Menjadi istri hanya karena sebuah taruhan. Konyol sekali, bukan? Itulah yang Ayu rasakan. Menikah dengan Rendra, seorang laki-laki tak hanya tampan tapi juga mapan.
Kasih sayang yang Rendra berikan, nyatanya hanya kamuflase belaka. Hingga berhasil menjerat hati Ayu.
Ibarat Nasi sudah menjadi bubur. Pernikahan yang awalnya Ayu harap sebuah kebahagiaan. Kini malah menjadi mimpi buruk yang ia benci.
Masalah semakin runyam, tatkala para orang tua juga turut menambah kerumitan rumah tangganya. Dapatkah Ayu tetap bertahan dengan status istri taruhan? Ataukah pergi dengan mengorbankan cintanya yang tulus pada Rendra?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ivan witami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Yang Terbaik
Satu Minggu berlalu, Ayu dan Rendra sudah kembali ke Jakarta bdan langsung menetap di apartemen. Rendra tidak mau setelah menikah tinggal bsatu atap dengan orang tuanya dan memang sudah seharusnya.
"Kamu di rumah aja. Gak boleh keluar! Persediaan makanan dan jajanan semua ada di kulkas!” ujar Rendra saat Ayu duduk di atas meja sambil memasangkan dasinya.
"Iya, bos. Siap! Tapi Mas pulang kerjanya jangan malam-malam, ya.”
"Liat saja nanti, soalnya pekerjaan numpuk. Banyak projects baru yang harus Mas lihat dan setujui. Kalau misal Mas pulang terlambat nanti Pasti kabari kamu.”
“Kabari satu jam sebelum pulang, biar aku masak buat makan malam.”
Rendra menarik pinggang Ayu lalu mendekatkan wajahnya. “ Berikan aku semangat dulu,” Lirih Rendra dan mereka pun langsung berciuman.
“Sudah! Sana berangkat!” Ayu sedikit mendorong suaminya lalu mengusap bekas lipstik di bibir Rendra. Rendra tersenyum sambil meremas dada Ayu lalu tertawa kecil dan langsung keluar.
"Tangannya nakal!” seru Ayu melihat Rendra berjalan keluar apartemen.
Rendra berangkat bekerja dengan penuh semangat. Ia melajukan mobilnya menuju perusahaannya sendiri. Sesampainya di kantor, seperti biasa ia di sambut dengan banyaknya pekerjaan.
"Selamat pagi, Pak!” sapa sekertarisnya.
"Hm! Bacakan jadwalku hari ini.” Rendra duduk di kursinya.
“Ada meeting Jam 10 pagi membahas iklan prodak baru dari PT Sentosa cantika. kedua meninjau tempat shooting iklan prodak yang kemarin masuk dan terakhir casting model untuk iklan susu anak!”
"Ok Baiklah. Kamu atur, nanti kalau sudah waktunya kabari saya. Dan mana berkas yang harus aku pelajari untuk meeting dan tanda tangan yang kemarin tertunda.”
Sekretarisnya pun memberikan semua berkas dokumen yang di mintanya. Rendra menandatangani berkasnya setelah itu sang sekertaris kembali ke tempatnya dan ia pun melihat berkas lainnya.
Rendra teringat model untuk iklan susu anak. kira-kira siapa model yang di ajukan stafnya. Apa ia harus mencari model baru yang keibuan dan bukan dari kalangan artis? Ingatannya saat ini tertuju pada sosok Ibu mertuanya dan juga adik iparnya yang masih umur 4 tahun. sepertinya Ibu Rahma dan Bagas cocok memerankannya. Namun ia ingin lebih dulu melihat siapa saja model yang sudah di persiapkan.
Rendra begitu sibuk dengan pekerjaannya sampai ia mengabaikan panggilan ponsel dari istrinya. Ayu hanya ingin memastikan jika Rendra tidak telat untuk makan siang.
“Ren!” Panggil Alex saat Melihat Rendra keluar dari ruang meeting. Rendra menoleh kebelakang melihat Alex.
"Apa bro!”
"Bagaimana model untuk prodak baru yang baru masuk? Apa ada model yang cocok
“Sepertinya cari model baru saja. Bukan kalangan artis atau model yang sudah punya nama. Aku mau buat konsep yang baru dengan model pendatang baru.”
"Iya, tapi siapa modelnya?”
"Ibu!”
"Ibu? Ibu markonah yang sering antar kopi!”
“Ck! Bukan! Ibu Rahma. Mertua gue!”
Alex sejenak terdiam membayangkan Rahma menjadi model prodak baru mereka yang akan di iklankan.
“Sepertinya ide Bagus!”
Rendra tersenyum begitu juga Alex lalu mereka berdua masuk ke ruangan.
Disisi lain Ayu sendirian. Masak sendiriakan pun sendiri. Ia merasa bosan, karena sudah terbiasa bekerja dan kini harus duduk diam di rumah saja.
“Ngapain ya! Bosen. Mau ke rumah Mama. Tapi mas Rendra gak izinin keluar. Mau telpon Ibu. Ibu pasti sibuk persiapan sekolah Bagas. Nonton TV aja deh!” grutu Ayu duduk bersandar di sofa. Tangannya meraih remote control televisi dan menyalakan acara yang menurutnya bagus.
"Acaranya ngebosenin!” Ayu mematikan televisinya dam memilih tidur siang di sofa.
Di sisi lain Pak Wibowo sudah waktunya menemui Rahma, karena sudah satu Minggu. Rahma pun sudah berada di villa pribadi pak Wibowo.
Rahma tersenyum t kedatangan Wibowo bersama sopir dan bodyguardnya. Kali ini ia hanya membawa satu bodyguard untuk menemaninya ke villanya.
"Papa!” seru Bagas berlari menghampiri Wibowo dan langsung menghambur ke dalam gendongannya.
“Wah jagoan papa makin hari makin ganteng! tos dulu!” seru Wibowo. Wibowo begitu gemas dengan Bagas.
"Papa! Ibu tadi masak enak buat Papa. Bagas sudah makan, Enak banget, Pa!”
"Oh ya! Papa jadi lapar!”
"Ya sudah! Papa makan ya. Bagassuain sama Om!” Bagas meminta turun dan ingin bermain bersama bodyguard Wibowo.
"Ron! Jaga ya!” titah Wibowo pada bodyguardnya untuk menjaga Bagas.
"Siap, tuan!”
Wibowo tersenyum lalu melangkah menghampiri Rahma buang sudah menunggunya di teras.
"Halo sayang! I Miss you!” Wibowo langsung memeluk Rahma begitu sebaliknya.
"Aku juga rindu, Mas!”
Mereka berdua masuk dan langsung menuju lantai atas. Wibowo tak sungkan dan langsung meminta haknya.
“Kau semakin cantik Rahma!” puji Wibowo melihat wajah Rahma kian hari kian berseri.
Semenjak menikah lagi dengan Wibowo, Rahma bertambah bahagia. ia sering merawat diri tanpa melupakan tugasnya sebagai seorang ibu bagi Bagas.
“Aku perawatan untukmu, Mas! Menyenangkan pandanganmu.”
“Kau yang terbaik sayang!” Wibowo pun langsung melancarkan aksinya.
"Hari ini kamu begitu bersemangat! Apa kedua istrimu tidak melayanimu?” tanya Rahma di sela permainan Wibowo.
“Kau tau kedua istriku sudah tidak muda lagi sepertimu!”
Rahma tersenyum, ia begitu bahagia mendengar jika dirinya yang terbaik untuk urusan ranjang. Karena Rahma tahu pria seperti Wibowo yang ia butuhkan adalah seorang istri yang bisa mengimbangi hasratnya yang tinggi. Dan faktor pekerjaan yang menguras otak, otomatis pria seperti Wibowo membutuhkan sesuatu untuk merilekskan otot dan mengistirahatkan otaknya.
Setelah selesai mereka masih berbaring di tempat tidur. Rahma tersenyum bersandar di dada Wibowo.
“Mas, Bagaimana kabar Ayu, anakku?” tanya Rahma.
"Mungkin baik. Karena setelah pulang dari bulan madu kemarin, Rendra langsung mengajaknya tinggal di apartemen. Jadi aku tidak tau pasti! Ayu pasti di jaga menantumu. Jangan khawatir.” Wibowo mencium kening Rahma.
“Aku mempunyai sesuatu untukmu!” ujar Wibowo mengambil tasnya yang ia letakkan di meja nakas di samping tempat tidur.
Wibowo mengambil kotak perhiasan yang berisikan cincin berlian.
"Semoga pas dengan jarimu!”
"Astaga, Mas! Ini berlebihan.” Rahma melihat cincin tersebut.
"Tidak sayang.” Wibowo kemudian memasangkan ke jari manis Rahma.
"Terima kasih, Mas!” Rahma mencium pipi Wibowo lalu seperti biasa ia langsung ke kamar mandi membersihkan tubuhnya. Tak lama Wibowo menyusulnya. Setelah itu mereka menuju ruang makan.
“Ini aku Masakin makanan kesukaan kamu, Mas. Ikan gurame bakar dan sambel goreng, sayur sop.”
“Hm ... sepertinya nikamat.” Wibowo melihat Rahma mengambilkan makanan untuknya.
"Ini ... Mas pasti suka masakanku!” ucap Rahma sambil meletakkan piringnya di depan Wibowo kemudian Wibowo mulai memakannya.
"Hem.... Masakan kamu luar biasa.” puji Wibowo melihat Rahma.
Wibowo tersenyum, rupanya istri barunya itu pandai menyenangkan perutnya terlebih juga di atas ranjang.