Dayna merasa hidup selalu menyengsarakan dirinya. Ia tak pernah berpikir usai menikah ternyata masalah hidupnya kian dibuat pelik. Ia dijual oleh suaminya sendiri.
Yuga, laki-laki yang hidup di lingkungan dunia malam, pekerjaan haram dan penuh kekerasan. Kini episode hitam yang sama kembali menggilas garis hidup Dayna. Demi melunasi hutang, Yuga menjual Dayna pada Tuan Gaza.
Dayna selalu ingin kabur dari jerat hidup Tuan Gaza, tapi sosok laki-laki di rumah Gaza membuat Dayna tertahan. Dialah Arsen. Dayna menyukainya. Tapi Gaza tak akan pernah membiarkan Dayna menyukai Arsen. Gaza hanya ingin Dayna menyukai dirinya bukan Arsen.
Hingga akhirnya sebuah fakta besar terungkap, membuat Dayna hidup dalam kebimbangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seri Melani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Garis Pemisah
Malam itu terasa semakin gelap, lebih gelap dari sebelumnya, saat Dayna dan Arsen bersembunyi di dalam ruangan sempit yang berbau lembab. Mereka tahu, waktu mereka semakin terbatas. Gaza, dengan kekuasaannya yang hampir tak terbendung, telah melangkah terlalu jauh. Setiap keputusan yang mereka buat kini akan menentukan masa depan mereka, dan mungkin, hidup atau mati.
"Saatnya kita bergerak," kata Arsen dengan suara tenang, meskipun hatinya penuh kecemasan. Matanya yang tajam menatap ke luar jendela, memeriksa segala kemungkinan yang bisa muncul.
Dayna, yang duduk di sudut ruangan, mencoba mengumpulkan keberanian dalam dirinya. Semuanya terasa begitu berat. Tidak hanya beban fisik yang ia rasakan, tetapi juga beban emosional. Ia merasakan setiap detak jantungnya yang seakan semakin cepat, semakin keras. Gaza memang sudah menjadi ancaman nyata, tetapi rasa takut kehilangan Arsen jauh lebih menekan.
"Arsen," suara Dayna bergetar sedikit. "Apa kita benar-benar bisa menang? Kita tidak tahu siapa lagi yang bisa kita percaya selain Danu. Gaza mengendalikan semuanya."
Arsen berbalik, wajahnya serius. "Kita harus mencoba, Dayna. Jika kita tidak berjuang, kita akan tetap terperangkap. Dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Aku sudah memutuskan. Tidak ada lagi jalan mundur."
Dayna menatapnya lama. Ia tahu bahwa Arsen berbicara dengan keyakinan yang kuat, tetapi hatinya tetap diliputi ketakutan. Gaza adalah orang yang kejam, dan tidak ada yang bisa memprediksi apa yang akan terjadi jika mereka bertindak terlalu terburu-buru. Namun, di sisi lain, apa yang bisa mereka lakukan jika mereka hanya bersembunyi? Kapan mereka bisa merasa aman lagi?
“Apa yang sebenarnya kita rencanakan, Arsen?” tanya Dayna akhirnya. “Apa kita cukup siap menghadapi semua ini?”
Arsen menghela napas, lalu mengangguk. "Kita punya satu kesempatan. Kita harus menuju ke tempat yang lebih aman, ke lokasi yang jauh dari jangkauan Gaza. Di sana, kita akan berusaha mendapatkan informasi yang lebih jelas tentang apa yang sebenarnya terjadi. Hanya dengan begitu kita bisa mempersiapkan langkah selanjutnya."
Dayna mengangguk pelan, mencoba menerima kenyataan yang menekan mereka. Mereka harus bergerak, tidak ada waktu untuk berpikir lebih panjang. Gaza sudah semakin mendekat, dan mereka tidak bisa terus bersembunyi di tempat yang sama. Setiap detik yang mereka tunda hanya memperpanjang penderitaan.
Mereka keluar dari tempat persembunyian itu setelah memastikan tidak ada yang mengawasi. Hari sudah mulai larut, dan suasana semakin sepi, memberi mereka sedikit harapan untuk bisa bergerak tanpa terlalu banyak hambatan. Namun, ketegangan tetap terasa di udara.
Saat mereka melangkah di jalanan yang sunyi, langkah mereka terasa lebih berat. Keamanan bukanlah sesuatu yang bisa mereka andalkan, tetapi mereka tidak punya pilihan lain. Mereka harus terus bergerak, meskipun dalam ketidakpastian. Begitu banyak pertanyaan yang menggantung di kepala mereka, tapi hanya ada satu jawaban yang harus mereka cari—bagaimana cara mengalahkan Gaza?
"Arsen, aku takut," kata Dayna, suaranya pelan, hampir tak terdengar. "Aku takut jika kita tidak berhasil, kita akan kehilangan segalanya."
Arsen berhenti sejenak dan menatapnya. Matanya yang penuh rasa percaya diri kini terlihat lebih lembut, lebih memahami. "Aku tahu, Dayna. Tapi percayalah, kita tidak akan pernah tahu jika kita tidak mencoba. Aku akan selalu ada di sisimu."
Dayna menghela napas panjang, mencoba menenangkan dirinya. Arsen benar. Mereka harus berjuang, meskipun jalan yang mereka tempuh begitu penuh dengan bahaya. Gaza tidak akan pernah berhenti mengincar mereka. Namun, jika mereka tetap diam, mereka hanya akan terus menjadi korban dalam permainan kekuasaan yang tidak pernah adil.
Mereka akhirnya tiba di tempat yang lebih aman, sebuah rumah yang tidak terlalu mencolok, jauh dari perhatian Gaza. Rumah itu terlihat tua dan kosong, namun cukup terlindungi dari mata-mata yang mungkin mencari mereka. Di dalam rumah itu, mereka bisa merencanakan langkah-langkah selanjutnya.
"Ini hanya sementara," kata Arsen setelah memeriksa sekeliling rumah. "Kita tidak bisa berlama-lama di sini. Gaza akan mencari kita. Tetapi setidaknya, kita punya waktu untuk merencanakan dan mencari cara keluar dari cengkeramannya."
Dayna duduk di meja, tangannya menggenggam erat kertas yang ada di depannya. Pikirannya berputar, berusaha menyusun strategi yang bisa membawa mereka keluar dari ancaman Gaza. Tapi, apa yang bisa mereka lakukan? Gaza terlalu kuat, terlalu berpengaruh. Dia punya banyak kaki tangan di mana-mana. Mereka tidak bisa hanya mengandalkan keberanian semata.
"Apa yang akan kita lakukan, Arsen?" tanya Dayna dengan suara yang hampir putus asa. "Aku merasa terjebak."
Arsen menghela napas panjang, lalu duduk di sampingnya. "Kita harus cari cara untuk memecah kekuasaannya, Dayna. Gaza mungkin kuat, tapi dia juga memiliki kelemahan. Kita hanya perlu menemukannya."
Dayna menatapnya, merasa ada secercah harapan. "Kelemahan apa yang bisa kita manfaatkan? Dia tidak punya banyak celah yang terlihat."
"Dia memiliki satu musuh besar yang bisa kita manfaatkan," jawab Arsen dengan penuh keyakinan. "Jika kita bisa menghancurkan hubungan Gaza dengan musuh-musuhnya, dia akan menjadi lebih rentan. Tapi kita harus sangat hati-hati. Tidak bisa ada kesalahan dalam langkah kita."
Mata Dayna terbuka lebar. "Maksudmu, kita harus mencari tahu siapa yang bisa kita gunakan untuk menjatuhkannya?"
Arsen mengangguk. "Betul. Tapi kita harus sangat cermat. Gaza sangat licik, dan jika kita tidak hati-hati, kita bisa berakhir di tempat yang lebih buruk."
Dayna merasa otaknya bekerja lebih cepat, mencoba mencari solusi untuk masalah yang ada. Setiap kemungkinan terasa begitu berbahaya, namun mereka tidak punya banyak waktu untuk berpikir panjang. Gaza semakin mendekat, dan mereka hanya bisa bertaruh dengan apa yang mereka miliki.
"Aku akan pergi mencari informasi lebih banyak tentang musuh-musuh Gaza," kata Arsen setelah beberapa lama terdiam. "Kita butuh aliansi jika kita ingin melawan dia."
"Baiklah," jawab Dayna, matanya penuh tekad. "Aku akan mencari tahu dari sisi lain. Jika kita bisa menemukan satu kelemahan, kita bisa memanfaatkan itu."
Mereka berdua akhirnya sepakat untuk berpisah sementara waktu, mencari informasi yang mereka butuhkan. Namun, meskipun mereka tahu bahwa mereka sedang melangkah dalam bayang-bayang bahaya, satu hal yang mereka yakini—mereka tidak akan menyerah. Gaza mungkin menguasai banyak hal, tetapi mereka masih memiliki kekuatan untuk berjuang. Begitu banyak yang dipertaruhkan, dan mereka tidak akan mundur hanya karena ketakutan.
Dayna menatap Arsen yang kini beranjak pergi. Di dalam hatinya, ia tahu bahwa setiap langkah yang mereka ambil adalah garis pemisah antara hidup dan mati. Tetapi yang pasti, mereka tidak akan membiarkan Gaza menang.
wanita bodoh di jual ama laki kabur balik lagi kelaki nya
ogah baca nya 🙏🙏🙏
sekali up ngulang 😔😔