggan-pelanggan aneh.
Saka kembali ke mobil. Bubur ia taruh di kursi depan. Tapi ia tidak langsung pergi. Pandangannya tertuju ke kaca spion. Menatap pantulan Cayra dari jauh.
Cayra berdiri. Membayar buburnya. Lalu penjual itu menyerahkan sesuatu. Cayra menerimanya. Saka menyipitkan mata. Itu maskernya. Tapi alih-alih langsung memakainya, Cayra hanya melipat dan memasukkannya ke dalam saku jaket.
Saka mengernyit. Kenapa tidak dipakai? Padahal tadi bersin berkali-kali.
Beberapa detik kemudian, motor ojol datang. Cayra berdiri. Menghampiri pengemudi.
Saka semakin bingung. Ojol? Untuk jogging?
Ia mencoba berpikir logis. Kalau mau olahraga, kenapa pakai ojol? Dan kenapa makan bubur dulu? Bukannya olahraga dulu, baru sarapan?
Ada yang tidak beres. Atau mungkin Saka saja yang terlalu penasaran.
Motor ojol itu melintas di samping mobilnya. Refleks, Saka menunduk. Tapi satu detik kemudian, ia tertawa kecil. Jendela mobil ini pakai kaca film. Tidak akan terlihat dari luar.
Ia kembali mendongak. Tapi jantungnya tetap berdetak lebih cepat dari biasanya. Ada rasa gugup yang susah dijelaskan. Seolah baru saja melakukan sesuatu yang dilarang.
Dan anehnya, ia tidak menyesal sedikit pun.
Saka menghela napas panjang. Matanya menatap kosong ke depan, seakan sedang menonton ulang seluruh kejadian yang ia ciptakan sendiri.
Apa yang sudah ia lakukan beberapa hari ini pada Cayra?
Kalau ditanya apakah dia suka membantu orang, tentu jawabannya iya. Tapi kali ini, kata membantu rasanya terlalu sederhana untuk menjelaskan apa yang sebenarnya ia rasakan. Seolah ada makna lain yang tersembunyi di balik semua perhatiannya.
Saka tidak bisa bohong pada dirinya sendiri. Dia belum bisa melupakan Cayra. Entah karena kenangan yang terlanjur menancap terlalu dalam, atau karena luka yang sampai sekarang belum juga mengering.
Yang menyebalkan, kalau dia memang terluka, kenapa hatinya masih memilih untuk peduli? Seharusnya logika menang. Tapi ternyata, rasa sayang itu jauh lebih keras kepala.
Semakin Saka mencoba melupakan, semakin sering semesta mempertemukan mereka dalam situasi tak terduga. Bahkan ketika tadi siang ia hanya berniat untuk pulang, pandangannya justru tertumbuk pada Cayra yang sedang berdebat dengan adiknya soal jas hujan yang katanya kekecilan.
Saka sempat ingin pura-pura tidak melihat maupun mendengar. Tapi ya, itu hanya sebatas niat. Beberapa detik kemudian saat sudah duduk di dalam mobil, tubuhnya sudah mengambil keputusan sendiri.
Ia memanggil salah satu karyawan Nebula yang kebetulan lewat. Seorang perempuan muda yang tampak terburu-buru.
"Permisi. Bisa tolong berikan jas hujan ini ke perempuan yang sedang berdiri bersama dengan lelaki yang berada di atas motor itu?"
Perempuan itu sempat menatapnya heran. Tapi karena melihat jas hujan yang sudah dilipat rapi, ia pun menerima dan mengangguk sopan.
Setelah itu, Saka langsung masuk ke mobilnya. Mesin dinyalakan. Tapi belum sempat dia melaju, matanya otomatis menatap ke arah kaca spion.
Cayra sedang berbicara dengan si perempuan tadi.
Melihat itu, senyum kecil muncul di wajah Saka. Lega. Rasanya seperti berhasil melepas beban yang sejak tadi menumpuk di dada.
Dia berharap Cayra mau memakai jas hujan itu. Sama seperti saat dia diam-diam memberinya payung di hari hujan itu. Mungkin ini terdengar konyol, tapi bagi Saka, perhatian kecil seperti itu cukup untuk membuat hatinya hangat.
Mengingat itu membuat tangannya terangkat, mengacak rambut sendiri dengan frustrasi. Satu kesimpulan kembali menyeruak dalam benaknya.
Dia belum selesai dengan perasaannya pada Cayra.
Terserah orang mau bilang dia gamon, atau bodoh, atau terlalu lemah untuk melupakan cinta pertama. Tapi bagi Saka, tidak ada alasan untuk dirinya melupakan Cayra.
Bahkan dia masih menyimpan barang pertama pemberian dari Cayra. Kalian mau tahu, barang apa itu? Jawabannya adalah stiker kutu buku.
Stiker itu memang sederhana, tapi baginya penuh makna. Sebuah simbol yang membuatnya terus ingat siapa yang dulu pernah mengisi harinya dengan tawa, tangis, dan perasaan yang tidak pernah bisa ia sebut sebagai kebetulan.
Dan sampai hari ini, Saka tahu satu hal dengan pasti.
Dia masih peduli. Dan dia masih menggunakan stiker berwajah kutu buku itu sebagai simbol dari hidupnya yang diam-diam menjadi saksi dari perasaannya yang tidak pernah selesai.
Mungkin cinta yang paling tulus memang bukan yang dimiliki, tapi yang tetap diam di tempatnya, menunggu tanpa pernah berhenti peduli.