NovelToon NovelToon
Terpaksa Menikahi Kakak Ipar

Terpaksa Menikahi Kakak Ipar

Status: tamat
Genre:Duda / Tamat
Popularitas:421.3k
Nilai: 4.9
Nama Author: Hasna_Ramarta

Cladi terpaksa menerima perjodohan antara dirinya dan kakak iparnya, setelah sang kakak meninggal dunia akibat sakit. Karena kedua orang tua mereka tidak ingin cucu-cucu mereka tidak kehilangan kasih sayang seorang Ibu. Akhirnya perjodohan itu dilakukan demi menjaga mental anak-anak yang baru saja ditinggalkan ibunya. Terlebih kedua keponakan Cladi begitu dekat dengan Cladi.

Sementara kakak ipar yang akan dijodohkannya merupakan orang yang dingin dan datar sejak istrinya meninggal. Tidak jarang perlakuan tidak ramah sering Karan berikan pada Cladi karena menganggap Cladi menerima begitu saja perjodohan mereka.

Mampukah Cladi bertahan dalam hubungan pernikahan naik ranjang ini dengan sikap suami yang dingin dan datar serta tidak ramah. Yuk nantikan kisah naik ranjang antara Cladi dan Karan si kutub utara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 Foto-foto Cladi

  "Kamu dari mana, Sayang?" tanya Mama Kori menyambut kedatangan Cladi. Cladi yang masih digelayuti Kappa dan Khalia, sejenak bingung harus berkata apa, dia tidak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya pada Mama mertuanya.

  "Cla dari rumah Mbak Candy, Ma. Menanyakan pesanan baju yang Cla order." Cladi memberi alasan yang spontan dan kebetulan hanya alasan itu yang nyangkut di kepalanya. Untungnya dia memang benaran ke rutik alias rumah butik Candy, jadi alasannya tidak akan dianggap terlalu mengada-ada.

  "Wahhh, kamu pesan baju apa sama Candy?" telisik Mama Kori membuat Cladi sedikit terlihat bingung. Untung saja kebingungannya tertutupi oleh keberadaan dua anak sambungnya yang masih memegang tangan Cladi.

  "Gaun malam, Ma," jawab Cladi sembari membawa kedua anak sambungnya ke sofa.

  "Bagus tuh, Sayang. Sepertinya kamu sedang mempersiapkan gaun untuk acara ulang tahun showroomnya milik Karan yang kelima bulan depan, ya?" todongnya. Cladi terhenyak, tapi dia mampu menutupi rasa terkejutnya dengan menyibukkan diri menciumi kepala Khalia yang berada di bahunya.

  "I~iya Ma. Cla, mempersiapkan gaun itu untuk acara ulang tahun showroomnya Mas Karan," sahutnya sedikit gugup.

  "Bagus, Sayang. Kalian rupanya sudah saling berkomunikasi dengan baik. Dan hal itu yang mama inginkan, kalian harus tetap kompak dan menjaga komunikasi. Kalau begitu mama pamit pulang, ya. Sebentar lagi jam tujuh malam, Papa kasihan," ujar Mama Kori seraya berpamitan akan pulang.

  "Kenapa Mama tidak nginap saja, Ma? Besok saja pulangnya," usul Cladi.

  "Tidak, Sayang. Kalau mama nginap, Papa akan kesepian," tukas Mama Kori diiringi senyuman. Cladi paham, memang kedua orang tua Karan itu sangat romantis dan harmonis, mereka selalu tidak mau jika berjauh-jauhan. Cladi pun bangga pada kedua orang tuanya, mereka pun saling mencintai meskipun satu sama lain tidak pernah memperlihatkan sikap romantis di depan anaknya.

  "Mama, hati-hati ya," balas Cladi melepas kepergian Mama mertuanya.

  "Nene, kapan-kapan kami nginap lagi di rumah Nene, ya?" ucap Kappa yang kini diikuti Karan dari belakang. Karan muncul dan hendak melepas kepulangan mamanya, dari arah ruang tengah. Sejak kedatangan Cladi dia memang berada di sana.

  "Hati-hati, ya. Salam buat Papa," ujar Karan sembari mencium tangan Mama Kori.

  "Hati-hati, ya, Ma. Salam buat Papa." Cladi juga sama melakukan apa yang dilakukan Karan, mencium tangan mertuanya.

  "Iya, Sayang. Kalian baik-baik di sini. Jangan ada pertengkaran. Kalau bisa, segera kasih mama cucu lagi," pungkasnya mengakhiri keberadaannya di rumah anak menantunya.

  Mama Kori segera bergegas menuju mobilnya yang terparkir di halaman rumah Karan. Tidak lama dari itu, mobil Mama Kori keluar dari halaman rumah. Beberapa saat kemudian terdengar bunyi klakson satu kali pertanda Mama Kori pamit. Karan, Cladi dan dua anaknya melambaikan tangan mengiringi kepergian Mama Kori.

  Seperginya Mama Kori, Karan segera menyuruh Bi Bella untuk membawa kedua anaknya ke kamar. "Bi Bella, bawa Kappa dan Khalia ke kamar. Suruh mereka belajar dulu setelah itu tidur."

  "Siap, Den." Bi Bella segera menghampiri Kappa dan Khalia, lalu menuntun mereka menuju tangga untuk ke kamar.

  Tinggallah di ruang tamu itu Cladi dan Karan. Dengan malas Cladi segera bergegas menuju tangga untuk ke kamar. Sebenarnya Cladi malas satu kamar lagi dengan Karan sejak kejadian semalam. Namun, karena takut gelagatnya diketahui Kappa dan Khalia, terpaksa Cladi masuk ke dalam kamar yang sama yang ditiduri Karan. Padahal jika Cladi mau, dia bisa tidur di kamar yang diperuntukkan buat tamu.

  Cladi langsung masuk ke kamar mandi, untuk mandi dan demi menghindari Karan. Kebetulan badannya memang gerah. Karan menyusul masuk kamar, dilihatnya tubuh Cladi sudah memasuki mulut pintu kamar mandi.

  Karan duduk di sofa kamar itu, menunggu Cladi yang masih di kamar mandi. Perasaan bersalah terus menggelayuti pikiran Karan. Karan berencana untuk meminta maaf pada Cladi setelah Cladi dari kamar mandi.

  Pintu kamar mandi perlahan terbuka, munculah sosok Cladi yang tubuhnya dibalut handuk dengan rambut dibalut handuk juga. Karan menelan ludahnya kasar ketika dia melihat bahu Cladi yang mulus basah air mandi.

  "Ya ampun, mulus banget bahu Cladi," bisiknya dalam hati. Karan bertekad akan minta maaf malam ini setelah Cladi melaksanakan shalat Isya.

  "Cla, aku mau bicara. Duduklah di sini," ajak Karan menuju sofa beberapa saat setelah Cladi selesai sholat Isya. Namun, Cladi tidak mengikuti permintaan Karan. "Cla, bisakah kita bicara serius? Aku di sini ingin minta maaf atas kejadian tadi malam. Aku minta maaf atas kekasaranku, karena ...."

  "Buat apa? Tidak ada gunanya lagi kok," ketusnya sembari mengoles wajahnya dengan skincare malam andalannya.

  "Lalu, gaun malam yang kamu sempat katakan tadi ke Mama, benar?" telisik Karan.

  "Tidak, aku hanya berpura-pura karena tidak ada pilihan lain," balas Cladi ketus, lalu tanpa diduga oleh Karan Cladi menyodorkan Hpnya di depan wajah Karan. Karan sedikit terkejut, padahal barusan dia tengah termenung dan sedikit kecewa dengan jawaban Cladi.

  "Aku memperlihatkan Hp itu dengan tujuan memperlihatkan apa yang seharusnya Mas Karan lihat." Cladi berkata tegas seraya kembali ke depan meja rias setelah HPnya benar-benar ada di tangan Karan. Sejenak Karan menatap kepergian Cladi ke meja rias, lalu tanpa menunggu lama, Karan membuka Hp Cladi. Sejenak Karan bingung. Namun dia berinisiatif membuka galeri foto.

  Di sana mulai terbuka satu per satu foto ketika Cladi pergi di mana hari itu pamit untuk menjenguk orang sakit. Karan sangat terkejut, sebab dia selama ini sudah salah menduga Cladi. Dia merasa menyesal dan bersalah telah tidak percaya pada Cladi, bahkan menuduh dia dengan tuduhan yang sangat kotor.

  Foto itu memperlihatkan di mana Cladi yang sedang menjenguk orang sakit di kamar hotel, yang tidak salah lagi kejadian pengambilan foto maupun rekaman vidio itu diambil kemarin. Terlihat dengan jelas baju yang dikenakan Cladi kemarin.

Terlihat di sana Cladi, Syamsir, juga dua orang anak kecil serta seorang laki-laki dewasa, tengah mengerubungi seorang perempuan dewasa yang terbaring di atas ranjang. Di duga perempuan dewasa itu adalah orang yang dijenguk Cladi.

  Karan bagaikan tidak bernafas, tenggorokan dia tiba-tiba tercekat. Dia harus minta maaf sampai Cladi benar-benar memaafkannya.

  "Cla, aku minta maaf yang sebesar-besarnya," ucap Karan sembari bersimpuh di kaki Cladi yang kini akan menaiki ranjang. Cladi segera merebut Hp nya dari Karan. Lalu menaiki ranjang. Untuk saat ini permintaan maaf Karan seperti apapun tidak akan bisa meluluhkan atau menghapus rasa kecewanya yang teramat dalam.

  Beberapa saat kemudian, Karan menyusul Cladi untuk tidur. Karan mematikan lampu dan mengganti dengan lampu meja. Perlahan Karan menaiki ranjang. Karan menatap punggung Cladi yang sengaja memunggunginya. Deru nafas teratur mulai diperdengarkan pertanda Cladi mulai tertidur.

  Perlahan Karan membaringkan tubuhnya di samping Cladi. Rasa bersalah itu kian membesar ketika melihat tubuh Cladi yang terbujur kaku.

  Sebelum tubuh Karan benar-benar terbaring, Karan dengan lancang melabuhkan sebuah ciuman di pipi Cladi lalu mulutnya berkata, "maafkan aku, Cla," ucapnya seraya mengecup pipi Cladi yang sebenarnya belum terlelap.

1
amilia indriyanti
jelas sayang ekonomi aman
Perempuan
koq lemah banget sih Cla. Lemah dan agak² gimana gitu...
Nasir: Heheheh... gimana ya...?
total 1 replies
Perempuan
Laki paling egois. Gak suka banget sama tokohnya ini. Si Cla juga koq cepat banget tergoda, dah dihinakan kayak gitu.
Hera sasuwe
👍
nissa
hadeh
nissa
lanjut
nissa
gak usah datang cla
nissa
nyesal kan kamu cladi
nissa
seru nih
nissa
gantian aja nih karan lagi yang marah
nissa
emang bisa kan cladi pakai kb
Nasir: Mampir di karya saya yg lain ya Kak...
total 1 replies
nissa
nah. lho cladi
nissa
lanjut
nissa
mangka nya cinta sendiri sama syamsir sih pd amat mo ngejar syamsir lagi
nissa
lanjut
nissa
tambah cemburu si karan
nissa
modus teruuuus
nissa
haha,padahal cuman modus tapi berhasil juga pintar juga ya si karan
Nasir: Makasih Kak sudaah mampir ya. Sehat sllu.
total 1 replies
nissa
bagus karan
nissa
hadeh si karan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!