Michelle sudah lama mencintai Edward, namun ternyata lelaki itu justru jatuh cinta dan menjalin hubungan dengan Kimberly, teman baik Michelle sendiri.
Rasa benci Michelle terhadap Kim semakin membara. Sehingga salah seorang sahabatnya yang lain mengajaknya ke desa sepupunya.
Michelle membawa pulang barang antik berupa cermin tua yang sangat menyeramkan setelah pulang dari hutan. Cermin itu bisa mendatangkan petaka.
Hingga kabar tentang kematian Kim setelah beberapa hari menikah dengan Edward pun tersebar di kalangan masyarakat.
Ada misteri apa di balik kematian Kimberly?
Ayo temukan jawabannya dengan membaca novel ini sampai selesai, selamat membaca 🥳
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Richest, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Andre sudah terbangun dari tidurnya. Sedangkan Angga baru saja selesai mandi. Dia menghampiri temannya yang baru bangun tidur itu.
"Kenapa kamu tadi malam tidur di garasi mobil? Seperti tidak ada tempat lain yang lebih nyaman saja." tukasnya.
"Angga, aku punya fun fact baru tentang Michelle. Tapi aku ragu ingin menanyakannya langsung dengan dia. Mungkin aku rasa kita tidak perlu bertanya soal ini ke dia. Lebih baik kita langsung cabut aja dari sini sekarang juga."
"Ha? Kenapa buru-buru amat? Fun fact apa, Re?"
"Huss," Andre menutup mulut Angga dengan menggunakan jari telunjuknya.
"Jangan bicara keras-keras,"
"Sebenarnya aku lihat ada mayat perempuan di dalam bagasi mobilnya Michelle. Mobil yang dia kasih tumpangan ke kita malam tadi." jelasnya.
"Yang benar kamu? Kamu enggak lagi bercanda atau mimpi, kan?"
"Iya, enggak mungkinlah aku bohongin kamu."
"Yasudah, kalau benar begitu apa adanya, cepat kamu mandi dan siap-siap. Habis itu kita langsung pergi saja dari sini. Aku mau ke kamar Reno dulu." ucap Angga.
Di kamarnya, Reno dan James sama-sama sudah terbangun dari tidur. Mereka sama-sama kaget karena tiba-tiba bisa tidur sekamar. James yang punya riwayat pernah gay menjadi syok dengan kejadian ini.
"Kamu siapa?" tanya James dengan hati-hati kepada Reno.
Dia merasa asing dengan wajah lelaki di hadapannya ini. Begitu pula dengan Reno. Ia tak pernah bertemu dengan James sebelumnya. Untunglah Angga muncul di saat yang tepat.
Dia memasuki ruangan itu dan duduk di tepi ranjang dekat James dan Reno. "Kamu malam tadi ketiduran, Ren."
"Kalau kamu sih pingsan lalu dibawa sama Michelle ke rumahnya ini." tunjuknya kearah James.
Kedua lelaki itu sudah paham dengan maksud dari ucapan Angga. "Lalu, kenapa kita bisa berada di rumahnya Michelle?"
"Soalnya tadi malam mobil Andre mogok. Untung ada Michelle bantuin kita. Kamu sih kelamaan tidur. Jadinya enggak tahu apa-apa kan."
"Sudah, cepat kalian mandi gih."
Setelah Andre dan Reno selesai mandi, mereka berdua menemui Angga yang sedang bersama Michelle di ruang keluarga. Dia sudah berbicara baik-baik kepada Michelle bahwa mereka akan segera pulang pagi ini juga.
Gadis itu menawarkan kepada mereka bertiga untuk sarapan terlebih dahulu. Namun sayangnya mereka menolak. Mereka bilang bahwa mereka terburu-buru. Karena ada banyak tugas yang harus mereka selesaikan. Jadi mereka harus segera pulang.
"Kalian hati-hati ya guys." ucap Michelle melambaikan tangannya dari kejauhan. Sementara taksi sudah semakin menjauh.
"Fyuh, akhirnya kita selamat. Kita bisa keluar dari kandang iblis." ucap Andre.
"Memangnya ada apa, sih?" tanya Reno penasaran. Karena memang dia tidak tahu apa-apa.
"Nanti waktu kita udah sampai di tujuan aja akan ku ceritakan semuanya deh." ujar Andre.
****************
Edward sedang meeting dengan kliennya. Sementara di ruang kerjanya sudah ada Frans menunggu kehadirannya. Michelle yang baru sampai di sana langsung membuka pintu ruangan tersebut tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
Melihat tingkah Michelle yang kurang sopan seperti ini, Frans menaruh curiga kepadanya. Mengapa ia bisa seberani ini?
Michelle langsung tergagap di tempatnya. Dia menjadi sedikit panik. Tidak biasanya Frans berada di ruang kerjanya Edward, pikirnya.
"Pak Frans? M-maafkan saya lancang. Tadi saya lupa mengetuk pintu." ucapnya.
"Iya, tidak apa-apa. Lain kali jangan diulangi lagi."
"Ada apa, Chelle?"
Michelle menjadi semakin bingung. Dia masuk ke ruangan ini tanpa membawa berkas apapun. Itu tentu saja akan membuat kecurigaan Frans terhadap dirinya bertambah.
Memang niatnya datang kesini hanya untuk bertemu dengan Edward. Tapi lelaki itu justru sedang meeting dan ia malah bertemu dengan Frans.
Saat Michelle bingung ingin menjawab pertanyaan dari Frans, ada seorang karyawan yang tiba-tiba juga turut datang ke sana. Dia mengetuk pintu terlebih dahulu. Kemudian masuk saat telah diizinkan oleh Frans.
"Pak Frans sudah ditunggu oleh Pak Edward di ruang meeting."
"Kenapa tidak disini saja?"
"Maaf pak, saya juga tidak tahu."
"Yasudah, saya pergi dulu," dia dan karyawan itu meninggalkan Michelle yang masih berada di ruang kerja Edward.
"Fyuhh, untung kali ini aku selamat. Lagian bapaknya Kim ngapain sih pakai acara datang kesini lagi. Tapi enggak ada salahnya juga sih. Dia kan mantan mertuanya Edward. Sekarang udah enggak lagi."
Setelah pertemuannya dengan Frans selesai, Edward kembali menemui Michelle yang masih menunggu di ruang kerjanya.
Dia masuk ke dalam ruangan itu dan meletakkan jasnya di atas meja kerja. Kemudian duduk di sofa di dekat Michelle.
"Kamu tadi kenapa main nyelonong aja? Kan belum tentu aku yang berada dalam ruangan ini. Kalau papa curiga tadi gimana? Kan bisa ribet urusannya. Dia pasti berpikir yang aneh-aneh."
"Lagian emang sudah sewajarnya, Ward. Kim kan sudah lama meninggal. Memang harusnya kamu udah menikah lagi. Kan kamu juga berhak bahagia."
"Iya, Chelle. Tapi masalahnya kamu itu dulu teman dekatnya Kim. Nanti Frans bisa curiga kalau kamu yang sudah menghabisi nyawa anaknya. Yah walaupun memang kamu yang sudah membunuhnya."
"Kalau begitu lebih baik aku bunuh juga si Frans. Biar dia cepat-cepat menyusul anaknya ke neraka. Agar hidup kita juga tenang, Ward."
"Enteng sekali kamu berbicara begitu. Emangnya kamu pikir menghabisi nyawa orang itu mudah?"
"Semuanya terasa mudah kalau udah diserahin ke aku. Apa kamu setuju dengan rencana aku untuk menghabisi nyawa Frans?"
"Terserah kamu saja deh, Chelle. Kalau kamu enggak keberatan ya silahkan."
"Alright, lihat saja hasilnya nanti."
Michelle sudah pulang ke rumahnya. Dia baru ingat bahwa dia belum mengeluarkan mayat wanita malam yang habis ia bunuh tadi malam.
Saat pergi ke perusahaan Edward tadi dia menggunakan mobilnya yang lain. Sementara mobil yang ia pakai tadi malam masih berada di dalam garasi.
Dia membuka bagasi mobil tersebut. Kemudian menyeret mayat wanita malam itu hingga ke lantai atas. Tempat di mana ia mengoleksi para jenazah yang meninggal akibat ia bunuh.
"Nih mayat berat juga. Dasar wanita malam banyak dosa." desisnya.
Setelah selesai meletakkan mayat tersebut di dalam ruangannya, dia kembali ke kamarnya. Dia melihat cermin kematian yang berada di meja rias.
Dia kembali bercermin. Memandangi wajah cantik rupawan miliknya itu. "Bagaimana cermin? Apakah Edward benar-benar akan segera menikah denganku?"
"Tentu saja itu tidak akan pernah terjadi, hahaha." sebuah suara yang berasal dari cermin itu menggema di dalam kamar Michelle.
"Apa?! Kenapa tidak bisa? Siapa lagi yang menghalangiku?"
"Lihat saja nanti. Kau akan tahu semuanya."
"Apa-apaan! Kenapa kau tidak bilang alasannya?!"
Michelle menjadi semakin emosi. Cermin itu juga tidak menjelaskan apa alasannya. Dia kembali memandangi wajah cantiknya. Namun seketika ia melihat seperti ada perubahan di wajahnya.
Dia semakin mendekatkan wajahnya ke cermin. Dia melihat seperti ada cacing pita yang sangat halus keluar dari sela-sela matanya yang indah itu.
"Sshhh, apa ini?" dia merasa ngeri dan takut melihat cacing putih yang berukuran sangat kecil namun masih dapat dilihat dengan mata telanjang itu.
Entah mengapa ia merasa bahwa dirinya akhir-akhir ini mengalami kelainan penyakit yang sangat aneh dan tidak biasa. Dia berpikir sepertinya ia memang harus segera berobat ke rumah sakit.