❝Let's meet in the future. Kita pasti akan bertemu kembali di masa depan. Setelah itu, mari kita buka time kapsul kita bersama-sama.❞
Ara hanyalah seorang wanita biasa yang tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan berubah setelah meminum ramuan ajaib yang membawanya kembali ke masa lalu, tepat sebelum seseorang yang paling dicintainya meninggal dunia.
Bara. Lelaki yang dicintainya itu tengah berjuang melawan leukemia stadium akhir. Namun, kali ini Ara mendapatkan kesempatan untuk mengubah takdirnya.
Sayangnya, kesempatan itu hanya diberikan selama 14 hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon justjeha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memory
Day 8
"Ara? Tumben pagi-pagi kamu sudah rapi? Memangnya ada kuliah pagi?"
"Kuliah siang, Mah. Tapi aku mau ketemu sama teman dulu. Oh, iya, Mah. Aku boleh bawa bekal nggak?"
"Tumben banget kamu mau bawa bekal. Ya sudah, bawa saja, sayang. Makanan di meja makan juga masih ada."
Ara mengangguk antusias. Ia segera mengambil kotak bekal, lalu memasukkan nasi, lauk, dan sayuran ke dalamnya.
"Buat Bara, ya, Dek?"
Ara yang sedang memasukkan lauk langsung terlonjak.
"Astaga! Kaget!"
Ia buru-buru menoleh kepada Biru dan memberi isyarat agar kakaknya segera menutup mulut.
Biru hanya terkekeh.
"Kenapa? Takut ketahuan?"
"Ssst! Jangan sebut nama Bara di depan Mama sama Papa!"
Selama ini Ara memang tidak pernah berpacaran. Ia bahkan tidak pernah bercerita kepada kedua orang tuanya mengenai laki-laki yang disukainya. Jadi, ia belum siap jika tiba-tiba harus menjelaskan tentang Bara.
Namun, rupanya Biru justru sengaja mengucapkannya dengan suara cukup keras.
"Bara? Kamu sudah punya pacar, Ara?"
Papa yang sejak tadi duduk di meja makan langsung ikut menoleh.
"Padahal Papa mau menjodohkan kamu dengan anak teman Papa."
"Papa, apa-apaan sih, Pah! Aku nggak suka kalau dijodoh-jodohin. Aku bisa cari jodoh sendiri!"
"Kalau Papa mau kamu bertemu dulu dengan anak teman Papa itu, bagaimana? Anaknya sopan, baik pula. Siapa tahu nanti kamu jadi suka."
Ara dengan cepat mengisi kotak bekalnya hingga penuh, lalu menutupnya sedikit lebih keras dari seharusnya. Baginya, Bara adalah orang yang paling penting saat ini.
Apalagi waktunya di masa ini hanya tinggal beberapa hari lagi. Ia tidak punya waktu untuk bertemu dengan laki-laki lain, apalagi memikirkan soal perjodohan.
Maaf, Pah. Anakmu kali ini ingin membangkang. Aku sudah lama menyukai Bara. Dan sekarang aku cuma ingin terus bersamanya. Dia membutuhkanku.
Ara memasukkan kotak bekal ke dalam tas, lalu segera beranjak meninggalkan meja makan. Ojek online yang dipesannya sudah menunggu di depan rumah.
Namun, sepanjang perjalanan menuju halaman depan, satu pertanyaan terus mengganggu pikirannya. Di masa depan, Papa sama sekali tidak pernah membicarakan masalah perjodohan. Lantas, kenapa sekarang tiba-tiba Papa ingin menjodohkannya?
Jangan-jangan... setelah aku kembali ke masa depan, aku benar-benar akan dijodohkan?
Ara menggeleng cepat. Tidak. Ia berharap hal itu tidak pernah terjadi. Karena kali ini, ia sudah tahu siapa yang benar-benar ingin ia pilih.
...---...
aramoana_:
He is Mine!!! @barasamudera ❤️😘
Comments:
yuvindipt:
Iya, iya! Gue tau! Nggak usah diperjelas juga kali, Ra!!! 😤
yohan.dewa:
Bucin banget, sialan! Baru tau gue kalau lo bisa sampai nge-posting foto cowok lo di IG pribadi lo kayak gini 😑
sorazura_:
Cieee, langgeng terus, Ra! 😍
barasamudera:
Sayang? Kok aku jadi malu 😥
biru_namaku:
Dek? Anda sehat?!? 😱
...---...
"Bara???"
Pagi itu, Ara langsung masuk ke kamar rawat Bara. Namun, ranjang yang biasanya ditempati laki-laki itu justru kosong.
"Loh, dia ke mana?"
Ara menoleh ke seluruh penjuru kamar. Beberapa saat kemudian, terdengar suara pintu kamar mandi terbuka. Bara muncul dari balik pintu. Rupanya ia baru saja selesai mandi.
Begitu melihatnya, wajah Ara langsung berbinar. Ia berjalan cepat menghampiri Bara dan memeluknya tanpa ragu.
Hmm... aroma mint. Aku suka! Apa boleh aku nempel terus sama kamu? Sebenarnya aku pengin banget bisa selalu mencium aroma tubuhmu, Bara. Rasanya aku jadi ketagihan. Candu banget.
"Lah? Ara? Kenapa pagi-pagi kamu udah ada di sini?"
"Aku kangen sama kamu."
"Kangen? Padahal baru semalam kita ketemu."
Bara mengernyitkan dahi, lalu melirik Ara yang masih memeluknya.
"Terus, itu tadi kenapa kamu ngunggah foto aku?"
"Supaya orang lain tahu kalau kamu udah jadi milikku."
Ara mendongak dengan senyum jahil.
"Dan mulai sekarang, aku bakal terus ngunggah foto kamu."
Ia menjulurkan lidah kepada Bara, lalu kembali menyembunyikan wajahnya di dada laki-laki itu. Bara hanya bisa terkekeh melihat tingkah Ara yang begitu random.
Cup!
Tiba-tiba Ara mengecup bibir Bara sekilas. Bara langsung terdiam. Matanya membulat karena sama sekali tidak menyangka Ara akan melakukan hal itu.
"Morning kiss buat kamu."
Ara buru-buru kembali membenamkan wajahnya di dada Bara untuk menyembunyikan rasa malu.
Sementara itu, Bara masih terpaku. Jantungnya berdetak begitu cepat sampai-sampai Ara yang bersandar di dadanya bisa mendengarnya.
"Kamu kenapa jadi random kayak gini, sih, Ra?"
Bara akhirnya tersenyum.
"Tapi jujur, aku suka kalau tingkahmu begini."
"Entah. Rasanya pengin aja."
Ara kemudian teringat sesuatu.
"Oh, iya! Aku kebetulan bawa makanan buat kamu. Kamu pasti belum sarapan, kan? Pasti bosen karena makan makanan rumah sakit terus."
Bara mengangguk.
Ara segera menariknya menuju sofa. Setelah Bara duduk, ia membuka kotak bekal yang dibawanya dari rumah.
"Makan yang banyak, ya, Bara. Biar kamu kuat nemenin aku hari ini."
"Kalau aku pengin disuapin sama kamu, kamu mau nggak?"
"Nggak! Makan sendiri!"
"Galak banget. Padahal sama pacar sendiri."
"Aku malu! Kamu makan sendiri aja, ya?"
Bara mengangguk sambil membelai rambut Ara. Ia kemudian mulai menyantap makanan yang dibawa perempuan itu. Rasanya begitu sederhana, tetapi entah kenapa membuat Bara terdiam cukup lama.
Masakan rumahan. Ia bahkan hampir tidak ingat kapan terakhir kali bisa menikmati makanan seperti ini.
Kedua orang tuanya telah lama berpisah sejak ia kecil. Setelah itu, Bara tumbuh tanpa pernah benar-benar mengetahui kabar keduanya. Mungkin itu sebabnya makanan sederhana ini terasa begitu berarti.
Ara yang menyadari mata Bara mulai berkaca-kaca langsung mendekapnya.
"Aku bakal bawain makanan kayak gini setiap hari buat kamu."
Ara mengusap punggungnya perlahan.
"Jangan nangis, dong. Aku jadi ikut sedih."
"Seharusnya aku jujur aja dari awal sama kamu."
Suara Bara terdengar bergetar.
"Biar aku bisa diperhatiin kayak gini sama kamu."
Ia menunduk sejenak.
"Sekarang aku ngerasa takut mati, Ra."
Bara menarik napas panjang.
"Aku nggak mau mati. Aku mau sama kamu terus."
Ara langsung memeluknya lebih erat.
"Bara, jangan bicara kayak gitu!"
"Kamu pasti bakal baik-baik aja. Aku tahu kamu kuat. Dan sekarang aku bakal ada di sisi kamu terus."
"Kalau gitu jangan tinggalin aku sendirian."
Bara menatap Ara.
"Haruskah kamu pergi nantinya?"
Ara perlahan melepaskan pelukannya. Ia tersenyum sambil mengusap air mata yang membasahi pipi Bara. Rasanya sakit sekali mendengar suara Bara yang begitu rapuh.
Andai saja pada masa itu ia tahu apa yang sedang dialami Bara. Andai saja ia tidak pernah membencinya. Andai saja...
Namun, penyesalan tidak akan mengubah apa pun. Karena itu, sekarang Ara hanya ingin menggunakan waktu yang tersisa sebaik mungkin.
"Oke."
Ara mengangguk.
"Aku nggak akan pergi kalau kamu mau janji sama aku buat rajin menjalani pengobatanmu."
Ia menggenggam tangan Bara.
"Aku janji nggak akan pergi. Aku usahain aku bakal selalu ada buat kamu selama aku masih di sini."
Bara, maaf. Aku tetap harus kembali karena semua ini juga demi kamu. Aku cuma berharap ketika aku kembali nanti, kamu masih ada di sisiku. Aku nggak mau kamu pergi.
"Janji, ya, sayang?"
"Iya. Aku janji."
Ara tersenyum.
"Udah, sekarang cepet habisin makanannya. Aku mau ngajak kamu kencan seharian."
Bara akhirnya tersenyum.
Ia menghabiskan makanan yang dibawakan Ara dengan senang hati. Tidak bisa dipungkiri, masakan ibu Ara memang begitu enak. Rasanya seperti memberikan energi baru yang sudah lama tidak ia rasakan.
Setelah selesai makan, Bara menyandarkan kepalanya di pundak Ara sambil mengusap perutnya yang terasa kenyang.
"Rambut kamu rontok, ya?"
Ara baru menyadarinya ketika beberapa helai rambut Bara tertinggal di telapak tangannya saat ia membelai kepala laki-laki itu. Meskipun sebelumnya ia sudah tahu bahwa rambut Bara mulai rontok, tetap saja melihatnya secara langsung membuat dadanya terasa sesak.
Bara hanya mengangguk sambil memeluk Ara dari samping.
"Seharusnya tadi aku bawa topi."
"Nggak perlu. Lagian rontoknya juga belum parah."
"Kalau gitu, setidaknya nanti kamu harus pakai masker."
Ara mengeluarkan masker dari dalam tas.
"Kebetulan aku bawa. Aku nggak mau kamu kena debu."
"Untung kamu nggak bawa topi."
Bara terkekeh.
"Kalau kamu nyuruh aku pakai topi juga, aku udah kelihatan kayak artis yang lagi kencan diam-diam."
"Ya bagus, dong!"
Ara mengangkat dagunya dengan bangga.
"Soalnya aku nggak mau ada wanita lain yang lihat ketampanan kamu. Kamu cuma milik aku."
Bara terkekeh pelan. Dengan gemas, ia langsung mendekap tubuh Ara dan mengecup pipi, dahi, serta kedua sisi wajahnya berkali-kali.
"Mau aku kasih tanda sekalian nggak? Biar orang-orang juga tahu kalau kamu milikku."
"Bara! Jangan aneh-aneh!"
Ara berusaha melepaskan diri.
"Berhenti nyium aku! Rasanya wajahku udah basah karena kamu cium terus."
Ia menunjuk Bara.
"Mending sekarang kamu siap-siap. Setelah itu kita berangkat."
Bara memanyunkan bibirnya sebelum akhirnya melepaskan pelukannya. Ia berjalan menuju lemari untuk mengambil pakaian. Namun, baru beberapa langkah, Ara menyadari ada sesuatu yang aneh dari cara berjalan Bara.
"Bara?"
Bara berhenti.
"Kenapa jalanmu kayak pincang gitu? Kamu yakin nggak apa-apa?"
"Oh, kaki aku dari semalam emang agak nyeri."
Bara berusaha tersenyum.
"Tapi aku masih kuat, Ra."
"Kalau sakit jangan dipaksain."
Ara menatapnya khawatir.
"Aku nggak mau kalau sakitmu malah tambah parah."
Lagian kondisiku memang sudah parah. Aku cuma berusaha kelihatan baik-baik aja di depan kamu karena aku nggak mau kamu tahu kalau sebenarnya aku sedang kesakitan.
"Aku nggak apa-apa, sayang."
Bara kembali tersenyum.
"Intinya, hari ini kencan kita nggak boleh batal. Aku juga bosen ada di rumah sakit terus."
Ia menatap Ara.
"Sekali-kali aku pengin bersenang-senang. Apalagi sama kamu."
Dan aku cuma takut setelah hari ini, aku sudah nggak bisa nemenin kamu lagi, Ra. Mumpung aku masih kuat. Mumpung aku masih bisa jalan. Aku pengin mengabadikan setiap kenangan indah ini sama kamu.