Mahardika yang harus menanggung penyakit kusta selama 3 tahun, setelah berobat di berbagai macam caranya, dari obat alternatif, hingga rumah sakit besar, tapi penyakitnya tak kunjung sembuh.
Hingga akhirnya, uang tabungan habis untuk berobat dan hanya tinggal sebidang tanah dan sebuah rumah yang tersisa. Dan itu tidak mungkin ia jual karena hanya itu satu-satunya peninggalan untuk anak dan istrinya.
Hingga akhirnya ia bermimpi ada seorang kakek datang dan memintanya untuk datang ke gunung Merapi jika ia mau sembuh.
Mahardika pun meminta izin dengan istrinya, dan berharap bisa sembuh jika ia berobat dengan kakek tersebut.
Hari berganti bulan, hingga akhirnya dia tahun berlalu. Kini Mahardika sudah sembuh total dan sehat kembali dan mendapatkan wasiat menjadi tabib.
Tapi saat ia pulang, alangkah terkejutnya dia. Karena rumah dan tanah itu sudah terjual, dan lebih sakitnya, anaknya ternyata di titipkan ke panti, sementara istrinya sudah menikah lagi.
Akhirnya ia membangun keh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
Setelah kembali dari balai desa, Mahardika melanjutkan kegiatannya mengolah tanah di pekarangan samping rumah.
Dengan cermat ia menyebarkan benih-benih itu ke dalam lubang tanah yang sudah dibasahi.
Tak terasa waktu berlalu cepat hingga sore hari tiba.
Warna jingga senja mulai menghiasi langit, menandakan hari akan segera berganti malam.
"Semoga besok benihnya sudah tumbuh," kata Mahardika penuh harap.
"Kalau tumbuh, kita siram ya, Pa," kata Amel dengan ceria dari tepi bedengan.
"Iya dong, Amel mau bantu Papa?" tanya Mahardika tersenyum lembut menatap wajah mungil putrinya.
"Mau dong, biar tanamannya tumbuh subur!" kata Amel sambil melompat ceria dengan kedua tangan terangkat ke atas.
Mahardika tertawa renyah melihat tingkah menggemaskan sang putri.
"Anak pintar," puji Mahardika lembut seraya berjongkok merengkuh tubuh kecil Amel.
"Ayo kita pergi mandi, habis itu kita pergi keluar untuk cari makan malam," ucap Mahardika mencubit pipi mungil Amel.
"Asikkk!" seru Amel kegirangan, matanya berbinar-binar.
Mereka pun segera masuk ke dalam rumah untuk membersihkan diri dan bersiap-siap jalan keluar menikmati suasana malam bersama.
Mahardika mengandeng jemari mungil Amel, berjalan menyusuri trotoar kota yang mulai dipenuhi gemerlap lampu malam.
Sepanjang jalan, terdengar suara tawa riang Amel. Anak kecil itu bercerita tentang banyak hal polos yang membuat Mahardika tak henti-hentinya tersenyum dan tertawa.
Rasa bahagia yang sederhana ini adalah sesuatu yang sangat dirindukan Mahardika selama bertahun-tahun.
Mereka akhirnya berhenti di depan sebuah warung sate kaki lima di pinggir jalan utama.
"Wajah Amel sampai ketahuan lapar banget ya?" goda Mahardika sambil melirik putrinya yang matanya berbinar menatap asap panggangan sate.
"Paaaa... wangi banget satenya! Amel mau sate ayam, Pa!" bisik Amel sambil memegang perut kecilnya.
"Boleh, Sayang. Ayo kita duduk di dalam," jawab Mahardika lembut.
Mahardika menuntun Amel menuju kursi meja kayu.
Seorang penjual sate paruh baya yang sibuk mengipas panggangan menyapa mereka dengan ramah.
"Sate ayamnya dua porsi, Mas? Pakai lontong atau nasi?" tanya penjual itu ceria.
"Dua porsi sate ayam pakai lontong ya, Pak. Bumbu kacangnya dibanyakin," sahut Mahardika tersenyum.
"Siap, Mas! Tunggu sebentar ya!"
Sambil menunggu pesanan datang, Amel mengayun-ayunkan kakinya yang menggantung di bangku kayu.
"Papa, dulu sewaktu Amel masih kecil banget, Papa pernah ajak Amel makan sate seperti ini juga kan?" tanyanya mencoba mengingat masa lalu.
Mahardika tertegun sejenak. Ingatan masa lalu membua ia teringat. "Amel masih ingat?"
"Ingat dong! Papa yang suapin Amel pakai lontong kecil-kecil," angguk Amel penuh semangat. "Terus waktu itu Mama..."
Kalimat Amel terhenti seketika. Wajah mendadak berubah saat mengingat sosok ibunya.
Melihat perubahan raut wajah sang putri, Mahardika langsung mengusap tangan mungil Amel dengan penuh kehangatan.
"Amel... yang penting sekarang ada Papa di sini. Papa janji, setiap kali Amel mau makan sate atau jalan-jalan, Papa bakal selalu ada buat Amel," janji Mahardika penuh ketulusan.
"Iya, Pa! Amel cuma butuh Papa kok!" kata Amel menatap mata ayahnya yang penuh kasih sayang.
Perlahan, ia tersenyum kembali.
Tak lama kemudian, dua piring sate ayam hangat lengkap dengan lontong dan siraman bumbu kacang yang melimpah dihidangkan di meja mereka.
Brakkk! Ckrrrsh!
Tiba-tiba suara benturan amat keras.
Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam hilang kendali dan langsung menghantam bagian depan gerobak sate kaki lima tempat Mahardika dan Amel makan.