[ SEDANG REVISI ]
Apa yang akan kamu lakukan jika ternyata kamu menikah dengan seorang pria pemarah dan sangat egois?
Kalista, seorang wanita smart dan penuh prestasi, terpaksa menerima pahit takdir hidupnya, ketika ia tahu jika pria yang menjadi suaminya ternyata sosok pria pemarah dan sangat egois.
Kalista bahkan seperti tidak pernah melihat cinta dan kasih sayang dari diri suaminya itu. Sampai pada suatu hari, dia berada di ujung kesabarannya saat mengetahui jika suaminya punya hubungan dengan wanita lain.
"Aku minta cerai! " Ucap Kalista
Tiga kata yang keluar dari mulut Kalista yang sudah sejak lama ia pendam dan bungkam.
Apakah keputusan Kalista untuk berpisah dengan suaminya merupakan keputusan yang tepat?
Benarkah jika suaminya, berselingkuh dengan wanita lain seperti dugaan Kalista?
Dan benarkah jika Raditya Gunawan, pria yang sudah memberikan Kalista dua orang anak perempuan itu, sama sekali tak menaruh hati kepada Kalista?
Siapkan kesabaran dan tisu sebelum me
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lv Edelweiss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERANG DALAM CAFE
"Kalista... " Mas Radit sontak terbangun dari kursinya. Begitu juga dengan wanita bernama Bianca itu. Mereka berdua terlihat sangat terkejut tatkala mengetahui jika aku dan Demian ada di cafe yang sama dengan mereka.
"Demian... " sapa Bianca pada Demian.
"Kamu sedang apa di sini bersama Demian? " tanya mas radit padaku. Mas radit menatapku dengan sorot mata penuh kemarahan. Aku hanya diam tak bergeming.
"Aku uda bilang sama kamu kan Lis, jangan kamu bertemu atau dekat sama laki-laki ini." Lanjut mas Radit.
Aku jelas tak terima mas Radit melarang-larang aku untuk bertemu dengan Demian, sementara dia sendiri masih suka bertemu dan nongkrong dengan wanita lain diluar hal soal kantor.
"Aku juga mau tanya sama mas, mas sedang apa berdua dengan wanita ini? Siapa namamu..." kataku seraya menatap Bianca.
"Bianca... " sambung Demian.
Aku langsung menoleh ke arah Demian. Loh, ada apa ini? Mengapa Demian mwngenali wanita ini.
"Kamu... kenal, sama dia? " tanyaku pada Demian seraya menunjuk Bianca.
"Itu nggak penting Lis. Sekarang, ayo kita pergi aja dari sini... " Demian tanpa sadar memegang tanganku. Niatnya mau membawa aku kembali duduk ke meja kami, tapi yang terjadi justru diluar dugaan ku, Demian maupun Bianca.
"Bajingan kamu... " mas Radit melepaskan tinjunya ke wajah Demian. Demian sampai tersungkur beberapa meter ke belakang dan punggungnya menabrak meja dan kursi yang ada dibelakangnya.
"MASSS... " teriakku yang langsung menghampiri Demian. Aku berusaha untuk memegangnya meski dengan satu tangan karena tangan kananku menggendong Kaila.
"Mas kamu apa-apaan sih? Uda gila ya kamu?" teriakku yang membuat seisi cafe menjadi gaduh. Tangis Kaila pun tak terelakkan lagi. Orang-orang saling berbisik dan melihat ke arah kami. Sungguh memalukan.
"Ada apa ini? " security cafe pun datang setelah mendengar kegaduhan di dalam cafe.
"Pak maaf, ini cuma salah paham aja. Maaf ya pak. Ini kita juga mau pergi." ucap Bianca seraya menarik paksa mas Radit keluar dari dalam cafe.
Aku hanya ternganga melihat Bianca menggandeng mas radit sedemikian rupa. Mas radit yang notabenenya adalah suami ku. Ingin rasanya ku jambak rambut pirangnya, namun aku sadar jika aku harus menolong Demian lebih dulu.
Demian lalu bangkit dari jatuhnnya. Dia mengelus-ngelus wajahnya karena sakit.
"Sakit ya Dem...?" tanyaku.
"Kamu kok bisa sih Lis nikah sama pria brengsek kayak gitu. Belum sempat kita bicara dia uda main tangan aja." cetus Demian.
Aku diam seribu bahasa tatkala Demian berkata seperti itu. Harus berkata apa lagi, lah kenyataannya memang demikian. Mau di bantah seribu kali pun suamiku memang orang yang pemarah dan kasar.
Demian sudah berdiri dengan tegap. Dia melihat padaku seperti orang kasihan. Cepat-cepat aku membuang muka dan berjalan kembali ke meja kami. Jangan tanya lagi seperti apa para tamu cafe lainnya, sudah pasti semua mata tertuju pada kami. Sebab dua tokoh lainnya sudah terlebih dahulu menghilang.
Aku kembali menaruh Kaila di tempat duduknya semula. Dia terlihat trauma dengan apa yang baru saja terjadi. Kemudian mengambil gendongan dan meletakkan Kaila pada gendongan itu. Aku ingin pulang.
"Mau kemana Lis...? " tanya Demian.
"Aku mau pulang Dem. " jawabku
"Sini aku bantuin. " Demian mengancing gendongan agar lebih kuat.
"Makasih ya Dem.. " Aku bergegas mengambil tasku.
"Hmm Lis... " Kali ini Demian memegang tanganku.
Deg.
Jantungku seakan berhenti berdetak. Sentuhan tangan Demian begitu terasa hangat di jemariku. Sentuhan yang menenangkan dan membuat ku seolah lupa akan kejadian tadi. Ya Tuhan, ada apa denganku.
Begitu sadar, aku lantas buru-buru menarik tanganku. Aku tak mau orang lain melihat kami. Bahkan Tuhan juga pasti tengah melihat kami.
"Eh, maaf Lis. Aku nggak maksud mau nyentuh kamu kok." Demian sepertinya tahu jika aku tidak nyaman dengan sentuhannya walau hanya sedikit.
"Enggak apa-apa kok Dem. Kamu mau bilang apa? " tanyaku.
"Aku antar kamu ke parkiran ya? "
Aku hanya mengangguk pelan.
"Tunggu sebentar, aku bayar bill dulu.. "
...****************...
Diparkiran
"Kamu yakin nggak mau aku antar aja? " tanya Demian saat kami sudah diparkiran. Aku memakai helm dan mengancingnya.
"Motor aku gimana kalau aku pulang bareng kamu? " tanyaku seraya tersenyum.
"Iya juga sih...Kabari ya kalau uda sampai. " pesannya.
"Oke... "
Aku sudah bersiap akan pergi. Namun lagi-lagi Demian seperti tak ingin aku pergi.
"Eh Lis tunggu. "
"Kenapa lagi Dem? " tanyaku.
"Hmm.. Hati-hati ya. Kalau ada apa-apa kabari aku ya? Aku siap bantu kamu kapan aja. I'm always ready for you. 24 jam.
"Kamu apaan sih Dem. Uda-uda, aku balik ya. Daa... " aku langsung menancap gas pergi meninggalkan Demian.
Dalam hati, aku cuma bisa berbisik. Thank you caring about me, Demian. Di saat aku butuh teman untuk berbagi cerita, kamu selalu ada. Namun aku selalu tahu tentang batasan kita.