NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Sang Tuan Muda

Terjebak Cinta Sang Tuan Muda

Status: tamat
Genre:Kaya Raya
Popularitas:5.6M
Nilai: 4.9
Nama Author: Wanti Arifianto

Bagaimana jika cinta hadir dan berjalan tak seperti seharusnya?

Kisah ini bercerita tentang Tiara, gadis berusia sembioan belas tahun yang harus merelakan bangku kuliahnya, lalu bekerja. Kondisi sang ibunda yang terswrang stroke tidak memungkinkan gadis itu untuk melanjutkan cita-cita, meski ia adalah gadis dengan prestasi mumpuni.

Lelah memasukkan lamaran ke sana-kemari dan selalu bertemu dengan penolakan, akhirnya bergabung dalam yayasan penyalur tenaga kerja. Tempat yang memberinya banyak ilmu, lalu menjadikan Tiara seorang pekerja yang bertugas merawat lansia bernama Sundari. Nenek dari seorang pria bernama Prabu Adji Widjaya.

Saat bekerja itulah banyak yang terjadi pada Tiara. Termasuk rasa cinta pada sang majikan, juga hubungan yang tak seharusnya ia jalani.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wanti Arifianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18. Leana

“Smoothies buatanmu memang selalu yang terbaik!” Begitu puji Sundari, saat Tiara membantu mengusap sisa minuman di bibirnya.

“Jadi, Nyonya menyukainya sekarang? Nyonya tidak lagi membenciku, bukan?” Tiara tersenyum lebar.

Saat ini, ia dan sang majikan tengah berada di tepi kolam. Melakukan rutinitas berjemur, sebelum jam sebelas pagi. Di tempat itu, keduanya melakukan banyak hal. Berbagi tawa dan cerita, seiring keakraban yang kian terjalin.

“Aku merasa, Prabu berubah belakangan ini,” kata Sundari setelah terdiam beberapa saat.

Kalimat itu sontak membuat Tiara yang sedang membersihkan kuku sang majikan terhenti. Ada yang berdentam dalam dadanya. Takut jika apa yang berusaha disembunyikan terendus oleh Sundari.

“Maksud Nyonya?”

“Dia sering pulang untuk makan siang bersama, juga tidak lagi berkata kasar pada pelayan. Rasanya, itu bukan Prabu yang selama ini aku besarkan.”

Tiara menunduk dalam, berpura-pura sibuk dengan kuku kaki Sundari yang tengah ia rapikan. Namun, lebih dari itu, ia ingin menyembunyikan gundah atas hatinya. Bagaimana jika benar Sundari mengetahui sesuatu?

“Bahkan, dia merelakan kamar ibunya untuk kamu tempati. Padahal sebelumnya, ia tak pernah sebaik itu.”

“Maafkan saya, Nyonya. Seharusnya, saya tidak boleh menerima kebaikan itu, bukan? Saya akan pindah ke kamar bawah lagi, secepatnya.”

“Bukan begitu maksudku, Tiara. Hanya saja, aku merasa ada yang aneh.”

“Selesai!” Tiara berusaha mengalihkan perhatian, sembari mengelap kaki Sundari.

“Ah, kamu memang selalu rapi dalam bekerja.” Wanita itu memuji kecakapan sang pelayan. Tak lupa menilik kukunya satu per satu.

“Nyonya, apa Nyonya ingin melakukannya lagi?” tanya Tiara hati-hati. Ia pernah menawarkan membantu Sundari berjalan kembali. Saat itu, Sundari sempat menyanggupi. Namun, baru saja berdiri, sang majikan tak sanggup lagi.

“Kita akan melakukannya perlahan, Nyonya. Jika ibu saya bisa, maka saya yakin Nyonya pun sama hebatnya.” Tiara menggenggam tangan Sundari, seakan-akan menyalurkan keberanian.

Sundari tersenyum, lalu mengangguk. Mendapat sambutan itu, Tiara senang bukan kepalang. Ia lantas bangkit, dan berniat membawa Sundari masuk. Selain sesi berjemur sudah selesai, ia pun tak sabat akan membantu majikannya itu berjalan kembali.

Bukan tanpa alasan. Akan tetapi, ia pernah mendengar dati Nurma, Sundari sebenarnya tak memiliki alasan medis apa pun saat memutuskan berhenti berjalan. Semuanya terjadi begitu saja, saat wanita itu kehilangan suami dan anak semata wayang dalam sebuah kecelakaan.

Oleh karena itu, Tiara bertekad akan menyalurkan semangat baru. Tetap mendampingi dan melayani, meski nantinya Sundari mampu berjalan lagi.

Baru saja hendak mencapai pintu, langkah Tiara yang menuju ke dalam rumah terhenti. Tak jauh darinya, Prabu berdiri di sana, menatapnya penuh arti dari kepala hingga kaki.

“Selamat pagi, Tuan.”

Tiara menyapa sambil menundukkan kepala. Selain sebagai penghormatan, ia tak ingin Prabu menangkap rona di pipinya kini. Melihat sang majikan yang memesona itu, sebagian hati Tiara berdesir. Rindu, mendamba dalam satu waktu.

Sementara itu, melihat Prabu ada di rumah, Sundari tampak heran. Sebab, tak biasanya sang cucu ada di jam seperti ini. Ia merasa, belakangan ini Prabu sering kembali di waktu tak seharusnya, dengan banyak alasan kecil.

“Ada yang ketinggalan lagi?” Sundari menatap cucunya yang mendekat.

“Tadinya iya. Tapi kupikir, aku rasa hari ini akan di rumah saja, karena tak enak badan.” Prabu mendekat, lalu berlutut demi mengecup dahi neneknya.

“Kamu sakit? Bukankah sudah kubilang jangan terlalu berlebihan dalam bekerja? Kamu itu atasan, pemilik perusahaan. Apa gunanya menggaji ratusan bahkan ribuan karyawan kalau kamu masih bersusah payah sendirian?”

Prabu terkekeh pelan. “Sejak ada Tiara, Eyang benar-benar lebih sehat rupanya. Bahkan, setelah mengomel sepanjang itu pun, Eyang tidak sesak napas!”

“Aku serius, Prabu. Periksalah ke dokter. Jangan sampai sakit!”

“Rasanya, aku hanya masuk angin.” Prabu bangkit, sembari memijat tengkuknya, dan bersendawa.

“Apa kamu begadang lagi? Kerja sampai pagi?” Sundari terus mencecar dengan tanya, hafal dengan kebiasaan Prabu. Si Pekerja Keras yang sering menggadaikan waktu istirahat.

“Sepertinya begitu, Eyang.” Prabu menjawab sembari mengedipkan sebelah mata pada Tiara.

Tentu saja hal itu membuat Tiara mencengkeram pegangan kursi roda dengan erat. Seperti sebelumnya, ia yakin sang tuan akan mencari kesempatan mengerjainya. Ia ingat terakhir kali saat sang tuan mengadukan keluhan yang sama, keduanya malah berakhir di ranjang.

“Oh, iya, Tiara.” Sundari menoleh ke arah sang pelayan.

“Saya, Nyonya?”

“Biar Prabu yang membawaku ke kamar. Setelah itu, panggil Nurma untuk menemaniku. Buatkan Prabu air jahe, seperti yang biasa kamu buat untukku.”

“Baik, Nyonya,” jawab Tiara patuh.

**

“Apa Tuan benar-benar sakit?” tanya Tiara.

Ia baru saja masuk ke kamar Prabu, dengan sebuah cangkir berisi air jahe panas. Aroma khas menguar, dari permukaan air yang mengepulkan asap, saat tutupnya dibuka. Ia lantas duduk di tepi ranjang, tak jauh dari Prabu yang bersandar dengan menyelonjorkan kaki.

Sementara itu, Prabu hanya menatap setiap gerakan Tiara yang duduk di sisinya. Ia tak berkata sepatah pun, saat Tiara menyentuh tengkuk dan lehernya. Bak seorang perawat yang memeriksa keadaan pasien.

“Mungkin aku hanya merindukanmu.” Prabu menangkap tangan Tiara, dan memberi kecupan di telapaknya.

“Saya rasa Tuan agak berlebihan. Untuk apa merindukanku? Bukannya saya selalu di sini, tidak ke mana-mana?”

“Justru karena aku tidak bisa membawamu ke mana-mana, makanya aku rindu.” Prabu menatap Tiara penuh arti.

Sang pelayan menghela napas dalam. Ia lantas tersenyum, dan berkata, “Sudahlah. Anda harus istirahat. Tidak mau, kan nanti Nyonya Sundari ke sini dan memberikan ceramah panjang?”

Tiara hendak bangkit, saat Prabu justru menariknya dalam dekapan. “Sebentar saja, Tiara. Sebentar saja, tetaplah di sini. Aku terlalu lelah dengan semua hidupku selama ini, tanpa tempat berbagi.”

Tiara termangu, tak membalas dekapan itu, atau mengeluarkan sepatah kata pun. Jika boleh mengeluh ia pun lelah dengan semua ini. Hubungan yang entah akan berujung kejelasan atau tidak.

**

Leana berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. Kedua tangannya terlipat di depan dada, sambil sesekali ia menggigit kuku. Khas yang ia lakukan ketika tengah berpikir keras, penasaran, atau sedang marah seperti sekarang.

Ia masih tak habis pikir, kenapa beberapa malam lalu Prabu mengabaikannya. Padahal, sebelumnya mereka bisa bercinta semalaman, kapan dan di mana saja. Mereka bahkan tak henti saling memuja kehebatan satu sama lain selama ini. Namun, mengapa?

Tanya itu terus berputar di benaknya. Perjanjian hutang piutang di antara ia dan Prabu memang telah usai. Namun, segala kemesraan yang terjadi di antara keduanya selama ini membuat Leana tidak bisa melepaskan diri begitu saja dari pesona Prabu.

Hubungan Leana dan Prabu terjalin beberapa tahun lalu. Sebuah kesepakatan bisnis dengan bumbu kehangatan. Perjanjian yang berjalan diikuti ikatan tanpa cinta, hanya sekadar saling membutuhkan dan memuaskan satu sama lain sebagai imbalan. Ia masih ingat, saat Prabu datang mengiba ke kantornya saat itu.

“Jadi, kau butuh pertolonganku?” Leana berucap sambil memandangi kuku jarinya yang berwarna merah menyala. Sementara kini, di hadapannya Prabu duduk dengan raut sukar ditebak.

“Lebih tepatnya sebuah kerja sama yang saling menguntungkan.” Prabu bersikap tenang, tak ingin mengiba pada wanita di hadapan.

Leana terkekeh pelan, lalu memandang Prabu dengan saksama. Ia tahu, jika lelaki di depannya itu tengah butuh bantuan dan sedang mengulur waktu. Tak sulit bagi Leana untuk menebak semua itu. Sebab, tak biasanya seorang Prabu Adji Widjaya datang berkunjung.

Memiliki kerajaan bisnis yang mengular hingga ke seluruh pelosok, keluarga Leana sangat tersohor. Belum lagi, latar belakang kekayaan yang tak akan habis tujuh turunan, serta nama perusahaan yang mulai mendunia, membuat usaha keluarga Leana dan dipertimbangkan di negeri ini.

Usaha keluarga Leana merambah segala sektor. Mulai pertambangan hingga pengolahan minyak bumi dan kelengkapan infrastruktur, juga beberapa bergerak di bidang jasa itu berkembang semakin pesat dari waktu ke waktu. Membuat nilai rupiah keluarga itu melimpah, tak lagi bisa dihitung jumlahnya.

“Apa yang akan kudapatkan dengan menginvestasikan dana sebesar ini ke perusahaanmu?” Leana bertanya sembari melirik sebuah map hijau di meja.

“Bukan hanya kepemilikan saham atas Adji Widjaya Group, kamu juga akan mendapatkan pembagian keuntungan setiap bulan. Juga beberapa persen komisi di akhir tahun. Selain itu, kamu juga bisa mengajukan banyak hal. Tentang berapa persen bagianmu, dalam setiap pembangunan properti kami dari hasil investasi ini.”

Prabu menjelaskan panjang lebar, sesuai yang tertera dalam kontrak kerja sama. Sebenarnya ia tak ingin datang kemari. Hanya saja, keadaan begitu mendesak, mana kala ia tahu saham perusahaannya menurun drastis, serta produksi yang anjlok beberapa bulan belakangan.

Terpengaruh masalah pribadi karena kehilangan sang pujaan hati, membuat Prabu abai dengan segalanya. Termasuk perusahaan pengembang miliknya, yang ia tinggalkan begitu saja. Ia tak pernah tahu, bisa mencintai wanita sedalam ini, hingga tak peduli apa-apa lagi.

Lalu, ketika sadar dan kembali menjejakkan kaki di dunia nyata, ia menyadari jika perusahaan yang dibangun sang kakek itu sudah berada di ambang kehancuran. Hal yang membuatnya datang kemari, ke hadapan Leana untuk bernegosiasi.

“Oke, baik. Akan kupertimbangkan.” Leana menjawab acuh tak acuh. Ia hanya ingin Prabu mengiba.

“Bisakah kamu pastikan secepatnya?” Prabu menatap tajam.

Leana tertawa, lalu menegakkan badan. Ditatapnya pria yang duduk di hadapan, terhalang sebuah meja kokoh berwarna cokelat.

“Kenapa buru-buru? Bukankah biasanya kamu suka bermain-main lebih dulu?”

Leana bangkit di akhir kalimatnya, lalu menuju kursi yang diduduki Prabu. Diletakkannya tangan di bahu lelaki itu, lalu memberikan usapan lembut. Ia tahu, bagaimana reputasi Prabu di luaran sana. Seorang pengusaha muda yang sukses, sejalan dengan hobi memainkan wanita. Hal yang membuat Leana tergelitik, penasaran dan ingin membuktikan apakah rumor itu benar adanya.

“Jadi, kamu ingin kita bermain-main lebih dulu?” Prabu menoleh, pada wanita yang berdiri di sisi.

Leana merendahkan tubuh, dan berbisik, “Bukankah lebih baik bersenang-senang dulu, dan tinggalkan segala yang memusingkan ini?”

Dan di sanalah segalanya bermula. Kesepakatan bisnis yang dibumbui asmara panas keduanya, hingga saat ini. Saat tanpa sadar Leana membutuhkan Prabu di sisi, mengisi malam dan hatinya yang hampa.

“Apa mungkin ada perempuan lain? Maka akan kutemukan, dan kusingkirkan apa pun itu!” Leana mengepal erat, lalu menatap ke luar jendela. Pada gerimis yang menyapa di luar sana.

**

Bersambung ....

1
lee jaehee
thor mana kisah selanjutnya
Chris Antono
Luar biasa
Rita susilawati
hmmm.tiara Tiara🤦🤦🤦🤦🤦
Rita susilawati
hmmm.tiara Tiara🤦🤦🤦🤦🤦
Norfadilah
Bahagianya. Saya sukaaaa. .🤣🤣😍😍
Norfadilah
Kasihan juga...😥😥
Norfadilah
Kasihan Tiara diculik...😥😥
Norfadilah
Waduuh...kasihan Tiara...😥
Norfadilah
Kok sedih yaaa....😥😥
Norfadilah
Waduh bang....🤣🤣
Norfadilah
Eyang setujuuu.. 😃
Norfadilah
Modus ya Bang.. 🤣🤣
Norfadilah
hiihii ini kan juga novel...🤣🤣🤣
Wanti Arifianto
meskipun banyak sebel-sebelnya, tapi enak banget dibaca🥳
Fatim Azzahra
main nyosor j..... hrsnya tkt lh punya bos main sosr gt. blm lg... kastnya jsuh bngt. hrsnya jngn mudh jatuh cintatiaranya.
siti rohmah
tiara ne g0*l0k
putri sri andila
iya. kok tiara kayak murahan gitu ya? prabu cuma kaya doang, tapi sukaain perempuan dan suka kekerasan. ga banget buat jadi kriteria calon pendam ping.
Hafizah Gun
jangan jangan Tiara hamil
Maya Sari Niken
authornya suka warn merah jambu kayaknya
selalu serba merah jambu
Meri Delvia
baguss banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!