Suyitno merubah namanya menjadi Alex, semua bermula dari ketidak sengajaan yang terjadi disebuah persimpangan jalan.
Seiring berjalannya waktu Suyitno menemukan jati dirinya yang sebenarnya, rahasia yang tidak pernah dia ketahui sepanjang umurnya. Bahkan ibunya yang selalu menutup cerita darinya tentang masa lalu yang terjadi sehingga dirinya hadir di dunia ini.
"Kamu bukan orang lain untuk diriku, tapi ada hubungan darah yang lebih dari itu" kata tuan Ali suatu hari pada Alex.
"Ibu bukannya tidak mau bercerita yang sebenarnya, tapi ada hal yang harus ibu lakukan untuk melindungi dirimu" ucapan ibu Suyitno semakin membuat Suyitno penasaran tentang siapa dirinya yang sebenarnya.
Mungkinkah Suyitno adalah takdir dan karma lain dari kehidupan dimasa lalu, mampukah Suyitno menerima segala hal yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya?
Lalu ke mana cintanya akan berlabuh setelah semua terbuka dan mengetahui siapa dirinya ?
"Cinta tidak memandang dari apa yang ada, tapi lebih dari sebuah rasa untuk selalu ada bagaimana pun keadaanya."
Siapa yang berkata demikian saat Suyitno tidak mempercayai cintanya?
Mirna, Meilan atau mungkin mis Lina?
Waktu memang membuat rahasianya sendiri untuk kehidupan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tompealla kriweall, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ali Abram 1
POV Tuan Ali
Waktu yang terus berlalu dengan segala permasalahan yang ada membuatku menjadi laki - laki yang sedikit peka.
Perjalanan hidupku yang sedari kecil sudah nyaman membuatku menjadi tak begitu risau soal apapun.
Sekolah selalu di sekolah yayasan dan unggulan.
Soal kecerdasan ,aku terbilang cerdas karena selalu ada dalam lima besar peringkat umum.
Sewaktu masa SMA yang katanya indah aku juga pernah merasakan beberapa kali pacaran dengan seangkatan maupun adik kelas.
Maklum saja karena aku termasuk most wanted disekolah.
Selain cerdas dan tampan aku juga ketua OSIS jadi pastinya banyak cewek yang mau antri jadi pacarku.
Sayangnya aku bukan playboy yang suka bergonta ganti pacar.
Sedangkan adiku Aji yang masih duduk di SMP dan satu yayasan denganku malah terkenal dengan Play boynya.
*****
Sewaktu kuliah tak jauh beda, begitupun juga Aji. Seiring berjalanya waktu aku mantap memilih pacarku Arini yang dari keluarga biasa untuk jadi pendamping hidupku kelak.
Papa dan mama tak mempermasalahkan perbedaan status ekonomi tersebut.
Bahkan mama menyuruhku untuk segera menikahi begitu selesai kuliah seusai wisuda.
Keluarga Arini pun setuju saja karena Arini pun akan selesai kuliah bersamaan denganku.
*****
Untung tak bisa diraih ,malang tak bisa ditolak.
Begitulah kiranya kehidupan ini ,ada masa keberuntungan menghampiri tapi bencana dan cobaan pun datang tak perlu undangan .
Tak lama setelah usai pernikahanku dengan Arini, keluargaku tertimpa musibah. Papa ditipu temannya yang membawa kabur uang modal untuk usaha bersama. Untuk menutup utang Papa sudah menggadai rumah dan menjual mobil. Bahkan tabungan dan barang - barang dirumah sudah ikut terjual bersama perhiasan mama terlebih dahulu. Beruntunglah saat itu aku sudah membeli rumah sendiri tak lama setelah menikah. Tabunganku dan Arini serta sedikit pemberian orang tuaku.
Tadinya aku pun menawarkan rumahku saja uang dijual tapi mama menolak karena itu sudah hak ku sendiri.
*****
Siang itu aku baru mau bertemu seorang teman untuk membicarakan kerja sama pembangunan ruko. Karena aku seorang arsitek jadi aku yang diminta rancangan desainnya.
Tiba - tiba teleponku berdering dan ternyata aji yang menelpon .
" kak ... buruan pulang ! " teriak Aji diseberang sana.
" da pa ? " aku bertanya panik.
" papa ...papa ... " hanya itu yang terdengar dan sambungan pun putus.
Aku bergegas kembali memutar arah jalan dan menghubungi temanku.
Meminta maaf dan meminta waktu lain saja.
*****
Ternyata nyawa papa tak tertolong saat dilarikan kerumah sakit.
Papa hanya sempat sadar dan berpesan
" jaga dia .... dia ...adikmu "
Suasana berkabung masih terasa saat rumah kami disita bank.Entah bagaimana pandangan tetangga dan orang - orang sekitar. Kami sudah tak peduli.
Aku sudah menawarkan pada mama untuk tinggal di rumahku tapi mama bersikeras menolak. Mama lebih memilih mengontrak rumah kecil di pingiran kota Semarang. Menjauh dari kota dan segala kenangannya.
*****
Ketenangan yang dicari mama juga l tak bertahan lama. Tubuh mama melemah seiring beban pikiran yang dipikulnya. Jungkir balik perekonomian yang sudah merenggut nyawa papa dan kemewahan hidup kami, semua menjadi alasan menurunnya kesehatan mama.
Beruntung mama masih ditemani pembantu kami yang masih setia, bahkan mama sudah tak mampu membayar gajinya pun dia masih mau merawat mama.
Adiku Aji sudah keluar kuliah, tadinya aku menyarankan cuti saja dan bisa kembali kuliah jika keadaan membaik.
Aku pun mau membiayai kuliahnya, tapi Aji sudah bertekad untuk mencari kerja saja.
30-10-2023 | 14.40