NovelToon NovelToon
Elvan

Elvan

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:327.2k
Nilai: 4.8
Nama Author: Fira Anjelita

"Jangan deket-deket!" teriak Aleta galak saat mengetahui Elvan cowok genit yang kerap dipanggil pecinta banyak wanita itu hendak meraih tangannya.

"Hari ini lo boleh nolak gue. Tapi lihat aja cepat atau lambat lo bakalan ngejar-ngejar gue!" Elvan berkata dengan nada meremehkan lalu terkekeh pelan. "camkan itu!" lanjutnya sambil mendorong pelan kening Aleta dengan jari telunjuknya.

"Gak akan!"

"Berani apa?"

"Gue bakalan tembak lo di depan lapangan upacara kalau sampe gue suka sama lo!" kata Aleta penuh keyakinan.

"Fine. Gue bakalan putusin semua cewek gue kalau sampai gue suka sama lo!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fira Anjelita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

018

018

Turnamen Senjata

....

SMA Angkasa Raya terlihat lebih sepi siang ini, padahal jam masih menunjukkan pukul satu siang. Ya, semua memang telah dikosongkan karena tepat pukul dua sore nanti akan ada turnamen senjata antara SMA Angkasa Raya dengan SMA Mekar.

Pada kubu Elvan tak hanya anak Angkasa Raya saja, melainkan ada beberapa anak Nusa Raya, Harmoni, dan beberapa anggota Conqueror yang akan membantu. Sesuai taruhan balapan kemarin, Conqueror akan menjadi asisten The Charmer selama seminggu. Dan salah satunya adalah membantu turnamen senjata ini.

The Charmer dan beberapa anggota Conqueror telah siap dengan berbagai senjata dan strategi yang telah dibuat oleh Aksa dan juga Gavin. Kali ini Elvan dan Gavin yang akan memimpin, sedangkan yang lain akan ada di belakang mereka.

Alam mengambil gorengan dari warung milik Bu Yem. Ya, mereka sedang berkumpul menunggu anak Mekar yang akan datang sekitar satu jam lagi.

"Sekolah beneran udah kosong kan, Vin?" tanya Elvan yang kini masih memerhatikan papan kayu yang telah diisi beberapa miniatur tentara sebagai pemisalan strategi.

Gavin yang baru saja datang bersama Kavin itu memilih duduk dulu sebelum menjawab pertanyaan Elvan.

"Udah kok, semua area udah gue cek dan bener-bener kosong."

"Bagus."

"Ini gue sama lo bawa senjata apa?" tanya Elvan kepada Gavin.

"Dari perkiraan gue sama Aksa, Mekar bakalan ajuin Bram sama Eko yang suka bawa pedang sama kayu. Karena akar masalah ini gara-gara si Boy pacaran sama Selna. Dan waktu Boy kena senggol saat mereka tawuran itu disengaja. Jadi buat lo gue saranin bawa pedang, gue bawa tongkat baseball dan jangan lupa pistol udaranya yang udah gue siapin."

"Gila, dapet dari mana lo barang gituan?" tanya salah seorang anggota Conqueror yang memiliki rambut gondrong dan keriting.

"Ambil punya bokap. Dia kan aparat yang suka ambilin senjata punya anak-anak yang suka tawuran," jawab Gavin santai.

"Gila, bapaknya aparat kok anaknya suka tawura," ejek Rio yang sedang asik merokok di dekat pintu masuk.

"Justru itu menguntungkan, Yo. Gue kan kalau terciduk gak perlu ditahan hehehe."

"Lanjut, Aksa lo bawa gir ya!" perintah Elvan sambil memandang Aksa yang asik dengan ponselnya. Cowok itu hanya berdeham sebagai jawaban.

"Setengah jam lagi mereka sampai, kita keluar. Siap di posisi masing-masing!" perintah Elvan yang langsung diangguki semua orang.

"Hati-hati den, pastiin gak ada korban," kata Bu Yem yang sebenarnya khawatir.

"Iya bu, ibu tutup warungnya jangan keluar sebelum kita ketok pintunya," jawab Elvan diiringi senyum.

Setelah itu mereka semua telah bersiap pada posisi masing-masing. Kini Elvan dan Gavin menghadap ke seluruh anggotanya geng sambil membawa senjata masing-masing.

"Jangan egois! Bantu anggota lain yang dikeroyok. Siap siaga selalu! Solidaritas penting. Dan jangan lupa pastikan diri kalian aman jangan sampai terluka!" teriak Elvan lantang mengomando anggotanya.

"Kali ini kita gak hanya sendiri, ada anak lain selain sekolah kita. Kita harus kerja sama!" kini giliran Gavin yang berteriak.

Selang beberapa menit deru motor yang cukup bising mulai terdengar. Bisa dipastikan itu suara motor dari anak SMA Mekar. Mereka berdatangan dengan anggota yang lumayan banyak. Bendera hitam berlambangkan singa yang mengaum dikibarkan. Sedangkan Elvan dan Gavin hanya menyeringai menyaksikan pemandangan di depannya itu.

"Sesuai prediksi. Mereka datang dipimpin Bram dan Eko," gumam Gavin yang dibalas senyum devil milik Elvan.

Anak Mekar telah memarkirkan motornya tepat di pinggir kanan jalan, setelah itu mereka berhadapan dengan anak Angkasa Raya dengan jarak dua meter. Elvan dan Gavin telah berdiri tegak paling depan, kancing bajunya telah lepas menampilkan kaos putih polos yang mereka gunakan.

Dihadapan Elvan yang berjarak dua meter berdiri Bram yang membawa pedang, kepala cowok itu di ikat dengan slayer hitam. Sedangkan di depan Gavin berdiri Eko yang membawa balok kayu yang cukup padat dan bisa membuat tulang patah.

"Jadi lo yang namanya Elvan?" tanya Bram dengan tatapan sinis.

"Kalau iya kenapa?" jawab Elvan yang tak kalah sinis.

"Ck. Anak buah lo sok berani sama gue. Siapa namanya? Oh Boy! Dia sok jagoan lewat daerah gue."

"Cuma lewat kan? Lo yang gila kalau gitu." sahut Elvan semakin panas.

"Enak aja! Salah dia dong lewat daerah gue cuma sendiri!" elak Bram yang tak mau dibilang gila.

"Bukan karena Boy pacarnya Selna cewek yang lo suka?" kini giliran Gavin yang menanggapi. Cowok itu sedikit terkekeh karena berhasil membuat Bram mematikan.

"Kenapa diem? Bener?" sinis Gavin semakin menggebu.

"Sial! Serang, guys!" teriak Bram lantang karena merasa telah terpojok.

Elvan, Gavin dan seluruh anggota langsung bersiap, Elvan sama sekali tak menyuruh mereka untuk menyerang. Cowok itu hanya menyiapkan senjata menunggu anak Mekar mendatanginya.

"Cukup lawan, boy, gak perlu nyerang," katanya lantang.

Setelah itu terjadi perkelahian yang cukup mengerikan. Bunyi senjata saling bertubrukan terdengar nyaring. Teriakan kesakitan dari beberapa orang yang tak sengaja terluka terdengar semakin riuh.

Gavin tersenyum mengejek saat berhadapan dengan Eko. Cowok itu menyerang Gavin dengan muka yang memerah mengisyaratkan benci yang begitu ketara.

"Emosi bener," kata Gavin sambil bersiap melawan Eko yang telah mengambil ancang-ancang akan memukul.

"Lo rebutan Nana dari gue!" tuduh Eko dengan sedikit mengeram. Balok kayu yang dibawanya berhasil memukul tongkat baseball milik Gavin.

"Gue gak ngerebut tu cewek. Kenal aja enggak," elak Gavin yang dengan sekuat tenaga menahan tongkatnya dari dorongan balok kayu Eko.

"Bohong. Dia putusin gue karena elo!" kini Eko kembali mengambil ancang-ancang hendak memukul pinggang Gavin.

Gavin menghindar lalu berkata, "Terserah."

"Gimana? Masih mau lanjut?" tanya Elvan yang kini telah berdiri dengan dua pedang di tangannya. Sedangkan Bram telah tersungkur dengan luka gores pada lengan kanannya.

"Gak akan!" kata Bram sambil menyeka keringatnya.

"Oke," sahut Elvan sambil mengendikkan bajunya cuek. "ambil senjata lo, lawan gue!" lanjutnya sambil melempar pedang milik Bram kasar.

Bram menerima dengan senang hati, cowok itu berdiri dengan sedikit meringis karena perih pada lukanya.

Denting nyaring terdengar karena pertemuan pedang milik Elvan dan juga Bram. Cowok itu selalu waspada agar dirinya tidak terluka. Elvan menahan pedang Bram, cowok itu menatap Bram dengan tatapan benci.

"Sebenernya gue gak suka turnamen senjata cuma karena cewek yang gak gue kenal," katanya semakin malas.

"Tapi ini yang harus lo lakuin karena lo belain si Boy!" kata Bram setengah berteriak.

Elvan awalnya masih menatap Bram penuh benci, namun sayangnya fokusnya terbagi saat melihat Aleta berdiri dengan tampang cemas menatap gerombolan tawuran di dekat warung fotocopy Barat sekolah. Matanya sesekali melirik Bram yang masih geram saat menatapnya.

"Aksa!" panggil Elvan lantang.

Aksa yang sedang membantu Alam melawan anak Mekar yang berbadan sedikit besar itu langsung mendatangi Elvan. Melihat Aksa yang berdiri di sebelahnya, Elvan langsung menyerahkan Bram kepada cowok itu.

"Lo lawan dia, gue ada urusan. Cewek bodoh itu bahayain dirinya sendiri," kata Elvan dengan nada marah.

Aksa hanya mengangguk mengiyakan karena dia tak tahu apa yang dimaksud Elvan. Ya, sebenarnya Aksa ingin mendatangi Aleta, tapi ... sepertinya cewek itu akan lebih aman jika bersama Elvan. Cinta boleh, egois jangan.

Elvan segera berlari melewati kerumunan itu menuju ke tempat di mana Aleta berdiri. Matanya menatap nyalang, marah, kesal, dan sedikit rasa khawatir ia rasakan.

"Beg*! Udah gue bilang jangan ada di sekitar sekolah setelah jam setengah dua!" marahnya pada Aleta saat Elvan berhasil sampai di depan cewek itu.

"Lo yang beg*! Tawuran di depan sekolah!" kata Aleta tak terima.

"Ikut gue!" perintah Elvan sambil menarik kasar tangan Aleta. Sedangkan Aleta memandang kerumunan itu dengan tatapan cemas. Bagaimana keadaan Aksa di sana?

Elvan membawa Aleta menuju gang kecil dekat sekolahnya. Cowok itu melangkah dengan lebar, mengabaikan Aleta yang terseok-seok. Elvan berhenti saat sampai di bagian gang yang sedikit gelap, cowok itu tak mau ambil resiko jika sampai anak Mekar menyadari dirinya ada disini dengan cewek yang begitu jauh dari ceweknya selama ini.

Elvan melepas tangan Aleta kasar. Cowok itu menatap tajam manik mata Aleta. "Ngapain di sana? Cari mati?" tanya Elvan tajam.

Aleta hanya terdiam, dia tidak mungkin mengucapkan alasan yang sebenarnya. Ia ingin menghentikan turnamen senjata itu, ia khawatir akan keselamatan Aksa sahabatnya.

"Kenapa diem? Bener pengen nyari mati?"

Aleta menatap manik mata Elvan penuh dengan rasa kesal dan cemas. "Siapa yang nyari mati? Gue? Lo kali!"

"Ck. Gue punya skill buat lawan mereka. Jamin gue aman. Lah elo? Bawaannya buku mau apa di sana?" ejek Elvan sinis.

"Gue-" Aleta menggantungkan ucapnya. Cewek itu sedang mencari alasan yang tepat agar cowok di depannya ini diam.

"Khawatir sama gue?" tanya Elvan dengan alis kanan yang terangkat.

"Bu-bukan! Gak rela gue taruhin nyawa buat lo!"

Elvan melangkah semakin dekat pada Aleta. Cowok itu semakin penasaran dengan Aleta yang ada di sana untuk siapa. Aleta hanya diam, tidak ikut melangkah. Cewek itu masih sibuk mencari alasan agar Elvan percaya dan juga cemas akan Aksa yang masih di dalam kerumunan di sana.

"Jadi, karena apa?" tanya Elvan yang kini hanya berjarak satu langkah dari Aleta.

"Bukan urusan elo deh. Gue balik," kata Aleta yang memilih membalikkan badan berdua pergi. Namun dengan cepat Elvan menarik tangan Aleta, membuat cewek itu berbalik dan menubruk Elvan.

"Lo mau mati? Di depan sana masih pada turnamen. Gue jamin, lo ngelangkahin kaki lo sekali aja dari ujung lorong ini, lo gak akan baik-baik aja," bisik Elvan yang kini menahan pinggang Aleta agar tak lepas darinya.

Aleta hanya mampu diam. Cewek itu masih sibuk menetralkan jantungnya yang lagi-lagi bermasalah. Sepertinya sepulang dari sini ia akan ke dokter untuk mengecek keadaannya.

Elvan mendengus pelan. Cowok itu merasa perutnya sedikit geli karena Aleta yang hanya diam tak berusaha melepas diri. Wangi rambut Aleta semakin membuat perutnya bergejolak. Seperti mulas namun mengasikkan.

"Van," panggil Aleta dengan suara yang teredam karena mulutnya sedikit kelu.

"Hmm."

"Boleh lepas tangan lo gak? Jantung gue sakit," bisik Aleta lirih.

Elvan yang mendengar kalimat Aleta langsung melepas tangannya panik. Cowok itu segera mengecek suhu tubuh Aleta.

"Lo punya penyakit jantung?" tanya Elvan cemas. Aleta hanya menggelengkan kepalanya.

"Terus kenapa sakit?"

"Gak tau. Tapi sekarang udah enggak." ucap Aleta polos. "kayanya gue balik ini mau ke dokter," gumamnya pelan.

"Sama," kata Elvan singkat.

"Sakit apa lo?" Aleta bertanya dengan memicingkan mata.

"Sama kaya lo, tapi perut gue juga mulas, tapi geli," ucap Elvan dengan ragu.

"Oh.. Tapi-"

"Apa?"

"Kayanya jantung gue cuma sakit kalau deket sama lo deh," kata Aleta yang berhasil membuat Elvan melotot tak percaya. Kenapa sama? Diabl seperti itu dan perutnya juga mulas dan geli dengan jantung sedikit berdebar hanya ketika dekat dengan cewek di depannya ini.

"Kita ke dokter bareng setelah ini!" putus Elvan spontan.

........

1
shimaizha
lanjutt dong Thor.. nanggung in critanya
Dinda
Luar biasa
Nurmalasari
ku kira nyium ahahaha
Nur Hayati
aku mampir thor 🥰
Ipulgita Ipul
ipul
Muna Maulina Maulina Muna
lnjut dong thorrrt
Neno
tukang bw besi kuningan😂😂😂
astaga thor,2X aku ngulang bc dialog ini baru ngeh maksudnya apa...
Lola banget kyknya aku😂😂😂😂
Agus Purnama
up up up up up up up
Agus Purnama
up upup up up
Nurwana
lnjut....
Elvandraa
mana lanjutanya
Tina Chu
like
Kirana
oke sipp
Naa
like
Naa
like
Biruuuu
Up terus thor.
Semangatt..
Jangan lupa mampir juga dicerita ku yaa🙏😉
Biruuuu
Semangat
Biruuuu
Hadir thor
Biruuuu
😍
Maryati Subur
ayah nya kok jahat banget sih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!