Kay Morgan Semua orang mengenalnya sebagai sosok yang nyaris sempurna. Ketua OSIS yang tampan memikat, berwibawa, dan selalu menjadi pusat perhatian. Baginya, dikejar dan didambakan oleh banyak gadis adalah hal yang wajar, bahkan seolah sudah menjadi takdir hidupnya. Aurora Grey Seorang gadis cantik yang sangat membenci hal-hal biasa dan membosankan. Ia terlihat ceroboh, namun sebenarnya penuh taktik dan kecerdikan. Ia mampu dengan mudah mengungkap rahasia tergelap Kay dan teman-temannya — hingga akhirnya namanya menjadi sosok yang paling ditakuti di seluruh sekolah. Kisah ini bermula dari sebuah perjanjian berbahaya: antara gadis yang terbiasa dimanja, dan pemuda yang tampan bagai dewa namun berhati iblis. "Hubungan jarak jauh itu hanya berarti satu hal: 75% kemungkinan bosan, 25% kemungkinan berselingkuh." Tanpa peringatan, Kay mempererat pelukannya erat di pinggang Aurora. "Dan kau sekarang punya kesempatan itu — persis 25 persen. Rafael tak akan pernah tahu apa-apa." "Kau yakin... kau tak punya niat menjadikan aku selingkuhanmu, bukan?" tantang Aurora, namun di balik kata-katanya itu,Kay hanya tersenyum lebar — senyum yang memikat sekaligus berbahaya. Bersama mereka, kau akan diajak merasakan sensasi kebahagiaan, dan rasa berdebar... yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zona bahaya
Doble shit!
Lantaran rumah milik Kay Morgan lebih dekat, Anastasya—mama Kay Morgan meminta putranya itu untuk menurunkannya dulu di rumah, sebelum mengantar Rora pulang.
"Kamu nanti bawa mobilnya ati-ati ya, jangan ngebut!" Wanita itu tak lama beralih ke sosok Rora yang duduk di bangku belakang.
"Rora, kalau Kay Morgan berani kebut-kebutan di jalan langsung marahin!" pesan Anastasya lantas tersenyum lembut ke arah Rora.
Gadis itu mengangguk lantas tersenyum. "Siap, tante tenang aja."
"Terima kasih ya, Rora. Tante turun dulu."
"Terima kasih juga tante, udah dikasih tumpangan," sanggah Rora yang berhasil memancing Anastasya tersenyum cantik.
"Ini mobilnya cepet-cepet dibalikin ke temen kamu, nggak enak sama Mahendra."
Ah! Benar, sebenarnya tadi Kay Morgan tengah nongkrong bersama teman-temannya, ketika Anastasya meminta Kay Morgan untuk menjemput mamanya itu. Kebetulan juga cowok itu membawa motor, maka dari itu—Kay Morgan meminjam mobil milik Mahendra guna menjemput mamanya.
Nggak mungkin dong, Kay Morgan ngebiarin mama tersayangnya naik motor.
"Iya-iya," jawab Kay Morgan lantas ikut turun bersama mamanya. Membantu wanita itu untuk mengeluarkan belanjaannya dari bagasi mobil.
Selepas Anastasya masuk ke rumah, Kay Morgan kembali masuk ke dalam mobil. Sesaat melirik ke arah Rora yang duduk di belakang melalui kaca mobil. "Pindah depan, sini!" titah cowok itu memecah keheningan.
"Nggak, gue duduk sini aja." Mager banget pindah-pindah.
"Di pikir gue supir lo, buruan pindah!"
"Cepet!" desak Kay Morgan yang membuat Rora berdecak sebal, namun tak lama gadis itu turun dari mobil dan pindah duduk samping Kay Morgan.
"Puas?"
Kay Morgan menaikkan alisnya, tanpa menjawab cowok itu mulai melajukan mobil untuk keluar dari pekarangan rumahnya. Selama perjalanan, seolah ada atmosfer canggung di antara keduanya—aneh banget, alhasil suasana hening tercipta cukup lama.
Sampai ketika Rora sadar, jika Kay Morgan tidak sedang mengambil jalan menuju ke rumahnya, cowok itu membelokkan mobil ke arah yang berlawanan.
Gadis itu mengernyit bingung. "Mau kemana, ini bukan arah ke rumah gue."
"Ambil motor gue dulu, bentar." Kay Morgan berucap singkat, membuat Rora menganggukkan kepalanya.
Malam itu jalanan kota cukup ramai, beberapa kali juga mereka harus berhenti karena lampu merah. Namun tak butuh waktu lama untuk keduanya sampai di tempat tujuan. Arena balap, Rora yang cukup asing dengan tempat semacam itu menoleh dengan wajah cemas, namun bibirnya tidak mengatakan apapun.
Kay Morgan sendiri memarkirkan mobilnya di kanan jalan, melepaskan sabuk pengamannya sebelum menoleh ke arah Rora. "Turun!" Langsung saja Rora menuruti ucapan Kay Morgan.
Semilir angin malam langsung menerpa tubuh Rora detik itu juga, menoleh—gadis itu bisa menemukan banyak pemuda pemudi menghabiskan waktu di sana. Kebanyakan sih cowok-cowok yang lagi ngerokok, nongkrong buat lihat atau ikut balapan. Meskipun begitu, Rora juga bisa menemukan gadis yang seumuran dengannya di sana, kebanyakan dari mereka mengenakan pakaian kekurangan bahan.
Duh! Apa nggak kedinginan itu?
Mendadak tubuh Rora merinding, gadis itu langsung menoleh ke arah Kay Morgan yang baru saja turun dari mobil.
"Tunggu sini, gue ambil motor. Jangan kemana-mana!" Sebenarnya Rora takut ditinggal sendiri, tapi ikut bersama Kay Morgan dan melewati kerumunan orang-orang yang sibuk menghisap benda nikotin berupa rokok—bukan gagasan yang bagus.
"Cepet ya!" pinta Rora yang membuat Kay Morgan mengangguk.
Tak lama cowok jangkung itu berjalan menjauh, meninggalkan Rora sendirian.
"Kemana aja, lama banget lo!" tungkas Digo ketika melihat kehadiran Kay Morgan.
Cowok itu tidak langsung menjawab, justru melemparkan kunci mobil milik Mahendra kepada pemiliknya. "Gue sama Rora."
Devandra mendadak heboh di tempatnya. "Mana?"
Cowok itu menoleh ke sekitar. "Nggak lo ajak ke sini?" keluh Devandra kecewa.
Mendengar itu Kay Morgan mendengus kesal. "Dia takut sama lo!" umpat Kay Morgan yang memancing Kael William untuk tertawa.
"Gue langsung cabut,"
"Kemana?"
"Ngantar Rora pulang." Jawaban Kay Morgan itu langsung membuat teman-temannya menahan senyum untuk menggoda.
"Cie... Kay Morgan! Sekarang udah gede, kalau malem-malem mainnya sama cewek."
"Ati-ati jangan ditakdung tak! Punya kakak sendiri," kata Devandra yang membuat Digo tertawa di tempatnya.
"Kalau gue jadi Kay Morgan, udah gue gas si Rora!" celetuk Digo menyahuti.
Kay Morgan yang tidak ingin memusingkan ucapan teman-temannya memilih mengambil motornya yang terparkir tak jauh dari meja teman-temannya.
Namun sebelum itu Kay Morgan menoleh ke arah Devandra. "Pinjem helm lagi."
Langsung saja Devandra melotot tidak terima. "Pinjem mata lo! Ogah lah, jangan punya gue, nanti lo buang lagi," tuduh Devandra yang rupanya masih dendam sama si Kay Morgan.
Emang sih doi udah ganti helm Devandra dengan yang baru, tapi mengulang kesalahan yang sama untuk kedua kali—kelihatan bodohnya dong!
"Gue sewa." Kedua mata Devandra mendadak berbinar ketika Kay Morgan mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan dari dompetnya.
Duh! Kalau gini sih, bisa dibicarakan dengan baik-baik.
"500, cukup?"
Devandra mengangguk semangat sebelum mengambil uang yang Kay Morgan sodorkan kepadanya. "Ambil-ambil, jangan sungkan."
Emang ya, uang itu bisa menyelesaikan semua masalah.
Di sisi lain, Rora memilin jemarinya cemas ketika Kay Morgan tidak kunjung kembali. Bukan apa-apa, masalahnya tuh dari tadi ada dua cowok yang ngeliatin Rora dengan tatapan intens.
Duh risih banget dia.
Gadis itu merutuk dalam hati ketika kedua cowok itu mulai berjalan mendekat ke arahnya. Langsung saja Rora mengambil langkah untuk sedikit menjauh, guna menghindar. Namun percuma—dirinya sudah dihadang oleh dua cowok di hadapannya.
Sial! Sial! Sial!
"Anak Garuda Indonesia, kok bisa sampe sini?"
"Permisi, mau lewat." Ketika Rora hendak berlalu, lengannya dicekal oleh salah satu di antara mereka.
"Eitss... di sini dulu. Dari pada sendirian malem-malem, kan bahaya." Jantung Rora menghentak keras detik itu juga, gadis itu merasa ketakutan dan mencoba melepaskan lengannya dari cekalan cowok di sampingnya.
"Jangan di gituin, takut dia," tungkas cowok yang satunya seraya terkekeh geli mendapati wajah pucat Rora.
"Minggir! Gue mau lewat," bentak Rora memberanikan diri mendorong salah satu tubuh cowok di hadapannya.
"Cantik-cantik kok galak. Main bentar dulu lah," Sungguh, Rora merasa jijik mendengarnya, belum lagi saat ini tubuhnya terus didesak sampai menyentuh bodi mobil di belakangnya.
"Minggir!" Suara Rora mulai terdengar bergetar, kedua matanya juga mulai memanas lantaran ketakutan.
Tiba-tiba saja kedua cowok di hadapan Rora terperosok ke aspal, mencoba memfokuskan pandangannya—Rora menoleh. Tampak Kay Morgan datang dengan motornya, cowok itu ternyata menabrak kedua cowok yang mengganggu Rora.
"Naik!" Kay Morgan memberikan helm milik Devandra kepada Rora, cowok itu juga mengulurkan tangannya untuk membantu Rora naik ke motornya.
Tanpa berpikir dua kali, gadis itu menuruti ucapan Kay Morgan.
"Heh bangsat!" Mengabaikan umpatan serta teriakan dua orang tadi, Kay Morgan melajukan motornya untuk meninggalkan tempat itu.
Sesaat cowok itu menunduk, merasakan kedua tangan Rora melingkar erat di perutnya membuat cowok itu terkejut. Dari ujung matanya, Kay Morgan melirik ke arah Rora. Gadis itu terlihat membenamkan wajah di belakang punggungnya yang terbalut jaket kulit.
"Lo nggak apa-apa?" tanya Kay Morgan sengaja meninggikan suaranya agar terdengar jelas.
Tidak ada jawaban dari gadis itu, namun Kay Morgan bisa merasakan kepala gadis itu menggeleng dari balik punggungnya.
Sesaat Kay Morgan kembali melirik spion motornya, sebelah alis tebalnya menukik ke atas mendapati dua motor melaju kencang ke arah mereka. Sebenarnya Kay Morgan tidak ingin ambil pusing, toh jalanan itu memang ramai dan sering dijadikan arena balap.
Namun atensinya terpaksa kembali terpancing ketika kedua motor itu masih mengikutinya bahkan ketika Kay Morgan mengambil jalanan sempit. Detik itu Kay Morgan sadar, dirinya memang tengah diikuti.
Dengan Rora bersamanya? Sialan!
"Pegangan, ada yang ngikutin kita." Rora mengerjap ketika Kay Morgan menarik tangannya agar mengeratkan pelukan di perut cowok itu.
Tak lama Kay Morgan menge-gas motornya lebih kencang, membuat bangunan-bangunan yang menjulang tinggi di jalanan ibu kota kini terasa berlalu dengan cepatnya. Rora menoleh ke belakang, kedua mata gadis itu sukses terbelalak lebar.
Apa-apaan ini?
Masa iya sekarang dia lagi terlibat aksi kebut-kebutan di jalan?
"Itu mereka beneran ngikutin kita?" Kay Morgan mengangguk kecil, cowok itu semakin melajukan motornya layaknya orang kesetanan.
Sial! Kedua motor itu berhasil menyusul mereka. Membuat motor Kay Morgan berada di antara dua orang itu. Rora hampir memekik ketika merasakan motor Kay Morgan ditendang oleh salah satu orang dari mereka.
BUG!
BUG!
Bisa Rora dengar dengan jelas, umpatan-umpatan yang lolos dari bibir Kay Morgan.
Kay Morgan melajukan motornya lebih cepat, sengaja mengambil jalanan sempit dan gang-gang sepi. Bahaya kalau sampai ketahuan sama polisi, bisa ditilang. Pikir Kay Morgan main aman.
Cowok itu kembali menatap kaca spionnya, nyatanya dua motor tadi bisa mengimbangi kecepatannya. Lagi-lagi, bodi motor milik Kay Morgan ditentang cukup keras.
BUG!
BUG!
Detik selanjutnya motor Kay Morgan terjatuh ke samping, cowok itu tidak bisa menjaga keseimbangannya lagi. Alhasil Kay Morgan dan Rora terjatuh, sementara motor Kay Morgan membuat mereka terseret beberapa meter.
Mendengar suara seorang gadis meringis kesakitan, Kay Morgan langsung menoleh. Cowok itu mencoba menyingkirkan motor yang menimpa keduanya, lantas membantu Rora melepaskan helmnya. "Lo nggak apa-apa?"
Rahang Kay Morgan mengeras detik itu juga, luka sobek pada pipi Rora membuat nadinya terpacu.
Kay Morgan melepas helm yang menutupi wajah rupawannya, cowok itu beranjak. "Bisa bangun?" Ketika dirinya hendak membantu Rora untuk bangun, tiba-tiba saja tubuhnya ditarik kebelakang.
Satu pukulan mendarat sempurna pada pelipisnya tanpa diduga. Kay Morgan yang tidak memperkirakan pukulan dari lawannya itu langsung terperosok ke tanah.
Kekehan bangga terdengar detik selanjutnya, dari ujung matanya Kay Morgan bisa menangkap salah satu dari mereka mendekati Rora yang masih tertunduk di aspal. "Berani lo Sentuh dia, siap mati!" geram Kay Morgan dengan sorot mata tajam.
Tidak! Cowok itu tentu tidak sekedar memperingati lawannya.
"Oh ya?" tantang salah satu diantara mereka.
Melihat bagaimana salah satu dari mereka berani mendekati Rora yang terlihat ketakutan, Kay Morgan mengambil helmnya, memukul kepala lawannya dengan keras. Seolah tidak peduli jika kepala lawannya pecah detik itu juga.
Kay Morgan lantas menubruk tubuh teman dari lawannya yang sejak tadi mendekati Rora, cowok itu langsung melayangkan pukulan tanpa ampun.
Bug!
Bug!
Bug!
Darah segar keluar dari hidung lawannya, tangan Kay Morgan masih terasa mengeras. Bau anyir darah menusuk indra penciumannya, namun Kay Morgan yang tidak peduli terus melayangkan pukulan bertubi-tubi.
Sementara di tempatnya, tubuh Rora bergetar hebat. Melihat bagaimana tangan Kay Morgan berlumur darah, Rora mendekat—menarik jaket milik Kay Morgan agar cowok itu menghentikan aksi gilanya.
"Berhenti! Lo bisa bunuh dia!" pekik Rora semakin panik.
Kedua mata cowok itu menggelap. Satu kata yang bisa mendeskripsikan sosok Kay Morgan saat ini—menakutkan.
"Tolong..." bisik Rora dengan suara memohon.
Rora masih berusaha menarik lengan Kay Morgan untuk melepaskan lawannya yang sudah terkapar, tidak berdaya di aspal.
Nafas Kay Morgan terpacu, cowok itu menuruti ucapan Rora untuk menyingkir dari tubuh lawannya. Tangannya yang penuh dengan darah bergetar sesaat, entah apa yang merasuki Kay Morgan sampai dirinya kalap memukuli orang—padahal biasanya tidak sampai separah ini.
Kay Morgan saat ini beralih kepada Rora, menatap wajah gadis itu dengan intens, kedua matanya yang terbalut kemarahan perlahan melembut ketika bertemu dengan manik mata gadis di hadapannya.
"Sakit?" Kay Morgan mengusap sisi wajah Rora yang terlihat sobek dan mengeluarkan darah.
Rora sempat terkejut ketika jemari Kay Morgan mengusap lembut kulit wajahnya.
Gadis itu lantas menggeleng cepat. "Gue nggak apa-apa," jawab Rora seolah mencoba menenangkan cowok di hadapannya.
"Maaf, udah bikin lo luka gini," kata Kay Morgan lantas melirik dua orang yang masih terkapar di aspal. Cowok itu mendekat untuk memungut helmnya yang sudah retak.
"Ayo pulang," ajak Kay Morgan dengan langkah tertatih.
Kakinya tadi sempat ia gunakan untuk menahan bodi motornya, agar tidak langsung menindih tubuh Rora.
"Te-terus mereka?" Tunjuk Rora ke arah dua orang yang Kay Morgan pukuli habis-habisan.
"Nggak usah dipikirin!" Kay Morgan merogoh saku celananya, mengambil ponsel untuk memotret wajah pelaku yang berani menyerangnya, tak lupa plat nomor motor keduanya.
Kay Morgan berdecak melihat kondisi motornya yang tergores sana-sini. Cowok itu lantas menegakkan motornya kembali.
"Ayo naik!" katanya menyuruh Rora untuk segera naik, memboncengnya—memastikan gadis itu sampai di rumah dengan aman.