Candy Jovanka adalah seorang gadis cantik dan polos yang sedikit bodoh dari keluarga kaya. Ketika dia berusia 18 tahun, ke dua orang tuanya meninggal akibat kecelakaan mobil.
Candy yang baru saja lulus sekolah harus menanggung hutang yang di miliki oleh perusahaan keluarganya yang tiba-tiba bangkrut.
Tidak dapat menanggung beban hutang yang terlalu banyak, kedua bibi dan Pamannya berakhir menjual gadis itu pada seorang Vampire Bangsawan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Little Monster, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17 Perangkap
Cahaya lampu berpijar indah di kegelapan malam, ketika sinarnya itu tampak menjadi sebuah penerang dalam ruangan.
Udara dingin berhembus lirih ketika sesuatu melesat selaras dengan hempasan angin yang menderu.
"Apa yang kau katakan? Bukankah, organisasi memutuskan bahwa kita tidak akan bergerak melawan Edward?! Tapi kenapa sekarang mereka meminta kita secara rahasia untuk pergi ke kastilnya?" Sosok hitam tertutupi jubah melesat cepat ketika dia bertanya pada sosok lain disisinya.
Dengan tetap berlari seperti hembusan angin, orang yang mendapatkan pertanyaan itu mendesah pelan "Ada perubahan rencana, mereka bilang telah menemukan informasi penting. Tapi mereka masih perlu mengkonfirmasi! Kami berempat di minta pergi ke Kastil Edward untuk melihat situasi! Kuharap Vampire itu tidak ada di rumahnya!"
"Bukankah karena dia pergi, organisasi hanya mengirimkan kami berempat? Jika dia ada di kastil tidak mungkin organisasi hanya mengirimkan kami!"
"Kau benar! Tapi kami tidak hanya berempat! Ada orang kelima, dan dia bukanlah orang sembarangan. Jadi lebih baik kalian mempersiapkan diri kalian untuk bertarung!" Sosok hitam di dalam jubah lainnya mengingatkan saat ketiga sosok di sisinya menjadi lebih serius.
Setelah selesai dengan perkataannya itu ke empat sosok hitam itu melesat lebih cepat lagi dan berbaur dalam kegelapan malam yang dingin.
....
Bau amis menyengat di udara malam yang dingin, ketika kegelapan tampak menakutkan dengan warna merah kental berceceran.
Mata berwarna perak menatap sebuah tubuh tergeletak dengan darah menggenangnya. Tubuh itu kurus kering seolah semua darah miliknya telah hilang.
"Mereka menyebalkan seperti lalat dan tidak ada habisnya!" Suara magnetik Edward menggema dalam kesunyian ketika kerutan kesal terbentuk di ujung dahinya.
"Tuan Edward, aku sudah membersihkan sektor kiri, hanya tinggal sektor barat dan markas yang tersisa!"
"Samuel! Berhenti melaporkan hal-hal kecil yang tidak perlu! Sudah kukatakan bahwa aku bisa melihat segalanya!" Edward menatap pria muda yang usianya hanya beberapa tahun lebih tua darinya.
Tentu saja hal yang dia lakukan tampak tidak sopan, tapi untuk status bangsawan Edward dan dia sebagai Vampire pertama yang kuat. Seorang sepuh dengan usia yang lebih tua bahkan harus menghormatinya!
Edward mengalihkan pandangan matanya menatap kearah suatu ruangan di sisi lain pada sosok yang tengah terduduk diam seolah telah menunggu kedatangannya.
"Ada yang tidak beres?!" Edward bergumam pelan ketika ingatannya mulai berhenti dan bergerak mundur pada beberapa jam sebelumnya.
Dengan ekspresi dingin, Edward datang ke pertemuan lain menemui Robert. Karena mereka memutuskan untuk bekerja sama, maka Edward meminta pria itu untuk mencari sebuah informasi tentang kematian orang tua Candy.
"Kami menemukan Vampire yang telah membunuh mereka!" Robert menghempaskan sebuah kertas di hadapan Edward terduduk "Dia dari organisasi yang disebut Shadow! Organisasi bayangan yang akan menerima pekerjaan apapun selama kau membayarnya! Itu adalah organisasi besar berkumpulnya manusia kriminal dan Vampire berada! Salah seorang Vampire mereka yang bernama Leon telah menerima misi itu!"
Edward diam dan hanya membalik lembaran kertas di tangannya. Sinar mata berwarna peraknya berkelebat dengan cahaya dingin yang penuh dengan aura membunuh. Dia menatap tajam pada sebuah foto pria tampan dengan rambut berwarna hijau memalukan di tangannya.
"Dimana..."
"Edward, kurasa itu bukanlah ide yang bagus untuk mencoba melawan organisasi itu! Kami bahkan harus mengerahkan banyak upaya untuk mendapatkan informasi ini!" Robert buru-buru menjelaskan mencoba untuk sedikit memadamkan amarah Edward dan mengembalikan kewarasannya.
Tapi apa yang dia ucapkan malah membuat Edward semakin geram "Katakan padaku! Dimana tempat organisasi itu?"
Dengan desahan nafas yang panjang, Robert memijat pelipis matanya sebelum berkata "Distrik kumuh, Daerah terdalam dan di barat gedung hancur..."
"Tidak ada apapun disana!"
Robert mendengus kesal melihat kerutan di wajah tampan Edward "Tentu saja tidak ada apapun, tempat itu berada di bawah tanah! Kami mendapatkan info bahwa Leon berada di sana! Tempat itu adalah Markas ketiga Shadow!"
"Bloody Curse!"
Suara Edward tenang saat tangannya melambai ringan. Lautan darah merah kental membentuk tornado sebelum pudar seperti gelombang menyapu 5 manusia di hadapannya.
Ke lima Manusia itu tergeletak di tanah saat mayatnya menjadi kurus kering dengan asap yang mengepul keluar. Darah merah menggantung di udara sebelum berputar-putar dan menghilang setelah jentikan tangan Edward terdengar.
"Kau tidak lari?" Suara Edward dingin saat sosoknya berdiri tegap menatap Vampire yang terduduk di hadapannya.
Vampire itu tersenyum sinis menampakkan taring di giginya "Kekuatan keturunan garis darahmu luar biasa! Tentu saja aku tidak akan melewatkan kesempatan untuk melihatnya!"
"Leon?!"
"Yah itu namaku!" Leon menjawab acuh dengan seringai di bibir "Aku yang membunuh kedua orang lemah itu 1 tahun yang lalu! Mereka lari seperti seekor tikus..."
Tangan Edward terangkat diudara saat dia bersikap seolah mencekik Leon. Tubuh Vampire yang jauhnya 3 meter itu menegang dan terangkat diudara dengan nafasnya yang seolah habis.
"Kzrtargh?!!..."
Dengan suaranya yang tidak jelas, jemari tangan Leon terangkat meraih lehernya yang tampak kosong.
Dia menegang ketika mencoba untuk membalas serangan Edward. Tapi naas untuknya, kekuatan miliknya sama sekali tidak bereaksi.
Merasa sedikit cemas karena kekuatan Edward yang jauh lebih mengerikan dari dugaannya, Leon mulai memikirkan banyak hal untuk bebas. Tapi tentu saja hal ini tidak luput dari Edward yang dapat membaca pikiran.
"Jangan berfikir bahwa aku akan mengampunimu!" Edward semakin meremas jemari tangannya yang kosong diudara tanpa membuang waktu lagi.
Dia membuat Leon mengerang kesakitan.
Seolah terpelintir, leher Leon menjadi semakin kecil seolah di cekik, hingga leher itu terputus dari tubuhnya dan terjatuh di lantai. Dalam hanya beberapa detik setelah jatuh, kepala Leon hancur menjadi kepingan debu berwarna merah sebelum menghilang tertiup angin.
Melihat hal ini disisi Edward, Samuel menelan ludahnya kasar. Dia tidak bisa untuk tidak merasakan dingin di punggungnya! Vampire yang dia temui selama ini bukan apa-apa di bandingkan Edward!
Pria itu hanya perlu mengangkat tangan dan tidak perlu menyentuhnya secara langsung jika ingin membunuh seseorang! Bahkan kekuatan apapun akan menjadi seolah tidak berguna di hadapan kekuatan mutlak garis darahnya.
"Ada yang salah?!" Edward kembali bergumam pelan dengan perasaan yang semakin tidak nyaman.
"..." Samuel mengerutkan kening tidak mengerti. Saat dia hendak bertanya kenapa, ponsel miliknya bergetar.
Dia mengalihkan dirinya untuk menerima panggilan.
Mata berwarna perak Edward menerawang jauh sebelum terhenti di sebuah kertas yang tampak hancur. Dengan jentikan jari, kertas hancur yang hampir menjadi debu itu menjadi bentuk samar tidak rata.
Tulisan di dalam kertas membuat mata Edward berubah merah darah seketika.
[Ulur waktu.. Gadis itu..!]
"Tuan muda Edward ini gawat! Mereka mencoba mengalihkan perhatianmu..."
"Aku tahu itu!" Suara Edward dingin, dia bergerak cepat meninggalkan Samuel dan menghilang "Candy, kumohon! Apapun yang terjadi bertahanlah!"
Dengan tergesa sosok Edward benar-benar lenyap seperti sebuah kabut. Dia menggunakan kecepatannya sampai maksimum.
Walaupun dia telah berusaha bergerak secepat mungkin kembali, dia tahu Edward mungkin akan terlambat lagi. Dia menggertakkan giginya sebelum meraih ponselnya dan menelpon nomor yang tidak pernah dia lihat.
"Aku akan melupakan masa lalu jika kau membantuku menyelamatkannya!"
"Ed, apa yang?..."
suara bingung dari seberang terdengar saat nadanya terputus oleh perkataan Edward lagi. "James, pergi ke kastilku dan selamatkan Candy sekarang! Aku akan segera datang!"
"Baiklah!" James menjawab cepat sebelum memutuskan panggilan, dia tahu seberapa buruk situasi ini hingga Edward meminta padanya.
Edward tidak merasa lega sama sekali, dia malah mempercepat langkah kakinya untuk terbang melintasi malam.
Pikirannya penuh dengan wajah cantik Candy yang tersenyum manis dan dia tidak bisa untuk tidak menjadi semakin gelisah.
"Candy kumohon!"
Malam dingin dengan udara yang berhembus makin menusuk saat sosok Edward terbang melintasi kegelapan seraya memancarkan aura membunuh.
****
Note : Maaf apabila Chapternya kadang pendek, Upnya Tersendat dan juga banyak Typo, Author sedang sibuk banget di RL. Makasih buat yg sudah baca, like, Vote dan Komen.. maaf tidak bisa balas komennya satu²🙏🙏
sungguh mantap sekali ❤️❤️
terus lah berkarya dan sehat selalu 😘😘