NovelToon NovelToon
LOLIPOP MANIS

LOLIPOP MANIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:679
Nilai: 5
Nama Author: nila edrina

PERNAHKAH KALIAN MEMAKAN LOLIPOP?
BAGAIMANA RASANYA MANIS?

Eirina karamyka Aldirck seorang gadis manis yang menyukai lolipop.

MAU TAU KENAPA SUKA LOLIPOP?

NONTON LOLIPOP MANIS BY NILA EDRINA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nila edrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17 — UNDANGAN MISTERIUS

BAB 17 — UNDANGAN MISTERIUS

Mentari pagi menyinari halaman kediaman keluarga Axlarta.

Embun masih menempel di daun-daun bunga yang baru ditanam Eiri kemarin bersama Melveri. Dengan sebuah penyiram kecil di tangan, Eiri tersenyum puas melihat bunga-bunga itu mulai berdiri tegak.

"Semoga cepat tumbuh..."

gumamnya pelan.

Dari balkon lantai dua, Mahendra memperhatikan Eiri sambil menyeruput kopi.

"Dia selalu menemukan kebahagiaan dari hal-hal sederhana."

Sudut bibirnya terangkat tanpa sadar.

Namun senyum itu menghilang ketika Asisten 01 datang tergesa-gesa.

"Tuan."

"Ada apa?"

Asisten menyerahkan sebuah amplop putih yang disegel lilin hitam.

"Ini baru saja dikirim seseorang."

Mahendra menerimanya.

Di bagian depan hanya tertulis satu kalimat.

Untuk Tuan Mahendra Axlarta dan Nyonya Eirina Aldrick.

Mahendra membuka amplop itu.

Di dalamnya terdapat sebuah kartu undangan berwarna hitam.

UNDANGAN MALAM LELANG AMAL

Hotel Grand Imperial.

Pukul 19.00 malam.

Kehadiran Tuan Mahendra Axlarta dan istri sangat kami harapkan.

Mahendra membaca hingga selesai.

Asisten kemudian berkata pelan.

"Tuan... acara itu memang benar ada."

"Tapi..."

"Nama pengirim undangan tidak tercantum."

Mahendra mulai curiga.

"Siapkan pengawal tambahan."

"Baik."

Siang hari.

Mahendra masuk ke ruang tamu.

"Eiri."

"Iya?"

"Malam ini ikut denganku."

Eiri menoleh.

"Ke mana?"

"Ada acara."

"Aku?"

"Iya."

Eiri sedikit gugup.

"Tapi... aku belum pernah datang ke acara orang-orang penting."

Mahendra tersenyum tipis.

"Kamu tidak perlu menjadi orang lain."

"Jadilah dirimu sendiri."

Kalimat sederhana itu membuat hati Eiri terasa hangat.

"Baik..."

Di tempat lain.

Marchel sedang berada di kantornya ketika sekretaris menyerahkan sebuah amplop.

"Tuan."

"Ini undangan untuk malam ini."

Marchel membuka amplop tersebut.

Matanya sedikit membesar.

"Hotel Grand Imperial?"

Sekretaris mengangguk.

"Beberapa pengusaha besar juga diundang."

Marchel tersenyum kecil.

"Sepertinya akan menarik."

Sementara itu...

Melveri juga menerima undangan yang sama.

Ia membaca nama acara itu berulang kali.

"Aneh..."

"Kenapa aku merasa pernah mendengar nama acara ini?"

Namun ia tidak terlalu memikirkannya.

Sore menjelang malam.

Eiri berdiri di depan cermin.

Ia mengenakan gaun berwarna biru muda yang sederhana namun anggun.

Rambut panjangnya dibiarkan terurai dengan jepit bunga sakura yang ditemukan beberapa hari lalu.

Mahendra yang baru masuk ke kamar langsung terdiam.

"Eiri..."

Eiri menoleh.

"Bagaimana?"

Mahendra tersenyum kecil.

"Cantik."

Pipi Eiri langsung memerah.

"Terima kasih..."

Mahendra berjalan mendekat.

Pelan-pelan ia merapikan sehelai rambut Eiri yang menutupi wajahnya.

"Sudah."

"Terima kasih, Tuan."

Mahendra menggeleng.

"Kalau sedang berdua..."

"Tidak usah memanggilku 'Tuan'."

Eiri terdiam.

"Lalu... aku harus memanggil apa?"

Mahendra tersenyum tipis.

"Terserah kamu."

Eiri menundukkan kepala karena malu.

Pukul 19.10.

Hotel Grand Imperial dipenuhi tamu penting.

Lampu kristal menggantung megah di langit-langit aula.

Para pengusaha, pejabat, dan tamu undangan saling berbincang.

Saat Mahendra dan Eiri memasuki ruangan...

Hampir semua orang menoleh.

"Itu Mahendra Axlarta."

"Dan wanita di sampingnya pasti istrinya."

Beberapa orang mulai berbisik.

Eiri menjadi semakin gugup.

Mahendra menyadarinya.

Tanpa berkata apa-apa...

Ia menggenggam tangan Eiri.

"Jangan takut."

"Aku di sini."

Eiri mengangguk pelan.

"Terima kasih..."

Tak lama kemudian.

Marchel datang.

"Wah."

"Kalian juga di sini."

Mahendra mengangguk.

Melveri pun menyusul beberapa menit kemudian.

Tanpa mereka sadari...

Keempat orang itu kini berada dalam satu ruangan yang sama.

Rivan, yang menyamar sebagai salah satu petugas hotel, memperhatikan mereka dari kejauhan.

"Akhirnya..."

"Semuanya berkumpul."

Namun wajahnya tidak terlihat lega.

Justru semakin khawatir.

Di lantai dua hotel.

Darius berdiri di balik jendela kaca sambil melihat aula di bawah.

Ia tersenyum tipis.

"Bagus."

"Semuanya datang."

Di sampingnya berdiri seorang pria misterius.

"Tuan..."

"Apakah malam ini kita mulai?"

Darius mengangguk.

"Tentu."

"Lelang amal itu..."

"Hanyalah umpan."

Ia kembali melihat ke arah Eiri.

"Malam ini..."

"Aku ingin melihat seberapa jauh Mahendra mampu melindungi istrinya."

Senyumnya perlahan berubah dingin.

Sementara itu...

Di aula, lampu utama tiba-tiba padam.

Brak!

Seluruh ruangan menjadi gelap.

Terdengar suara teriakan para tamu.

Dan dalam kegelapan itu...

Seseorang menarik tangan Eiri.

"Eiri!"

Suara Mahendra terdengar panik.

Namun...

Tangan yang digenggamnya...

Tiba-tiba terlepas.

Bersambung ke BAB 18 — Dalam Kegelapan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!