Special moment dalam hidup gue itu: Pertama, Bokap gue kembali. Kedua, bersyukur karena ada Langit yang suka sama gue. -Adista Felisia
Special moment dalam hidup gue yaitu, pertama bisa meyukai Adista dan kedua bersyukur Adista juga suka sama gue. Hehehe. -Langit Alaric
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alviona27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18 - Kemarahan Adista
HAPPY READING!
* * *
Adista masuk ke dalam rumahnya setelah Langit mengantarnya sampai di depan gerbang, Adista tidak bicara setelah selesai membicarakan tentang Evan, Langit juga diam mencoba untuk mengerti
keadaan Adista meskipun cewek itu belum menceritakan apa masalah yang sebenarnya.
“Mau kemana Kek?” tanya Adista saat melihat Kakeknya itu memakai pakaian rapi.
“Mau ke rumah sakit, Kakek lupa kalau hari ini jadwal check up, tadi udah di telepon dokter. Kakek pergi dulu Dis.”
Adista hanya mengangguk dan melambaikan tangan kepada Kakeknya setelah beliau masuk ke dalam mobil. Dasar ... Kakeknya itu tidak mau dipanggil pikun padahal beliau memang pikun. Adista bahkan tida habis pikir dia membela mati-matian kalau dirinya itu tidak pikun.
“Halo Pa,” sapa Adista saat melihat Evan yang tengah menonton televisi. Adista hanya menyapa dan segera masuk ke dalam kamarnya tanpa melihat lagi ke arah Evan.
Adista sudah lelah, dia tidak mau lagi mengingat kenangan yang baik-baik tentang Evan. Adista membanting badannya ke atas kasur, pikirannya kacau dan saat-saat kacau seperti ini hanya Langit yang bisa menenangkannya meskipun Langit tidak tahu apa-apa mengenai Adista.
Adista kembali menghela napasnya saat terdengar sayup-sayup suara Anita dan Evan yang tengah ribut. Adista sering mendengarnya, tapi baru sekarang ini Adista mendengarnya dengan jelas.
“Kamu itu yang gak tahu diri, jelas-jelas kamu punya keluarga. Buat apa kamu kesana lagi?” Anita berteriak kesal.
Adista bangkit, menulikan telinganya yang jelas sia-sia. Membuka seragam sekolahnya, Adista memakai baju yang biasa dia pakai untuk di rumahnya, suara Anita dan Evan masih terdengar jelas.
“Kamu yang gak tahu gimana rasanya jadi aku! Aku banyak beban yang sampai sekarang gak bisa aku keluarkan!” Evan juga berteriak, suara tangisan Anita terdengar.
Menguncir rambutnya dengan asal-asalan, Adista keluar dari kamarnya dan turun menemui Evan dan Anita yang masih saja bertengkar.
Bolehkah Adista sebagai anak ikut campur urusan orang tuanya?
Kalau jawabannya adalah tidak, Adista masih tetap akan ikut campur dengan urusan kedua orang tuanya. Ini masalah Anita, Anita adalah orang yang Adista sayangi dan Adista tidak ingin melihat Anita selalu saja menangis setiap malam saat Evan tidak pulang ke rumah, karena pria itu lebih memilih keluarganya yang lain daripada keluarganya yang ini.
“Papa ...,” Adista memanggil membuat tangisan Anita berhenti dan suara marahan Evan juga terhenti. “Adista boleh
nanya?” Adista bertanya dengan santai seperti tidak melihat dan mengetahui apa-apa tentang apa yang terjadi barusan.
“Adis masuk ke kamar sekarang!” seru Anita, Adista menggeleng.
“Pa ... saat kita makan, Papa nyuruh Adis pulang duluan. Adis gak pulang, Adis ngikutin Papa hingga Papa turun di rumah besar dan saat Papa keluar keluar dua anak laki-laki yang kemudian memeluk Papa.”
Adista berhenti berbicara menatap Evan yang menatap Adista untuk menunggu semua ucapan Adista. Adista tersenyum tipis, tidak ada tatapan bersalah dan terkejut dari mata Evan.
Dan Adista tahu, Langit bohong bahwa Evan membicarakan panjang lebar tentang dirinya.
“Papa punya keluarga baru?”
“Adis!” seru Anita marah, Adista mengabaikannya.
“Papa punya keluarga baru? Adista tanya Pa!!” Adista meninggikan suaranya. “Kalo Papa memang punya keluarga baru dan istri baru, kenapa Papa gak cerai dengan Mama? Kenapa harus buat Mama terus-terusan nangis?”
Adista memalingkan wajahnya menahan air matanya yang sudah di pelupuk matanya, Adista tidak mau menangis, Adista sudah sangat bertekat kalau dia tidak akan menangis hanya karena Evan. Dia tidak akan menangis!
Dan dia menangis saat Evan pergi tanpa mengatakan apa-apa.
* * *
Itu pemberian Papa aku.
Langit kembali mengernyitkan keningnya, apa maksud Adista?
Langit tahu kalau dirinya itu belum tahu apa-apa tentang Adista begitu juga dengan Adista dia tidak apapun mengenai Langit, mengenai Langit yang sudah menyukai Adista sejak satu tahun yang lalu, dan mengenai basecamp serta masa lalu Langit.
Seberapa pun besar keinginan Langit untuk menceritakannya kepada Adista, Langit takut kalau Adista akan meninggalkannya setelah Adista tahu tentang Langit. Hanya dua kemungkinan kalau Adista tahu mengenai Langit: Adista akan meninggalkan Langit atau Adista akan tetap bersama dengan Langit.
Dan Langit tahu, opsi kedua sangat sedikit kesempatan kalau Adista akan tetap bersama dengan Langit.
Ponsel Langit berdering yang berada di atas nakas, dengan enggan Langit bangkit dari tidurannya untuk mengambil ponselnya.
Papa Adista.
Sekarang situasi yang sangat memusingkan, Langit sama sekali tidak tahu apa yang sedang terjadi saat ini, Adista yang menjadi diam setelah Langit mengatakan tentang Papanya dan sekarang Papa Adista meneleponnya.
“Halo Om,” Langit berbicara sopan.
“Halo Langit, sekarang kamu lagi dimana?”
Langit mengernyit bingung, apa mungkin terjadi sesuatu pada Adista? Langit langsung berdiri dari duduknya dan menjadi parno saat pikirannya tentang Adista yang terjadi sesuatu.
“Saya sekarang ada di rumah, memang ada apa ya, Om?”
“Bisa kita ketemuan sekarang?”
“Bisa Om, dimana?”
“Di kafe dekat rumah kamu.”
“Iya Om, saya kesana sekarang.”
Langit dengan cepat memakai jaketnya dan memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya, Langit tidak tahu apa yang ingin dibicarakan oleh Evan kepada Langit, yang terpenting sekarang adalah menampakkan wajahnya di depan Papa Adista.
Sudah hampir dua puluh menit Langit menunggu kedatangan Papa Adista, meskipun beliau telah mengirim pesan kepada Langit kalau beliau agak telat, Langit memakluminya mungkin karena macet di jalan.
“Langit ....”
Langit berdiri dan langsung mencium punggung tangan Evan, Langit menatap Evan yang telah duduk di hadapannya, merasa canggung dengan keadaan saat ini.
“Mau pesan makanan Om?” tanya Langit basa-basi.
Evan tersenyum dan menggeleng. “Saya mau ngomongin tentang Adis sekarang.”
“Memangnya ada apa dengan Adis, Om?”
Langit memperhatikan Evan yang menghela napasnya. “Sebenarnya ini masalah keluarga saya, tapi saya gak tahu harus bicara sama siapa lagi kalau bukan kamu pacarnya Adista,” Evan memberi jeda. “Saya juga gak
tahu Adis udah cerita atau belum sama kamu. Saya punya temen, dia ngasih ginjalnya untuk saya saat saya sakit, dan gak lama setelah itu temen saya ninggal dan dia titip pesan kalo dia mau saya jadi Ayah pura-pura anaknya yang masih kecil.”
Langit mengamati dan mendengarkan cerita Evan dengan seksama, tidak mau menyela atau memotong cerita Evan.
“Saya terima karena dia udah ngasih ginjalnya sama saya, dan saya terus tinggal disana karena anaknya temen saya memang menganggap saya Ayahnya dan gak ingin saya pergi,” Evan menggaruk pelipisnya mencoba tetap
untuk tenang. “Dan saat saya makan berdua dengan Adis, istrinya anak temen saya datang dan bilang kalo anaknya ingin ketemu, dan saya dengan bodohnya meninggalkan Adis demi anak dan istri teman saya.”
“Dan Adis ngikutin Om?”
Evan mengangguk. “Iya, dia ngikutin saya. Dan tadi dia marah dan ngungkapin semuanya sama saya. Dia bahkan nyuruh saya buat cerai sama istri saya. Sebenarnya saya mau meninggalkan anak dan istri teman saya dan memilih keluarga saya, tapi saya tidak tahu harus bagaimana memulainya.”
Langit meminum green tea miliknya dengan pelan-pelan mencoba berpikir dan memberi saran kepada Evan.
“Gimana kalo Om cerita aja yang sebenarnya sama Adis?” tanya Langit setelah dia mencoba mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkannya.
“Saya gak tahu Adis mau percaya atau enggak sama saya. Adis udah terlalu marah sama saya,” ucap Evan.
“Nanti saya coba bantuin Om,” Langit tersenyum dan menaruh green tea di atas meja. “Saya usahain semua yang saya bisa.”
Evan tersenyum membuat Langit ikut tersenyum. “Terima kasih Langit.”
“Tentu Om.”
Langit mengendarai motornya, pikirannya masih melayang tentang cerita Evan dan Adista yang marah kepada Evan. Langit tidak tahu harus bagaimana mengenai situasi keluarga Adista karena keluarganya baik-baik saja
tanpa adanya cek-cok apapun, meskipun Alfian dan Vivin marah besar karena kelakuan Langit.
Langit menaruh motor merahnya di samping mobil Vivin, mengelus Libert sebentar Langit masuk ke dalam rumahnya. Disana sudah ada Alfian dan Vivin yang tengah menonoton televisi dan Lala yang duduk di bawah
memainkan ponselnya, Langit tersenyum dan mendekati mereka.
“Dari mana, Lang?” tanya Alfian saat melihat Langit sudah menaruhkan kepalanya di atas kepala Lala.
“Dari ketemu sama Papa Adis,” jawab Langit dan menatap Lala. “Lo cantik ya kalo lagi diem gini,” ucap Langit sambil terkekeh.
Lala mengalihkan ponselnya dari wajahnya dan menatap datar Langit. “Kena semprot apa lo sama Bokapnya Kak Adis?”
“Cowok baik kayak gue gak bakal kena semprot, dipuji baik yang ada,” kekeh Langit membuat Lala mengangguk jengah.
“Adista gak main kesini lagi Lang?” tanya Vivin.
“Besok palingan Langit bawa kesini, masak yang enak ya Ma.”
“Tentu,” Vivin tersenyum.
Lihat, bagaimana bisa Langit memberikan saran yang baik dan tidak menyinggung perasaan Adista saat membicarakan tentang keluarganya. Langit jelas-jelas tidak memiliki pengalaman untuk membuat Adista tidak tersinggung dengan ucapannya.
Langit tidak tahu harus bagaimana.
TBC
kalau sempat mampir baliklah ke karyaku "love miracle" dan "berani baca" tinggalkan like dan komen ya makasih
Hai kak, numpang promote nggeh 😅
Yuk mampir dikarya saya "Ainun" dan "Because of you". Update setiap hari kok 😁 like+vote+comment juga boleh kok 😂
Tankeyu 💞