Bagaiaman jika kamu harus menikah dengan orang yang mempunyai rasa trauma akan sebuah hubungan masa lalu yang masih menghantuinya? Begitu juga dengan Darin dan Arga yang terpaksa harus menikah karena keegoisan kedua orang tuanya. Arga yang meliliki trauma karena perceraian kedua orang tuanya, harus dipaksa hidup bahagia dengan Darin yang juga masih menyimpan rasa sakit hati karena ditinggal pergi Akaz.
Awal rumah tangga mereka diselimuti perdebatan, sampai akhirnya Arga mengetahui siapa sosok Darin sebenarnya yang membuat semua pandangannya selama ini berubah. Arga kembali merasakan getaran dalam hatinya, ia kembali merasakan bagaimana rasanya cemburu dan gundah. Namun Arga hanyalah lelaki yang mempunyai sifat cuek dan dingin, ia tidak tahu bagaimana caranya mengutarakan perasaannya. Hanya diam-diam Arga bisa mengutarakan perasaannya lewat tindakan kecil. Sampai akhirnya Arga berani mengungkapkan perasannya secara lantang karena ia tahu jika Darin adalah perempuan yang dicarinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Snow White, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecelakaan Kecil
Tubuh Arga jatuh ke lantai saat Darin mendorongnya begitu sangat kencang. Darin kaget bukan main ketika ia terbangun tubuhnya berada di dalam dekapan Arga, sontak membuat Darin spontan mendorong Arga sampai jatuh ke lantai. Sial bagi Arga yang harus merakan bahu sebelah kanannya jatuh lebih dulu menghantam tembok. Saat Darin mendorong dirinya.
"Aww...." teriak Arga kesakitan karena merasakan bahunya jatuh lebih dulu.
Darin masih shock dan kaget tidak memperdulikan Arga yang jatuh kesakitan karenanya. Bahu kanan Arga kembali terasa kesemutan dan sakit, namun ia mencoba menahannya di depan Darin.
"Kamu tuh kasar banget sih! Main dorong aja?" tanya Arga yang mencoba untuk bangun.
Tatapan Darin begitu tajam menatap Arga, pasti Darin menyangka jika Arga sudah melakukan sesuatu kepadanya. Tanpa pikir panjang Darin kembali menghampiri Arga yang masih duduk di lantai. Arga kembali mendapatkan pukulan dari Darin. Secara membabi buta Darin memukul tubuh Arga menggunakan guling yang sedari tadi peluknya.
"Apa yang kamu lakukan kepadaku?" tanya Darin melayangkan pukulan kepada Arga yang terlihat pasrah.
Melihat Darin menyerangnya secepat kilat Arga melindungi bagian kepala dan wajahnya agar tidak terluka.
"Aku nggak melakukan apa-apa. Aku juga nggak tahu gimana ceritanya kamu udah ada di pelukanku." Arga berusaha menjelaskan kepada Darin yang mulai memukul dirinya menggunakan guling.
"Bohong! Pasti kamu melakukan sesuatu sama aku kan?" Darin begitu tak terkendali memukul Arga sehingga mengenai bahu kanan Arga.
Lagi-lagi Arga merasakan sakit pada bahu kanannya, baru saja bahunya jatuh dan kini harus menerima pukulan dari Darin.
"Sumpah. Aku nggak melakukan sesuatu." Arga terus meyakinkan Darin namun Darin tidak mempercayainya.
Pukulan Darin semakin lama semakin membuat bahu Arga merasa sakit, akhirnya Arga menangkis guling yang dilayangkan Darin kepadanya. Setelah itu Arga meraih tubuh Darin serta menjatuhkannya ke atas tempat tidur.
Deg, Darin begitu kaget saat tubuhnya jatuh ke atas tempat tidur apalagi posisi Arga berada di atas tubuhnya. Jantung Darin berdetak sangat kencang saat Arga berada di atas tubuhnya sambil menatap kedua bola matanya dengan lekat. Waja mereka berdua tampak begitu dekat hanya beberapa senti saja, dan napas Arga terdengar jelas oleh Darin.
Mengapa Darin merasa sangat gugup saat Arga menatap dirinya seperti itu, apalagi detak jantung Darin yang semakin tidak menentu dibuatnya. Darin mencoba untuk bangkit namun Arga telah menahan kedua tangannya dengan kedua tangan Arga. Apa yang akan Arga lakukan kepadanya, yang pasti saat ini Darin merasa sedikit ketakutan. Tapi Arga merasa sangat senang bisa sedekat itu dengan Darin, apalagi saat bibir Darin menempel di bibirnya membuat jantung Arga tidak aman.
Saat Darin melihat bibir Arga, ia teringat akan kejadian semalam saat bibirnya dan bibir Arga bertemu. Rasanya bibir Arga masih begitu terasa di bibir Darin. Terlihat wajah cantik Darin memerah dan malu saat Arga terus menatapnya. Mengapa Arga begitu sangat senang menjahili Darin membuat perempuan cantik itu merasa gugup. Arga semakin mendekatkan wajahnya ke arah wajah Darin sehingga bibir mereka berdua seperti akan bertemu kembali.
Melihat apa yang dilakukan oleh Arga dengan cepat Darin menghindarinya membuang muka menoleh ke arah kanannya. Melihat sikap Darin yang terus menolak untuk menatapnya membuat Arga semakin penasaran. Lalu jantung Darin semakin tak terkontrol saat Arga terus menuju bagian leher Darin. Apakah Arga akan mencium leher Darin? Itulah yang Darin pikirkan. Namun kali ini Darin salah besar, terdengar jelas di telinga Darin jika Arga membisikkan sesuatu kepadanya. Membuat Darin semakin salah tingkah.
"Kalaupun aku melakukan sesuatu kepadamu, itu sudah kewajibanmu sebagai seorang istri yang harus melayani suaminya di atas tempat tidur." Arga berbisik di telinga Darin dengan suara yang sangat menggoda seolah sengaja Arga melakukannya.
Bagai disetrum tubuh Darin mendengarnya, mengapa Arga sekarang terlihat sangat nakal tidak seperti yang Darin kenal pertama kali begitu dingin, cuek dan ketus. Merasa terancam akhirnya sekuat tenaga Darin mencoba melepaskan cengkraman Arga yang memegang kedua tangannya sejak tadi. Tenaga Darin begitu besar saat ini sehingga berhasil lolos dari Arga yang tengah lengah menggoda Darin.
Saat Darin berhasil melepaskan kedua tangannya dari genggaman tangan Arga, secepat kilat Darin mendorong Arga yang masih berada di atas tubuhnya. Hasilnya Arga kembali jatuh tersungkur di atas lantai. Saat ini Darin tidak memikirkan Arga yang merasa kesakitan karenanya, tapi ia merasa sangat lega karena bisa lepas dari cengkraman Arga.
"Aawww...." teriak Arga kesakitan ketika bahunya kembali menyentuh lantai.
Sejak kejadian itu Darin merasa gugup dan salah tingkah jika berpapasan dengan Arga, atau sekedar bertemu pandang. Wajah Darin akan memerah malu jika Arga menatap kedua bola matanya. Setelah selesai mandi dan sarapan, Darin merasa sangat bosan. Ingin sekali ia berjalan-jalan mengelilingi hamparan kebun teh yang sangat luas, namun sayang ia tidak memiliki teman. Arga sedang sibuk di kamar mainkan laptopnya sambil tiduran.
"Tante!" panggil saat Darin sedang duduk di teras depan rumah.
Senyum manis bak malaikat menyambut Darin, ia melihat beberapa keponakan mamanya Arga yaitu Tante Saskia sedang berkumpul menggunakan sepeda miliknya. Sepertinya mereka hendak mengajak Darin untuk bermain sepeda.
"Tante Darin ikut kita main sepeda, yuk?" ajak salah satu keponakan Tante Saskia.
Wajah cantik dam imut dengan senyuman manis mampu menghipnotis Darin dan seketika Darin tidak bisa menolaknya. Tidak ada salahnya juga jika Darin ikut bermain sepeda keliling kebun teh bersama mereka. Lagipula jika mengandalkan Arga entah sampai kapan ia akan mengajak dirinya.
"Oke. Terus aku pakai sepeda yang mana?" tanya Darin ketika ia tidak menemukan sepeda yang bisa dipakai untuknya.
"Pakai sepedaku saja, biar aku dengan Azam," ujar Damar yang masih duduk di bangku kelas 9 SMP menyerahkan sepedanya kepada Darin.
Tanpa Arga tahu istrinya pergi dengan keponakan dan saudara sepupu mamanya. Mereka tampak bahagia saat Darin mau ikut dengannya. Berbeda dengan Arga yang sedang merasakan kesakitan di bagian bahunya akibat Darin memukulnya begitu sangat kencang dan jatuh ke lantai.
Terlihat Arga sedang mengompres bahu kanannya dengan kain hangat, rasa sakit itu selalu Arga sembunyikan dari semuanya termasuk adik-adiknya. Tidak lama kemudian ponsel Arga berbunyi ternyata itu dari Zein.
"Halo." Arga mengangkat panggilan masuk dari Zein dengan mode loudspeaker.
"Gimana kabar lo?" tanya Zein dari ujung telepon sana.
"Baik. Gimana kantor?" Zein balik bertanya masalah kantornya.
"Bukannya tanya kabar adik-adik lo, malah tanya tentang kantor."
"Gue percaya mereka baik-baik aja karena di sana ada Herry sama Richi untuk sementara waktu," terang Arga yang membuat Zein tertawa ringan.
Memang benar untuk beberapa hari ini Herry dan Richi akan berada di Indonesia sebelum mereka kembali ke tempat masing-masing. Tawa ringan terdengar oleh Zein saat Arga begitu percaya dengan kedua adiknya.
"Apa ada masalah di kantor?" lanjut Arga lagi.
"Kayaknya Alex harus cepat ditempatkan di kantor."
"Loh, kenapa?" Arga menyimpan kain yang sedari ia pakai untuk mengompres bahunya.
Meskipun Arga sudah diberikan alat kompres untuk bahunya, namun ia lebih senang menggunakan kain waslap dan air panas untuk mengompres bahunya. Mengapa Zein tiba-tiba meminta Alex untuk segera fokus di perusahaan? Sementara Alex belum selesai kuliahnya. Apa ada masalah serius yang tidak Arga tahu?
"Dia sudah waktunya mengenal perusahaan," jawab Zein singkat membuat Arga selalu bertanya-tanya sepertinya Zein menyembunyikan sesuatu.
"Apa ada masalah di perusahaan yang nggak gue tahu?"
"Nggak ada. Tahun depan di Singapura cabang baru kita dibuka, dan kita butuh seseorang di sana. Kalau lo pergi siapa yang akan gantiin di sini, atau kalau Alex udah siap dia bisa pergi ke sana."
Perusahaan milik keluarga Arga semakin berkembang pesat, semua putra Harun diberi kepercayaan untuk mengelola satu per satu. Hanya Richi yang menentukan nasibnya sendiri untuk menjadi dosen di luar negri, ia tidak begitu tertarik dengan dunia bisnis perusahaan keluarganya.
"Bintar suruh siap-siap jadi asisten gue nanti," kata Arga memilih Bintar karena dia adalah paling tua dari Alex.
"Gue ragu karena Bintar pernah menolak dan dia lebih senang untuk membuka usaha sendiri."
Bintar memang seperti Richi, ia tidak tertarik dengan perusahaan Ardhi Bhakti. Ia lebih senang mempunyai usaha sendiri meskipun kecil-kecilan, seperti kedai kopi milik Richi atau toko kue dan roti. Memang Bintar sudah mempunyai rencana untuk membuka usaha seperti itu, tapi Zein selalu melarangnya.
"Oke. Gue akan bicara sama Richi, biar dia bisa membujuk Alex."
Zein dan Arga tida bisa berjalan tanpa bantuan adik-adiknya. Untung saja Herry bisa mengambil alih perusahaan yang berada di luar negri. Tinggal ketiga adik kecilnya harapan Zein dan Arga agar bisa membantu melebarkan perusahaan keluarga yang mejadi turun temurun.
"Gue masih fokus kuliah dan kenapa harus gue? Masih ada Bintar yang bisa diandalkan?" Alex terlihat begitu protes saat Richi mengajaknya untuk belajar tentang ilmu ekonomi di waktu luang kuliahnya.
"Karena Zein dan Arga pengen lo yang menjadi CEO baru di Singapura," jawab Richi santai mencoba menenangkan Alex yang terlihat sedikit kesal.
"Apa? Kuliah gue belum beres, masa gue dipaksa pegang perusahaan baru? Mereka berdua memang nggak suka sama gue, makanya gue mau dideportasi dari rumah ini, kan?"
"Ngomong apa sih lo? Siapa yang mau deportasi lo dari rumah ini?"
"Mereka berdua lah, siapa lagi!" suara Alex terdengar sedikit meninggi membuat Richi harus ekstra sabar menghadapinya.
"Jangan ngaco pikiran lo. Perusahaan kakek semakin berkembang pesat dan itu butuh pemimpin buat mengelolanya."
"Tapi gue nggak mau! Gue belum siap."
"Gue tahu, tapi mau nggak mau lo harus siap. Pokoknya jam 10 malam gue ke kamar lo."
"Mau ngapain?"
"Belajar, mau ngapain lagi."
"Jadwal tidur jam segitu, Bang."
"Nggak ada alasan, pokoknya jam 10 gue ke kamar lo," kata terakhir Richi sambil pergi meninggalkan Alex yang sedikit kesal.
"Arghh....!" teriak Alex kesal saat melihat kepergian Richi.
Hanya Richi yang mampu mengendalikan Alex, karena Richi orang yang paling ingin melindungi Alex dari semua adik-adiknya. Richi ingin Alex menjadi lelaki yang bertanggung jawab dan mandiri.
Darin tidak disangka begitu asik dengan keponakan Tante Siska, mereka bersepeda mengelilingi kebun teh yang sangat luas milik keluarga mamanya Arga. Ternyata keluarga Siska adalah keluarga terkaya di sini. Wajar saja jika Harun menikah dengan Siska, dan mereka menikah karena dijodohkan oleh Ardhi Bhakti. Saat itu papanya Siska adalah kaki tangan Ardhi Bhakti yang sudah mengabdi sekian lamanya.
"Tante bisa ambilkan buah itu?" pinta Kania yang usianya masih 6 tahun minta diambilkan buah rambutan yang dahannya sedikit jatuh sehingga terlihat mudah untuk diambil.
Melihat wajah Kania membuat Darin enggan untuk menolak permintaanya, tapi Darin juga sadar jika ia tidak bisa mengambilnya begitu saja. Butuh sesuatu agar Darin bisa mengambilnya. Akhirnya Darin mencoba untuk memanjat pohon rambutan yang tidak terlalu tinggi dengan batang yang lumayan bercabang, sehingga sedikit memudahkan Darin untuk mendapatkan pijakan.
"Oke. Akan aku ambilkan, dan kalian tunggu di sini."
"Biar aku aja yang naik." Damar menawarkan diri namun Darin melarangnya.
"Jangan. Biar aku yang naik."
Keenam keponakan Siska begitu serius melihat Darin yang mulai memanjat pohon, ada rasa khawatir dan cemas di hati mereka akan keadaan Darin. Tanpa mereka tahu Arga datang menghampirinya. Ya, Arga diperintahkan oleh bibinya untuk mencari para keponakannya yang sedang bermain sepeda dengan Darin.
Setelah mencari ke sana-ke sini akhirnya Arga bisa menemukan mereka yang sedang terdiam mematung sambil menatap ke satu arah. Arga sangat penasaran apa yang sebenarnya sedang mereka lihat. Alhasil kedua bola mata Arga mengikuti tapan keenam keponakannya dan melihat istrinya sedang menaiki pohon rambutan. Sontak Arga dibuat kaget dan khawatir saat melihatnya, dengan cepat Arga mendekati pohon karena takut Darin terjatuh.
"Kamu ngapain di sana?" tanya Arga sambil mendongak melihat ke arah Darin.
Secara bersamaan keenam keponakan Siska menoleh ke arah suara yang didengarnya, ternyata mereka sudah melihat Arga berdiri tidak jauh darinya. Darin yang sedari fokus kini menjadi terganggu dengan suara Arga.
"Om Arga ngapain di sini?" tanya Damar balik bertanya.
"Kenapa Tante Darin bisa berada di sana?" Arga balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Damar lebih dulu.
"Kania pengen rambutan, Om."
"Apa!" Arga kaget dan kembali menatap Darin yang masih berjuang untuk mendapatkan rambutan.
"Darin! Cepat turun!" teriak Arga terlihat panik.
"Ih, berisik!" sahut Darin terlihat sangat risih dengan suara Arga.
Belum sempat Arga kembali menyuruh Darin untuk turun, tiba-tiba saja kaki Darin salah menginjak ranting kayu. Alhasil ia terpeleset dan jatuh karena tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya. Arga yang sedari tadi memperhatikan langkah kaki Dari menjadi kaget saat Darin jatuh, dan beruntung Arga begitu sigap untuk menangkap Darin yang berada tidak jauh dia atas sana. Hanya satu meter jaraknya dari posisi Arga di bawah.
Keenam keponakan Arga kaget saat melihat Darin jatuh, untungnya saja Arga berhasil menangkap Darin meskipun ujung-ujungnya mereka berdua juga harus jatuh tersungkur. Darin berada di atas tubuh Arga, dan sial bagi Arga yang kembali jatuh dan bahunya mengalami sakit. Tapi Arga lega karena Darin tidak kenapa-kenapa.
Selama jalan pulang Arga bersama dengan Darin. Ia membonceng Darin menggunakan sepeda dan posisi Darin ada di depan Arga. Jarak mereka begitu sangat dekat, apalagi posisi tangan Darin dan Arga yang hanya beberapa senti saja. Sepertinya Arga marah kepada Darin, terbukti sedari tadi Arga hanya diam tidak banyak bicara dengan tatapan dingin terus mengayuh sepeda tanpa menghiraukan Darin.
Ingin rasanya Darin berbicara tapi rasa takutnya melebihi apapun. Ia tidak berani berbicara kepada Arga di saat seperti ini, meskipun Arga tidak akan meninggikan suaranya tapi tatapan sinis yang selalu Darin hindari. Sesekali Darin melihat luka di bagian sikut Arga sebelah kiri yang belum sempat diobati.
"Aku minta maaf," kata Darin dengan nada pelan mencoba meminta maaf kepada Arga yang masih fokus mengayuh sepeda.
Nihil tidak ada kata yang keluar dari mulut Arga, ia malah semakin fokus melihat jalan membuat Darin kesal. Apa suaminya itu bisa mendengar apa yang diucapkan olehnya?
"Kamu denger aku ngomong nggak sih! Kayanya memang nggak denger deh!" Darin menggerutu sendirian dengan nada pelan namun tanpa Darin tahu bahwa Arga bisa mendengar apa yang diucapkan oleh Darin.
Merasa kesal tidak digubris oleh Arga akhirnya Darin berbicara sendiri meluapkan rasa kesalnya kepada sikap Arga selama ini.
"Asal kamu tahu, kalau kamu tuh jutek banget, kadang ngeselin, apa-apa diem. Nggak bisa apa bicara sedikit aja sama aku, memangnya kamu pikir aku ini apa? Didiemin mulu sama kamu. Memangnya enak dicuekin!" Darin terus bicara sendiri menggerutu dalam perjalanan pulang.
Sedari tadi Arga hanya senyum-senyum sendiri mencoba menahan tawa ketika ia mendengarkan semua yang diucapkan oleh istrinya. Apa begitu menyebalkan dirinya di mata Darin.
"Nggak enak sih dicuekin," sahut Arga yang membuat Darin kaget dibuatnya.
Sontak tangan Darin yang tadinya memegang erat stang sepeda bagian tengah kini berpindah tempat saat mendengar suara Arga. Tangan Darin tidak sengaja menyentuh tangan Arga yang sedang memegang stang.
Arga dibuat kaget saat tangan Darin berada di atas tangannya. Spontan jantungnya menjadi tidak aman dan gugup. Arga kehilangan keseimbangan karena tangan Darin menyentuh tangannya. Alhasil Arga kehilangan keseimbangan dan sepeda yang mereka naiki berdua jatuh.