Judul novel [My wife the farming transmigrasi]
Fu lichen saat ini hanya merasa perutnya mual, seakan mau muntah, dia melihat sekeliling merasa bahwa tempat itu sangat asing.
Tiba-tiba kepalanya sangat sakit, ingatan yang tidak dia miliki muncul secara tiba-tiba.
Pergi ke zaman kuno?
Secara tiba tiba mendapat istri dan anak?
Bagaimana kelanjutan cerita tersebut? jangan lupa like, komen, and vote😘
teer.id/onedea_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen 1003, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 18(kedatangan mak jomplang)
Sampai rumah, Fu Lichen pun kembali melanjutkan rutinitasnya seperti biasanya, Fu Lichen yang mendapatkan uang yang banyak hari ini tidak membicarankannya dengan Su Lingyu, agar bisa menjadi kejutan nantinya.
Fu Lichen sangat ingin tahu bagaimana reaksi istrinya itu perihal ia memberikan sebuah cincin sepasang untuknya, memikirkanya sudah sangat menyenangkan.
Dia pun memberikan semua urang yang diperoleh dari penjualan selai, sekali lagi Su Lingyu terkejut benda sekecil itu bisa dijual dengan harga yang sangat mahal, tetapi ia dengan cepat menenangkan diri, karena menurutnya dia sudah terbiasa dengan itu.
Fu Lichen yang sedikit kecewa karena istrinya tidak begitu antusias seperti sebelumnya, memang awalnya sedikit terkejut dengan uang yang diperolehnya saat ini, tetapi sepertinya Su Lingyu sudah terbiasa.
Fu Lichen pun langsung memberikan gelang yang dibelinya hari ini, dan akhirnya dia pun bisa melihat wajah terharu istrinya itu, sekali lagi dia mempunyai hobi yaitu melihat wajah terkejut dan terharu istrinya, dan menganggap hal tersebut sangat menyenangkan.
"Be benarkah kamu akan memberikannya... kepadaku?"
"Tidak... aku, aku, tidak mau menerimanya ini terlalu mahal, lebih baik menjualnya kembali" tolak Su Lingyu dengan tergesa-gesa.
Karena menurutnya suaminya Fu Lichen saat ini sudah sangat baik kepadanya, dia sudah sangat bersyukur Fu Lichen tidak lagi memukulnya, mencemoohnya, dan dia juga sangat bersyukur Fu Lichen sudah memberikan sebuah rumah untuk tempat berlindung untuknya.
"Terima saja, jika tidak kamu ambil mending buang saja, lagian juga bisa dibeli lagi" kata Fu Lichen dengan keras kepala.
"Ini... baiklah kalau begitu aku akan menerimanya"
Fu Lichen yang mendengar itu pun merasa sangat puas dengan perkataan istrinya itu, perlahan-lahan juga dia merasa sangat baik melihat istrinya kalau berbicara dengannya tidak lagi menunduk, walaupun masih berbicara malu-malu dengannya itu lebih baik kalau melihat Su Linyu berbicara dengannya dengan terbata-bata dan dengan kepala menunduk, dia sangat tidak menyukai hal itu.
Menurutnya kalau Su Linyu berbicara dengannya seperti itu ia merasa kalau dia bos dan Su Linyu hanya bawahan.
Kehidupan mereka saat ini pun terbilang sangat santai, karena tidak ada yang mengganggu mereka saat ini, tidak tau saja kala keesokan harinya hari baik mereka akan diganggu orang yang tidak penting.
.
Keesokan paginyanya Fu Lichen yang kembali mau pergi ke hutan dikejutkan oleh kemunculan empat orang yang ada dirumahnya, memang mereka tidak ada salah, tetapi Fu Lichen risih melihat ada seorang wanita yang melihatnya dengan tahapan malu-malu, Fu Lichen pun langsung menebak alasannya kemari.
Apalagi melihat ada seorang bibi yang mengenakan pakaian glamor, dengan make up yang berlebihan membuatnya semakin jijik, pasalnya dia kenal dengan bibik ini yang namanya dikenal dengan mak jomplang Sun, karena dia sangat pandai menjodohkan seseorang.
Dia sangat terkenal didesa ini karena mulutnya yang manis, membujuk orang-orang dengan mulutnya yang tajam dan manis agar putri dan putranya itu menikah. Walaupun pernikahan yang dibantu mak jomplang Sun ini ada yang tidak berhasil, tetapi kebanyakan dari mereka yang dijadikan mak jompalng Sun berakhir dengan hidup bahagia, makanya banyak orang yang menemuinya agar menjodohkan putra dan putri mereka.
Sekali lagi Fu Lichen pun mulai jijik kembali karena tatapan panas bibi yang dibelakang gadis muda itu yang di duga ibunya, ibunya saat ini sedang menatap panas kearahnya dengan matanya memancarkan penuh kegembiraan dan keserahakan seolah-olah melihat harta katun didepannya.
Fu Lichen pun mengundang mereka masuk, walaupun dia tidak menyukainya dan menanyakan apa alasan mereka berempat datang kemari.
Su Linyu yang melihat kedatangan mereka pun mulai merasakan perasaan yang tidak enak, apalagi ada seorang wanita yang lumayan cantik, sekali lagi dia pun mulai merasakan krisis karena mata wanita itu selalu tertuju pada suaminya.
Mereka berempat yang melihat Su Lingyu pun menunjukkan ketidaksenangannya kepada Su Lingyu, karena mereka merasa Su Lingyu tidak pantas untuk duduk disebelah Fu Lichen saat ini. Memang kalau dizaman ini seorang wanita jarang duduk disebelah suaminya saat ada seorang tamu, tetapi hal itu tidak mungkin bagi Fu Lichen untuk menyuruh istrinya pindah kebelakang.
Dan Fu Ning yang melihat seseorang yang akan menjadi suaminya itu ada yang duduk disebelahnya pun merasa sangat cemburu dan penuh kebencian. Tetapi dia menekannya kembali dan merasa bahwa sebentar lagi dia akan menikahi Fu Lichen.
"Begini... Fu Xiucai kami disini bertujuan untuk menikahkan Fu Xiucai dengan anaknya Fu Jing yang bernama Fu Ning" kata mak jomplang Sun dengan sopan santun dan senyum menyanjung.
"Apalagi putri ini yang bernama Fu Ning sudah cantik, pekerja keras, lemah lembut, sopan pokoknya pasti kalau kalian berdua menikah pasti akan..."
"Tidak! aku tidak setuju!!"
Sebelum menyelesaikan perkataannya selesai Su Lingyu yang sedari tadi diam saja pun langsung membantahnya dengan marah dan penuh kebencian.
"Kamu..! apa kamu tidak punya sopan santun menyela pembicaraan orang lain, sangat tidak sopan" cibir mak jomplang Sun dengan sikap sopan dan santun.
Ayah Fu Ning, ibu Fu Ning, serta Fu Ning sendiri pun merasa sangat senang melihat Su Lingyu yang begitu sengsara, mereka menganggap hal tersebut sangat menyenangkan untuk dilihat.
.
Su Lingyu yang tidak bisa berkata-kata lagi merasa bahwa saat ini juga dia akan menangis, pasalnya firasat yang muncul saat mereka kesini pun menjadi kenyataan, bahwa ada yang menjodohkan suaminya dengan wanita lain, sakit hati Su Lingyu melihat hal tersebut.
Saat ini Su Lingyu berharap bahwa suaminya akan membantah mereka dan mengusir mereka dari rumah ini.
"Sebaiknya kalian berempat pergi dari sini" kata Fu Lichen tiba-tiba mengejutkan Su Lingyu dan lainnya.
"Tapi... Fu.. " kata mak jomplang Sun dengan hati-hati.
"Saya menolak hal itu, karena saya sangat mencintai istri saya, dan ingat ini baik-baik, saya tidak akan pernah sekalipun mengambil selir ataupun itu" ucap Fu Lichen sambil mengusir mereka berempat.
"Tapi.." sela Fu Ning untuk membicarakannya kembali.
"Maaf saya tidak punya apa-apa lagi untuk dikatakan, sebaiknya anda mencari laki-laki lain lebih pantas dirimu sendiri, bukannya menginginkan lelaki yang sudah beristri" ucap Fu Lichen tanpa belas kasihan apapun.
"Pohh.. Fu Ning ayo pergi bukannya masih tidak ada laki-kaki lain sudah ayo pergi" kata Fu Jing sambil menyeret anaknya untuk pergi.
Mak jomplang Sun yang kebingungan dengan hal tersebut pun hanya bisa kembali dan pasrah karena melihat Fu Lichen yang sangat keras kepala tidak mau melanjutkan pembicaraan sedikit pun.
"Tapi bu.."
"Sudah ayo pergi" pergi ibu Fu Ning sambil mengucapkan kata-kata kutukan kepada Fu Lichen.