Zeline, Anakku! kalian tidak berhak mengambil nya! Jangan ambil Zeline ku!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sangrainily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keributan
"Kak, jangan salah paham. Tapi ini bukan lah kesalahan kak Stella, itu semua udah ajal nya kak. Tolong jangan seperti ini." mohon Tanara, namun Amara tetaplah Amara anak yang begitu keras kepala. Amara pun memilih untuk tidak melanjutkan pembicaraan mereka dan mengalihkan pembicaraan lain.
"Nara, kemarin kakak ada belikkan baju buat kamu. Bentar ya?" Amara berjalan mendekati pintu lemari nya, Tanara yang merasa semakin kecewa pun memilih untuk keluar dari kamar kakak nya.
Amara yang melihat adiknya berjalan pergi pun tak mencegah nya dan memilih untuk meletakkan kembali baju yang ia ambil dari lemari pakaian nya. Amara pun mendekati kasur untuk segera tidur. Pikirannya begitu sangat penat hari ini di tambah orang-orang yang membuat pikirannya semakin kacau.
Di dalam kamar, Tanara mengunci pintu. Menangis sejadi-jadi nya. Di sini Tanara lah yang paling terluka, dia berada di tengah-tengah kedua kakak yang sangat ia sayangi. Tanara yang lemah pun tak kuat menahan segala rasa sakit nya, ia menumpahkan segala tangisannya di balik pintu kamar. Menjatuhkan tubuh nya dengan perasaan yang hancur. Dirinya pikir, jika Amara akan melupakan segala ego dan memaafkan Stella demi diri nya. Namun, dugaan Tanara salah. Amara tetap lah Amara yang penuh dengan kemarahan.
Tanara merasa bingung, tak tau harus melakukan apa lagi untuk menyatukan kedua nya.
Stella mengetuk pintu kamar Tanara, namun Tanara tak membuka kan pintu untuk Stella.
"Sayang, tolong buka lah. Kakak mau bicara. Kakak mohon buka." mendengar suara kakaknya yang memelas membuat Tanara tak tega, segera ia menghapus air mata nya dan membuka kan pintu kamar.
Stella melihat wajah sembab sang adik, dia tau kenapa adiknya menangis. Stella ingin pergi dari rumah kedua orang tua nya daripada kehadirannya membuat kedua adik yang sangat ia sayangi tak bahagia.
"Boleh kakak masuk?" Tanara mengangguk, mengajak kakaknya untuk duduk di tepi ranjang. Stella duduk di samping sang adik.
"Kakak tau, Rani salah. Nggak seharusnya dia seperti itu kepada Amara, dan Tanara juga pasti sangat terpukul dengan ucapan Rani tadi. Kehadiran kami membuat ketenangan di rumah ini menjadi tidak tenang. Kakak memutuskan untuk pergi membawa Rani dan juga Zeline." Tanara menoleh ke arah Stella, air mata nya kembali berlinang. Ucapan Stella barusan membuat hatinya lebih sakit daripada perkataan Rani tadi.
"Kakak mau ninggalin kami lagi? Baik lah! Kakak pergi lah, pergi yang jauh dan jangan kembali! Tanara sudah kehilangan mama dan papa. Kehilangan kakak selama bertahun-tahun, setelah kakak kembali kakak akan meninggalkan ku lagi? Baik! Pergi lah kak! Jangan hiraukan adik mu yang malang ini." Tanara merasa sangat kecewa dengan keputusan kakaknya.
"Keluarga kita hancur, haha hancur! Bukan hanya keluarga Kita, tapi mental adik-adik mu ini hancur. Tadi nya hanya mental kak Amara saja yang hancur dan aku masih memiliki harapan padamu. Tapi sekarang, selamat kak selamat! Kakak udah hancurin segala harapan dan mental aku!" Tanara menangis histeris, Stella langsung memeluk adiknya merasa bersalah dengan ucapannya.
"Maafin kakak dek, maafin. Kakak janji akan tetap di sini apapun yang terjadi, Kakak nggak akan meninggal kan kalian lagi. Maafin kakak."
Stella menenangkan adik bungsu nya. Dirinya pun ikut menangis, merasa hancur melihat kerapuhan sang adik. Seharusnya ia memahami keadaan adik-adiknya. Bukan egois memikirkan dirinya sendiri. Stella merasa sangat bersalah dalam hal ini. Dia lah yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi. Stella memeluk adiknya Tanara dengan erat, Tanara juga membalas pelukkan Stella.
"Ja-jangan tinggalin ak-aku kak. Aku membutuh kan ka-kkak." suara Tanara yang semakin habis, Stella membelai lembut rambut adiknya.
Di pintu luar, Amara melihat kekacauan yang terjadi pun ikut menangis. Ia juga merasa bersalah, karena keegoisan dirinya, adiknya yang menjadi korban. Tadinya Amara ingin datang menghibur, tapi ia mengurungkan niatnya karena jika dia masuk sekarang. Keadaan akan semakin kacau, lagipula Amara masih sangat membenci Stella dan belum siap untuk memaafkan nya. Amara pergi masuk ke dalam kamar. Ia berjanji, akan lebih memperhatikan adiknya Tanara, dia juga akan setuju dengan ucapan Stella untuk tidak kerja lagi. Dengan itu, Amara lebih banyak menghabiskan waktu untuk adik nya di rumah. Tanara tak akan merasa kesepian lagi.
*******
Zeline yang merasa bosan pun ingin mengajak Rani pergi ke perpustakaan untuk membaca buku, namun Rani menolak karena ia tak tahu jalan di sini.
"Sayang, kita kan baru datang ke kota ini. Mami mana tau jalannya, yang ada kita tersesat."
"Tapi, Zeline ingin membaca buku mami!"
"Sudah lah! Sebaiknya kita bermain aja ya? Atau mami akan mengajak Zeline memasak kesukaan Zeline. Bagaimana?"
"Nggak mau mami! Zeline mau baca buku! Zeline sangat bosan. Sudah lah! Jika mami nggak mau, Zeline mau ke kamar mama aja. Zeline akan ajak mama."
"Iya, ajaklah mama mu. Karena dia yang tahu di daerah sini, kalau kau bersama mami. Yang ada kita berdua akan tersesat."
Zeline yang merasa kesal pun keluar dari kamar meninggalkan Rani, ia berniat untuk mencari mama nya. Namun, matanya tertuju pada suatu ruangan yang tidak cukup besar. Namun, begitu banyak tumpukkan buku yang tersusun dengan rapi. Zeline begitu takjub seakan melihat istana.
"Banyak sekali buku nya, Zeline akan mengambil dan membaca di sini saja. Nggak pelu kelual lumah lagi. Holeee." teriakanya dengan sorakan penuh gembira.
Zeline mengambil salah satu buku sastra sejarah. Dengan tekun dia duduk di bawah membawa buku itu.
******
Rani mencari keberadaan Zeline, ia pun masuk kedalam kamar Stella namun tidak ada orang, ia juga mencari di halaman rumah, dapur dan seluruh rumah juga tidak ada siapapun
"Rumah ini besar sekali, aku sangat lelah menjelajahi rumah mereka." Rani menghapus keringat di keningnya.
"Zeline." teriak Rani dengan suara besarnya membuat Amara kesal dan menegurnya.
"Hey! Ini bukan hutan, lebih baik pelan kan nada bicara mu! Dasar kampungan!"
"Apa kau kata?" Rani mengerutkan dahi nya, tak terima dengan ucapan Amara yang mengatakannya kampungan.
"Jika kau tidak kampungan, seharusnya kau tidak berteriak seperti itu di rumah ku. Kau hanya tamu, jadi jagalah sikap mu!" bentak Amara kembali.
"Aku sudah menjaga sikap ku! Tapi kau yang tidak tahu sopan santun, ingat ya anak kecil. Aku lebih tua dari mu! Bersikap lah layaknya anak yang mengerti tata sopan santun! Jika aku tidak berteriak, bagaimana Zeline tau jika aku mencari nya."
"Aku tidak perduli dengan mu atau anak itu! Lebih baik jika kau segera pergi dari rumah ku!"
kasihan Stella