NovelToon NovelToon
Transmigrasi Cewek Red Flag: Dari Figuran Jadi Ratu Sekolah

Transmigrasi Cewek Red Flag: Dari Figuran Jadi Ratu Sekolah

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Time Travel / Idola sekolah
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: IRISVEL

SINOPSIS Gara-gara kesetrum kabel charger HP yang ngelupas pas lagi marathon baca novel roman picisan jam 3 pagi, Aira (18 tahun)—cewek slakan, blak-blakan, dan hobi tawuran—terlempar masuk ke dalam dunia novel "Cinta Di Balik Seragam". Aira nggak bertransmigrasi jadi tokoh utama cewek yang polos dan teraniaya, melainkan jadi Aira Shena, tokoh figuran yang nasibnya tragis: mati dikeroyok geng motor di bab 20 karena dijebak sama antagonis utama. Ogah pasrah sama takdir, Aira bertekad acak-acak alur cerita asli. Dia yang tadinya pemalas dan tukang resek, mendadak berubah jadi cewek paling red flag, jago berantem, tapi cerdasnya ngga ngotak. Namun, aksinya malah bikin Langit, male lead dingin dan physco-lite yang harusnya benci setengah mati sama Aira, malah ketagihan ngejar-ngejar dia. Konflik makin rumit saat rahasia kelam keluarga besar mereka, perebutan tahta bisnis raksasa, tuduhan pembunuhan palsu, hingga pengkhianatan sahabat terdekat menghancurkan kehidupan sekolah mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IRISVEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 Pertempuran di?

BAB 17: "PERTEMPURAN DI ATAS JURANG &PEMBALASAN SANG RATU"

Deru angin pegunungan mendadak terasa makin dingin membeku tatkala dentang besi dan balok kayu beradu keras di atas jembatan gantung tua Sektor 4. Tali-tali tambang jembatan berdecit hebat, bergoyang ke kiri dan ke kanan di atas jurang terjal sedalam puluhan meter yang menganga di bawahnya.

TRANGGG!

Langit mencengkeram lengan seorang anggota Black Cobra yang mencoba mengayunkan rantai besi, memutarnya kasar hingga sendi bahu preman itu berbunyi patah—KLEK! Tanpa jeda, Langit melayangkan tendangan lurus berkekuatan penuh yang menghantam dada preman tersebut, melemparkannya hingga tersungkur keluar dari papan jembatan dan melayang jatuh ke jurang!

"SATU!" teriak Aira dari arah belakang Langit.

Aira bergerak lincah bagaikan bayangan. Tubuh rampingnya meliuk menghindari tebasan pisau lipat lawan. Dia memutar tubuhnya, memanfaatkan momentum goyangan jembatan untuk mendaratkan cengkeraman maut di leher musuh, lalu menyundul wajah preman itu menggunakan dahinya—BAM!

Darah segar menyembur dari hidung lawan. Belum sempat preman itu membalas, Aira menarik kerah pakaiannya dan mendorongnya jatuh menghantam fondasi kayu jembatan hingga pingsan seketika.

"DUA!" seru Aira gembira, menyapu darah tipis yang memercik di pipinya dengan punggung tangan. "Ayolah, cuma segini doang kualitas geng Black Cobra?! Lemah banget kayak kerupuk disiram air!"

Bagas yang menyaksikan separuh anak buahnya tumbang hanya dalam waktu beberapa menit mengepalkan tangannya murka. Wajahnya merah padam. "Bangsat kalian berdua! Jangan cuma maju satu-satu, kerojok mereka sekaligus!"

Sisa lima preman bertubuh kekar langsung menyerbu bersamaan. Dua orang mengincar Langit dengan balok kayu tebal, sementara tiga lainnya mengepung Aira dari dua sisi papan jembatan yang sempit.

"Shena, awas kiri!" jerit Langit seraya menahan ayunan balok kayu musuh menggunakan lengan kirinya yang dilapisi jaket taktis tebal.

TAK!

Langit meringis menahan nyeri yang menjalar di lengannya, namun matanya yang sedingin es tidak berkedip sedikit pun. Dengan tangan kanannya yang bebas, dia mencengkeram tenggorokan musuh di depannya dan menghantamkan kepala preman itu ke tiang penyangga jembatan hingga tak sadarkan diri.

Di sisi lain, Aira dikepung rapat. Seorang preman berusaha mencengkeram rambut bergelombang Aira dari belakang. Namun, Aira yang memiliki reflek bertarung tingkat tinggi langsung menunduk rendah, memutar tubuhnya 180 derajat, lalu melayangkan tendangan belakang maut (backkick) yang mendarat telak di selangkangan musuh!

"AARGHHH!" preman itu mengerang histeris sambil memegangi selangkangannya, matanya mendelik sebelum akhirnya ambruk ke papan kayu.

"Itu hadiah buat lu karena berani pegang-pegang rambut gue!" desis Aira dingin.

Tiba-tiba, dari arah belakang kabut yang makin menebal, Bagas melangkah maju diam-diam. Di tangannya, dia menggenggam sebuah besi tajam berkarat. Matanya tertuju lurus pada punggung Langit yang sedang sibuk menahan serangan dua preman tersisa.

"Mati lu, Langit!" raung Bagas penuh dendam, melompat maju untuk memotong dan menusukkan besi berkarat itu tepat ke arah punggung Langit!

"LANGIT, AWAS!" teriak Aira histeris.

Tanpa pikir panjang, Aira membuang pisau lipatnya dan melemparkan tubuhnya ke depan untuk pasang badan memblokir serangan Bagas!

SRAAASHHH!

Ujung besi berkarat milik Bagas menyabet bahu kanan Aira secara telak. Kain jaket denim dan baju kausnya robek, menyisakan luka goresan panjang yang langsung mengucurkan darah segar merembes ke pakaiannya.

"Shena?!" Langit menoleh kaget. Matanya membelalak lebar melihat darah merah menyala merembes di bahu Aira.

Dalam sekejap, atmosfer di sekitar Langit berubah total. Aura dingin yang tadinya tenang mendadak berganti menjadi haus darah yang sangat pekat dan membunuh. Matanya yang tajam mengunci sosok Bagas dengan kemarahan yang membakar habis seluruh akal sehatnya.

"Lu... berani melukai Ratu gue?" bisik Langit, suaranya begitu rendah dan bergetar, bagaikan iblis yang baru saja terbangun dari neraka.

BAM!

Langit tidak lagi menahan diri. Dia memukul dua preman tersisa dengan kecepatan dan kekuatan yang tak manusiawi hingga keduanya terlempar jatuh tak berdaya. Langit lalu melangkah mendekati Bagas dengan langkah lekas yang menebar terror mematikan.

Bagas yang melihat tatapan mata Langit mendadak gemetaran hebat. Keberaniannya runtuh seketika. "L-Langit... tunggu... gue—"

BUAAMMM!

Sebelum Bagas sempat menyelesaikan kalimatnya, tinju mentah Langit menghantam rahang bawah Bagas dengan telak! Suara gemertak tulang rahang yang retak terdengar mengerikan di tengah kesunyian hutan. Bagas terlempar menghantam pagar tali jembatan, muntah darah, dan tersungkur di tanah dengan wajah hancur berkeping-keping.

Langit mencengkeram kerah baju Bagas, mengangkat tubuh cowok itu dengan satu tangan ke udara di atas tepi jurang. "Siapa yang menyuruh lu ke sini? Jawab, sebelum gue lempar lu ke dasar jurang ini!"

"V-Valerie..." ratap Bagas terbata-bata dengan sisa tenaganya, air mata ketakutan mengalir membasahi darah di wajahnya. "Valerie yang bayar kita... dia yang... yang nyusun rencana ini..."

Langit menyunggingkan senyum dingin yang sangat mengerikan. "Bagus."

BRUK!

Langit melempar tubuh Bagas yang tak berdaya ke atas tanah keras seperti membuang tumpukan sampah, membiarkannya pingsan bersimbah darah.

Langit berbalik cepat, berlari menghampiri Aira yang terduduk di papan jembatan sambil memegangi bahu jalannya yang terus mengucurkan darah.

"Shena! Lu gak apa-apa?!" suara Langit terdengar panik luar biasa—sebuah ekspresi yang tak pernah diperlihatkan sang Ketua OSIS kepada siapa pun seumur hidupnya. Tangan Langit yang gemetar cepat-cepat melepaskan jaket miliknya dan menekan luka di bahu Aira untuk menahan pendarahan.

Aira merintih pelan, wajahnya agak pucat tapi bibirnya masih sempat menyunggingkan senyum miring yang savage.

"Sakit sih... tapi tenang aja, Kanebo," bisik Aira pelan, menatap lurus ke dalam mata Langit yang dipenuhi rasa bersalah. "Goresan kecil gini gak bakal bisa bikin gue mati."

"Kenapa lu pasang badan buat gue, Bego?!" bentak Langit, suaranya serak menahan sesak di dadanya. "Harusnya lu biarin gue yang kena!"

"Bawel lu," Aira menyandarkan kepalanya yang terasa agak berat ke dada bidang Langit. "Kalau lu mati atau cacat... siapa lagi nanti yang mau nemenin gue ngebantai ular beracun kayak Valerie?"

Langit merengkuh tubuh Aira ke dalam pelukannya dengan sangat erat dan hati-hati, seolah cewek di dalam pelukannya itu adalah barang paling berharga di dunia yang tak boleh pecah.

"Gue bakal balas ini," bisik Langit di atas telinga Aira, suaranya berjanji penuh dendam yang pekat. "Gue bakal bikin Valerie nyesel pernah dilahirkan ke dunia ini."

Dari kejauhan, suara sirene mobil polisi dan teriakan tim medis yang dipimpin Kenzo dan Bimo mulai terdengar mendekat menembus lebatnya Hutan Giri Kusuma.

Aira memejamkan matanya rapat-rapt di dalam pelukan hangat Langit, menyunggingkan senyum puas.

Pesta di hutan selesai, batin Aira dingin. Sekarang... waktunya eksekusi akhir buat sang Antagonis Utama!

see you next bab 18

jangan lupa like dan komen jika suka cerita ini

1
PengGeng EN SifHa
kenapa si shamena shena nanana di juluki CEWEK TRANSMIGRAN thoor ?

dr deoaj baca agak bingung..
bukannya yang tau dia trans hanya si lajgit..kenzo & 1 nya lupan tadi namanya ?
PengGeng EN SifHa
alur cerita yg sulit dijabarkan,akan tetapi sangat seru dimana jiwa muda yg penuh tantangan...dimana dunia nyata saja sudah seru & ini dunia fana + seru lagi dengan logika yg begitu badas.
PengGeng EN SifHa
gedebak gedebig dar der dor kembang api to raa ??🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!