Tak selamanya menikah karena dijodohkan orangtua membuat hidup rumah tangga jadi terasa berat dijalani.
Meski sebelumnya telah memiliki pasangan masing-masing, namun nyatanya menikah adalah bukan hanya tentang kita ingin dengan siapa, namun juga orangtua merestui atau tidak.
Via dan Rifal mungkin salah satunya, yang belajar banyak hal setelah menikah karena perjodohan. Yuk ikuti kisah manisnya... ❤️
visual Rifal & Via diambil dari drakor im not a robbot ya.. 🙏
author bucin dengan pasangan Yo Seung Ho dan Chae So Bin, jadilah menulis ini. Love Seung Ho.. ❤️❤️❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilamici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Mengantar Pulang
Via dan Mila akhirnya pamit pulang pada Pak Dulah dan Bu Siti karena hari sudah cukup sore. Tak lupa mereka berulang kali mengucapkan terimakasih karena sudah mendapatkan materi yang cukup banyak.
Via melajukan motornya dengan Mila yang duduk di boncengan. Sempat Pak Dulah mengingatkan bahwa ban belakang motor Via yang sepertinya kurang angin.
"Nanti saya mampir Bengkel dekat sini Pak, terimakasih."
Kata Via saat tadi diingatkan Pak Dulah.
"Mana Vi, katanya mau mampir ke bengkel..."
Kata Mila.
"Aku kemarin sempet lihat kok Mil ada bengkel di sekitar sini."
Sahut Via.
"Eh... Eh... Duh... Kenapa nih Vi?"
Mila merasakan motor Via jalannya mulai goyang.
Via segera menghentikan motornya, Mila cepat melompat turun dari boncengan.
"Duuuuh..."
Via mengeluh saat melihat ban belakang motornya kempes.
"Waaah kempes."
Mila lemas.
Keduanya kemudian celingak celinguk, tidak ada bengkel yang terlihat.
'Gimana nih?"
Tanya Mila bingung.
"Ya gimana lagi, dorong lah sambil nyari bengkel."
Kata Via sambil mulai bersiap mendorong motornya.
"Waduh."
Mila menepuk keningnya, mimpi apa semalam sampai harus ada acara dorong motor mogok segala.
Via mendorong motornya sambil memegangi setang, sementara Mila mendorong bagian belakang.
Mereka berjalan cukup jauh sambil mencari bengkel. Sampai kemudian Mila sudah hampir menyerah, ia akhirnya iseng mengambil hp nya dan mengirim pesan pada Triono.
Saat Via dan Bayu ke mushola, Mila berbincang cukup lama dengan Triono hingga akhirnya mereka bertukar nomor hp.
"Wah, di mana posisi sekarang?"
Balas Triono tanpa harus menunggu lama.
Mila langsung memberitahu posisi mereka.
"Ok, tunggu saja di situ, aku sama Bayu meluncur."
Tulis Triono membuat Mila tersenyum merdeka.
Lalu...
"Eh Vi, berhenti sebentar yah, kakiku kram nih."
Kata Mila pura-pura. Ia yakin jika mengatakan bahwa Triono dan Bayu akan menjemput pasti Via tidak akan setuju.
Bukan hanya tidak setuju, tapi Via pasti akan mengomeli Mila karena takut mereka akan dianggap genit dan merepotkan orang.
Mila duduk selonjor di trotoar. Via menghela nafas.
Keringat tampak mulai membasahi wajah dan lehernya yang jenjang.
Tak tega melihat Mila yang sibuk mengurut kaki sambil selonjor di trotoar akhirnya Via mengalah ikut duduk di sampingnya.
"Mil kamu naik taksi saja wis, aku yang bayarin."
Kata Via.
Mila cepat-cepat mengibaskan tangannya.
"Ah udah enggak apa, ngga usah naik taksi, mahal, sayang uangnya."
Mila menolak.
"Lagian kalo aku naik taksi kamu gimana? sendirian?"
Mila memandang temannya yang manis itu.
"Hehehe... Iya juga sih."
Via nyengir sambil garuk-garuk kepala.
Tak lama berselang tiba-tiba dua motor tampak mendekat, Via terkejut melihat kedatangan dua pengendara motor yang ternyata Bayu dan Triono.
"Kalian..."
Via memandang curiga pada Bayu, Triono dan Mila yang langsung mengacungkan dua jarinya membentuk huruf V.
"Sori Vi."
Kata Mila membuat Via menaboknya.
"Bengkel masih cukup jauh dari sini Vi."
Kata Bayu sambil turun dari motor. Triono juga turun.
Via berdiri dari duduknya, disusul Mila yang kemudian berdiri di sebelah Via.
"Kita ikat saja dulu motornya untuk dibawa ke bengkel."
Kata Triono.
Bayu mengangguk setuju.
Mereka kemudian sibuk mengikat motor Via yang mogok ke motor milik Bayu.
"Via pake motorku saja boncengan sama Mila, nanti biar motor Via aku yang naik."
Ujar Triono seraya naik ke motor jadul milik Via.
Sementara Bayu naik ke atas motornya sendiri, sementara motor Via yang dinaiki Triono dan sudah diikat berjalan dibelakangnya.
Via segera menyusul dengan menggunakan motor Triono dan Mila membonceng.
**------**
"Wah, ngga bisa dikerjain sekarang saja Pak?"
Via memohon.
Bapak yang punya bengkel menggeleng.
"Paling besok Non, soalnya saya mau ada kepentingan keluarga, ini juga sudah terlambat."
Kata si Bapak yang memang bengkelnya sudah mulai ditutup.
"Ya sudah ngga apa-apa, kita antar kalian pulang saja."
Kata Triono tiba-tiba.
Membuat Bayu, Via dan Mila memandang ke arahnya.
"Bayu antar Via pulang, aku antar Mila. Nanti motor biar saja di bengkel dulu, besok baru diambil. Ya kan Pak?"
Triono mencari dukungan.
"Nah leres niku, cocok."
Bapak pemilik bengkel mengacungkan ibu jari.
Senja sudah mulai merayap di langit Yogyakarta. Mila yang tidak biasa pulang terlambat tampak gelisah menunggu keputusan Via.
Via menghela nafas. Bagaimanapun ia tak tega melihat Mila.
"Kami naik taksi saja deh."
Kata Via.
"Sudah kita antar saja, lama nunggu taksi segala."
Triono yang tak sabar akhirnya menarik Mila menuju motornya.
"Ayo Mil, nanti keburu gelap."
Kata Triono.
Mila yang sepakat dengan Triono akhirnya menurut.
"Aku pulang sama Triono saja deh Vi. Sampai jumpa besok yah."
Mila melambaikan tangan pada Via, lalu membonceng Triono.
Via kembali menghela nafas.
"Saya masukkan motornya Non, besok siang silahkan diambil."
Bapak pemilik bengkel kemudian memasukkan motor Via ke dalam bengkelnya, setelah itu menutup pintu bengkelnya dan menggemboknya.
"Saya duluan yah, sudah terlambat."
Kata Bapak pemilik bengkel pula, lalu naik motornya dan pergi.
Tinggallah sekarang Via dan Bayu saja.
Keduanya tiba-tiba jadi seperti canggung dan bingung harus memulai bicara dari mana dulu. Sampai akhirnya...
"Sebentar lagi gelap, gimana Via mau aku antar?"
Tanya Bayu memberanikan diri memecah keheningan.
Ternyata bicara dengan orang yang disukai saat hanya berdua membuat jantung berdegup lebih kencang berkali-kali lipat.
Via menatap langit yang sudah dipenuhi warna lembayung.
"Baiklah."
Putus Via akhirnya.
Bayu kemudian mengangguk, lalu naik ke motornya, saat Via naik ke boncengan di belakangnya, rasanya dada Bayu berdesir tak karuan.
"Sudah?"
Tanya Bayu pada Via di belakangnya.
"Yah."
Jawab Via.
Motor pun seketika melaju meninggalkan bengkel.
Senja yang indah. Senja yang sangat indah. Bukan hanya untuk Bayu, namun juga untuk Via.
Keduanya sepanjang jalan hanya terdiam, tak ada satu patah katapun yang diucapkan selain Bayu menanyakan alamat dan Via menjelaskannya.
Hanya itu... Tak ada lagi.
Mereka terlalu sibuk dengan degup jantung yang seolah tak berirama. Terlalu sibuk dengan getaran-getaran yang ada di dada masing-masing.
Hingga akhirnya mereka sampai di depan sebuah rumah berlantai dua dengan pagar dari dinding yang dipenuhi tumbuhan rambat dan pintu pagar besi berwarna hitam.
Bayu menghentikan motornya. Via turun dari boncengan.
"Mas Bayu mau mampir dulu Mas?"
Via berbasa basi, dan berharap jawaban iya dari Bayu.
Tapi...
Bayu ternyata menggeleng.
"Saya langsung saja yah, tidak enak baru ke sini langsung mampir."
Kata Bayu sambil mengulas senyuman.
Via jadi ikut tersenyum.
"Salam saja buat Mbok Nah.".
Kata Bayu pula.
Via mengangguk.
Bayu baru akan pamit dan melajukan motornya saat tiba-tiba lampu mobil menyorot ke arah Bayu dan Via.
Mobil itu berhenti karena motor Bayu yang menghalangi jalan.
"Ayah."
Gumam Via.
Bayu yang tak enak melihat wajah laki-laki di belakang kemudi yang kini melongok dari mobil dan menatapnya tajam langsung pamit pada Via, dan membawa motornya menjauh.
Via membukakan pagar rumah untuk Ayahnya masuk dengan mobilnya.
Via menghela nafas.
Semoga Ayah tidak marah. Batin Via.
**------**
ya jelas to ceritanya masih berhubungan dgn novel mistis yg judulnya Zizi maupun Pandawa
wong emang othor nya sama kok 😅
oh iya Thor di sini banyak bgt foto para tokoh nya
tapi kenapa kok di cerita Pandawa ga ada sh
padahal saya kan pengen liat anaknya Zizi bontot dan kakak nya
pasti unyu unyu banget deh 😅😅😅