Bagi Shavia Aurelien (Via), dunia nyata adalah tempat yang abu-abu, bising, dan melelahkan. Itulah mengapa dia memilih menjadi arsitek di dalam kepalanya sendiri—menciptakan sebuah dunia khayalan yang sempurna. Di balik pelupuk mata yang terpejam, Via menganyam kisah cinta yang utuh bersama seorang pria tampan yang selalu dia panggil "Sayang". Sosok sempurna tanpa cela yang selalu memperlakukannya dengan penuh kehangatan.
Namun, dunia yang indah itu mendadak retak saat sang pria membawa Via masuk lebih jauh untuk menemui orang tuanya di alam mimpi. Sebuah penolakan dingin dari sang ibu seketika menghancurkan segalanya. Hubungan mereka tidak direstui karena adanya batas dimensi yang memisahkan. Sejak malam yang menyakitkan itu, sosok "Sayang" lenyap tanpa aba-aba, dan dunia khayalan Via perlahan mulai memudar kehilangan warnanya.
Disaat keputusaan itu melanda, jalan takdir mulai menunjukan arah warna nyata untuk hidup via, membuatnya beralih merangkai kisah indah di dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nura_thequeen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cerita di Balik Kotak Bekal
Keesokan sorenya, sisa rasa bahagia dari kotak bekal yang habis tak bersisa itu masih membekas di dadaku. Saat aku baru saja merapikan buku-buku kuliah ke dalam tas, ponsel di atas meja bergetar panjang.
Sebuah panggilan masuk dari Danu.
Aku sempat melirik Rara yang masih sibuk mengemas barangnya di sebelahku, lalu menggeser tombol hijau ke layar.
"Halo, Danu?" sapaku.
"Halo, Via. Lagi sibuk gak?" suara Danu di seberang telepon terdengar sangat bersemangat, diselingi suara bising khas kantin kampus.
"Gue mau cerita sesuatu nih. Ini soal paket bekal yang lu kirim lewat ojek kemarin siang."
Jantungku langsung berdegup kencang mendengarnya. Aku refleks memajukan tubuh, memperkecil volume suaraku agar tidak terlalu mencolok di kelas yang mulai sepi.
"Eh... bekal kemarin, kenapa emangnya, Danu. Arga gak keracunan, kan?"
Danu tertawa lepas di seberang sana. "Hahaha! Ya enggaklah, Via. Malah sebaliknya. Kemarin siang itu pas anak-anak basket lagi kumpul di basecamp Teknik setelah kelas matkul yang padat, si Arga masuk bawa bungkusan kain. Muka dia tuh lempeng banget kayak biasanya."
Aku mendengarkan dengan saksama, menahan napas. "Terus... terus gimana?"
"Nah, si Arga duduk di pojokan, terus buka bungkusan itu. Pas kotak bekalnya dibuka, anak-anak langsung heboh. Lu tahu sendiri kan, bentuk nasi kepal sama roti gulung yang lu bikin itu rapi dan kelihatan niat banget," cerita Danu panjang lebar.
"Si Joni, anak tim basket yang lain, langsung nyamber mau minta satu nasi kepalnya. Eh, lu tahu reaksi Arga gimana?"
"Gimana, Danu?" tanyaku penasaran setengah mati.
"Tangan si Joni langsung ditepis kasar sama si Arga, terus Arga bilang dengan ketus, 'Gak usah minta-minta. Ambil makanan sendiri ke kantin aja sana.'! Habis itu kotakan bekalnya langsung ditarik deket dada dia, seolah-olah takut banget kalau ada yang ngambil," kata Danu sambil terkekeh geli.
"Anak-anak langsung ngejekin dia, dikira itu kiriman dari pacar rahasianya. Arga cuma diem, tapi dia bener-bener habisin semuanya sendiri sampai bersih, termasuk buah-buahannya."
Senyuman lebar yang tidak bisa kutahan langsung merekah di bibirku. Rasanya ada ribuan kembang api yang meletup di dalam dadaku.
"Beneran, Danu. Dia gak mau bagi-bagi ke yang lain?"
"Beneran, Via. Gue lihat pakai mata kepala gue sendiri," ujar Danu dengan nada suara yang perlahan melembut, menyiratkan ketulusan yang mendalam.
"Gue telepon lu cuma mau bilang... taktik lu yang sekarang udah bener. Cara lu yang gak agresif tapi perhatian lewat hal kecil kayak gitu pelan-pelan bisa diterima sama Arga. Bentengnya udah gak sekeras kemarin pas dia tahu lu tulus."
Aku tertegun sejenak mendengarkan ucapan Danu. Rasa terima kasih yang teramat sangat kembali membuncah di hatiku untuk cowok baik di seberang telepon itu.
"Danu... makasih banyak, ya. Makasih udah mau ceritain ini ke aku. Kamu bener-bener baik banget."
"Sama-sama, Via. Santai aja, kan gue udah janji mau bantu pantau dari sini," sahut Danu santai, walau aku tahu ada sedikit jeda sebelum dia melanjutkan kalimatnya.
"Ya udah, gue mau lanjut latihan dulu ya. Semangat terus buat kamu!"
"Iya, Danu. Semangat juga latihannya!"
Setelah panggilan terputus, aku menurunkan ponsel dengan perasaan yang melambung tinggi.
Rara yang sejak tadi memperhatikan interaksiku dengan Danu langsung menyilangkan tangan di dada sambil menggelengkan kepala.
"Dari Danu lagi?" tebak Rara dengan alis terangkat.
"Iya, Ra," jawabku riang, tidak bisa menyembunyikan binar di mataku.
"Danu cerita kalau kemarin Arga protektif banget sama bekal buatan aku. Dia gak mau bagi-bagi ke anak basket yang lain dan dihabisin sendiri!"
Rara menghembuskan napas panjang, namun ada senyum tipis yang terpaksa lolos dari sudut bibirnya.
"Dasar gunung es gengsian. Tapi bagus deh, seenggaknya saran dari Danu kemarin emang manjur buat melunakkan dia. Sekarang tugas lo tinggal konsisten aja, jangan sampai kebablasan agresif lagi."
"Siap, ibu negara Rara!" seru ku penuh tekad.
Malam itu, aku kembali membuka ponselku. Hari keempat dari masa taruhan satu bulan kami akan segera tiba, dengan informasi dari Danu dan respons kecil dari Arga, aku semakin yakin bahwa di balik sikap dinginnya yang membeku, bongkahan es itu perlahan-lahan mulai menunjukkan retakan kecil yang siap mencair.
Setelah merenungkan kembali semua cerita dari Danu tentang bagaimana protektifnya Arga terhadap kotak bekal buatanku, aku berbaring di atas kasur dengan perasaan yang jauh lebih tenang.
Kamarku terasa lebih hangat malam ini. Aku menatap langit kamar sambil memeluk guling, membayangkan wajah kaku Arga saat menepis tangan temannya demi mempertahankan nasi kepal buatan tangan amatirku.
Aku meraih ponsel yang tergeletak di samping bantal. Jam di layar digital sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Sesuai prinsip baruku, menjadi teman yang tulus tanpa menuntut, aku tidak ingin mengganggunya dengan pertanyaan panjang yang akan membuatnya merasa tertekan untuk membalas.
Aku membuka ruang obrolan kami, lalu mengetik sebaris kalimat pendek yang sederhana namun tulus.
“Arga, selamat istirahat, ya. Semoga malam ini kamu tidur dengan baik dan mimpi indah.”
Aku menekan tombol kirim.
Tidak ada harapan besar bahwa pesan ini akan langsung dibaca, apalagi dibalas. Bagiku, mengirimkan doa baik ini sudah cukup untuk menutup hari keempat dari masa taruhan satu bulan kami.
Namun, baru saja aku hendak meletakkan ponsel ke atas meja, sebuah getaran pendek terasa di telapak tanganku, layar ponsel kembali menyala. Mataku membelalak sempurna saat melihat nama Arga muncul di bilah notifikasi. Dia membalasnya secara instan!
“Ya. Lu juga.”
Hanya tiga kata. Singkat, padat, dan masih terasa kaku.
Namun, penambahan kata 'Lu juga' di ujung pesannya membuat dadaku seketika bergemuruh hebat. Ini pertama kalinya Arga membalas ucapan selamat tidurku dengan kalimat timbal balik, bukan sekadar pamit tidur secara sepihak seperti beberapa hari sebelumnya.
"Dia... dia bilang 'lu juga'?" bisikku parau pada kesunyian kamar, tidak bisa menahan senyuman lebar yang kembali terbit di bibirku.
Aku memeluk ponselku dengan erat ke dada, merasakan debaran jantungku yang tidak juga mau melambat. Kamarku yang dingin kini mendadak terasa begitu penuh oleh harapan.
Tanpa terasa mataku mulai meredup, kesadaran ku perlahan menghilang digantikan dengan deru nafas yang teratur. Akupun tertidur dengan rasa bahagia yang tidak bisa kubendung membuat ku tertidur dengan bibir tersenyum.
Retakan di dinding es itu mungkin masih sangat tipis, tetapi malam ini aku tahu pasti, kehangatan kecil yang kukirimkan untuknya perlahan-lahan, mulai sampai ke dalam dunianya yang beku itu, dan aku yakin perlahan namun pasti gunung es itu akan segera mencair.