"Saat ayahku memilih menyelamatkan putri kesayangannya, dia mengorbankanku tanpa ragu."
Savira Dharma menghabiskan seluruh hidupnya mengejar sesuatu yang tidak pernah ia miliki: pengakuan dari ayahnya.
Sebagai putri kandung keluarga Dharma, ia belajar lebih keras, bekerja lebih lama, dan mengorbankan masa mudanya demi membuktikan bahwa dirinya layak dicintai. Namun ketika skandal penggelapan dana mengguncang Dharma Group, Savira dijadikan kambing hitam untuk melindungi keluarga yang selama ini ia bela.
Ditinggalkan sendirian di tengah hujan fitnah, ayahnya memilih diam.
Malam itu, Savira melompat dari puncak gedung perusahaan yang telah merenggut seluruh hidupnya.
Namun kematian bukanlah akhir.
Saat membuka mata, ia kembali menjadi gadis tujuh belas tahun—tujuh tahun sebelum semua pengkhianatan itu terjadi.
Kali ini, Savira tidak akan mengemis cinta.
Ia tidak akan mengorbankan dirinya demi keluarga yang tak pernah memilihnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Aset yang Efisien
Lembaran surat keputusan kelulusan itu diletakkan di atas meja kerja Wijaya yang mengilap.
Kertas tebal berlogo universitas elit nasional itu memantulkan cahaya lampu gantung kristal di atas mereka. Suasana ruang kerja utama keluarga Dharma terasa sedingin kamar mayat. Hawa pendingin ruangan menusuk pori-pori kulit Savira yang berdiri tegak sejauh tiga langkah dari meja kayu jati tersebut.
Waktu seakan berhenti mengalir di dalam ruangan ini. Suara detak jarum jam dinding raksasa beradu dengan bunyi gesekan kertas.
Wijaya Dharma duduk bersandar di kursi kulit kebesarannya. Pria paruh baya itu mengenakan kemeja putih tanpa cela. Jari-jarinya yang panjang dan terawat membalik halaman laporan keuangan kuartal ketiga dengan ritme yang sangat teratur.
Ia mengabaikan lembaran kelulusan putrinya selama lima belas menit penuh.
Savira menahan napasnya di kerongkongan. Ujung kuku telunjuknya menekan jahitan celana jins pudar yang ia kenakan. Denyut nadinya berpacu lambat namun memukul keras dinding dadanya.
Meski akal sehatnya telah bersumpah untuk tidak lagi mengemis validasi, memori otot tubuhnya sebagai seorang anak yang selalu diabaikan masih bereaksi. Rasa mual perlahan merangkak naik dari dasar lambungnya.
Tangan Wijaya akhirnya berhenti membalik halaman laporan. Pria itu menyingkirkan map tebal di hadapannya dan menarik surat kelulusan itu mendekat.
Mata hitamnya yang kosong menyapu deretan kalimat di atas kertas tersebut dalam hitungan detik.
Tidak ada perubahan garis wajah. Tidak ada binar kebanggaan layaknya seorang ayah yang melihat putrinya menembus seleksi penerimaan paling ketat di negara ini lebih awal dari jadwal normal.
Savira lolos murni berkat kejeniusannya sendiri tanpa campur tangan donasi keluarga sedikit pun. Namun di mata pria ini, prestasi tersebut tidak memiliki nilai emosional sama sekali.
Wijaya meletakkan kertas itu kembali ke atas meja. Ia mengambil cangkir porselen berisi teh kamomil hangat, meniup permukaannya dengan sangat sopan, lalu menatap Savira secara langsung.
Senyum tipis perlahan terbentuk di sudut bibir pria itu. Senyuman mekanis yang memancarkan aura membunuh di balik kelembutannya yang palsu.
"Bagus, kau tidak menyusahkan perusahaan."
Suara bariton itu mengudara tanpa emosi. Kalimat itu meluncur begitu mulus, setajam bilah silet yang menyayat pembuluh darah leher secara perlahan.
Savira merasakan suhu darahnya anjlok drastis. Paru-parunya seakan membeku, menolak menarik oksigen ke dalam rongga dadanya.
"Hanya itu, Pak?" Suara Savira terdengar kering dan parau.
Wijaya menyesap tehnya dengan tenang. Ia meletakkan cangkirnya perlahan hingga berbunyi denting pelan yang sangat rapi.
"Universitas elit ini membebaskan biaya pangkal untuk mahasiswa jalur akselerasi sepertimu. Itu artinya, alokasi dana pendidikan yang sudah disiapkan yayasan bisa dialihkan sepenuhnya ke sektor riset anak perusahaan kita."
Pria itu menautkan jemarinya di atas meja, menatap Savira dengan pandangan seorang eksekutif yang puas melihat angka hijau di layar komputernya.
"Kau telah membuktikan bahwa kau adalah aset yang efisien, Savira. Teruslah bekerja mandiri seperti ini."
Aset yang efisien.
Dua kata itu menghantam gendang telinga Savira bagai godam besi. Di mata pria bersetelan mahal ini, anak kandungnya murni sebuah baris angka di neraca keuangan yang berhasil menekan biaya operasional.
Rasa sakit diabaikan kembali berdenyut di dada Savira. Nyeri yang tajam ini persis seperti luka lama bernanah yang dikoyak paksa tanpa obat bius.
Ia menggigit bagian dalam pipinya kuat-kuat hingga mengecap rasa anyir darah demi menahan getaran di rahangnya. Keringat dingin mulai merembes membasahi punggungnya yang tegang.
Tiba-tiba, derap langkah kaki terburu-buru memecah keheningan koridor di luar ruangan. Pintu kayu ganda berukir itu didorong terbuka lebar tanpa ketukan sopan.
Nadia melangkah masuk. Gadis itu mengenakan gaun sutra berwarna pastel yang melambai elegan membungkus tubuh rapuhnya. Sepatu hak tingginya berderap kasar menginjak karpet Persia yang mahal.
"Ayah!" Suara lengkingan manja Nadia memenuhi udara ruangan, langsung mengusir sisa hawa dingin yang sedari tadi mencekik leher Savira.
Aroma parfum manis yang menyengat langsung meracuni pasokan oksigen di dalam ruang kerja tersebut.
Nadia berhenti melangkah seketika saat melihat Savira berdiri mematung di depan meja. Sorot mata gadis itu berubah tajam dan penuh perhitungan. Ia memindai postur Savira dengan gestur defensif layaknya hewan teritorial yang merasa terancam.
Tangan Nadia meremas selembar kertas tebal di depan dadanya.
Gadis tiruan itu selalu hidup dalam delusi ketakutan ekstrem. Ia menganggap setiap inci keberadaan Savira di ruangan ini adalah ancaman mutlak yang akan merampas posisinya sebagai putri penguasa.
Nadia segera memajukan langkahnya, mengabaikan Savira sepenuhnya. Ia berjalan memutar meja besar itu dan langsung menempel manja pada lengan Wijaya.
"Ayah sedang sibuk? Maaf aku mengganggu," ucap Nadia dengan nada penuh penyesalan buatan.
Aura Wijaya Dharma berubah total dalam hitungan sepersekian detik. Monster sosiopat yang sedingin es itu mencair dengan sangat sempurna. Mata kosongnya seketika diisi oleh tatapan kebapakan yang teramat hangat dan memanjakan.
Tangan besar Wijaya terulur, mengelus rambut panjang Nadia dengan gerakan yang sangat lembut dan hati-hati.
"Untuk putri kecil Ayah, tidak ada kata sibuk. Ada kabar baik apa, Sayang?"
Savira mematung di tempatnya. Perbandingan perlakuan yang sangat menyakitkan ini membakar rongga dadanya. Ia menekan kuku-kuku jarinya ke telapak tangan hingga meninggalkan bekas bulan sabit yang dalam. Napasnya memburu menahan amarah yang mulai mendidih liar di dasar perutnya.
Nadia tersenyum cerah, mencondongkan tubuhnya ke arah Wijaya dan menyodorkan kertas ujian yang sedari tadi ia pegang erat.
"Hasil ujian tengah semester biologi sudah keluar. Aku mendapat nilai delapan puluh lima. Naik sedikit dari bulan lalu, Ayah," lapor Nadia dengan suara lantang yang sengaja diarahkan untuk menembus telinga Savira.
Wijaya menerima kertas itu. Ia membacanya dengan saksama, mengangguk pelan seolah sedang melihat mahakarya seni bersejarah yang bernilai triliunan rupiah.
Pria itu menutup berkas laporan keuangannya. Secara sengaja, ia menumpuk map tebal tersebut tepat di atas surat kelulusan universitas milik Savira, menenggelamkan satu-satunya bukti kerja keras darah dagingnya ke dalam bayangan gelap.
"Delapan puluh lima? Itu pencapaian yang luar biasa, Nadia," puji Wijaya dengan nada suara yang bergetar penuh rasa bangga. "Ayah tahu kamu sudah belajar sangat keras."
Nadia cemberut manja, menyandarkan dagunya di bahu kokoh pria tua itu. "Tapi soalnya susah sekali, Ayah. Aku nyaris tidak tidur semalaman."
Wijaya tertawa kecil. Tawa renyah dan penuh kasih sayang yang tidak pernah sekalipun menyapa telinga Savira selama ia bernapas di rumah ini.
"Kalau begitu, usaha keras putri Ayah harus diberikan penghargaan yang sepadan." Wijaya menepuk punggung tangan Nadia dengan sayang. "Ayah sudah menghubungi pialang otomotif pagi ini. Mobil mewah keluaran Eropa terbaru yang kamu inginkan minggu lalu akan tiba di garasi besok pagi."
Nadia memekik kegirangan hingga suaranya memantul di langit-langit ruangan. Gadis itu memeluk leher Wijaya erat-erat dan menghujaninya dengan tawa gembira.
"Terima kasih, Ayah! Aku sangat menyayangimu!"
Savira berdiri kaku layaknya patung es di tengah badai salju. Aliran darah di sekujur tubuhnya terasa berhenti mengalir detik itu juga.
Nadia mendapat hadiah mobil mewah bernilai miliaran rupiah hanya karena nilai ujian biologinya naik sedikit.
Sementara Savira, yang berhasil menembus seleksi universitas terbaik di negara ini secara mandiri tanpa bantuan dana sepeser pun, murni hanya mendapat ucapan terima kasih karena tidak menyusahkan arus kas perusahaan ayahnya.
Ketidakadilan ini terlalu nyata, terlalu vulgar, dan memutar balik isi lambungnya.
Nadia melepaskan pelukannya perlahan. Gadis itu menoleh ke arah Savira, memamerkan senyum angkuhnya yang sangat merendahkan martabat.
"Oh, Vira juga ada di sini rupanya. Maaf, posisimu terlalu diam, aku sampai tidak melihatmu," sapa Nadia dengan nada basa-basi yang dilumuri racun mematikan.
Mata gadis tiruan itu melirik tumpukan map di atas meja Wijaya, tempat surat Savira terkubur. "Kau menyerahkan kertas apa tadi pada Ayah? Tagihan buku pelajaranmu?"
Savira membalas tatapan itu dengan sorot mata sedingin lautan kutub yang membeku. Tidak ada sisa air mata di sudut matanya. Tidak ada lagi bibir yang bergetar rapuh menahan isak tangis.
Bagian dirinya yang selalu mengemis cinta telah mati tercekik oleh realitas busuk di depannya.
Ia memasukkan tangan kanannya ke dalam saku kardigannya secara perlahan. Jemarinya meraba permukaan jepit rambut melati yang patah, membiarkan ujung plastik yang retak itu menusuk kulit telapak tangannya untuk menjaga kewarasannya.
Satu benda lain ikut tersentuh oleh ujung jarinya. Sebuah permen stroberi dalam kemasan plastik kecil yang ia simpan sejak malam kemelut di jalan layang. Benda manis ini menjadi sauh penahan emosinya yang siap meledak.
Aroma melati yang sangat samar menguar tipis ke udara, membersihkan sisa ilusi cinta ayah yang masih bersarang kotor di otaknya.
Ia tidak butuh senyum hangat sosiopat bernama Wijaya Dharma. Ia tidak butuh mobil mewah yang dibeli dari hasil memeras keringat orang lain.
"Bukan tagihan," jawab Savira datar. Suaranya terdengar sangat tenang, mengalir tanpa riak emosi sedikit pun, mematikan rasa kemenangan di mata Nadia.
Wijaya mengangkat wajahnya dari bahu Nadia. Ia menatap Savira dengan sisa senyum kebapakan yang masih menempel di bibirnya.
"Jika tidak ada laporan keuangan lain lagi, kau boleh kembali ke kamarmu, Savira. Ayah harus merayakan nilai Nadia."
Pria itu mengusir anak kandungnya dengan cara yang paling sopan, terstruktur, dan menghancurkan nurani.
Savira melangkah maju. Sepatu kets usangnya tidak mengeluarkan suara berisik saat menginjak karpet tebal ruangan itu.
Ia berhenti tepat di hadapan meja kerja Wijaya. Tangannya terulur secepat kilat, menarik paksa surat keputusan kelulusan universitasnya dari dasar tumpukan map tebal tersebut.
Pergerakan tiba-tiba dan kasar itu membuat Wijaya mengerutkan kening, merasa otoritas absolutnya dilanggar di ruangannya sendiri.
"Apa yang kau lakukan, Savira?"