Celine, seorang mahasiswi cantik yang kabur dari rumah karena ingin menghindari perjodohan yang telah direncanakan oleh Ayahnya. Selama pelariannya, ia bertemu dengan seorang laki-laki dengan tingkah laku yang nakal, bernama Raymond. Dan ternyata Ray adalah Dosennya dikampus.
"Kak Ray lo jangan berani macam-macam ya sama gue." Celine.
"Bibir lo itu selalu menggoda gue, tau nggak?" Raymond
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RizkiTa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Bulan Kemudian
Celine P O V
Pagi datang, aku bangun seperti biasa. Membuka mata, pandangan yang pertama kali aku saksikan adalah sosok lelaki yang sedang tertidur lelap disampingku. Seketika aku sadar, pantas saja malam tadi aku begitu kedinginan, ternyata ia menarik seluruh selimut yang harusnya menjadi bagianku. Kurang ajar! Bukannya memeluk atau apa, dia malah membuatku kedinginan.
Ku lirik jam dinding dikamar berukuran lima kali lima meter itu, ternyata sudah pukul delapan. Tapi kenapa masih gelap? Kemana mentari yang biasa membangunkanku dengan sinarnya yang masuk melalui celah-celah jendela. Aku berjalan pelan menuju jendela menyibakkan gorden, oh ternyata kota Jakarta sedang diselimuti awan mendung. Sebentar lagi pasti hujan.
Aku menuju dapur, menyiapkan sesuatu yang bisa aku dan Ray nikmati. Dua bulan berlalu sejak aku tinggal mandiri disini, aku mulai belajar... banyak yang aku pelajari. Salah satunya memasak, ya perlahan-lahan masakanku mulai layak dimakan.
Ngomong-ngomong... sudah dua bulan ini aku tinggal diapartemen Ray, tak ada yang terjadi diantara kami. Ray yang selalu mengatakan bahwa ia akan menikmati tubuhku, nyatanya ia tak pernah melakukan itu. Mungkin sekedar ciuman, kami sering melakukannya, itupun dia yang memulai.
Aku sadar, apa yang menjadi pilihanku ini adalah salah, meski pada dasarnya kami tidak tinggal bersama, tapi lelaki itu sering mengunjungiku kesini. Sebisa mungkin aku selalu menghindar agar lelaki yang aku panggil dengan sebutan ‘Kak’ itu tidak melakukan lebih dari cium. Entah aku yang berhasil, atau dia yang bisa menahan. Meski sering aku katakan padanya bahwa jika ia menginap disini, tidurlah dikamar sebelah. Tapi ia selalu menolak, ia tetap tidur lelap disampingku.
Sejauh ini, aku belum punya perasaan apapun pada Ray, dan itu tak boleh terjadi. Meski aku juga belum begitu yakin dengan perasaanku, tapi anehnya setiap kali kami berciuman jantungku selalu berpacu cepat dan hebat. Aku juga tak mengerti apa itu? Aku tak boleh terbawa perasaan. Mungkin begitu juga dengannya, aku sadar semua kebaikan yang ia lakukan padaku adalah tidak lebih dari rasa iba.
Well tak masalah, selama dia tidak macam-macam. Aku tak mau munafik, akhir-akhir ini aku merasa dia seperti sosok pelindung untukku, dia selalu ngerti apa yang aku mau, apa yang aku butuh. Meski jika dipertanyakan sebenarnya apa hubungan kami? Aku pun tak tau jawabannya. Dan sampai saat ini, kami tak pernah bercerita tentang masalah pribadi, bahkan sampai sekarang ia tak pernah bertanya mengapa aku tidak tinggal bersama orang tuaku? Begitu juga dengan aku, yang enggan bertanya tentang kehidupan pribadinya.
Didapur, dengan mengandalkan kemampuan memasakku yang semakin hari semakin bertambah, aku menyiapkan dua piring nasi goreng, jika Ray tidak menginap disini, aku hanya menyiapkan untukku sendiri dan aku tak pernah khawatir soal rasanya. Karena hanya aku yang menikmatinya.
Ray keluar dari pintu kamar, dia menghampiriku. Oh tidak, ternyata dia menghampiri nasi goreng yang sudah aku hidangkan di atas meja. “ini layak dimakan nggak?” tanya lelaki itu. “cobain dulu Kak, beneran nggak asin,” ucapku meyakinkan.
“Tujuh kali berturut-turut makan masakan lo yang asin, lama-lama gue bisa darah tinggi,” ucapnya kemudian duduk di kursi makan, begitupun aku, duduk dihadapannya. “Hem, enak. boleh juga,” ia mulai mencoba satu suapan.
Seperti anak kecil yang mendapatkan hadiah, aku bertepuk tangan kegirangan karena ini pertama kalinya dia mengatakan masakanku enak. “Kak, lo darah tinggi bukan gara-gara makan masakan gue aja, tapi karena lo suka marah-marah!” seruku dengan nada ketus.
“Gimana gue nggak marah, lo selalu bikin masalah. Udah gue bilang kan kalau perlu apa-apa tuh telpon gue, lo malah ngeyel kemarin pergi sendiri ke supermarket, terus pulang ujan-ujanan. Kalau lo sakit, yang repot siapa?” ocehannya panjang sekali. Hanya gara-gara aku pulamg kehujanan kemarin saat pergi membeli bahan makanan.
“Lagian juga lo kenapa ribet banget sih? Kalau mau makan tinggal pesan, kenapa mesti masak-masak segala. Duit dari gue masih kurang?” lanjutnya.
Aku menggeleng pelan sebelum menjawab, “gue mau belajar Kak, siapa tau nati gue dinikahin seseorang, walau nggak pintar masak, ya setidaknya bisa,” jawabku apa adanya.
Ray yang saat itu sedang meneguk air putih, tiba-tiba tersedak. “siapa yang mau nikahin lo emangnya? Pandu si bocah?” bertanya tanpa menatapku sedikitpun.
“Ya siapa aja, lagian... kemungkinan dalam waktu dekat ini gue—“ aku tak jadi meneruskan kalimatku, aku lupa jika kami tidak perlu membicarakan hal-hal prbadi.
“Dalam waktu dekat ini lo kenapa?” dapat kulihat tatapan tajam dari matanya, Ray begitu penasaran.
“Gue mau balik kerumah Kak,” jawabku jujur. Sepertinya aku menyerah hidup seperti ini. Sebelum terlalu jauh lebih baik aku berhenti dan pulang kerumah untuk menerima saja perjodohan itu. Terlebih dua minggu yang lalu, ada orang suruhan Ayahku yang mencariku ke kampus. Aku yakin mereka pasti akan memaksaku untuk pulang kerumah.
“Terus apa hubungannya dengan masak?” sepertinya lelaki itu tak puas dengan jawabanku.
“Nggak apa-apa,” aku tak mau membahas lagi, aku habiskan cepat makananku, karena jadwal kuliahku jam sepuluh, setelah itu aku berencana untuk ke perpustakaan untuk mencari referensi judul skripsi yang akan aku ajukan.
--------------
Aku sudah bersiap rapi dengan setelan blouse dan jeans seperti biasa. Begitu juga dengan Ray, “mau bareng nggak?” tawarnya. “Emang lo mau ke kampus Kak?”
“Enggak,” jawabnya.
“Terus kemana?” aku penasaran dengan kegiatan lainnya selain mengajar, meski sangat penasaran tapi aku tak punya keberanian untuk bertanya.
“Kepo?” Ray malah balik bertanya, aku segera menggeleng. “gue sama Pandu aja, bentar lagi dia nyampe,” ucapku sambil memakai tas ranselku.
“Gue duluan Kak,” aku berjalan keluar pintu kamar, sedangkan Ray masih sibuk dengan kancing kemeja diujung tangannya.
“Lo nggak bisa balik kerumah Cel," ujarnya membuat aku menghentikan langkah.
“Kenapa?” tanyaku heran.
“Perjanjian kita kan sampe gue bosan ama lo, gue sama sekali belum bosan,” aku mengangkat kedua bahuku, ku abaikan saja kalimat itu. Ku lanjutkan langkahku.
"Lo lupa sesuatu?" tanya Ray lagi. "Kayaknya enggak, emang apa Kak?" jawabku.
Ray menghampiriku, memberi kecupan lembut pada bibirku, aku tak mau membalasnya karena nanti pasti akan berlanjut.
"Hati-hati," ucapnya, aku melambaikan tanganku.
----------------
“Pandu...” aku memanggilnya ingin mengatakan sesuatu, saat sudah duduk disampingnya yang sedang mengemudikan mobil.
“Sebentar Cel,” ia mengambil ponselnya di dashboard menatap layar ponsel itu, aku juga ikut penasaran, tak kusangka tertera nama Viola disana. Apa mereka mulai akrab? Jiwa penasaranku meronta-ronta. Namun herannya Pandu menolak panggilan itu.
“Kenapa nggak dijawab?” tanyaku.
“Ntar aja,” jawabnya.
“Itu... Viola Andriana bukan?” aku meyakinkan apakah nama Viola yang tertera diponselnya tadi adalah benar Viola sahabatku?
Pandu mengangguk pelan, “Maaf gue nggak sempat cerita ke elo, gue dan Viola mulai akrab sejak—“
“serius Pan?” aku mengertukan dahiku, entah mengapa aku senang mereka dekat, bahkan kalau bisa jadian kenapa enggak?
“Iya, sorry ya Cel,” iya memelankam suaranya.
“Kenapa lo minta maaf?”
“Karena gue nggak pernah cerita ke elo.”
“Nggak apa-apa Pan, gue senang kok. Tapi please jangan mainin dia ya, dia itu cewek baik-baik.”
“Iya, gue tau kok,” jawab Pandu. Entah mengapa aku merasa lega, rasa bersalahku hilang seketika saat tau Pandu mulai bisa membuka hatinya untuk orang lain. Itu artinya aku tak terbebani lagi, semoga aja Pandu tidak menjadikan Viola pelampiasan.
“Cel...” panggilnya pelan, aku menoleh. “Ya?”
“Elo, serius belum ngapa-ngapain kan sama om itu?” aku membulatkan mataku saat Pandu bertanya itu.
"Sumpah Pan, dia nggak pernah nyentuh gue sekalipun. Palingan cuma—“
“kissing?” Pandu melanjutkan seolah tau kalimat lanjutanku, aku pun mengangguk menyikan.
--------------------
Ingat ya, sekali lagi... ini tuh cuma novel. Jadi ambil yang baik, buang yang buruk. Baca ceritanya, nikmati alurnya 😉❤
Pencet like pencet like, ramaikan dengan komentar.