Dia kembali bukan untuk melindungi, tapi untuk mengeksekusi.
Lima belas tahun di medan perang mengubah Nathan Wiratama menjadi Raja Perang yang ditakuti dunia. Kini, ia pulang demi satu misi: memburu dalang pembantaian keluarganya.
Demi melacak sang iblis, Nathan menyamar menjadi pengawal pribadi Elena, janda konglomerat yang memiliki banyak musuh. Di sana, ia juga harus menghadapi Clara, putri majikannya yang perlahan jatuh cinta pada pesona dinginnya.
Satu per satu bukti terkuak, membawa Nathan pada kenyataan paling brutal: Iblis yang ia cari selama ini adalah Elena—wanita yang kini ia lindungi dengan taruhan nyawa.
Saat topeng hancur, akankah Nathan tetap mencabut nyawa Elena, meski harus menghancurkan hati Clara?
"Tidak ada yang bisa melindungi Anda dari saya, Nona."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jaring yang Mulai Merapat
Perjalanan pulang dari Taman Danau Lavender di Kawasan Nirwana menuju Kawasan Singasana berlangsung dalam keheningan yang damai. Langit di atas kota Megapura berangsur-angsur menggelap, tertutup oleh awan mendung tebal yang menggantung rendah. Rintik hujan mulai mengetuk atap sedan mewah hitam itu dengan ritme yang menenangkan.
Di kursi belakang, Clara tertidur lelap dengan kepala bersandar pada bantal kecil yang sengaja ia bawa. Buku sketsanya diletakkan dengan hati-hati di kursi sebelah, menampilkan lukisan danau berkabut yang kini telah selesai sepenuhnya. Wajahnya yang polos tampak begitu tenang saat tidur, bebas dari segala beban berat yang biasanya menghimpit pundak seorang putri tunggal dinasti Megantara.
Melalui spion tengah, Nathan menatap wajah tidur gadis itu selama beberapa detik. Tatapannya tidak lagi sedingin saat ia mengeksekusi pengintai di tengah hutan pinus tadi, namun tetap tidak menyimpan kehangatan.
Bagi Nathan, Clara adalah paradoks. Gadis itu adalah darah daging dari wanita yang paling ia benci di dunia ini, namun di saat yang sama, Clara adalah satu-satunya sosok di kediaman Wijaya yang memperlakukannya seperti manusia biasa, bukan sekadar alat atau anjing penjaga.
Kau terlahir di keluarga yang salah, Clara, batin Nathan dingin seraya kembali memfokuskan pandangannya ke jalanan aspal yang basah di depannya.
Pukul lima sore, mobil memasuki gerbang besi hitam kediaman keluarga Wijaya. Begitu Nathan menghentikan mobil di bawah kanopi lobi utama, Clara perlahan membuka matanya. Ia mengerjap beberapa kali, menguap kecil, lalu tersenyum malu saat menyadari dirinya tertidur sepanjang perjalanan.
"Ah, maafkan aku, Nathan," ucap Clara dengan suara serak khas orang baru bangun tidur. "Aku malah tidur. Kamu pasti lelah menyetir sendiri."
"Itu adalah tugas saya, Nona. Saya senang Anda bisa beristirahat dengan nyaman," jawab Nathan dengan nada datar yang sopan, seraya turun dari mobil untuk membukakan pintu belakang.
Clara turun dari mobil, merapikan gaun kuning mentarinya yang sedikit kusut. Ia mengambil buku sketsanya, lalu menatap Nathan dengan binar mata yang hangat. "Terima kasih untuk hari ini, Nathan. Cokelat panasnya enak sekali."
"Sama-sama, Nona. Selamat beristirahat."
Setelah memastikan Clara masuk ke dalam rumah utama dengan aman, Nathan berniat membawa mobil kembali ke garasi samping. Namun baru saja ia hendak membuka pintu kemudi, sebuah bayangan tinggi melangkah keluar dari koridor gelap di samping lobi.
Hendra, sang Kepala Keamanan, berdiri di sana. Tangannya disembunyikan di balik saku mantel hitamnya yang basah oleh sisa gerimis. Matanya yang tajam menatap Nathan dengan pandangan menyelidik yang sangat dingin.
"Nathan," panggil Hendra berat.
Nathan langsung melepaskan tangannya dari gagang pintu mobil, mengambil posisi tegap sempurna. "Ya, Pak Hendra."
Hendra melangkah mendekat, langkah kakinya terdengar berat di atas lantai marmer lobi. Ia berhenti hanya satu langkah di depan Nathan, menciptakan atmosfer intimidasi yang biasa ia gunakan kepada anak buahnya.
"Aku memeriksa log GPS mobil Nona Clara sepuluh menit yang lalu," ucap Hendra perlahan, matanya tidak pernah lepas dari wajah Nathan. "Sistem mendeteksi bahwa mobil sempat mati selama hampir lima belas menit di area parkir dekat hutan pinus barat Danau Lavender, sementara Nona Clara berada di kedai kopi dermaga utama yang berjarak cukup jauh dari posisi mobil."
Nathan tidak berkedip. Otot wajahnya tetap kaku seperti batu. "Betul, Pak Hendra. Saya mendeteksi ada sedikit kejanggalan pada sistem pengunci bagasi belakang setelah memindahkan peralatan melukis Nona Clara. Saya memutuskan untuk melakukan pemeriksaan manual pada sistem hidrolik bagasi untuk memastikan keamanan barang-barang di dalamnya sebelum kami berpindah ke area kafe."
Hendra menyipitkan matanya, mencoba mencari celah atau getaran mikro pada suara Nathan. "Pemeriksaan manual bagasi membutuhkan waktu lima belas menit?"
"Sistem hidrolik sempat macet karena kelembapan udara yang tinggi di sekitar danau, Pak. Saya harus membersihkan sensor mekanisnya secara manual menggunakan peralatan darurat di bawah kursi pengemudi," jawab Nathan dengan alasan teknis yang terdengar sangat masuk akal dan detail.
Hendra diam cukup lama. Sebagai mantan perwira militer domestik, ia tahu kapan seseorang sedang berbohong. Namun, Nathan menyusun kebohongannya dengan sangat sempurna, lengkap dengan intonasi suara yang stabil dan detak jantung yang terjaga.
"Lain kali, jika ada masalah teknis pada kendaraan VIP saat berada di luar perimeter aman, segera laporkan ke pusat komando," ucap Hendra akhirnya, meski nadanya masih menyiratkan ketidakpercayaan. "Dan pastikan kamu tidak pernah meninggalkan Nona Clara tanpa pengawasan melekat, bahkan untuk masalah bagasi sekalipun."
"Dimengerti, Pak. Terima kasih atas arahannya," jawab Nathan tegas.
Hendra mengangguk sekali, lalu berbalik dan berjalan pergi menuju pos keamanan utama. Nathan menatap punggung pria paruh baya itu dengan mata menyipit. Hendra adalah seorang profesional yang terlatih, dia mulai mencurigai adanya sesuatu yang tidak beres. Nathan harus bergerak lebih hati-hati agar penyamarannya tidak terbongkar sebelum waktunya.
Malam harinya, di dalam kesunyian kamar pribadinya di barak keamanan, Nathan duduk di depan meja kayu minimalis. Cahaya lampu meja yang temaram menyinari sebuah ponsel sekali pakai hitam yang ia sita dari jasad pengintai di Danau Lavender siang tadi.
Nathan tidak langsung mengaktifkan ponsel tersebut. Mengaktifkan ponsel sekali pakai di dalam area kediaman Wijaya yang dilengkapi dengan pemindai frekuensi radio tingkat tinggi adalah tindakan bunuh diri taktis.
Ia mengeluarkan sebuah alat kloning data nirkabel berukuran sebesar ibu jari dari dalam tas taktisnya, peralatan standar militer yang diberikan oleh Rendra. Nathan menghubungkan alat tersebut ke ponsel sekali pakai, menyalin seluruh data memori, daftar panggilan, dan log enkripsi tanpa perlu mengaktifkan kartu SIM-nya.
Setelah proses kloning selesai dalam waktu tiga menit, Nathan menyimpan ponsel sekali pakai itu kembali ke tempat tersembunyi di bawah ubin kamarnya yang longgar. Ia kemudian mengeluarkan ponsel satelit berenkripsi militer miliknya dan mengirimkan seluruh data hasil kloning ke peladen aman milik Rendra.
Hanya butuh waktu satu menit sebelum ponsel satelitnya bergetar pelan. Panggilan suara aman dari Rendra masuk.
"Bos," suara Rendra terdengar sangat serius di seberang sana. "Data yang Anda kirimkan baru saja selesai didekripsi. Ponsel itu menggunakan jaringan komunikasi satelit privat yang biasa disewa oleh kartel atau tentara bayaran kelas kakap."
"Apa yang kamu temukan di daftar panggilannya?" tanya Nathan dingin.
"Ponsel itu hanya melakukan komunikasi dengan satu nomor eksternal dalam tiga hari terakhir. Nomor itu menggunakan enkripsi berlapis, namun sistem pelacakan kami berhasil mendeteksi lokasi menara transmisi yang digunakan untuk menerima panggilan tersebut." Rendra berhenti sejenak, terdengar suara ketukan kibor yang cepat. "Transmisinya selalu berasal dari area pelabuhan tua di sektor utara Megapura, wilayah kekuasaan Robert si Broker Timur."
"Berarti pengintai itu memang dikirim langsung oleh Robert," gumam Nathan.
"Benar, Bos. Dan ada informasi yang lebih mengerikan. Kami menemukan draf pesan teks yang belum sempat terkirim di dalam memori ponsel pengintai tersebut. Pesan itu berisi koordinat rute perjalanan Elena Wijaya menuju Kota Bandar Samudra pekan depan, lengkap dengan rincian jumlah pengawal yang akan dibawanya."
Mata Nathan berkilat dingin di balik kegelapan kamar. "Konspirator di dalam Megantara Group sengaja membocorkan rute perjalanan Elena kepada Robert. Mereka ingin Robert fokus menyerang Clara di rumah utama saat pertahanan di sini berada pada titik terendah karena Elena membawa sebagian besar pasukannya ke luar kota."
"Ini adalah rencana eliminasi ganda, Nathan," analisis Rendra dengan nada cemas. "Mereka ingin menghabisi reputasi keamanan Elena dengan menculik putrinya, sekaligus mengambil alih kendali perusahaan saat Elena panik. Siapa pun orang dalam ini, dia memiliki akses penuh terhadap rencana perjalanan pribadi Nyonya Besar."
"Suryadi," ucap Nathan tiba-tiba menyebutkan satu nama.
"Suryadi? Wakil Direktur Utama Megantara?" tanya Rendra terkejut.
"Dia adalah satu-satunya orang di jajaran dewan direksi yang memiliki wewenang untuk menyetujui rute perjalanan dinas Elena sekaligus mengendalikan divisi logistik yang frekuensi komunikasinya sempat kita lacak sebelumnya," Nathan menjelaskan analisis taktisnya. "Suryadi telah lama mengincar posisi Elena. Dia adalah orang yang paling diuntungkan jika Megantara Group jatuh ke dalam kekacauan."
"Apakah Anda ingin saya mulai mengawasi Suryadi secara langsung?"
"Tidak. Jangan sentuh dia dulu," perintah Nathan dingin. "Biarkan dia berpikir bahwa rencananya berjalan sempurna. Jika kita bergerak sekarang, Robert akan membatalkan serangannya pekan depan, dan kita akan kehilangan kesempatan untuk melenyapkan mereka semua dalam satu sapuan bersih."
"Tapi Bos... jika Robert menyerang rumah utama pekan depan saat Elena pergi, Clara akan berada dalam bahaya besar. Anda akan menjadi satu-satunya pengawal melekat yang tersisa di sini."
Sudut bibir Nathan terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat mengerikan. "Itulah bagian terbaiknya, Rendra. Aku akan membiarkan Robert mengirimkan seluruh pasukannya ke sini. Aku akan menjadikan rumah ini sebagai ladang pembantaian bagi mereka."
"Dan Clara?"
"Aku akan memastikannya tetap hidup... sampai saatnya tiba baginya untuk melihat siapa ibunya yang sebenarnya," jawab Nathan datar sebelum memutuskan sambungan telepon secara sepihak.
Keesokan paginya, suasana di kediaman Wijaya tampak lebih sibuk dari biasanya. Beberapa mobil SUV hitam tambahan tampak terparkir di halaman depan, dan para penjaga berseragam safari tampak sibuk memindahkan beberapa koper besar dan kotak dokumen ke dalam bagasi mobil.
Nathan berdiri tegak di dekat koridor aula utama saat pintu ruang kerja Elena terbuka.
Elena Wijaya melangkah keluar dengan mengenakan setelan jas formal berwarna biru dongker yang sangat elegan, dipadukan dengan kacamata hitam besar dan perhiasan berlian yang minimalis namun berkelas. Di belakangnya, Hendra berjalan dengan membawa map dokumen hitam tebal, disusul oleh tiga orang pengawal bertubuh kekar dari tim inti.
Elena menghentikan langkahnya saat melihat Nathan berdiri di koridor. Ia menurunkan sedikit kacamata hitamnya, menatap Nathan dengan tatapan mata yang tajam namun penuh kepuasan.
"Nathan," panggil Elena lembut.
Nathan membungkuk hormat dengan kemiringan yang sempurna. "Nyonya Elena."
"Mulai lusa pagi, aku akan pergi ke Kota Bandar Samudra untuk menghadiri pertemuan tahunan pemegang saham selama lima hari," ucap Elena, suaranya terdengar sunyi di tengah kesibukan para pelayan di sekeliling mereka. "Aku akan membawa Hendra dan sebagian besar tim keamanan inti untuk mendampingiku di sana karena situasi bisnis di utara sedang sangat sensitif."
Elena melangkah satu langkah lebih dekat ke arah Nathan, menurunkan suaranya hingga hanya bisa didengar oleh mereka berdua.
"Aku meninggalkan putriku, Clara, sepenuhnya di bawah tanggung jawabmu di rumah ini. Hanya ada empat penjaga perimeter di pos depan selama kepergianku. Kamu adalah satu-satunya pengawal melekat yang berada di sisinya setiap saat."
Mata tajam Elena menatap langsung ke dalam manik mata gelap Nathan, seolah-olah sedang menaruh seluruh hidup putrinya di pundak pria itu.
"Jika terjadi sesuatu pada Clara saat aku tidak ada... aku akan memastikan kamu memohon untuk mati daripada harus menghadapi apa yang akan kulakukan padamu, Nathan. Apakah kamu mengerti?" ancam Elena dengan nada dingin yang sangat mengerikan.
Nathan tidak menunjukkan ketakutan sedikit pun. Ia membalas tatapan Elena dengan kepatuhan yang tampak begitu tulus, meski di dalam kepalanya, ia sedang membayangkan bagaimana wajah wanita ini akan hancur saat ia menyeretnya ke dalam jurang kehancuran.
"Keselamatan Nona Clara adalah hidup saya, Nyonya," jawab Nathan dengan suara berat dan mantap. "Selama saya masih bernapas, tidak akan ada satu pun musuh yang bisa menyentuhnya."
Elena tersenyum tipis, sangat puas dengan jawaban tegas pengawal barunya itu. Ia menepuk bahu Nathan sekilas sebelum kembali mengenakan kacamata hitamnya.
"Bagus. Aku memegang janjimu," ucap Elena sebelum berjalan pergi menuju iring-iringan mobil yang sudah menunggunya di depan lobi.
Nathan berdiri diam di koridor, menatap kepergian mobil SUV hitam yang membawa Elena menjauh dari kediaman. Badai besar yang telah ia rancang selama lima belas tahun kini telah berada di depan mata. Pekan depan, di bawah rintik hujan kota Megapura, jaring-jaring kematian akan mulai merapat, dan Nathan siap menyambut mangsanya dengan tangan terbuka di dalam kegelapan.