Repost ulang, ini novel yang pernah aku hapus aku upload ulang ya....
Stefano Razor Cassano, seorang CEO ternama yang menyandang status duda beranak satu. Stefan memiliki sifat yang tegas dan cerdik, karena sifatnya yang itulah dia bisa mengembangkan perusahaan menjadi perusahaan yang besar, dan di kenal dari berbagai manca negara.
Stefan sangat menyayangi anaknya, dia akan melakukan apapun demi anaknya, walaupun itu sangat tidak bisa di terima oleh akal sehat.
-
Rebecca Caroline, seorang gadis cantik (25) yang sedari kecil tinggal di panti asuhan, dia tidak tahu dimana keluarganya. Setelah lulus SMA, Rebecca memilih untuk mencari tempat tinggal sendiri karena tidak mau lagi merepotkan ibu panti, tapi setiap akhir bulan dia akan datang berkunjung ke panti untuk memberikan sebagian hasil kerjanya kepada ibu panti untuk membantu meringankan biaya di panti.
Rebecca memiliki sifat yang penyayang, dia sangat menyukai anak kecil, karena mungkin dia teringat dengan masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adhilla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CDAS#18
Saat ini Stefan dan Rebecca dalam perjalanan menjauhi sekolah Briel. Tadi saat hendak berangkat sekolah, Briel memaksa Rebecca yang hendak pulang untuk ikutan pergi menggantarkan dirinya pergi ke sekolah.
Awalnya Rebecca menolak, tapi dengan jurus seribu cara yang Briel lakukan, akhirnya Stefan pun menyuruh Rebecca untuk ikut, dan berakhirlah seperti sekarang.
Satu mobil dengan Stefan setelah Briel turun dari mobil.
Dalam perjalanan terasa sangat hening, tadi ada Briel yang mengoceh dan menggajak Rebecca berbicara, tapi setelah dia turun rasanya terasa sangat hening, karena dari kedua manusia yang ada di dalam mobil itu tidak ada yang mulai berbicara.
"Nanti di pertigaan depan berhenti ya, saya mau pulang dulu ke kosan." ucap Rebecca menyuruh Stefan untuk menghentikan mobilnya di pertigaan yang sebentar lagi akan mereka lalui.
"Di mana kosan kamu, biar saya antar sampai sana." balas Stefan tanpa menoleh ke Rebecca.
"Tidak usah tuan, lebih baik tuan langsung berangkat ke kantor saja, takutnya nanti tuan malah telat." tolak Rebecca.
"Saya tidak ingin kalau sekertaris yang baru bekerja harus datang terlambat, lagian kalau saya telat juga siapa yang akan marah, saya bosnya di sana." balas Stefan sombong.
"Di mana alamat kamu, bentar lagi kita sampai di pertigaan?" lanjut Stefan.
"Ta...."
"Gak ada tapi tapian, udah ayo cepat sebutkan di mana alamat kosan kamu." potong Stefan yang tahu kalau Rebecca pasti hendak menolak tawarannya.
"Depan belok kiri, nanti ada kosan tak jauh dari sana di sebrang kanan jalan nah di situ tempat tinggal saya." jawab Rebecca yang akhirnya menuruti permintaan Stefan untuk mengantarkannya pulang untuk berganti pakaian sebelum nanti dia berangkat ke perusahaan Stefan lagi.
"Kamu gak usah ge er, urusan kita tadi belum selesai, jangan pikir kalau sayang sudah memaafkan kamu karena sudah berani tidur di kamar saya." ucap Stefan membuat Rebecca menelan ludahnya kasar.
Rebecca kira Stefan sudah lupa masalah tadi pagi di rumah Stefan karena sedari tadi Stefan diam saja dan tak mengungkit masalah pagi tadi, tapi nyatanya Stefan masih mengingatnya.
Mungkin Stefan diam karena masih ada Briel, dan setelah tidak ada Briel barulah Stefan mulai mengungkitnya.
"Nanti siang, kamu ikut saya meeting dan setelah itu kita langsung makanan siang bersama sekaligus saya mau meminta penjelasan dari kamu." lanjut Stefan karena Rebecca diam saja.
"Ba-baik tuan." gagap Rebecca.
Rebecca berdoa dalam hatinya semoga saja nanti Stefan tidak memecatnya, kalau di berikan pilihan, mungkin Rebecca lebih memilih di berikan hukuman saja dari pada harus di pecat, karena pekerjaan ini sangat sangat dia butuhkan.
"Itu kosan saya tuan." Rebecca menunjuk sebuah tempat yang di depannya ada sebuah tulisan kosan untuk wanita.
Melihat itu, Stefan pun langsung membelokkan mobilnya ke sana.
"Terimakasih sudah menggantarkan saya pulang tuan, saya akan berusaha untuk cepat agar tidak telat sampai di perusahaan." ucap Rebecca sebelum turun dari mobil.
"Cepat sana ganti pakaian kamu, saya tunggu kamu di sini gak pakai lama." balas Stefan membuat Rebecca menghentikan pergerakannya yang hendak membuka pintu mobil Stefan.
"Udah gak usah bengong gitu, saya gak mau kalau sampai kamu telat dan saya yang lebih datang duluan, karena nanti tidak ada yang bisa membantu persiapan saya bekerja kalau kamu sampai telat." lanjut Stefan.
"Maksud tuan, tuan mau menunggu saya?" tanya Rebecca yang masih belum mengerti.
"Iya, udah sana cepet, saya gak mau kamu lama atau kamu bakal saya pecat." suruh Stefan di sertai dengan ancaman.
Rebecca yang mendengar kata pecat pun segera keluar dari mobil dan masuk ke dalam kosannya sebelum nanti dia benar benar di pecat oleh Stefan.
...*** ...