NovelToon NovelToon
Mawar di Pinggangnya

Mawar di Pinggangnya

Status: tamat
Genre:Cintamanis / Diam-Diam Cinta / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:15.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aruna Senja

Kiara Song, 21 tahun, reporter magang yang berjuang sendirian sejak kakaknya koma dan ayahnya kabur meninggalkan hutang. Hidupnya berubah saat ia menikah siri dengan Rayhan Tan — AKP kepolisian berwajah dingin, tubuh atletis, dan mulut tajam yang ternyata diam-diam memasak untuknya setiap malam.

Enam bulan tinggal bersama. Tidak ada ciuman. Tidak ada "aku cinta kamu." Hanya perhatian kecil yang membuat jantung Kiara tidak bisa tenang.

Kiara punya rahasia: ia menato setangkai mawar di pinggangnya sejak SMA — di tempat yang hanya bisa dilihat oleh orang paling dekat. Untuk laki-laki yang sama, selama enam tahun.

Dan Rayhan? Rayhan punya rahasia sendiri.

Ia sudah jatuh cinta pada Kiara jauh sebelum pernikahan ini dimulai.

Nikah dulu. Cinta kemudian. Tapi bagaimana kalau cintanya sudah ada duluan?

(148 kata Indonesia)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aruna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

Bab 016

Mi Tengah Malam

"Kamu suka dia?"

Pertanyaan itu menggantung di antara mereka bersama foto Reza yang sudutnya kusut.

Kiara menatap Rayhan, lalu menatap foto di meja. Rasa gugup yang tadi sempat membuat dadanya panas perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih jelas.

"Tidak."

Rayhan tidak bergerak.

"Aku tidak suka Mas Reza," ulang Kiara, kali ini lebih tegas. "Dia narasumber. Menarik untuk ditulis, iya. Tapi bukan untuk disukai."

Jari Rayhan yang berada di tepi meja mengendur sedikit.

"Kamu yakin?"

Kiara hampir tertawa, tapi wajah Rayhan terlalu serius. "Kak Rayhan mau aku tulis surat pernyataan?"

"Kalau perlu."

"Kak."

Panggilan itu keluar lebih lembut dari yang ia rencanakan. Rayhan menatapnya, dan untuk sesaat Kiara merasa ruangan mengecil lagi, seperti malam di tangga saat Rayhan bertanya apakah ia sudah makan.

"Aku tidak suka dia," kata Kiara pelan. "Aku cuma..."

Suka kalau Kak Rayhan cemburu.

Kalimat itu hampir keluar.

Untungnya, ponsel Rayhan berdering.

Ia menutup mata sebentar, seperti seseorang yang menahan sumpah serapah, lalu mengangkat telepon. "Ya, Aldi."

Ekspresinya berubah dalam tiga detik.

Tidak ada lagi cemburu. Tidak ada lagi foto Reza. Yang tersisa hanya polisi.

"Lokasi?"

Kiara menegakkan punggung.

"Unit K9 ikut?" tanya Rayhan. Hening sebentar. "Saya ke Polda sekarang. Jangan masuk sebelum saya tiba."

Panggilan berakhir.

"Ada tugas?" tanya Kiara.

"Informasi keberadaan saksi Brandon. Mungkin palsu, mungkin tidak." Rayhan sudah mengambil kunci mobil. "Kamu kunci pintu. Jangan buka untuk siapa pun."

"Kak Rayhan sudah makan?"

Pertanyaan itu membuat langkah Rayhan berhenti.

Kiara sendiri terkejut. Dari semua hal yang bisa ia tanyakan, kenapa itu?

Rayhan menoleh. Tatapannya tidak lagi setajam tadi. "Nanti."

"Nanti itu biasanya artinya tidak."

Sudut bibir Rayhan bergerak tipis. "Kamu belajar."

"Bawa roti."

"Tidak sempat."

Kiara melihat jam. Hampir pukul sembilan malam. Di luar, suara hujan kecil mulai mengetuk kaca.

"Hati-hati," katanya.

Rayhan menatapnya satu detik lebih lama. "Kamu juga."

Ia sudah sampai di pintu ketika kembali berbalik. "Alarm darurat ada di tas?"

"Ada."

"Pintu belakang?"

"Terkunci."

"Security cluster sudah punya nomor saya. Kalau ada orang datang mengaku keluarga, jangan turun. Interkom dulu."

Kiara menahan napas kecil. Setelah Pak Song, kalimat itu bukan lagi berlebihan. "Iya."

Rayhan mengambil jaket hitam dari gantungan dekat pintu. Di bawah cahaya foyer, wajahnya tampak lebih lelah daripada yang ingin ia tunjukkan. Namun ketika Kiara melangkah mendekat dan menyerahkan roti dari meja makan, ia menerima tanpa komentar.

"Makan di jalan," kata Kiara.

Rayhan menatap roti itu, lalu menyelipkannya ke saku jaket. "Aku usahakan."

"Itu juga biasanya artinya tidak."

Kali ini, Rayhan benar-benar tersenyum tipis. "Kamu makin berani."

Pintu tertutup sebelum Kiara sempat menjawab.

Setelah pintu tertutup, rumah terasa terlalu luas.

Kiara membereskan map wawancara. Foto Reza ia selipkan paling bawah, bukan karena takut Rayhan melihat lagi, melainkan karena tiba-tiba foto itu terasa tidak penting. Ia membuka laptop, mencoba mengetik catatan liputan. Lima belas menit kemudian, ia baru menulis tiga kalimat dan semuanya terdengar buruk.

Cici mengirim pesan.

Cici:

Gimana wawancara Reza? Dia wangi? Dia ganteng? Dia manusia?

Kiara:

Dia narasumber.

Cici:

Jawaban Bu Ratna banget. Fix lo sudah terkontaminasi tim kriminal.

Kiara tersenyum kecil.

Cici:

Tetangga misterius jemput?

Kiara menatap pintu depan yang sudah terkunci.

Kiara:

Iya. Tapi dia tugas lagi.

Cici:

Malam-malam?

Kiara:

Iya.

Cici:

Ki, lo khawatir?

Kiara tidak langsung menjawab.

Khawatir.

Kata itu terlalu sederhana untuk menjelaskan rasa yang membuatnya memeriksa ponsel setiap lima menit. Rayhan bukan pria lemah. Ia polisi. Ia terbiasa masuk ke tempat yang tidak aman, menghadapi orang yang tidak mau ditangkap, pulang dengan wajah datar seolah tubuhnya tidak pernah bisa terluka.

Tapi noda darah tetap merah.

Luka tetap luka, bahkan kalau pemiliknya bernama Rayhan Tan.

Kiara:

Sedikit.

Cici:

Sedikit versi lo biasanya banyak.

Cici:

Ki, gue tahu lo belum siap cerita, tapi orang yang lo tungguin sampai tengah malam itu bukan sekadar tetangga.

Kiara menatap pesan itu lama.

Cici:

Gue nggak maksa. Cuma jangan bohong ke diri sendiri.

Kiara meletakkan ponsel telungkup. Kalimat Cici membuat dapur yang terang terasa terlalu sunyi.

Pukul 22.37, pesan dari Rayhan akhirnya masuk.

Rayhan:

Jangan tunggu. Tidur.

Kiara langsung membalas.

Kiara:

Sudah makan roti?

Tidak ada jawaban.

Pukul 23.02, ia menelepon sekali. Tidak diangkat. Ia tidak menelepon lagi, takut mengganggu tugas.

Di dapur, jam digital menunjukkan 23.18. Ia membuka kulkas, melihat makanan matang yang Rayhan siapkan dua hari lalu, lalu menutupnya lagi. Entah kenapa, yang muncul di kepala justru kalimat Rayhan, nanti.

Nanti itu biasanya tidak.

Kiara akhirnya mengeluarkan dua bungkus Indomie goreng dari lemari. Ia menambahkan telur, sawi, dan sedikit bawang goreng. Dulu, saat Kevin pulang tugas malam, Kiara sering membuat mi seperti ini. Kevin akan duduk di kursi plastik kontrakan, makan sambil mendengar cerita sekolah Kiara, lalu pura-pura marah kalau Kiara mengambil telur dari mangkuknya.

Malam ini, Kiara menaruh dua mangkuk di meja, lalu sadar itu terlalu jelas. Ia memindahkan satu mangkuk ke dekat kompor, kemudian lima menit kemudian mengembalikannya lagi ke meja. Ia membuka laptop untuk menulis draft Reza, tetapi jari-jarinya malah mengetik kalimat yang sama tiga kali.

Reza menjawab terlalu rapi.

Rayhan belum pulang.

Ia menghapus semuanya.

Lalu ia berdiri lagi, mengecek kompor, mengecek pintu, dan mengecek ponsel yang tetap diam sejak tadi malam sekali.

Kenangan itu tidak menusuk seperti biasanya.

Mungkin karena malam ini, untuk pertama kalinya, ia tidak memasak karena ditinggalkan.

Ia memasak karena menunggu seseorang pulang.

Pukul 00.40, mi sudah dingin.

Pukul 01.15, Kiara memanaskan ulang dengan sedikit air.

Pukul 01.52, ia tertidur sebentar di meja makan dengan lengan menjadi bantal dan ponsel di samping mangkuk.

Suara pintu terbuka membuatnya terbangun.

Kiara mengangkat kepala. "Kak Rayhan?"

Rayhan berdiri di foyer, rambut basah oleh hujan, kemeja hitamnya menempel di bahu. Wajahnya lelah, jauh lebih lelah daripada saat berangkat. Di belakangnya, malam masih membawa bau tanah basah dan sirene yang entah dari mana.

Matanya turun ke meja makan.

"Kamu belum tidur?"

"Aku..." Kiara berdiri terlalu cepat, kursinya bergeser. "Aku masak mi. Tapi sudah dingin. Bisa kupanaskan lagi."

Rayhan menatap mangkuk itu seperti tidak tahu harus bereaksi bagaimana.

"Kamu menungguku?"

Pertanyaan itu pelan.

Kiara memegang ujung meja. "Kak Rayhan belum makan."

Hening.

Rayhan melepas napas, lalu berjalan mendekat.

Baru saat itulah Kiara melihat noda merah di manset kemejanya.

Darah.

1
Alissia
hai thor🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!