Pada hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidupnya, Aruna justru dipaksa menikah dengan pria yang paling ia benci.
Pria itu adalah Adrian Mahesa, pewaris keluarga Mahesa Group yang dingin, arogan, dan terkenal tidak memiliki hati.
Pernikahan mereka bukanlah tentang cinta.
Melainkan kesepakatan.
Ayah Aruna terlilit utang besar yang mengancam keluarganya. Satu-satunya jalan keluar adalah menerima tawaran Adrian: menikah dengannya selama dua tahun.
Aruna mengira dirinya hanya akan menjadi istri pajangan.
Namun setelah menikah, ia menemukan banyak hal yang tidak masuk akal.
Mengapa Adrian diam-diam selalu melindunginya?
Mengapa pria itu menyimpan foto masa kecilnya?
Dan mengapa keluarga Mahesa tampak begitu takut jika Aruna mengetahui kebenaran tentang kematian ibunya?
Ketika rahasia masa lalu mulai terungkap, Aruna harus memilih.
Meninggalkan Adrian dan membalas dendam.
Atau tetap bersama pria yang perlahan berhasil merebut hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VeLynme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam yang Tidak Akan Berakhir
"Aku tidak akan pulang tanpa nama itu."
Kata-kata Jonathan menggantung di udara seperti ancaman kematian.
Tidak ada seorang pun yang meragukan keseriusannya.
Tidak lagi.
Terlalu banyak darah yang sudah tertumpah.
Terlalu banyak kehidupan yang hancur.
Terlalu banyak rahasia yang terkubur.
Dan semuanya berujung pada satu hal.
Nama.
Satu nama yang bahkan belum diketahui siapa pun.
Satu nama yang diduga tersimpan dalam ingatan Aruna.
Satu nama yang dicari Jonathan selama lima belas tahun.
---
Puluhan pria bersenjata mulai bergerak.
Perlahan.
Namun teratur.
Mereka mengepung lebih rapat.
Mempersempit ruang gerak.
Memperkecil kemungkinan melarikan diri.
Dan itu membuat suasana semakin mencekam.
Aruna refleks mundur.
Namun Adrian langsung berdiri di depannya.
Melindunginya.
Lagi.
Selalu begitu.
Dan justru itulah yang membuat hati Aruna semakin sakit.
Karena di tengah semua kekacauan ini...
Ia belum sempat memproses satu kenyataan lain.
Kemungkinan bahwa dirinya dan Adrian memiliki hubungan darah.
Kemungkinan yang masih menggantung.
Kemungkinan yang belum dibuktikan.
Namun cukup untuk menghancurkan masa depan yang selama ini diam-diam ia impikan.
---
"Adrian."
Suara Aruna bergetar.
Namun pria itu tidak menoleh.
Tatapannya tetap lurus ke depan.
Mengarah kepada Jonathan.
"Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu."
katanya.
Sederhana.
Tegas.
Tanpa keraguan.
Jantung Aruna terasa nyeri.
Karena perasaan yang muncul saat mendengar kalimat itu tidak berubah.
Masih sama seperti sebelumnya.
Masih sama seperti saat mereka pertama kali saling mengenal.
Dan itu membuat semuanya semakin rumit.
---
Jonathan memperhatikan mereka.
Lalu tersenyum tipis.
"Aneh sekali."
katanya.
"Apa?"
tanya Adrian dingin.
"Kau masih melindunginya."
Tatapan Jonathan berpindah dari Adrian ke Aruna.
Kemudian kembali lagi.
"Aku penasaran."
Senyumnya semakin tipis.
"Apakah kau akan tetap melakukan itu jika semua yang kita dengar malam ini ternyata benar?"
Ruangan langsung membeku.
Karena semua orang memahami maksudnya.
Hubungan darah.
Mahendra.
Aruna.
Adrian.
Rahasia yang masih menggantung seperti pedang di atas kepala mereka.
---
"Cukup."
Mahendra melangkah maju.
Suaranya berat.
Penuh amarah.
"Aku tidak akan membiarkanmu memainkan mereka."
Jonathan tertawa kecil.
"Memainkan?"
Ia menggeleng.
"Aku tidak memainkan siapa pun."
Tatapannya berubah tajam.
"Satu-satunya orang yang memainkan hidup mereka adalah kalian."
Kalimat itu membuat semua orang terdiam.
Karena meskipun diucapkan oleh pria yang kejam...
Ada bagian dari kalimat itu yang benar.
Rahasia demi rahasia.
Kebohongan demi kebohongan.
Semuanya berasal dari masa lalu mereka.
Bukan dari Aruna.
Bukan dari Adrian.
Melainkan dari generasi sebelumnya.
---
Tiba-tiba terdengar suara lirih.
"Aku ingat sesuatu."
Semua kepala langsung menoleh.
Aruna.
Wajah gadis itu pucat.
Matanya tampak kosong.
Seolah sedang melihat sesuatu yang jauh.
Sangat jauh.
Jantung Adrian langsung berdebar.
"Apa?"
tanyanya cepat.
Aruna memegang kepalanya.
Ada rasa nyeri yang tiba-tiba muncul.
Bukan rasa sakit fisik.
Melainkan sesuatu yang aneh.
Seperti pintu tua yang mulai terbuka sedikit demi sedikit.
"Aku..."
Ia menelan ludah.
"Aku tidak yakin."
Namun seluruh ruangan sudah membeku.
Karena bahkan Jonathan tampak menahan napas.
---
"Katakan."
Suara Jonathan terdengar jauh lebih pelan sekarang.
Jauh lebih hati-hati.
Seolah takut merusak sesuatu.
Dan itu membuatnya semakin menyeramkan.
Aruna memejamkan mata.
Potongan-potongan gambar mulai muncul.
Kabur.
Tidak jelas.
Seperti mimpi lama yang hampir terlupakan.
"Aku melihat sebuah rumah."
bisiknya.
Tidak ada yang berbicara.
"Ada hujan."
Keningnya mulai berkerut.
"Kemudian..."
Napasnya menjadi tidak teratur.
"...ada seseorang menggendongku."
Ratih langsung membelalak.
Mahendra membeku.
Sementara Jonathan terlihat semakin fokus.
---
"Siapa?"
tanya Jonathan.
Aruna menggeleng.
"Aku tidak tahu."
Kenangan itu terlalu samar.
Terlalu jauh.
Terlalu tua.
Namun entah kenapa...
Ada sesuatu yang terasa sangat penting di sana.
"Seseorang sedang bertengkar."
lanjutnya.
Ruangan menjadi semakin sunyi.
"Ada pria."
"Ada wanita."
"Tapi aku tidak bisa melihat wajah mereka."
Aruna menggenggam kepalanya lebih kuat.
Karena rasa sakit itu semakin besar.
Semakin tajam.
Dan semakin banyak bayangan yang bermunculan.
---
"Jangan paksa dirimu."
kata Dimas.
Pria itu melangkah mendekat.
Wajahnya penuh kekhawatiran.
Namun sebelum sempat mencapai Aruna—
Dua pria bersenjata langsung menghalanginya.
Suasana kembali menegang.
"Dimas."
kata Jonathan dingin.
"Jangan ganggu."
Tatapan Dimas penuh kebencian.
Namun ia tahu.
Satu langkah salah saja bisa membuat semua orang di ruangan itu mati.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya...
Ia merasa benar-benar tidak berdaya.
---
"Aku mendengar nama."
bisik Aruna.
Jantung semua orang langsung berhenti sesaat.
Nama.
Nama itu.
Mungkinkah nama yang selama ini mereka cari?
Jonathan bahkan tidak berkedip.
"Apa namanya?"
Aruna menggeleng kuat-kuat.
Karena semakin keras ia mencoba mengingat...
Semakin kabur semuanya.
"Aku tidak tahu."
Air mata mulai jatuh.
"Aku tidak tahu."
Rasa frustrasi menghantamnya.
Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya...
Ia merasa kepalanya bukan miliknya sendiri.
---
"Bohong."
Salah satu anak buah Jonathan tiba-tiba berkata.
Pria itu melangkah maju.
Wajahnya penuh kecurigaan.
"Dia hanya mengulur waktu."
Jonathan langsung menoleh.
Tatapannya dingin.
Sangat dingin.
"Diam."
Pria itu langsung membeku.
Karena semua orang tahu.
Jonathan mungkin terlihat tenang.
Namun ia tetap pemimpin mereka.
Dan kemarahannya bisa berakibat fatal.
---
Aruna kembali memejamkan mata.
Mencoba menangkap bayangan yang muncul.
Potongan suara.
Potongan gambar.
Potongan kenangan.
Lalu tiba-tiba—
Sebuah wajah muncul.
Hanya sesaat.
Sangat cepat.
Namun cukup jelas.
Seorang pria tua.
Berambut hitam.
Bermata tajam.
Dan sedang tersenyum kepadanya.
Jantung Aruna langsung berdegup keras.
"Aku melihat seseorang."
bisiknya.
Ruangan membeku.
---
"Siapa?"
Jonathan melangkah satu langkah mendekat.
Aruna membuka matanya.
Napasnya memburu.
"Aku tidak tahu."
"Tapi dia mengenalku."
Keheningan.
"Apa maksudmu?"
tanya Adrian.
Aruna menatap kosong ke depan.
Mencoba memahami apa yang baru saja ia lihat.
"Dia memanggil namaku."
Suasana langsung berubah.
Karena jika kenangan itu nyata...
Berarti pria tersebut memang pernah bertemu Aruna.
Bukan sekadar nama dalam cerita.
Bukan sekadar sosok misterius.
Melainkan seseorang yang pernah hadir dalam hidupnya.
---
"Lalu?"
tanya Mahendra.
Suaranya terdengar aneh.
Penuh harapan.
Dan juga ketakutan.
Aruna menelan ludah.
"Dia bilang..."
Ia berhenti.
Karena kalimat itu terasa sangat jelas.
Sangat berbeda dibanding kenangan lainnya.
Seolah sengaja ditanamkan.
Seolah sengaja dibuat untuk bertahan.
"Dia bilang..."
Napas semua orang tertahan.
"...jika suatu hari nanti aku mengingatnya, berarti semuanya sudah terlambat."
Ruangan langsung membeku.
---
Jonathan kehilangan senyumnya.
Untuk pertama kalinya.
Benar-benar kehilangan senyumnya.
Karena kalimat itu tidak terdengar seperti kenangan biasa.
Melainkan pesan.
Pesan yang ditinggalkan seseorang.
Pesan yang ditujukan untuk masa depan.
Pesan yang ditujukan untuk malam ini.
"Siapa dia?"
bisik Jonathan.
Namun Aruna tidak menjawab.
Karena tiba-tiba...
Sesuatu yang lain muncul.
Sesuatu yang jauh lebih jelas.
Jauh lebih kuat.
Dan jauh lebih mengerikan.
Sebuah kata.
Hanya satu kata.
Namun kata itu membuat seluruh tubuhnya membeku.
Karena ia merasa pernah mendengarnya.
Pernah.
Sangat lama sekali.
---
Aruna perlahan mengangkat kepalanya.
Matanya membelalak.
Wajahnya pucat.
Dan saat ia mengucapkan kata itu...
Seluruh ruangan kehilangan napas.
"Atlas."
Keheningan.
Mutlak.
Tidak ada suara.
Tidak ada gerakan.
Tidak ada napas.
Lalu sesuatu yang tidak pernah dibayangkan siapa pun terjadi.
Wajah Jonathan berubah.
Bukan marah.
Bukan terkejut.
Melainkan takut.
Benar-benar takut.
Dan saat melihat ekspresi itu...
Semua orang menyadari satu hal.
Mereka baru saja menyentuh bagian terdalam dari rahasia ini.
Bagian yang bahkan membuat Jonathan ketakutan.
Bersambung...