Terbelenggu dalam pernikahan yang tidak diinginkan, mampukah pernikahan itu bertahan?
Bagaimana bila yang selalu berjuang justru menyerah saat keduanya sudah disatukan dalam ikatan suci pernikahan?
“Cinta kita seperti garis lurus. Bukan segitiga atau bahkan persegi. Aku mencintai kamu, kamu mencintai dia dan dia mencintai orang lain. Lurus kan?” ucap Yuki dengan tatapan nanar, air mata yang mulai merembes tertahan di pelupuk mata. “Akan lucu dan baru menjadi bangun datar segi empat bila sosok yang mencintai aku nyatanya dicintai orang yang kamu cintai.”
“Di kisah ini tidak ada aku, hanya kamu dan kita. Bukankah kita berarti aku dan kamu? Tapi mengapa kisah kita berbeda?” Ucapan lewat suara bergetar Yuki mampu menohok lawan bicaranya, membungkam bibir yang tiba-tiba beku dengan lidah yang kelu.
Ini adalah cerita klise antara pejuang dan penolak hadirnya cinta.
*
*
*
SPIN OFF Aara Bukan Lara
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Hikari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabur
“Masuk!” Tegasnya dengan suara keras membentak Yuki yang turun dari mobil.
“Aku bilang masuk, sekarang!!” Imbuhnya lagi semakin meninggi yang hanya ditanggapi dengan tatapan remeh oleh Yuki.
“Gak perlu mahal. Gak perlu mewah atau bermerk terkenal. Cukup nyaman itu yang terpenting.” Ucap Yuki tiba-tiba sambil menepuk tas selempangnya. “Satu hal lagi, aku gak perlu malu karena hidupku bukan untuk membuat orang lain terkesan, camkan itu!!”
Brak..!
Terperanjat kaget, ia melotot pada Yuki yang tersenyum miring dan berlari kencang meninggalkannya.
“Yuukkiiii..!!” Panggilnya dengan berteriak sembari mengejar Yuki, melangkah lebar memangkas jarak, tinggal sedikit lagi dirinya bisa menghentikan pelarian Yuki, namun gagal.
Tiiinnn…
Laju angkutan umum yang tiba-tiba melintas memisahkan mereka. Ia gagal meraih tangan Yuki yang sudah menyebrang jalan.
“Yukiii..!!??”
Suara yang menyerukan namanya kembali bergema di telinga Yuki, memilih abai dan menghentikan sebuah taksi, Yuki tidak perduli lagi. Fisiknya tidak lelah, tapi sesuatu di dalam dirinya membuat Yuki merasa sakit dan lemas tidak terkira. Rasanya ingin menyerah.
“Jalan, Pak!” Ucap Yuki tanpa menolehkan kepalanya ke arah suara yang terus memanggil namanya.
“Argh! Sialan!!”
Umpatan itu terlontar bersamaan dengan laju taksi yang Yuki naiki pergi meninggalkannya. Meninju udara dengan kasar, dirinya kembali merasakan gemuruh menyakitkan di ulu hatinya.
Ia termenung memikirkan segala macam ungkapan isi hati Yuki. Menyesal, jelas ia menyesal sudah menyakiti seorang gadis yang dulunya hanya dianggap sebatas pengganggu.
Tanpa niat mengemudikan mobilnya, ia hanya terus terdiam dalam lamunan panjang. Masih betah duduk di balik kemudi dalam mobil yang terparkir di pinggir jalan. Sesekali ia menghela nafas berat.
Cerai? Secara logika sangat mudah dan lebih baik dilakukan, namun diam-diam ada rasa mengganjal yang menahan untuk memenuhi keinginan Yuki yang satu itu. Mungkin karena keputusan berpisah itu datang dari permintaan Yuki sehingga dirinya enggan, begitu pikirnya.
Sedangkan Yuki yang sudah tiba di rumah mertuanya langsung masuk ke dalam kamar. Mengabaikan tatapan heran Mama Agni yang seakan memburunya.
Tutt.. Tutt..
Bunyi sambungan telepon terdengar dari ponsel yang Yuki letakkan di atas kasur, tampak nama Ara tertera di layar sambungan keluar. Menarik beberapa helai baju sembari menanti sambungan teleponnya diangkat, Yuki mengemas segala hal-hal kecil yang paling penting, kartu identitas, seperangkat alat rias dan tentunya satu dompet penuh uang.
[Halo?]
“Iyaa..” Teriak Yuki saat samar-samar suara Ara terdengar. Bergegas dengan satu tas penuh pakaian, Yuki menyambar ponselnya.
[Yuki?]
“Iya, Ra. Ra, tolongin aku ya. Urgent banget, gak boleh nolak.” Ucap Yuki memberondong Ara, reflek saja Ara langsung menjauhkan ponsel yang sempat ditempelkan ke daun telinga. Beruntung Ara cukup hafal dengan kebiasaan Yuki yang suka lupa titik koma saat sambungan telepon baru terhubung.
[Apaan?] Tanya Ara yang sebenarnya tanpa menaruh rasa penasaran.
“Hari ini aku mau ke tempat Papa, ada urusan mendadak. Kamu besok tolong sampaikan ke penanggung jawab kelas ya..” Ucap Yuki mendesak.
[Mendadak banget, ada apa?] Mengernyit heran, Ara kembali bertanya, namun kali ini dengan rasa penasaran yang langsung tersurat dalam pertanyaannya.
“Ak-Aku gak tau juga..” Jawab Yuki terbata-bata dengan gugup. “Pokoknya sama Papa di suruh langsung berangkat. Udah dibelikan tiket pesawat juga, jadi tinggal berangkat.”
Kali ini Yuki berbohong. Dirinya memang ada urusan mendadak dan mendesak, apa lagi jika bukan ingin kabur. Jelas tidak ada yang menyuruhnya kabur. Belum lagi tiket pesawat dari Papa nya yang jelas hanya bualan belaka.
[Oke deh. Besok biar aku sampaikan. Tapi kelas selanjutnya kalau masih belum bisa pulang langsung hubungi Dosen aja. Urusan penanggung jawab mata kuliah biar aku bantu. Sayang aja kalau misalnya ada tugas. Udah absen mu kepotong, terus gak dapat izin ikut ngerjain tugas.]
“Iya, Ra. Gak lama kok, mungkin 3 hari aku di tempat orang tua ku. By the way, thanks ya udah hajar titisan belut laut tadi. Pasti pipi dia sekarang lagi nyeri-nyeri terus besok memar deh.” Tertawa kecil Yuki membayangkan wajah mulus Alia berubah biru-biru. Semoga saja Alia tidak melaporkan Ara atas tindakan penganiayaan.
[Ngeselin banget tau, aku belum puas. Mas Rava tadi juga tiba-tiba muncul ternyata gara-gara Dimas ngadu. Tapi itu kamu lumayan bolong banyak mata kuliah. Lusa kan ada jam pagi sampai sore.]
“Ya mau gimana lagi. Ya udah, Ra, aku mau siap-siap lagi.”
[Sip, hati-hati, Ki.]
Memutus panggilan telepon yang cukup mendebarkan, Yuki mengusap dada lega. Baru kali ini dirinya membohongi Ara, sensasi berbohong benar-benar terasa menakjubkan. Kini Yuki teringat saat dirinya tidak sengaja memecahkan compact powder milik Mama nya, tanpa ragu berbohong dan menyalahkan tingkah nakal kucing miliknya yang doyan rebahan.
Tok.
Tok.
Tok.
“Yuki..? Kamu gak apa-apa, Nak?”
Mendorong masuk barang-barang yang sudah dikemasnya ke dalam lemari, Yuki berjalan menuju pintu yang sempat ia kunci. Memasang senyum terbaik sembari memamerkan deretan gigi, Yuki menghela nafas panjang beberapa kali sebelum membuka pintu untuk Mama Agni.
Ceklek.
Menyembul dari balik pintu, Yuki melangkah keluar menemui Mama Agni. “Kenapa Ma?”
“Kamu baik-baik aja kan? Kamu habis nangis?” Tanya Mama Agni dengan dahi berkerut dan intonasi menyiratkan kekhawatiran.
“Tadi Yuki ada tugas yang belum terkirim Ma, makanya buru-buru terus rasanya pengen nangis. Takut terlambat gak diterima lagi.” Ucap Yuki dengan senyum palsunya, berujar santai menutupi kekhawatiran Mama Agni.
Sesekali Yuki berusaha membuang pandangannya ke segala arah seolah tertarik pada sesuatu. Yuki takut Mama Agni dapat menemukan kebohongan dari matanya.
“Lain kali yang teliti lagi.. Jadi gimana tugasnya?” Tanya Mama Agni tanpa curiga.
“Aman kok, Ma. Udah selesai.”
“Bagus deh, kalau gitu sekarang kamu mandi dulu sana. Udah mau malam, gak baik mandi malam-malam.”
“Oke siap Mama.. Bentar lagi Yuki langsung mandi.” Jawab Yuki sambil mengacungkan kedua ibu jari tangannya, tersenyum ceria tanpa beban.
“Ya udah, Mama ke bawah lagi, mau nonton kelanjutan sinetron kemarin.” Ucap Mama Agni, berlalu meninggalkan Yuki yang masih terus tersenyum hingga pucuk kepala Mama Agni menghilang dari pandangannya.
“Heeeuuuhh..” Helaan nafas itu langsung keluar saat raut wajah ceria berubah menjadi datar.
“Maaf, Ma, Yuki gak akan mandi malam-malam, soalnya Yuki juga gak akan mandi malam ini.” Ucap Yuki sambil menarik dua tas yang sempat disembunyikan dari dalam lemari. Sebuah tas besar Yuki tenteng di tangan kirinya dan sebuah tas selempang yang bertumpu pada bahu dan membelah dadanya.
Berjalan mengendap-ngendap, Yuki dapat mendengar Mama Agni yang berbicara sendiri, menyumpahi pelakor dalam tayangan televisi yang berhasil merayu suami milik orang lain.
Ting..
Menghentikan langkahnya dan tiarap di balik sofa panjang, Yuki merutuki bunyi notifikasi ponsel yang lupa disenyapkan. Tampak supir taksi online pesanannya sudah menanti di seberang jalan rumah.
Sedangkan taksi yang sebelumnya Yuki naiki untuk pulang ke rumah jelas sudah pergi. Yuki tidak ingin ambil pusing membayar mahal taksi yang menantinya, belum tentu Yuki langsung berhasil kabur.
...****************...
*
*
*
Teman-teman sesama author yang belum di feedback mohon maaf ya, diriku masih jarang online. Bahkan bacaan fav ku aja terpaksa ditumpuk, belum sempat.🙏
Oya, setelah tadi direvisi ulang rupanya cuplikan lagu Rixton – Me and My Broken Heart belum sampai di bab hari ini, tapi besok.🤭
By the way, Yuki kabuuuurr..
haayyyoooo... siapa yang diam-diam seneng nih?🙂