Ketika kenyataan tak seindah bayangan...
Mampukah Radit, sosok lelaki yang sudah berstatus duda dan Jenna, gadis yang selalu merasa dirinya terkekang dalam menentukan pilihan hidup mampu melawan restu yang bahkan enggan menghampiri.
Atau terus berjuang hingga titik darah penghabisan.
Atau berlari demi cinta mereka yang tak lagi mampu dipisahkan.
"Kenapa harus datang jika hanya memberi luka, kenapa hadir jika selalu memberi perih"
~Jenna~
"The girl who make my world like a rainbow"
~Radit~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siap untuk jatuh cinta lagi
Raka tercekat, perkataan itu sangat menohok. Sebegitu dalam yang Jenna rasakan selama ini atas perlakuannya. Pulang pergi begitu saja hanya sekedar status, jika rindu datang jika tak butuh maka akan hilang.
Sungguh saat ini Raka merasa sangat bersalah, dan sekali lagi penyesalan itu memang selalu datang terlambat. Sungguh menyakitkan ketika orang yang membuatmu merasa begitu istimewa kemarin, membuatmu merasa sangat tidak diinginkan hari ini.
Helaan nafas Raka begitu terasa berat, apa lagi yang ia inginkan sekarang. Pekerjaan yang mengharuskannya melepas gadis yang ia cintai. Seorang gadis yang mengalah demi masa depannya.
"Raka," ujar Jenna lembut.
"Kamu belum bilang ke ibu kalo kita putus?"
"Belum, karena kamu tau sendiri aku masih berharap banyak dengan hubungan kita ... tapi sepertinya hati kamu bukan lagi buat aku."
Deg
Perkataan Raka membuat Jenna lagi-lagi merasa seperti mengkhianati kekasih yang bahkan saat ini sudah bukan kekasihnya.
"Aku bisa minta tolong," kata Jenna.
"Apa? bilang ke ibu tentang hubungan kita?" tanya Raka balik.
"Iya, aku rasa orang tua kita harus tau ... mama merencanakan pertunangan untuk kita."
"Oh ya ... bagus dong," jawab Raka yang seperti kembali mendapat angin segar.
"Tapi aku gak mau Ka ...."
"Alasannya? betul kan ... sudah gak ada lagi aku di hati kamu," ujar Raka menarik kembali tangannya dari pangkuan Jenna, wajahnya seketika berubah.
"Aku— aku ngerasa, aku butuh waktu untuk itu ... tapi sejujurnya, perasaan aku sama kamu sekarang— bukan lagi seperti dulu," ucap Jenna pada akhirnya.
Raka bisa apa? Raka hanya dapat menatap kembali gadis yang duduk di sisinya.
"Gak ada tersisa sedikitpun?" tanya Raka.
"Maaf Ka ... sayangnya gak," ujar Jenna.
Bukan cinta hanya sayang Ka ... gak lebih, dan aku sudah mulai memupuknya jauh sebelum perpisahan kita, rasa itu perlahan berubah menjadi sayang dan memang sepantasnya begitu, lirih Jenna dalam hati.
"Mau kan bantu aku, untuk bilang ke ibu kalo hubungan kita sudah gak kayak dulu lagi, sebelum rencana mama terjadi."
Raka hanya menatap gadis itu, Jenna seperti seakan memohon. Di hati Jenna seperti benar-benar telah menghapus dirinya.
"Aku coba bilang ke ibu ... semoga orang tua kita mengerti," ujar Raka.
"Ka ... makasih ya, aku selalu berdoa kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan, karir bahkan cinta ... aku yakin di luar sana pasti ada yang menunggu kamu, dengan segala kekurangan dan kelebihan kamu."
"Kenapa gak kamu?" Raka kembali memberikan pertanyaan yang dia sendiri tahu jawabannya.
"Karena aku merasa aku bukan yang terbaik buat kamu," jawab Jenna.
"Baiklah ... mungkin sudah jalan kita seperti ini, berharap mukjizat dari Tuhan sepertinya tipis," Raka terkekeh.
"Percaya sama aku ... semua udah di siapin, bahkan lebih baik dari aku," kata Jenna menatap Raka sungguh-sungguh.
Pembicaraan sekitar satu jam lebih itu pun akhirnya berakhir.
"Pulang?" tanya Raka.
"Aku turun di sini aja ya, aku mau ketemu—
"Radit? Aku antar, ketemu dimana?"
"Coffee shop,"
"Sudah buka jam delapan pagi?"
"Buka jam sembilan tapi dia udah nunggu di sana," ujar Jenna tersenyum.
"Oke ... kita kesana."
Siapa yang menyangka lelaki berparas manis itu dengan hati yang legowo mengantarkan mantan kekasihnya bertemu dengan pria lain. Pria yang bahkan baru Jenna kenal tidak lebih dari dua bulan. Pria yang mampu membuat Jenna kembali lagi seperti dulu, bahkan jauh lebih baik dari bersamanya.
Mobil itu berhenti di coffee shop milik Radit, masih terlihat sepi hanya ada penjaga keamanan yang duduk di sana serta mobil Radit yang sudah terparkir.
"Memang sudah janjian?"
"Baru masuk pesan dia, gak janjian suka iseng aja kalo mau ketemu."
Raka mengangguk angguk, hati nya masih gundah gulana, senyum yang seakan di paksa itu terlihat jelas dari wajahnya.
"Makasih ya Ka ... jaga diri baik-baik di sana, semoga yang terbaik segera menghampiri kamu, itu doa aku buat kamu," ujar Jenna tulus.
"Kamu juga ... bahagia selalu," ucap Raka membelai rambut Jenna.
Raka masih memandangi punggung gadis itu, di balik pintu coffee shop Radit sudah menunggunya di sana. Lelaki dengan postur tubuh sempurna itu memberikan senyumannya untuk Jenna. Semua tak luput dari perhatian Raka.
Mungkin memang Radit lelaki yang tepat unutk Jenna, pikirnya.
Dan Raka, Raka kembali menjalankannya mobilnya, meninggalkan Jenna meninggalkan gadis yang saat ini masih bertahta di hatinya, meninggalkan kenangan masa lalu jauh di belakang sana.
...----------------...
Radit sudah berada di depan pintu saat Jenna melangkah menuju dirinya. Lelaki itu tersenyum sumringah. Mimpi apa dia malam tadi di datangi gadis cantik sepagi ini yang tiba-tiba ingin bertemu.
"Sama siapa?" tanya Radit saat melihat mobil Raka meninggalkan pelataran parkir coffee shop nya.
"Sama Raka," jawab Jenna.
"How can? (gimana bisa?)"
"Pagi-pagi dia kerumah," jawab Jenna. " Mas, kita ngobrol di depan pintu?" tanya Jenna mendorong dada Radit agar masuk ke dalam.
"Oh ya, sorry." Radit terkekeh. "Galak amat pagi-pagi."
"Jadi, tadi pagi-pagi Raka datang ke rumah," Jenna menarik kursi di dekat kaca jendela diikuti oleh Radit.
"Terus?"
"Ya ngajakin keluar ... ngajakin ngobrol," ujar Jenna.
"Na ... sorry bisa kita cut dulu gak ceritanya, aku laper, aku belom makan, ke dapur aja yuk ngobrolnya biar aku sekalian bikin sarapan," ujar Radit menyela cerita Jenna.
"Mas Radit mau makan apa? biar aku buatin," kata Jenna mengikuti Radit dari belakang.
"Ntar aku cek dulu ada apa ya."
Radit mencari bahan-bahan yang bisa dia olah untuk sarapan pagi ini. Dia hanya menemukan makaroni, saos bolognese, keju serta sosis dan telur di dalam kulkas.
"Cuma ada ini," Radit menunjuk benda-benda yang dia temukan.
"Sini aku buatin."
Jenna mulai membuatkan sarapan untuk Radit, lelaki itu berdiri di sebelahnya, memperhatikan wajah Jenna yang serius.
"Bisa masak?"
"Bisa dong ... ini mah gampang," ujarnya sombong.
"Berarti udah siap ya."
"Siap apa?"
"Jadi ibu dari anak-anak aku," goda Radit.
"Aih ... masih pagi Mas, udah nge gombal," Jenna tertawa.
"Perkataan adalah doa, Na," kata Radit lagi.
Setelah rebusan makaroni selesai Jenna masak, Jenna mulai menumis saos bolognese lalu ketika harum tumisan mulai tercium, makaroni pun dia campur menjadi satu masukan telur dan diaduk hingga merata.
Pandangan Radit tak sedikitpun teralihkan, dia suka Jenna seperti ini, gadis yang ternyata memiliki kriteria untuk menjadi seorang istri. Radit tersenyum jika memikirkan itu.
"Mas ... tolong telurnya," pinta Jenna.
"Telur? berapa?"
"Satu aja, mau aku campur ke makaroni nya," kata Jenna.
"Yang enak ya," ujar Radit memberikan satu telur.
"Mas Radit goreng sosisnya dong, jangan cuma ngeliatin doang."
Radit tertawa tapi tetap mengikuti apa yang di perintahkan oleh Jenna.
"Selesai."
Jenna meletakkan makaroni di atas sebuah mangkuk sedikit pipih.
"Aku cobain ya." Radit menyendok makaroni itu ke mulutnya.
"Astaga Na ... panas," Radit mengibaskan tangan ke mulutnya yang menganga.
"Ya ampun Mas, kan emang baru di angkat, tiup dulu kek."
Jenna memberikan tisue pada Radit agar dia mengeluarkan lagi makanan yang ada di dalam mulut lelaki itu.
"Panas, Na," kata Radit setelah makanan itu ia keluarkan.
Jenna tertawa lepas, Jenna membersihkan sudut bibir Radit yang terkena saos bolognese. Mereka saling berhadapan, mata mereka saling bertatap. Seketika Jenna menghentikan tawanya saat tangan Radit merengkuh pinggang gadis itu. Hembusan halus nafas Radit semakin terasa menyapu wajah Jenna.
Jenna terdiam, baru kali ini jarak itu begitu dekat.
"Udah siap?"
"Siap apa?" tanya Jenna balik lalu menunduk, sungguh dia tak tahan melihat tatapan lelaki itu.
"Siap untuk jatuh cinta lagi," bisik Radit.
**enjoy reading 😘
like komen yaaaah semoga pada suka 😘**
dalem banget artinya
Pun patah hati, sering datang tanpa aba aba