Rayna tak pernah benar-benar memilih. Di antara dua hati yang mencintainya, hanya satu yang selalu diam-diam ia doakan.
Ketika waktu dan takdir mengguncang segalanya, sebuah tragedi membawa Rayna pada luka yang tak pernah ia bayangkan: kehilangan, penyesalan, dan janji-janji yang tak sempat diucapkan.
Lewat kenangan yang tertinggal dan sepucuk catatan terakhir, Rayna mencoba memahami-apa arti mencintai seseorang tanpa pernah tahu apakah ia akan kembali.
"Katanya, kalau cinta itu tulus... waktu takkan memisahkan. Hanya menguji."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iyikadin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 - Mentari di Balik Kabut
"Aku sendiri kadang bingung… sejak kapan kehadiranmu berubah jadi rumah? Yang aku cari waktu lelah, yang aku ingat waktu sesak."
"Aneh ya, rasa nyaman itu datang diam-diam, lalu tanpa izin… tinggal."
...***...
Mentari belum sepenuhnya muncul, namun sinarnya mulai menyelinap masuk melalui celah tirai kamar Ben. Ia menggeliat, merasakan sesak yang menyesakkan dada. Bukan hanya karena kamar yang sempit, tapi juga karena beban pikiran yang menumpuk.
Dengan gerakan lesu, Ben meraih ponselnya. Jari-jarinya menari di atas layar, mengetik pesan untuk Rayna.
"Ray, lo hari ini masuk sekolah? gue jemput ya"
Beberapa saat kemudian, balasan Rayna muncul. "Gak usah."
Ben mengerutkan kening. "Please Ray, gue butuh lo."
"Lo kenapa?" balas Rayna.
"Pokoknya gue mau jemput lo sekarang," balas Ben cepat.
"Yaudah," jawab Rayna singkat.
Tanpa membuang waktu, Ben bangkit dari tempat tidur. Ia bersiap secepat kilat, bahkan tak sempat mandi atau sarapan. Pikirannya hanya tertuju pada Rayna. Ia butuh kehadirannya, butuh seseorang untuk berbagi beban.
Ben menyelinap keluar rumah tanpa pamit pada siapapun. Ia tak peduli dengan omelan Mama atau pertanyaan Papa. Yang terpenting saat ini adalah bertemu Rayna.
Sesampainya di depan rumah Rayna, Ben langsung mengirim pesan.
"Gue udah di depan."
"Sepagi ini?" balas Rayna.
"Iya udah ah buruan bukain ini," desak Ben.
"Biasanya juga lo langsung masuk aja tanpa gue," balas Rayna, sedikit heran.
"Ayolah Ray," pinta Ben, tak sabar.
Tak lama kemudian, pintu rumah Rayna terbuka. Rayna berdiri di ambang pintu, menatap Ben dengan tatapan menyelidik.
"Lo kenapa sih?" tanyanya lembut. "Sini masuk dulu."
Rayna menarik tangan Ben, mengajaknya masuk ke rumahnya yang masih sepi. Ben menghela napas lega. Akhirnya, ia bisa sedikit bernapas.
"Lo udah sehat?" tanya Ben, mencoba mengalihkan perhatian.
Rayna menatap Ben dengan tatapan menyelidik. "Lo belum jawab pertanyaan gue. Lo kenapa?"
Ben mengalihkan pandangannya. "Gue gapapa."
Rayna mendengus. "Kalo lo gapapa, gak mungkin wajah lo gitu. Sini duduk dulu, cerita sama gue."
Rayna menuntun Ben ke sofa di ruang tamu. Ia duduk di samping Ben, menunggunya untuk berbicara.
Ben menghela napas berat. Ia tahu, ia tak bisa menyembunyikan apapun dari Rayna. Ia mulai bercerita tentang kegelisahannya, tentang tekanan dari Mama, tentang mimpinya yang terpendam.
"Gue cape harus pura-pura jadi orang lain, Ray," kata Ben lirih. "Gue pengen jadi diri gue sendiri, tapi gue takut ngecewain Mama."
Rayna menggenggam tangan Ben erat. "Lo gak harus jadi orang lain buat bikin Mama bangga, Ben. Lo punya bakat, lo punya mimpi. Lo harus berani ngejar itu semua."
"Tapi gue takut, Ray," balas Ben. "Ken terlalu sempurna dihidup gue, makanya gue gak bisa lakuin apa-apa lagi buat bikin Mama bangga."
"Gue tau ini gak mudah, Ben," kata Rayna lembut. "Tapi lo gak sendirian. Gue bakal selalu ada buat lo, apapun yang terjadi."
Mendengar kata-kata Rayna, Ben merasa sedikit lega. Ia tahu, ia bisa mengandalkan Rayna untuk memberikan dukungan dan semangat.
Tiba-tiba, suara langkah kaki ringan terdengar dari arah dapur. Mama Rayna muncul, cangkir teh di tangannya mengeluarkan asap hangat yang menyebar lembut di udara pagi yang masih sejuk. Dia melihat Ben dan Rayna yang duduk berdua di sofa, lalu tersenyum.
"Eh Ben, kapan dateng?"
Ben berdiri cepat, merasa sedikit kaget. "Eh Tante, baru aja kok."
Mama Rayna melangkah mendekat, matanya yang lembut sedikit menyelidik tapi tidak menyakitkan. "Wah tumben dateng sepagi ini? Rajin juga ya buat jemput Rayna."
Rayna menyentuh lengan Ben perlahan, mengambil alih bicara. "Iya Ma, mau buru-buru ke sekolah aja."
Mama Rayna mengangguk, lalu memandang mangkuk yang masih kosong di meja makan. "Yaudah, tapi sarapan dulu yuk. Mama baru bikin nasi goreng, masih hangat lho."
Ben mau menolak, tapi Rayna geser lututnya diam-diam. "Iya ma, katanya Ben udah lapar banget pengen makan."
"Ih apaan sih lo, enggak ko tante, Rayna ngada-ngada tuh."
Mama Rayna ketawa ringan, nggak mau ngeyel. "Ya sudahlah, lapar atau nggak, makan dulu aja. Biar pas ke sekolah kuat belajar. Ray, bawa minuman buat Ben ya, ada teh tawar di dapur dekat laci makanan."
Dia balik ke dapur sebelum Rayna sempat jawab. Rayna ngeliat Ben dengan tatapan cuek. "Ben, gue cuma mau bantu biar lo makan."
Ben menatap Rayna dengan malu, "Kesannya kek gue dateng kesini cuma buat makan doang, tapi thanks ya."
Saat suara kompor mulai terdengar lagi, Rayna pergi ambil minuman. Tak lama, Mama Rayna datang dengan dua mangkuk nasi goreng yang harum parah, meletakkan di depan mereka dengan senyum. "Ini sarapannya ya, mau makan disini boleh, di meja makan boleh, bebas deh terserah kalian."
"Iya makasih ya tante, Ben makan disini aja."
Ben mencoba sedikit, rasanya pas banget, pedas, manis yang bikin mulut ngiler.
Rayna makan dengan pelan, sesekali melihat ke arah Ben dan berkata, "Loh, tadi katanya nggak lapar? Cuma ngada-ngada? Sekarang lahap banget makannya."
Ben menatapnya balik, mata sedikit membelok dengan ekspresi yang seolah berkata. "Awas ya lo Rayna, nanti gue bales, tunggu aja!"
Mama geleng-geleng kepala melihat keduanya, senyum tersembunyi di bibir.
"Ujian akhir sebentar lagi ya?" tanya Mama santai.
"Iya Ma, rasanya deg-degan banget. Harus belajar lebih fokus lagi deh," jawab Rayna sambil menggigit nasi.
Ben yang lagi makan tiba-tiba nyolot. "Ah, biasanya lo aja selalu dapet nilai bagus. Kan lo udah pinter banget dari dulu."
"Dih, peres banget deh Ben. Males!" jawab Rayna meledek.
"Emm ssuuut udah, kalau gitu harus belajar terus ya, Mama percaya kalian pasti dapat nilai yang memuaskan." Ucap Mama
"Yaudah dilanjut ya sarapannya, Mama mau ke belakang dulu." Lanjut Mama sambil bergerak perlahan meninggalkan mereka berdua.
Matahari sudah mulai menyembul dari balik awan, menyebarkan cahaya emas yang sedikit menyinari lantai rumah. Rayna dan Ben memutuskan untuk segera berangkat ke sekolah, menggunakan motornya yang gagah itu yang selalu dibanggakan Ben.
Rayna naik ke gerbong, mengencangkan pegangannya di pundak Ben. Tapi tiba-tiba, tangan Ben meraih tangan dia, menarik perlahan sampai posisi Rayna memeluk pinggangnya erat.
Kali ini, Rayna tak berusaha melepaskan diri. Tak ada gerakan membalik atau omelan, hanya kehangatan yang menyebar dari tubuhnya ke tubuh Ben.
"Ray, thanks ya."
"Hah, buat apa?"
"Deket sama lo... bikin gue jadi lebih tenang."
"Idih, aneh banget lo ngomong gitu. Geli dengernya."
"Yaelah, gue lagi serius juga."
Tanpa menunggu jawaban lagi, Ben langsung menekan gas motornya. Mesin bergemuruh kencang, dan mobil melesat dengan kecepatan yang tiba-tiba meningkat.
"Ben?! Pelan-pelan aja ih!"
Tapi Ben seolah tidak mendengar. Dia tetap memegang gas dengan erat, motor melaju kencang melewati jalan raya pagi yang masih sepi. Angin menerjang wajah mereka, rambut Rayna terbang ke belakang, tapi dia tetap memeluk pinggang Ben lebih erat—tidak dengan takut, tapi lebih seperti ingin menangkap setiap detik yang ada.
Bersambung...
nanti kalau ada yang dekati kamu ga kaget