NovelToon NovelToon
Aster Veren

Aster Veren

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Keluarga & Kasih Sayang / Romansa / Tamat
Popularitas:260.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fiane

Aster gadis kecil yang hidup sendiri setelah ditinggal pergi oleh ibunya diusia mudanya. Kini dia juga harus kehilangan sosok neneknya, satu-satunya keluarga yang masih dimiliki olehnya.

Lalu suatu hari dia bertemu dengan seorang pria asing dalam sebuah kecelakaan, siapa sangka pertemuannya dengan pria itu membawanya pada kehidupan yang lebih baik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fiane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

-Arsel-

"Nona!" Suara Eric terdengar dari luar ruangan, dengan cepat aku berjalan kearah pintu untuk melihat apa yang terjadi. Tapi yang ku lihat hanya Ekspresi Eric yang tak bisa ku jelaskan.

"Ada apa?" Tanyaku.

"Sepertinya nona mendengar pembicaraan tuan muda dengan nyonya dan–" Jelasnya membuatku segera berlari mencari sosok Aster yang sempat ku lihat. Dia berlari dengan sangat cepat menuruni anak tangga.

"Tuan muda?" Suara Eric tak ku perdulikan.

"Aster ...." Gumamku sangat mengkhawatirkannya.

Bagaimana bisa dia mendengar pembicaraanku dengan kakak dan ibu? Sebenarnya apa yang dilakukan oleh Eric? Batinku menggerutu kesal.

"Hans!" Panggilku pada seorang pelayan yang sedang berbincang dengan anak berambut coklat yang dibawa oleh kakak.

"Ya tuan?" Tanyanya saat aku sampai dihadapannya.

"Kau lihat anak perempuan berambut hitam lewat sini?" Tanyaku mencoba untuk mengendalikan rasa panik ku.

"Tidak tuan, sejak tadi tidak ada anak perempuan yang lewat." Jawabnya terlihat jujur.

"Ck, dimana kamu Aster?" Gumamku kembali berlari memeriksa semua ruangan yang ada di rumah ibu.

"Sudah menemukannya?" Tanya Eric yang berlari dari arah berlawanan denganku.

"Belum." Jawabku sambil mengepalkan kedua tanganku.

"Saya sudah memeriksa halaman belakang dan taman mawar, tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan nona." Tuturnya semakin membuatku kesal.

"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa dia sampai mendengar pembicaraanku?" Tanyaku sambil melemparkan ponsel yang sejak tadi ku genggam.

"Maaf tuan, saya izin ke toilet pada nona. Dan nona bilang akan menunggu saya dihalaman belakang, tapi saat saya kembali dia sudah tidak ada ditempatnya. Saya tidak tau kalau nona akan mencari saya dan sampai didepan ruangan nyonya." Jelasnya.

"Arrgh... harusnya aku tinggalkan Aster dengan Hana saja di rumah." Geramku merasa putus asa bersamaan dengan Eric yang memungut ponselku dilantai.

"Arsel," ucap ibu membuatku menoleh kearahnya yang berjalan menuruni anak tangga, karena saat ini posisiku berada dilantai dasar ruang tamu.

"Ibu menemukannya." Lanjutnya membuat perasaanku lega.

"Dimana dia sekarang?" Tanyaku langsung mendapat senyuman lebar darinya.

"Ikut ibu." Jawab ibu kembali menaiki anak tangga yang baru dituruninya, dan mau tidak mau akupun mengikuti langkah ibu dari belakang untuk memastikan keberadaan Aster.

Sepertinya kakak bodohku itu sudah pulang bersama dengan anak itu ya? Batinku mencari keberadaannya yang tak ku temukan dimanapun.

"Lihatlah." Ucap ibu sambil membuka pintu kamar kakak, dan ku lihat sosok Aster yang tertidur pulas diatas sofa dengan tubuhnya yang meringkuk.

"Aster ...." Gumamku benar-benar merasa lega sekarang.

Pantas saja aku tidak bisa menemukannya, kamu bersembunyi di kamar kakak ku yang bahkan aku sendiri tidak akan mau masuk untuk memeriksanya. Lanjutku dalam hati sambil melangkahkan kakiku memasuki kamar itu.

"Syukurlah ...." Suara Eric terdengar lega, ternyata dia juga mengikutiku dan ibu dari belakang.

"Saat ibu meminta semua pelayan untuk mencarinya, ibu pergi ke kamar Ansel untuk menemuinya. Tapi yang ibu temukan malah cucu ibu yang terlelap." Jelas ibu saat aku berjongkok dihadapan Aster.

Sepertinya dia habis menangis. Batinku memperhatikan mata sembabnya, mengingatkanku pada pertemuan pertamaku dengannya. Saat itu matanya juga sembab seperti saat ini.

"Untuk sementara biarkan Aster tidur di kamar ini. Lagipula kamar ini sudah lama tidak digunakan oleh Ansel. Kalian pulanglah besok pagi ...." Tutur ibu dengan sorot mata hangatnya yang memperhatikan Aster.

"Tapi besok dia harus sekolah, kami akan pulang saat Aster bangun." Ucapku sambil memindahkan tubuh Aster keatas tempat tidur.

"Hee... ayolah pulangnya besok saja. Ibu masih mau bersama Aster, ibu belum banyak bicara dengannya. Ibu ... ibu akan kirim surat izin sekolah ke sekolahannya Aster." Tutur ibu dengan ekspresi memelasnya.

"Ibu–" Ucapku terpotong saat mendengar erangan halus Aster.

"Nyonya, tuan muda. Sebaiknya kita mengobrol di luar saja." Tutur Eric sedikit berbisik.

"Kau benar, ayo pergi." Ucapku segera pergi dari kamar kakak ku itu.

***

Waktu sudah menunjukan pukul 06:45 malam, Wanda sedang memeriksa kondisi Aster yang tiba-tiba terkena demam. Dan ibu sedang menyambut para tamu yang dia undang untuk merayakan kepulangan kakak sekaligus hari ulang tahunnya.

Pada akhirnya Aster benar-benar izin sekolah besok. Batinku mengingat ucapan ibu yang akan meminta izin tidak hadir untuk Aster, tapi sepertinya alasan izinnya diubah dengan izin karena sakit.

"Aku juga lupa kalau hari itu adalah hari ini ...." Lanjutku bergumam sambil mengingat tanggal undangan di surat undangan yang ku dapatkan dari Tomi.

Klek.

Suara pintu yang terbuka meruntuhkan lamunanku, ku lihat Wanda sudah keluar dari dalam kamar kakak sambil menghela napas lelahnya.

"Ada apa? Kenapa menghela napas seperti itu?" Tanyaku mulai mengkhawatirkan kondisi Aster.

"Kenapa aku harus melihat wajahmu lagi ...." Gumamnya melukai hatiku.

"Bagaimana kondisinya?" Tanyaku tak ingin berdebat dengannya di rumah ibuku yang mulai ramai dengan para tamu yang berdatangan.

"Hanya demam biasa, kau tidak perlu khawatir." Jawabnya sambil memberikan resep obat ketanganku.

"Bagaimana aku tidak khawatir, sebelumnya kau bilang paru-parunya bermasalah kan?" Tuturku bertanya.

"Ah ya, untuk yang satu itu sebaiknya jangan biarkan tubuhnya kedinginan dan kelelahan karena bisa membuat penyakitnya kambuh. Kau bisa pergi ke rumah sakit untuk memeriksa kondisinya lebih jauh, mungkin penyakitnya bisa disembuhkan jika dia bertemu dengan dokter ahli paru." Jelasnya sebelum pergi dari hadapanku.

"Wanita itu benar-benar," Geramku merasa kesal dengan ketidaksopanannya itu, padahal aku belum selesai bertanya tapi sudah ditinggal begitu saja.

"Lupakan, aku mau melihat Aster sekarang." Lanjutku sambil membuka pintu kamar kakak dan masuk kedalam.

Ku lihat Aster masih terlelap dalam tidurnya setelah sempat terbangun karena ibuku yang berisik itu. Dia diam-diam masuk ke kamar kakak dan mengganggu Aster, lalu memaksanya untuk makan buah-buahan yang dibawanya.

Tapi saat mengingat itu, entah kenapa aku selalu tersenyum. Apalagi saat melihat ekspresi ibu yang sudah lama tak ku lihat, bahkan karena ibu aku jadi tidak bisa masuk ke kamar kakak.

Rasanya tidak tega jika mengganggu waktu ibu dan Aster. Tapi yang membuatku terganggu adalah saat mengingat senyum palsu Aster, senyum yang tak pernah ku lihat tapi aku tau kalau dia berpura-pura bahagia untuk menyembunyikan perasaan sedihnya.

"Kenapa kamu tidak terus terang saja kalau kamu sedih?" Gumamku sambil mengelus kening Aster setelah duduk disamping tempat tidurnya.

Aku akan melindungimu, kamu tak perlu memikirkan soal ayahmu. Anggap saja aku sebagai ayahmu, aku tidak keberatan jika kamu melakukannya. Batinku merasakan sesak didadaku.

Tok... tok... tok...

Terdengar suara pintu yang diketuk dari luar, dengan cepat aku menoleh kearah sumber suara. Ku lihat Eric sudah berdiri diambang pintu.

"Nyonya memanggil anda tuan." Ucapnya membuatku bergegas setelah menatap lama wajah keponakanku itu.

Semoga malam ini mimpi burukmu itu tidak datang. Batinku sambil menutup pintu kamar kakak dan mengikuti langkah Eric menuju lantai dasar.

"Eric tebus obatnya di apotik lalu simpan dikamar kakak, aku akan memberikan obat itu saat Aster bangun." Tuturku membuat langkahnya terhenti, lalu ku berikan resep obat itu ketangannya.

.

.

.

Thanks for reading...

1
𝐁𝐈𝐍𝐓𝐀𝐍𝐆
♥️
𝐏𝐔𝐓𝐑𝐀
woy secepat ini kah endingnya
𝐏𝐔𝐓𝐑𝐀
Time skip?😳
𝐏𝐔𝐓𝐑𝐀
Carel kangen ayang🤣
𝐏𝐔𝐓𝐑𝐀
gue suka eps kali ini sama dua eps sebelumnya. Gila manis banget interaksi Aster sama Carel. Tu cowoknya keliatan perduli banget sama Aster, disisi lain gue malah ngira si Carel lagi ngasuh adeknya wkwkwk🤣
𝐏𝐔𝐓𝐑𝐀
figuran yg sangat peka ya🤣
𝐏𝐔𝐓𝐑𝐀
Mungkinkah Carel berpikir Aster bakal lepas lagi darinya? Secara kan waktu itu Aster dalam bahaya waktu jauh dari Carel, terus Carel juga gk sempet datang tepat waktu buat nolong Aster.

Jadi secara naluri dia berusaha buat tetap jagain Aster dan gk mau jauh-jauh dari Aster. Jadi kalau ada apa-apa juga, Carel bisa bantu. Gitu kan? Kalau gitu gue paham kenapa Carel sampai sepanik itu waktu Aster lepasin genggaman tangannya dan lari jauhin dia🥲
𝐏𝐔𝐓𝐑𝐀
berusaha menahan kesal ya🤣
𝐏𝐔𝐓𝐑𝐀
Apa ini apa ini?

Jadi Aster udh tau kalau Carel ngaku2 pacarnya dari temen2nya? Terus dia pura2 gk tau buat godain Carel gitu?

Eps kali ini banyak gulanya ye?
𝐏𝐔𝐓𝐑𝐀
selamanya juga boleh, yakin tuh si Carel kegirangan karena dipeluk sama pujaan hatinya
𝐏𝐔𝐓𝐑𝐀
Termasuk gue sebagai pembacanya ye kan😌
𝐏𝐔𝐓𝐑𝐀
ni anak gemesin banget woy. Karung mna karung >///<
𝐏𝐔𝐓𝐑𝐀
ayo bahas biar Ansel ngamuk
𝐏𝐔𝐓𝐑𝐀
sedang menggosipkan si Carel dan ketidakpekaanmu itu
𝐏𝐔𝐓𝐑𝐀
Ya berduaan denganmu itu maksudnya nak🤣
𝐏𝐔𝐓𝐑𝐀
minga maaf karena udh naksir si Aster ya🤣
𝐏𝐔𝐓𝐑𝐀
Ternyata si Lea salah paham🤣

Rupanya si Aster sibuk mikirin ucapan si Carel toh.

Gue suka sih interaksi mereka disini. Apalagi Aster mulai memutuskan buat lebih terbuka sama Kalea. Berarti mulai dari sini hubungan pertemanan mereka bakal lebih dalam lagi kan? Mungkin🤔

Btw, gue ngerasa ada bau2 scene romance kedepannya. Apakah sudah waktunya Aster dan Carel mulai memasuki kisah mereka?
𝐌𝐄𝐆𝐀𝐍: lanjutkan👍
total 3 replies
𝐏𝐔𝐓𝐑𝐀
Nah iya, setuju gue. Sekali-kali Aster harus marah, jangan buat dia terlalu sabar😭
𝐏𝐔𝐓𝐑𝐀
Karena terlalu seneng sama hubungan pertemanan mu sama Aster itu.

Apalagi Asternya kelewat baik:')
𝐏𝐔𝐓𝐑𝐀
Oh jadi intinya si Ansel mau memperbaiki hubungannya dengan Aster dengan cara membuat batasan yg jelas sama si Kalea toh.

Ya sih, udh seharusnya tu anak berhenti nganggap Ansel sebagai bapaknya. Kan dia udh nemu bapak baru juga.

Disisi lain ni si Ansel pengen buat Aster seneng kayanya karena kedepannya cuma dia yang bisa manggil Ansel ayah😌
𝐁𝐈𝐍𝐓𝐀𝐍𝐆: Bapak baru🗿
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!