Bagaimana rasanya jika selama tiga puluh hari kita harus tinggal dengan orang yang tidak kita suka?
Ini karena ide gila kakaknya dan permintaan kakeknya membuat Olivia harus tinggal dengan seorang pria yang tidak dia kenal dan tidak dia suka.
Karena saran cucunya Jacob Smit membuat Michael Smith menjodohkan cucu perempuannya Olivia Smith untuk dijodohkan pada cucu sahabatnya.
Ini bukan perjodohan paksaan,kakeknya hanya meminta cucu tersayangnya itu untuk dekat dengan cucu sahabatnya dan meminta mereka untuk tinggal selama tiga puluh hari dibawah satu atap,tentu itu saran dari cucunya Jacob Smith.
Tentu Olivia menolak dengan segala upaya tapi dia tidak bisa menolak permintaan kakeknya,akankah Olivia membuat pria yang dijodohkan dengannya membencinya dalam waktu 30 hari itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni Juli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berkah dibalik suatu kejadian.
Olivia masuk kedalam mobil Lewis dan menuntup pintu mobil itu dengan sebuah bantingan, dia bentar-benar kesal.
Lewis masuk kedalam mobilnya juga dan duduk disampingnya sedangkan Olivia mengerutkan wajahnya melihat pemandangan diluar sana.
"Apa masih marah?"
Olivia enggan menjawabnya dan mendengus kesal sedangkan Lewis terkekeh melihat tingkah Olivia.
"Ya sudah, padahal aku ingin mentraktirmu makan."
"Tidak perlu terima kasih, huh!!" Olivia membuang wajahnya karena dia masih marah.
Lewis kembali terkekeh dan meminta supirnya untuk menjalankan mobilnya.
Bagaimana tidak, kembali tadi siang saat Lewis memijitkan tangannya secara tiba-tiba.
"Hei Lewis kau tidak sedang kerasukan bukan?"
"Kenapa? Apa pijitanku kurang enak?"
"Bukan begitu."
Olivia melihat kearah Lewis dengan curiga tapi ya sudahlah, bukan dia yang minta jadi dia akan membiarkan Lewis memijitkan tangannya.
Hitung-hitung lumayanlah untuk menghilangkan pegal ditanganya dan siapa tahu setelah ini Lewis mau memijitkan telapak kakinya.
"Ngg, kau jago juga." Olivia pura-pura memuji.
"Aku lebih jago dalam hal lain." jawab Lewis dengan santai.
"Oh ya apa itu?"
Lewis menghentikan tangannya dan melihat kearah Olivia setelah itu dia kembali memijit tangan Olivia sambil tersenyum.
"Mau coba? Aku akan membuatmu menangis kerena nikmat."
"Ck bisa tidak jangan membicarakan hal mesum, aku ini masih polos." ujar Olivia dengan malas.
Lewis melihat kearah Olivia Kembali dengan tidak percaya, yang benar?
"Tapi, aku lihat kau tidak polos."
"Apa maksudmu?" Olivia menatap Lewis dengan tajam.
"Aku lihat kau masih pakai baju." Lewis mengedipkan matanya menggoda.
"Oh my, sialan kau!!" Olivia jadi kesal.
Lewis hanya terkekeh dan terus memijit tangan Olivia.
"Jangan lupa yang satunya lagi." Olivia mengulurkan sebelah tangannya kearah Lewis.
Lewis meraih tangan Olivia yang satunya lagi dan mulai memijitnya, setelah ini habislah, Olivia pasti akan menyesal karena telah berani memerintahkannya.
Beberapa menit telah berlalu Olivia tampak menikmati pijitan Lewis, dia bahkan memejamkan matanya dan rasanya dia ingin tidur.
"Apa kau begitu menikmati pijatanku sampai kau ingin tidur?"
"Tidak aku hanya mengantuk." jawab Olivia dengan cepat.
"Baguslah." Lewis menyudahi pijitannya dan bangkit berdiri.
Olivia cuek saja, dia sedang merentangkan otot-otot tangannya yang sudah tidak terasa pegal.
"Terima kasih lain kali jangan cuma pijit tanganku tapi juga pijit kakiku,Okay?"
"Bisa diatur." jawab Lewis sambil tersenyum.
Dia melangkah menuju kursinya, duduk disana dan menarik sebuah laci untuk mengambil note yang berisi catatan hutang Olivia.
"Pijitan satu tangan 200 dolar, dua tangan jadi 400 dolar ditambah biaya memerintahku 100 dolar dan total pendapatku dari memijit kedua tanganmu 500 dolar." ucap Lewis sambil menulis angka yang dia sebut tadi dikertas.
Olivia terbelakak kaget saat mendengarnya, apa maksudnya?
Olivia bangkit berdiri, berjalan kearah Lewis dan menggebrak meja dengan kencang.
"Lewis apa maksudmu?"
"Olivia Smith kau tidak menganggap pijitanku tadi gratis bukan?"
"Apa?"
"Lihatlah, hutangmu bertambah 500 dolar, sepertinya ini bisnis yang sangat bagus. Dalam dua hari saja aku sudah mendapat 3000 dolar hanya darimu dan bersiaplah kau akan bekerja selama tiga bulan denganku!"
Olivia terbelalak kaget, tiga bulan? Dua hari saja dia sudah mau gila dengan pria aneh dan perhitungan ini.
"Lewis, sebenarnya berapa gajiku?" tanyanya.
"Gajimu suka-suka aku." jawab Lewis dengan santai.
"Oh my God!!" Olivia mengepalkan tangannya dan berkata pada dirinya sendiri:
"Oke Olivia Smith, kau mendapat lawan yang setimpal. Ini adalah sebuah tantangan yang menarik dan jangan mau kalah." Katanya dalam hati.
"Lewis Simone aku akui kau memang luar biasa." Olivia berusaha tersenyum pada Lewis.
"Terima kasih atas pujiannya tapi jangan harap aku akan mengurangi hutangmu hanya karena memuji aku."
Olivia memutar bola matanya malas, dia hendak melangkah pergi tapi Lewis menghentikan langkahnya.
"Mau kemana?"
"Kenapa? Tidak bisa aku tinggal?"
"Bukan begitu, aku ingin kau membelikan aku kopi starbucks dibawa sana dan ingat kembali dalam dua puluh menit."
"Ada yang lebih kejam?"
"Ada, bayar pakai uangmu!"
Kekesalan hati Olivia memuncak, rasanya dia ingin menembak kepala Lewis dan membunuhnya saat itu juga tapi dia berusaha menahan semua itu.
Olivia berjalan pergi sambil menggerutu sedangkan Lewis tampak senang karena telah berhasil mengerjai Olivia. Memangnya gadis itu saja yang bisa!
Itulah sebabnya Olivia begitu kesal bahkan sampai jam pulang kantor, selama didalam mobil Olivia diam saja tidak mau berbicara dengan Lewis.
Suasana hening sampai mereka tiba dirumah, Olivia langsung keluar dari mobil Lewis dan berjalan dengan cepat sedangkan Lewis hanya tersenyum melihat Olivia. Sebentar lagi gadis itu pasti tidak akan marah.
Olivia masuk kedalam rumah Lewis sambil menggerutu kesal, sebelum masuk kedalam kamarnya dia berjalan kearah dapur mengambil air dingin dan meneguknya dengan cepat untuk menenangkan hatinya.
Dia hanya melihat Lewis yang berjalan melewatinya dengan kekesalan dihatinya, jika dia tidak bisa membalas perbuatan Lewis jangan panggil dia Olivia Smith.
Setelah meneguk air dingin dia segera berjalan kearah kamarnya, semoga tidak ada katak lagi disana.
Saat sudah berada didepan kamarnya Olivia membuka pintu kamar itu dengan cepat, matanya terbelalak kaget saat melihat sebuah ranjang didalam kamarnya.
Dengan hati gembira Olivia mendekati ranjang itu dan duduk disana dan kekesalan dihatinya sudah hilang, oke setidaknya Lewis tidak begitu buruk dan setidaknya saat tidur dia tidak perlu takut dengan serangga lagi.
Olivia segera bangkit berdiri, itu memang sebuah ranjang tapi dia harus berterima kasih pada Lewis Simone pria yang penuh dengan perhitungan.
Dengan sedikit berlari dia menuju kamar Lewis, tanpa mengetuk lagi Olivia membuka kamar pria itu dan masuk kedalamnya. Disana Lewis sedang membuka jasnya dan sangat kaget melihat Olivia berjalan kearahnya.
Yang lebih membuatnya kaget adalah Olivia melompat masuk kedalam peluknya dan berkata:
"Lewis Simone, ternyata kau tidak seburuk yang aku kira."
"Apa maksudmu?"
"Terima kasih atas ranjangnya."
Senyum Lewis mengembang diwajahnya, hanya karena sebuah ranjang saja bisa membuat Olivia begitu senang. Dasar gadis aneh.
"Jadi kau suka ranjangnya?"
"Tentu, setidaknya setiap aku mau tidur aku tidak perlu takut dengan serangga lagi."
"Oke baiklah, ternyata kau takut serangga."
"Jangan coba-coba!!"
Lewis melingkarkan tangannya dipinggang Olivia dan memeluknya.
"Jadi kita mau pelukan sampai kapan?" godanya.
"Ck, dasar menyebalkan!"bOlivia ingin melepaskan pelukannya tapi Lewis menahannya dan memeluknya dengan erat.
"Tunggu dulu!" Olivia mercoba mendorong tubuh Lewis.
"Apa?"
"Aku tidak perlu membayar ranjang itu bukan?" tanyanya curiga.
"Tidak itu gratis."
"Benarkah?"
"Yes."
Tanpa Lewis duga Olivia menciumi pipinya dan berkata:
"Terima kasih."
Lewis terbelalak kaget sedangkan Olivia melepaskan pelukkannya dan berjalan hendak keluar dari pintu kamarnya.
"Bukankah kau bilang kau masih polos!"
"Tidak karena aku masih pakai baju!" goda Olivia dan dia segera keluar dari kamar Lewis dengan hati senang.
Mungkin ini adalah berkah dibalik suatu kejadian.
"Sialan dia membalikkan ucapanku!" gerutu Lewis.
Walaupun dia menggerutu tapi sebuah senyuman menghiasi wajahnya, Lewis memegangi wajahnya yang dicium oleh Olivia.
"Sialan aku sudah gila!"
Jangan sampai dia memiliki perasaan pada Olivia Smith kalau tidak dialah yang kalah!
a six baby na ?
jangan harap bisaaa langsung ditendang sama Olivia
sokor