NovelToon NovelToon
Tawanan Pesantren

Tawanan Pesantren

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Nikahmuda / Spiritual / Cintamanis
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Apa jadinya jika seorang gadis remaja berusia 16 tahun, dikenal sebagai anak yang bar-bar dan pemberontak terpaksa di kirim ke pesantren oleh orang tuanya?

Perjalanan gadis itu bukanlah proses yang mudah, tapi apakah pesantren akan mengubahnya selamanya?

Atau, akankah ada banyak hal lain yang ikut mengubahnya? Atau ia tetap memilih kembali ke kehidupan lamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 18 - Tawanan Pesantren

~💠💠💠~

Malam itu, langit di atas pesantren begitu gelap, hanya ada sinar bulan samar yang menerangi halaman luas.

Angin malam berhembus pelan, menggoyangkan dedaunan pohon mangga di dekat asrama santri putri.

Di dalam kamar asrama, Miska tidak bisa tidur. Ia duduk di ranjangnya, seraya menatap langit-langit dengan mata yang terbuka lebar.

Sesekali ia melirik ke arah teman sekamarnya yang sudah terlelap. "Gue gak bisa terus gini! Gue harus keluar dari sini!," gumamnya.

Pikiran itu berputar-putar di kepalanya. Ia sudah tidak peduli dengan konsekuensinya. Urusan dengan Umi dan Abi bisa dipikirkan nanti. Yang penting sekarang, ia harus bebas dari pesantren yang terasa seperti penjara ini, pikirnya.

Setelah memastikan semua orang tertidur nyenyak, Miska pun mulai bergerak.

Ia berjalan pelan, mengangkat sandalnya, lalu melangkah menuju pintu asrama dengan napas yang tertahan.

Cekit!

Sejenak Miska terhenti. Suara lantai kayu yang berdecit membuatnya mengerutkan kening karena takut ketahuan, tapi ia tetap melangkah dengan hati-hati.

Saat berhasil keluar dari asrama, udara malam langsung menyambutnya, udara yang dingin seakan menusuk kulit. Ia lalu berjalan cepat menyusuri koridor gelap menuju gerbang utama pesantren.

Namun, begitu tiba di sana, ia langsung mengerutkan dahinya.

"Sial! Satpam jaga!," gerutunya pelan.

Seorang satpam duduk di pos penjagaan, dengan sesekali meneguk kopi sambil melihat ke sekeliling.

"Kenapa dia gak tidur aja sih?," desis Miska kesal.

Ia pun melangkah mundur, lalu mencari jalur lain.

Setelah berpikir, ia memutuskan menuju gerbang belakang. Mungkin di sana lebih sepi, pikirnya.

Namun, ketika tiba di sana, hatinya langsung mencelos. "Ya ampun! Ada satpam juga?! Dan… siapa itu?," gumamnya.

Di bawah cahaya lampu redup, ia melihat dua orang sedang berbicara. Salah satunya jelas seorang satpam, tapi yang satunya lagi adalah seorang ustadz.

"Gawat, ada asatidz juga yang jaga? Kenapa mereka gak tidur kayak yang lain aja, sih?!," seru Miska sambil menggigit bibirnya, karena frustrasi.

Ia pun kembali berjalan pelan ke arah lain, dan mencoba mencari jalan keluar.

Dan saat itu, matanya menangkap sesuatu, sebuah tembok tinggi di dekat gudang.

"Hmm… kalau gue bisa manjat itu, gue bisa keluar!," batin Miska.

Miska pun mendekati tembok itu, lalu melihat sekeliling untuk memastikan tidak ada seorang pun yang melihatnya.

Kemudian, pandangannya menemukan sebuah bangku kayu di dekat tembok.

"Oke, ini bisa jadi pijakan," gumamnya senang karena merasa terdukung.

Dengan cepat, ia menyeret bangku itu ke dekat tembok. Lalu, ia menginjaknya dengan hati-hati, dan mencoba meraih bagian atas tembok.

Tapi masalahnya, tembok itu lebih tinggi dari yang ia kira.

"Sial! Gue harus lompat!."

Miska mengumpulkan tenaga, lalu menggunakan tangannya untuk menarik tubuhnya naik. Tapi baru setengah badan naik, bangku kayu di bawahnya itu bergoyang.

"Aduh, jangan jatuh sekarang dong!," gerutunya sambil mencoba menyeimbangkan tubuhnya.

Namun, sebelum ia bisa benar-benar naik, sebuah suara mengejutkannya.

"Mau ke mana kamu, Miska?."

TEG!!

Jantungnya langsung berdegup kencang.

Ia menoleh cepat, dan saat itu juga darahnya terasa membeku.

Di bawah tembok, berdiri seorang pria dengan sorban melilit lehernya. Matanya tajam, menatap Miska dengan raut wajah yang serius.

Itulah Ustadz Musa.

**

"Mau ke mana kamu, Miska?"

Deg!

Saking terkejut, kaki Miska pun goyah dan tubuhnya pun hampir terjungkal ke belakang. Tapi di saat yang sama, tangan Ustadz Musa refleks terangkat, dan siap menangkapnya.

Namun, sebelum tangan itu sempat menyentuhnya, Miska mengangkat tangannya sendiri seakan memberi isyarat.

"Gak perlu, Ustadz. Aku gak akan jatuh," seru Miska.

Suara Miska terdengar tenang, tapi ada sedikit gengsi dalam nada bicaranya. Lalu, ia langsung berpegangan pada tembok untuk menstabilkan pijakannya, kemudian melompat turun dengan gerakan ringan.

Ustadz Musa menarik tangannya kembali, lalu menatap Miska dengan datar.

"Lalu, kamu mau pergi ke mana? Menaiki tembok itu?," tanya ustadz Musa sambil melipatkan tangannya di dada.

Miska menoleh ke arah tembok, lalu menatap Ustadz Musa dengan wajah tidak berdosa.

"Gak papa, cuma latihan aja," ujar Miska dengan santainya, seolah-olah yang baru saja ia lakukan adalah hal biasa.

Ustadz Musa menggelengkan kepalanya lalu bertanya, "Latihan apa? Latihan melarikan diri?."

Miska pun tersenyum kecil, namun tidak membenarkan, tapi juga tidak menyangkal. Ia lalu berjalan melewati Ustadz Musa, dan hendak pergi begitu saja.

Namun, sebelum benar-benar pergi, Ustadz Musa berseru, "Miska."

Langkah gadis itu pun terhenti, tapi ia tidak langsung menoleh.

"Pesantren ini bukan tempat yang buruk, kamu cuma belum memberi kesempatan untuk mengenalnya lebih jauh," kata ustadz Musa.

"Ustadz pikir aku akan berubah pikiran hanya karena satu kalimat itu?," tanya Miska sinis dengan setengah menoleh.

"Tidak. Tapi setidaknya, kamu tahu kalau ada yang sadar akan keberadaanmu di sini, selain hanya untuk mendisiplinkan," balas ustadz Musa sambil tersenyum kecil.

"Bagus, berarti lain kali kalau aku mau kabur lagi, ustadz bisa jadi saksi."

Setelah mengatakan itu, Miska langsung berjalan menjauh dengan langkah santai, meninggalkan Ustadz Musa yang hanya bisa tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya lagi.

"Gadis ini… benar-benar tidak mudah," gumamnya pelan.

BERSAMBUNG...

1
◌ᷟ⑅⃝ͩ● Marlina Bachtiar ●⑅⃝ᷟ◌ͩ
Cieee Rehan 🤭
Aurora: Terasa kembali ke masa puber deh 😅
total 1 replies
◌ᷟ⑅⃝ͩ● Marlina Bachtiar ●⑅⃝ᷟ◌ͩ
setuju,tunjukkan keahlianmu Miska 😃
◌ᷟ⑅⃝ͩ● Marlina Bachtiar ●⑅⃝ᷟ◌ͩ
Kereeeen 👍👍
Aurora: Terang aja, dia kan gaul nya ama banyak cowo 😅
total 1 replies
mbok Darmi
wah ancaman itu yg ditunggu miska jgn anggap remeh miska semakin kamu menekan dia akan semakin berani dan memberontak kamu salah pilih lawan ustadz dayat, julukan ustadz kelakuan biadab
mbok Darmi
wah ancaman itubyg ditunggu miska jgn anggap remeh miska semakin kamu menekan dia akan semakin berani dan memberontak kamu salah pilih lawan ustadz dayat, julukan ustadz kelakuan biadab
◌ᷟ⑅⃝ͩ● Marlina Bachtiar ●⑅⃝ᷟ◌ͩ
Coba saja 🤪
◌ᷟ⑅⃝ͩ● Marlina Bachtiar ●⑅⃝ᷟ◌ͩ
belum tau siapa Miska 😏
◌ᷟ⑅⃝ͩ● Marlina Bachtiar ●⑅⃝ᷟ◌ͩ
Waduh 😣
Aurora: Maafkan, hanya cerita fiksi 🙏😁
total 1 replies
◌ᷟ⑅⃝ͩ● Marlina Bachtiar ●⑅⃝ᷟ◌ͩ
Karena kamu biang masalah Miska 🥺
Aurora: Wkwkwkwk 😅🤭
total 1 replies
◌ᷟ⑅⃝ͩ● Marlina Bachtiar ●⑅⃝ᷟ◌ͩ
keren nih Miska 🤭
◌ᷟ⑅⃝ͩ● Marlina Bachtiar ●⑅⃝ᷟ◌ͩ
nah loh
mbok Darmi
sekarang tugas miska cari siapa yg menghamili novi, bisa dipastikan pasti santri yg ada di pondok, bila sudah diketemukan tugas kamu cukup bilang ustadzah siti ngga perlu kamu tangani sendiri
◌ᷟ⑅⃝ͩ● Marlina Bachtiar ●⑅⃝ᷟ◌ͩ
ternyata bukan Hana 🤭
Aurora: Hehehe...
total 1 replies
mbok Darmi
la berarti yg hamil zoya dong dia ingin lempar batu sembunyi tangan dia yg murahan knp miska yg mau di jadikan korban, cek kamar zoya pasti ada test pack dgn hasil garis 2 itu yg mau buat jebak miska tapi sayang keburu konangan sama rehan, makanya zoya jgn cari perkara sama miska yg ada senjata makan tuan
◌ᷟ⑅⃝ͩ● Marlina Bachtiar ●⑅⃝ᷟ◌ͩ
Hana ya 🤔
◌ᷟ⑅⃝ͩ● Marlina Bachtiar ●⑅⃝ᷟ◌ͩ
Waduh gawat nih 😣
mbok Darmi
pondok pesantren bukannya mendidik untuk lebih baik dalam berucap dan bersikap ini malah menebarkan fitnah, udah dari pada saling tuduh sekarang test USG kehamilan kalian bertiga terus lanjut test keperawanan mau ngga biar ada bukti akurat siapa yg bohong dan siapa yg sdh bolong
Aurora: Wkwkwkwk... Bolong, bisa ak kakak ini 🤣🤣
total 1 replies
◌ᷟ⑅⃝ͩ● Marlina Bachtiar ●⑅⃝ᷟ◌ͩ
Ternyata kalian 😌
◌ᷟ⑅⃝ͩ● Marlina Bachtiar ●⑅⃝ᷟ◌ͩ
Bagus 👍👍👍
◌ᷟ⑅⃝ͩ● Marlina Bachtiar ●⑅⃝ᷟ◌ͩ
Fitnah tuh 😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!