Seorang Pemuda yang biasa dipanggil Kang Rohim. Ia melamar putri sulung dari Lelaki bernama Abah Ucup, namun sang ayah malah meminta Rohim untuk menikah dengan anak bungsunya. Sedangkan Putri sulung Abah Ucup yang sudah lama menaruh hati pada Rohim harus merasakan sakitnya cinta sebelum berkembang. Ia sampai nekat hendak bunuh diri demi mendapatkan lelaki yang ia sukai.
Lantas Siapakah Jodoh Kang Rohim? Si Sulung atau Si Bungsu? Dan apakah alasan Abah Ucup meminta Rohim untuk menikah dengan putrinya? Seperti apakah kisah Laila dan Rohim ini?
Cerita ini hanya khayalan Author, jika ada kesamaan tokoh, kejadian itu hanya kebetulan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sebutir Debu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 18 LAILA TERSIPU-SIPU
Saat akan bangun dari tidurnya, Rohim merasakan sakit yang sangat pada tubuhnya. Seluruh sendi-sendi nya terasa sakit. mulutnya pun pahit. Perasaan nya sangat dingin. Padahal ketika Laila memegang dahi Rohim, tubuh suaminya sangat panas.
"Mau kemana Mas?"
"Sebentar lagi waktu shalat Dik."
"Mas masih demam. Semalam sampai mengigau."
"Kamu jadi terganggu tidurnya?"
Laila tersipu malu.
"Justru Laila malah senang karena sampai pagi Laila menyimak bacaan Mas Rohim. Masyaallah suaranya, tartilnya, semuanya bisa fasih. Apalagi kalau dalam keadaan sadar ya mas...." Ujar Laila pelan sambil menundukkan kepalanya.
Rohim duduk dan bersandar. Ia melirik jam dinding. Waktu hampir menunjukkan pukul setengah lima pagi.
Laila yang mengikuti pandangan suaminya cepat mencegah sang suami untuk ke masjid.
"Shalat dirumah saja dulu. Nanti kalau sudah sehat Ndak apa-apa di masjid." Pinta Laila pada Rohim.
Rohim pun berdehem.
"Ternyata nikmatnya menikah ya Dik. Ada yang menemani saat sakit. Ada yang mengingatkan kala lupa dan memperhatikan."
Laila semakin membenamkan wajahnya.
"Ya sudah ayo siap-siap sebentar lagi Shalat Shubuh."
Laila cepat ke dapur, Ia mandi terlebih dahulu. Setelah itu, Ia menghangatkan air untuk mandi sang suami. Saat itu suasana dapur masih sepi. Rohim yang mengikuti sang istri memperhatikan yang istrinya lakukan.
"Alhamdulilah... kamu tidak hanya cerdas dik. Kamu juga cekatan dalam mengurus dapur."
Batin Rohim sambil memandang Laila yang sedang mencoba menghidupkan api untuk merebus air hangat. Laila yang terbiasa di pondok menanak nasi dan merebus air dengan menggunakan kayu bakar bukan kompor minyak tanah. Maka lebih memilih menggunakan tungku dengan bahan bakar kayu.
Pada saat itu belum mengenal gas elpiji. Karena Gas elpiji baru dikenal pada tahun 2007. Maka kompor minyak menjadi salah satu alat untuk memasak di desa tersebut.
"Sini aku bantu. Kerjakan yang lain saja Dik."
Laila kaget karena tiba-tiba Rohim duduk di sisinya. Ia mengambil korek api kayu dari tangan Laila. Ia menghidupkan api. Laila pun tersenyum. Sang suami ternyata lelaki yang pengertian.
"Biar Laila saja mas... Ini tugas Ku sekarang. Untuk melayani Mas..."
"Kata siapa? Bukankah untuk perkara menanak itu tanggungjawab lelaki."
"Alhamdulilah ya Allah... Sungguh rezeki tak terduga sekali karena jodoh ku adalah kang Rohim." Batin Laila sambil mengambil kayu dan ia bawa ke dekat Tungku.
"Tapi izinkan istri mas ini meraih pahala sebanyak-banyaknya melalui setiap tindakan yang aku lakukan untuk membahagiakan suami ku ini." Ujar Laila sambil memasukan satu persatu kayu bakar ke dalam tungku.
"Alhamdulilah.... Ya sudah. Mas tak mandi dulu."
"Ndak tunggu air hangat mas?" Tanya Laila pada suaminya.
Rohim pun berjalan ke arah kamar mandi.
"Mas Ndak biasa mandi pakai air hangat. Kan sudah sembuh. Obatnya paten."
Saat sudah di depan pintu Rohim pun melihat ke arah pintu tengah. Ia memastikan tak ada orang lain di ruangan itu.
"Kopinya jangan terlalu manis Dik. Kamu sudah manis untuk membuat kopi nya jadi manis." Rohim pun menghilang dari balik pintu.
Hati Laila pun berdetak tak karuan. Ia merasakan malu dan senang karena di goda oleh Rohim. Wajahnya merona. Ia bahkan tersenyum disaat mencuci beras di dapur. Tak lama Rohim pun keluar dari kamar mandi. Laila yang selesai menanak nasi pun segera mandi ketika Bu Salamah telah ada di dapur.
"Tinggal tunggu matang kok Bu..."
"Eala. Pengantin baru kok bangunnya pagi toh Lai?"
Laila tersipu malu kembali.
"Kang Rohim semalaman Demam Bu." Jawab Laila ketika telah selesai membersihkan sayur yang akan masak.
"Ya sudah biar ibu. Sana shalat dulu. sudah adzan."
Shubuh itu pun Rohim harus melaksanakan Ibadah nya di kamar Laila yang hanya terdapat sedikit ruang untuk mereka shalat. Sehingga pintu harus di tutup untuk Laila bisa menjadi makmum.
Tangan Laila begitu dingin ketika menyambut tangan suaminya.
"Hehehe.... Apa aku menyeramkan sampai dingin begini?" Rohim menahan tangan Laila.
"Masih pusing kang kepalanya?"
Rohim pun membisikkan sesuatu kepada Laila.
"Ndak lagi. Sudah ada obat puyer nya. Puyer Laila istri Sholehah." Laila pun menunduk malu.
Baru saja Rohim akan mendaratkan sebuah kecuuuupan di dahi istrinya. Suara nampan yang dijatuhkan oleh Waroh membuat Laila membuka matanya kaget. Rohim pun menarik tubuhnya ke belakang karena merasa kikuk. Ia masih malu-malu untuk menciuuuum istrinya.
"Praaaaannngg."
"Oala Cing.... Cing.... Sudah siang.... Ndang metu... Wong Arep resik-resik!" Teriak Waroh mengusir kucing yang tidur di kursi meja makan.
[Oala Kucing... Kucing... Sudah siang... Cepat keluar. Orang mau bersih-bersih!]
Laila pun merasa tak enak meminta maaf pada Rohim atas ucapan Waroh.
"Maafkan Kak Waroh ya Mas."
"Lah kenapa? Sepertinya kak Waroh mengusir kucing bukan Kita... Hayo hati-hati. Di jaga hatinya.... "
"Astaghfirullah....."
Laila yang merasa hubungan dirinya dan Waroh tak pernah baik. Sehingga ia merasa sensitif. Ia mengira jika Waroh sengaja melakukan itu. Padahal apa yang di khawatirkan Laila memang betul adanya. Saat mengambil nampan yang jatuh Waroh tersenyum bahagia.
"Huh. Sudah siang begini kok masih dikamar. Enak saja." Gerutu Waroh namun senang karena punya alasan untuk mengganggu Laila. Padahal adiknya telah selesai menanak nasi dan tinggal menumis sayur. Ialah yang justru kesiangan.