NovelToon NovelToon
Ketika Takdir Membawa Adira

Ketika Takdir Membawa Adira

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Duda
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

Setelah kehilangan istrinya dalam sebuah kecelakaan tragis, Areksa Dirgantara harus membesarkan putrinya, Aretha, seorang diri.
Hingga seorang perempuan bernama Adira datang ke dalam hidupnya.
Adira hanya berniat merawat Aretha, tetapi kedekatan mereka perlahan membawa keduanya pada sebuah pernikahan yang tidak pernah direncanakan.
Bagi Adira, pernikahan itu hanya sementara. Ia masih membawa luka dari masa lalu dan takut kembali mencintai.
Sementara Areksa perlahan menyadari bahwa perasaannya kepada Adira bukan sekadar tanggung jawab.
Namun, kehadiran Adira ternyata menyimpan lebih banyak rahasia.
Ada alasan mengapa Aruna begitu mempercayainya.
Ada masa lalu yang perlahan kembali.
Dan mungkin, pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan.
Ketika takdir membawa Adira ke dalam hidup Areksa, mampukah mereka menemukan cinta di antara luka, rahasia, dan masa lalu yang belum selesai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kesalahan 21+

Perubahan wajah Areksa mulai diperhatikan Felicia.

"Kak Reksa?"

Areksa menoleh. "Iya?"

"Kakak kelihatan tidak enak badan."

Areksa menggeleng pelan. "Enggak. Mungkin cuma kepanasan."

Ia berdiri dari kursinya dan menarik napas panjang. "Saya mau cari udara sebentar."

Areksa berjalan meninggalkan keramaian. Langkahnya mulai terasa berat, sementara panas di tubuhnya semakin mengganggu.

Felicia memperhatikan dari belakang. Senyum tipis terbit di sudut bibirnya.

Berhasil.

Ia segera menyusul Areksa. "Kak, are you okay?"

Areksa berhenti dan menoleh. "Iya, Feli. Tapi sepertinya saya harus pulang."

Felicia segera menggeleng. "Kak, mana bisa pulang dengan keadaan seperti ini? Kakak kelihatan benar-benar tidak enak badan."

Areksa mengusap tengkuknya. "Saya cuma perlu istirahat. Lagian saya bersama supir."

"Kalau begitu, Kakak istirahat dulu saja."

Felicia menunjuk ke arah lantai atas. "Kakak bisa istirahat di kamar bekas Kak Aruna."

Areksa berpikir sejenak.

Kamar itu sudah lama tidak ia masuki semenjak Aruna pindah ke rumahnya setelah menikah. Ia hanya datang sesekali menginap.

Namun kondisi tubuhnya membuatnya tidak ingin memperpanjang pembicaraan.

"Ah, iya."

Felicia segera mendekat ketika melihat Areksa sedikit kehilangan keseimbangan.

"Pelan-pelan, Kak. Aku bantu."

Namun sebelum tangan Felicia menyentuh lengannya, Areksa langsung menghindar.

"Tapi tolong jangan sentuh."

Felicia segera menarik tangannya. "Iya, Kak."

Areksa berjalan menuju tangga dengan langkah yang semakin berat.

Ia sendiri tidak mengerti apa yang terjadi pada tubuhnya.

Panas. Tidak nyaman. Kepalanya terasa berat dan pikirannya mulai sulit berkonsentrasi.

Setibanya di kamar lama Aruna, Areksa langsung masuk dan menutup pintu.

Ia melonggarkan beberapa kancing kemejanya untuk mencari udara.

"Napas..."

Areksa duduk di tepi ranjang dan memejamkan mata.

Namun akalnya masih bekerja. Ada sesuatu yang salah. Ia tidak merasa seperti ini sebelum meminum soda tadi.

Areksa mencoba mengingat apa saja yang ia lakukan sejak datang ke acara tersebut.

Makan. Berbicara dengan beberapa kolega. Lalu menerima minuman dari pelayan.

Setelah itu, tubuhnya mendadak terasa panas.

Apa yang terjadi pada gue?

Pintu kamar terbuka sedikit.

Felicia berdiri di ambang pintu. "Kak, istirahat di sini dulu ya. Aku keluar sebentar."

Areksa hanya mengangguk. "Iya."

Felicia menutup pintu dari luar.

Begitu berada di koridor, senyum tipis kembali muncul di wajahnya.

Ia segera pergi untuk mempersiapkan sesuatu.

Sementara itu, Areksa semakin sulit menahan rasa tidak nyaman yang menyerang tubuhnya.

Ia berusaha bangkit, tetapi kembali duduk.

Pikirannya kacau.

Di tengah kesadarannya yang mulai berantakan, justru satu nama yang terus muncul di kepalanya.

Adira.

Wajah wanita itu muncul begitu jelas.

Cara Adira tersenyum. Suaranya ketika memanggilnya Tuan.

Dan tadi, ketika ia melihat Adira berbicara dengan Kenzo.

Areksa mengepalkan tangannya. Kenapa malah dia yang gue pikirkan?

Ia menggeleng, berusaha mengusir bayangan itu.

Namun semakin ia mencoba, semakin jelas wajah Adira memenuhi pikirannya.

Areksa memejamkan mata. "Sial..."

Ia mulai menyadari bahwa ini bukan sekadar rasa lelah.

Ada sesuatu yang sengaja dilakukan kepadanya.

Dan sebelum ia menemukan jawabannya, kesadarannya perlahan mulai melemah.

Meski tubuhnya terasa semakin lemah, Areksa masih mampu mempertahankan kesadarannya.

Ia tidak boleh tinggal di sini lebih lama.

Ada sesuatu yang tidak beres dengan tubuhnya, dan ia tidak ingin mencari tau apa yang akan terjadi jika ia terus berada di tempat itu.

Gue harus pulang.

Areksa memaksa dirinya berdiri. Untungnya, malam itu ia datang bersama sopir. Setidaknya ia tidak perlu menyetir sendiri dalam kondisi seperti ini.

Ia tidak berpamitan kepada siapa pun.

Tanpa menghiraukan tatapan beberapa orang yang masih berada di acara tersebut, Areksa langsung melangkah cepat menuju mobil.

Begitu masuk ke kursi belakang, ia menyandarkan kepala dan memejamkan mata.

"Pak, cepat pulang."

Sopirnya segera menyalakan mesin. "Baik, Den."

Mobil meninggalkan kediaman Sisil dan Bara.

Sepanjang perjalanan, Areksa mengepalkan kedua tangannya. Ia berusaha mengalihkan pikirannya dari rasa panas dan tidak nyaman yang semakin kuat.

Namun justru satu wajah yang terus muncul di kepalanya.

Adira.

Wajah wanita itu seolah tidak mau pergi dari pikirannya.

Areksa membuka mata dan menatap kosong ke luar jendela. Kenapa Adira terus muncul?

Ia mengusap wajahnya kasar. "Fokus, Reksa."

Tetapi pikirannya tetap sulit dikendalikan.

Beberapa saat kemudian, mobil akhirnya memasuki halaman rumah.

Areksa turun dengan langkah tergesa. Tubuhnya masih terasa tidak nyaman, tetapi keinginannya untuk segera masuk ke rumah jauh lebih kuat.

Ia berjalan menuju pintu utama dan mengetuk.

Tok. Tok. Tok.

Tidak ada jawaban.

Areksa mengetuk lagi.

Tok. Tok.

Para ART sudah terlelap. Rumah yang biasanya ramai kini begitu sunyi.

Areksa menekan bel.

Ting tong.

Tetap tidak ada yang datang.

Di kamarnya, Adira yang belum tidur mendengar suara bel. Ia langsung bangkit dari tempat tidur.

"Mungkin Tuan Areksa sudah pulang."

Adira berjalan keluar kamar.

Ketika suara ketukan kembali terdengar, ia mempercepat langkah menuju tangga.

"Sebentar."

Adira segera melangkah cepat untuk membukakan pintu.

Ia sama sekali tidak menyangka bahwa malam itu Areksa pulang dalam keadaan yang berbeda dari biasanya.

Pintu terbuka sedikit.

"Tuan—"

Kalimat Adira terhenti.

Areksa berdiri tepat di depan pintu.

Wajahnya terlihat pucat, napasnya berat, dan beberapa kancing kemejanya sudah terbuka. Satu tangannya masih berpegangan pada kusen seolah sedang berusaha menjaga keseimbangan.

Adira spontan membuka pintu lebih lebar. "Tuan?"

Areksa mengangkat wajah.

Tatapan mereka bertemu.

Untuk beberapa detik, keduanya hanya saling diam.

Adira langsung menyadari ada sesuatu yang tidak beres. "Tuan kenapa?"

Areksa tidak menjawab. Ia hanya menatap Adira dengan pandangan yang sulit dibaca.

Adira melangkah mendekat. "Tuan Areksa?"

Areksa menarik napas dalam-dalam. "Saya..." Suaranya terdengar berat.

Adira semakin khawatir. "Tuan sakit?"

Areksa menggeleng lemah. "Bukan."

"Lalu kenapa wajah Tuan seperti ini?"

Areksa kembali menatapnya.

Dan saat Adira berdiri begitu dekat di hadapannya, aroma tubuh wanita itu justru membuat pikirannya semakin kacau. Ia segera memalingkan wajah.

"Saya harus masuk."

Adira langsung bergeser. "Iya, Tuan. Masuk dulu."

Areksa mencoba melangkah.

Namun baru satu langkah, tubuhnya kembali kehilangan keseimbangan.

Adira refleks menangkap lengannya. "Tuan!"

Areksa terdiam.

Tangan Adira masih menggenggam lengannya. Sementara jarak mereka kini begitu dekat.

Adira menatap wajahnya dengan cemas. "Tuan, sebenarnya apa yang terjadi?"

***

"Sial!"

Felicia menggeram kesal ketika kembali ke kamar yang sebelumnya ia tinggalkan.

Ia baru saja selesai berdandan dan mengganti pakaiannya. Semua sudah ia persiapkan dengan matang sebelum kembali menemui Areksa.

Namun saat ia membuka pintu kamar, langkahnya langsung terhenti.

Kosong. Areksa sudah tidak ada.

"Mana Kak Reksa?"

Felicia berjalan cepat masuk ke kamar, memeriksa kamar mandi, bahkan membuka pintu lemari seolah berharap Areksa bersembunyi di sana.

Tidak ada.

Wajahnya langsung berubah kesal.

"Jangan bilang dia sudah pergi?"

Felicia mengepalkan tangannya. Ia terlambat.

Semua yang sudah ia persiapkan menjadi sia-sia.

"Rencana aku gagal!"

Felicia membanting bantal sofa yang berada di dekatnya. "Kenapa dia harus pulang?"

Ia mondar-mandir dengan wajah penuh amarah.

Padahal ia sudah yakin malam ini Areksa tidak akan bisa menolak perangkap yang ia siapkan.

***

“Tuan kenapa?”

“Tolong saya.”

“Tolong? Saya harus apa, Tuan?”

“Aretha di mana?”

“Di kamar saya, Tuan.”

“Ajak saya ke sana.”

Adira menurut. Ia berjalan lebih dulu menuju kamarnya, sementara Areksa mengikuti dengan langkah yang tidak stabil.

Begitu sampai di dalam, Areksa menutup pintu.

Adira yang hendak menghampiri Aretha langsung menoleh ketika mendengar suara kunci diputar.

Klik.

“Tuan… kenapa dikunci?”

Areksa bersandar pada pintu. Tangannya mencengkeram gagang pintu seolah sedang berusaha mempertahankan kesadarannya.

“Tolong saya, Adira. Saya benar-benar tidak tahan.”

Adira mundur satu langkah ketika Areksa melangkah mendekat. “Tuan mau apa?”

“Saya tidak tau minuman apa yang mereka campurkan ke dalam tubuh saya.” Suara Areksa terdengar berat. “Tubuh saya terasa panas sekali. Kepala saya juga mulai tidak jelas.”

Adira semakin cemas. “Tuan, duduk dulu.”

“Saya butuh kamu…”

“Tuan.” Adira mengangkat tangannya, memberi jarak. “Jangan mendekat.”

Namun Areksa yang sudah tidak bisa lagi menahan gejolak itu, ia kehilangan kendali.

Ia menarik tubuh Adira, tangannya yang satu mencengkram pinggang wanita itu. Dan satunya menarik tengkuk Adira.

Mata Adira membeliak tatkala Areksa mencium bibirnya dengan kasar dan penuh hasrat.

Ia berusaha mendorong tubuh pria di hadapannya ini namun tenaganya kalah dengan pria yang sudah kehilangan kendali itu.

"Hmmpthh." Areksa terus memagut bibir Adira meski wanita itu terus melakukan perlawanan.

Ia tau, ini salah tapi entah kenapa hati dan pikirannya ingin melakukan dan menuntaskannya dengan Adira.

Adira berhasil mendorong dada bidang Areksa. "Tuan! Apa yang Tuan lakukan!"

Adira menghindar, ia hendak keluar dari kamar ini. Namun dengan sekali tarikan, Adira dijatuhkan di atas ranjang.

Adira mencoba bangun kembali. Namun Areksa sudah mengukung tubuhnya.

"Saya butuh kamu, Adira. Bukankah kamu juga menyukai saya?"

Adira menggeleng. Sudut matanya sudah mengeluarkan cairan bening. Ia tidak mau melakukan itu.

"Tuan, saya mohon. Tolong biarkan saya pergi."

"Pergi?" Areksa tertawa kecil. "Itu tidak mungkin. Aretha butuh kamu. Dan saya juga butuh kamu."

Areksa kembali meraup bibir Adira. Ciuman itu menuntut. Areksa menyukai bibir Adira yang terasa manis itu.

Puas dengan bibir, ia beralih ke leher jenjang Adira yang wanginya begitu menggoda.

Desahan keluar dari bibir Adira ketika lidah Areksa menari-nari di lehernya dan memberikan tanda kepemilikan disana.

"Tuan, tolong... Sadarlah." Adira terus memohon tapi percuma saja.

Laki-laki di hadapannya kali ini seperti singa yang lapar yang tidak ingin diganggu ketika menikmati makanannya.

Areksa mencoba membuka baju Adira tapi Adira terus menolak, jadilah pria itu merobek baju Adira.

"Sungguh indah sumber makanan Aretha."

Areksa memandang takjub tubuh Adira yang begitu indah di hadapannya.

"Tuan, jangan..." Lirih Adira.

"Diamlah Adira..."

Areksa melepas paksa bra dan semua kain yang menutupi tubuh Adira hingga kini Adira polos tanpa sehelai benang.

Areksa membuka celananya dengan cepat.

Melihat ada kesempatan untuk Adira lari, ia berusaha bangkit namun lagi-lagi Areksa menahannya.

"Jangan pergi, Adira!"

"Tuan tolong..." Air mata Adira terus membanjiri pipinya.

"Kenapa kamu menolak saya? Apa kamu menyukai Kenzo, hah?!"

Adira terus menitikkan air matanya sambil terus memohon.

Areksa menatap bukit kembar Adira yang begitu menggoda.

Tangan Adira menutup bukit kembarnya, namun Areksa malah menyingkirkan tangan wanita itu. "Jangan menutup sesuatu yang indah di pandangan saya, Adira."

Areksa masih menatap dua benda yang membuat ia semakin kehilangan akal sehatnya.

"Apa rasanya ASI kamu, Adira? Kenapa Aretha begitu menyukainya?"

Areksa meremas bukit kembar Adira sambil memainkan pucuknya. Hingga cairan kental keluar dari sana. Areksa langsung melahapnya.

"Aahhh, Tuan..." Bohong jika Adira tidak terangsang. Pikirannya menolak tapi entah mengapa ada sesuatu dalam dirinya yang sulit untuk menolak pesona majikannya itu.

Tubuhnya menggeliat ketika lidah Areksa menari-nari di pucuknya.

"Ahh Adira, ini sungguh ni*mat. Kamu tau? Saya tidak suka melihat kamu berdekatan dengan Kenzo." Ucap Areksa dengan suara beratnya.

Entah ia sadar atau tidak. Tapi itulah yang dikatakan hatinya. Sedangkan Adira menatap Areksa dengan mata yang sayu dan basah.

Areksa terus menyedot ASI yang keluar seperti bayi yang tengah kelaparan. "Bahkan dada kamu masih kencang padahal kamu sedang menyusui, itu membuatku makin ingin menikmati, Adira."

"Aahhh, cukup!"

Areksa tidak peduli. Lidahnya terus bermain disana. Membuat tubuh Adira semakin menggelinjang.

"Bahkan kamu sudah basah, Adira. Sekarang kita ke permainan inti."

Areksa memasukkan miliknya ke lembah yang sudah basah.

"Aahhh." Erangan lolos dari mulut keduanya.

"Kenapa masih sempit Adira? Ini sungguh ni*mat." Areksa memejamkan mata ketika miliknya sudah masuk sepenuhnya di dalam milik Adira.

"Jangan menangis, sayang." Areksa menghapus air mata Adira.

Adira menepis tangan Areksa yang berada di pipinya.

Areksa tidak terima, ia menarik kedua tangan Adira ke atas.

Areksa menggerakkan pinggulnya perlahan sambil lidahnya kembali menari-nari di pucuk Adira, membuat wanita itu mendesah kembali.

Mendengar suara desahan Adira, Areksa terus mempercepat pergerakannya.

"Adira.... Ahhh... Kenapa kamu benar-benar ni*mat."

Areksa terus memompa tubuh Adira. Ia menghentakkannya, merasakan kenikmatan yang sudah lama tidak ia rasakan. Hingga beberapa saat kemudian ia mencapai puncaknya.

"Sudah lama aku tidak seperti ini. Aahh Adira, saya sampai."

Areksa mengeluarkan cairannya ke dalam rahim Adira.

1
sunaryati jarum
Jadi ternyata Little girl kamu itu Adira bukan Aruna, jangan buru-buru buru Nak Reksa juga jangan memaksa ,beri perhatian nanti trauma dengan pernikahan dulu akan hilang hatinya jadi luluh
sunaryati jarum
Jalani saja Adira ikuti kehendak Authoor , yang penting upnya lancar pembaca senang,tegang , geram dan senyum juga gemas /Drool//Drool//Drool/


🥰🥰🥰🥰🥰🥰
sunaryati jarum
Emak berharap kalian menerima dan menjalankan pernikahan ini dengan penuh tanggung jawab bersama
sunaryati jarum
Berarti malai itu kamu sadar , karena masih terbayang kemolekan tubuh Adira.Semoga Adira memang jodohmu yang akan mendampingi sama kamu menua Nak Reksa
sunaryati jarum
Jalani saja Adira.Mungkin Areksa pernah bertemu Adira,atau cinta pertama saat kecil,jadi sekarang rasanya sangat familiar
sunaryati jarum
Ayah yang bijaksana sana,kirain. terjebak Felicia ternyata dengan Adira,itu kemauan Aruna,Niki Reksa harus menikah ya dengan Adira
Syti Sarah
kyak nya udh bucin tuh areksa sama Adira 🤭🤭
Syti Sarah: tinggal mnunggu Adira mnerima nya aja lgi kak 🤭
total 2 replies
NN
lanjut
Syti Sarah
smoga suatu hari nanti mreka bisa mnjdi sbuah kluarg yg bnar2 bhgia dan bisa mnrima stu sama lain 😊
kembangperawan
kapan terungakp siapa gadis kecik areksa?
Syti Sarah
areksa juga mnyukai Adira
just a grandma
blang aja kmu mencintai adira kan Reksa🥲
Syti Sarah
apakah nanti Adira akan mambenci areksa ya 🤔
Syti Sarah: psti nya itu Thor .bikin areksa pusing 7 kliling dulu Thor demi untuk mndpatkn Adira 🤣🤣🤣
total 2 replies
sunaryati jarum
Berarti kalian.pernah ketemu saat kecil
Syti Sarah
psti di kasi obat perangsang deh oleh felicia.itu psti rncan nya dgn mama nya 😏
Syti Sarah: iya btul bnget kak
total 2 replies
Lisa
ya benar Kak..Areksa menyukai Adira 😊
Syti Sarah
bilang aja klau kamu menyukai Adira 🤭🤭
Lisa
Areksa mulai suka sama Adira tuh 😊
sunaryati jarum
Mungkin Aruna sudah tahu rencana ibu tiri dan adik tirinya
sunaryati jarum
Felicia kamu pelaku meninggalnya Aruna
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!