NovelToon NovelToon
Where Your Heart Stays

Where Your Heart Stays

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:97
Nilai: 5
Nama Author: Kiara L

Seo Tae-jun telah hidup selama 34 tahun dengan keyakinan bahwa cinta hanya membuat seseorang lemah.
Han Ji-eun justru hidup dengan keyakinan sebaliknya.
Bagi Ji-eun, kehilangan orang yang dicintai memang menyakitkan, tetapi itu bukan alasan untuk berhenti mencintai.
Pertemuan mereka dimulai dari hubungan profesional.
Tae-jun adalah pewaris sekaligus pemegang kendali jaringan hotel Seo Group.
Ji-eun adalah manager hotel yang telah bekerja keras selama lima tahun untuk mendapatkan posisinya.
Tae-jun awalnya hanya tertarik pada keberanian Ji-eun.
Namun perhatian itu berubah menjadi ketertarikan.
Ketertarikan berubah menjadi kebutuhan.
Dan kebutuhan perlahan berubah menjadi cinta yang membuat Tae-jun mempertanyakan seluruh hidupnya.
Masalahnya, keluarga Seo menyimpan rahasia yang berkaitan dengan kematian orang tua Ji-eun.

Semakin dekat mereka, semakin besar kemungkinan cinta mereka menghancurkan keluarga Tae-jun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiara L, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Seo Tae-jun mulai menyadari sesuatu yang selama ini berusaha keras ia abaikan. Rasa tertariknya pada Han Ji-eun bukan lagi sekadar rasa nyaman atau kekaguman biasa pada bawahan yang cekatan. Ia benar-benar menyukai perempuan itu.

Kesadaran itu datang perlahan, menyusup di antara rutinitas harian yang padat. Entah sejak kapan, detail-detail kecil tentang Ji-eun tersimpan begitu jernih di kepalanya, cara perempuan itu menyesap kopinya, intonasi suaranya saat menyapa staf lain, hingga kebiasaannya merapikan rambut ke belakang telinga saat fokus bekerja. Tae-jun bahkan mulai mendapati dirinya kerap melintasi lobi utama hanya untuk memastikan apakah Ji-eun sudah tiba di kantor.

Selama 34 tahun hidupnya, Tae-jun tidak pernah benar-benar takut pada perasaan. Ia hanya menganggap cinta sebagai variabel tak terduga yang menyita waktu dan merusak logika. Namun kini, kontrol yang selalu ia banggakan itu perlahan mengikis. Masalahnya, ia memilih diam. Ada ketakutan samar bahwa jika ia melangkah terlalu cepat, Ji-eun justru akan menjauh dan batas profesional di antara mereka akan hancur.

Minggu-minggu berlalu dengan tenang, sampai suatu pagi situasi itu berubah. Saat sedang melakukan inspeksi rutin di lantai satu, langkah Tae-jun terhenti beberapa meter dari meja resepsionis. Ji-eun sedang berdiri di sana bersama Kang Min-ho, manajer dari divisi pengembangan bisnis. Min-ho tertawa lebar sambil menyerahkan sebuah berkas, dan Ji-eun menyambutnya dengan terkekeh kecil, sebuah tawa lepas yang jarang Tae-jun lihat saat perempuan itu berada di dekatnya.

Tidak ada yang salah dengan pemandangan itu. Mereka hanya dua rekan kerja yang berdiskusi. Namun, ada denyut asing yang tidak nyaman menjalar di dada Tae-jun.

"Pak Direktur?" tegur staf yang berjalan di sampingnya.

Tae-jun tersadar, mengalihkan pandangannya dengan susah payah. "Ya? Lanjut ke restoran."

Sepanjang sisa hari itu, pikiran Tae-jun tidak fokus. Rasa tidak nyaman yang awalnya kecil itu mulai membesar seiring berjalannya waktu.

Beberapa hari kemudian, dalam rapat evaluasi mingguan, nama Kang Min-ho kembali mencuat.

"Untuk proyek kerja sama dengan Hanseong Media bulan depan, Manajer Kang akan menjadi penanggung jawab utama," puji salah satu kepala divisi.

Tae-jun mendongak dari dokumennya. "Manajer Kang?"

"Benar, Pak. Dia yang memegang komunikasi awal dengan klien."

Tae-jun mengangguk pelan, menyandarkan tubuhnya ke kursi. Jarinya mengetuk permukaan meja dengan irama teratur. "Alihkan proyek itu ke manajer lain."

Suasana ruangan mendadak hening. Para peserta rapat saling pandang.

"Maaf, Pak? Tapi Manajer Kang sudah menyiapkan drafnya sejak bulan lalu..."

"Beban kerjanya terlalu padat," potong Tae-jun dengan nada datar tanpa nada kompromi. "Saya tidak ingin fokusnya terpecah dan berdampak pada proyek investasi utama. Serahkan ke tim lain."

Tidak ada yang berani membantah. Namun ketika rapat usai dan peserta mulai membubarkan diri, Tae-jun berdiam diri di kursinya. Rasa kesal pada dirinya sendiri mulai bermunculan. Ia tahu betul alasan di balik keputusannya, dan ia membenci kenyataan bahwa ia baru saja bersikap tidak profesional hanya karena cemburu.

Sikap Tae-jun tidak berhenti di sana. Dalam dua minggu berikutnya, perubahan itu makin terasa, terutama bagi Ji-eun.

Tiba-tiba saja, jadwal Min-ho menjadi sangat padat dengan tugas-tugas luar kantor. Setiap kali Min-ho terlihat mampir ke area kerja Ji-eun untuk sekadar berbincang ringan, tidak sampai sepuluh menit kemudian panggilan dari ruang direktur akan datang.

Awalnya Ji-eun mengira itu hanya kebetulan. Namun, pola yang berulang itu mulai terasa menggelikan.

Puncaknya terjadi pada suatu sore di dalam lift. Setelah mengantar berkas ke lantai atas, Ji-eun mendapati Tae-jun masuk ke dalam lift yang sama. Hanya ada mereka berdua. Keheningan yang canggung menyelimuti kubus kaca itu saat lift bergerak turun perlahan.

Ji-eun melirik pantulan Tae-jun di dinding lift. Pria itu berdiri tegap dengan wajah datar formalnya, namun jemarinya tampak bertaut agak erat.

"Pak Direktur," panggil Ji-eun memecah keheningan.

"Ya?" Tae-jun merespons tanpa menoleh.

"Apakah ada masalah dengan kinerja Manajer Kang akhir-akhir ini?"

Tae-jun diam sejenak. "Tidak. Kinerjanya baik."

"Lalu kenapa Anda sering sekali memindahkannya ke proyek luar dan memanggilnya di jam-jam yang tidak menentu?"

"Aku hanya melakukan penataan efisiensi kerja," jawab Tae-jun kaku, kalimat yang terdengar sangat formal dan terlalu cepat diucapkan.

Ji-eun menggigit bibirnya, menahan senyum yang nyaris terlepas. Penataan efisiensi kerja.

Pintu lift terbuka di lantai dasar. Ji-eun melangkah keluar lebih dulu, lalu berbalik tepat sebelum pintu lift kembali tertutup. Dengan binar jenaka di matanya, ia bertanya pelan, "Direktur Seo... Anda sedang cemburu, ya?"

Wajah Tae-jun seketika membeku. Sebelum pria itu sempat menyusun kata-kata untuk membela diri, Ji-eun sudah tersenyum tipis. "Selamat malam, Pak."

Pintu lift tertutup rapat. Di dalam lift yang kembali bergerak, Tae-jun memejamkan mata erat-erat dan menyapu wajahnya dengan telapak tangan. Ia menghela napas pasrah. Dia tahu.

Kejadian di lift membuat dinamika di antara mereka berubah samar. Ji-eun tidak lagi bersikap seformal dulu, sementara Tae-jun menjadi jauh lebih serba salah.

Beberapa hari kemudian, saat jam makan siang, Ji-eun sengaja duduk di meja restoran kantor bersama Min-ho. Bukan untuk memanas-manasi, melainkan karena rasa ingin tahu yang tak terbendung.

Dan perkiraannya tepat. Tidak sampai lima belas menit, sosok Tae-jun melangkah masuk ke restoran. Tatapan tajam pria itu langsung mengunci posisi meja mereka.

Tae-jun berjalan menghampiri dengan langkah tenang yang dibuat-buat. "Manajer Han."

Ji-eun mendongak dari piringnya. "Ya, Pak?"

"Selesai makan siang, tolong ke ruang saya. Ada revisi laporan kuartal yang perlu diperiksa ulang."

"Baik, Pak."

Tae-jun melirik Min-ho sebentar sebelum berbalik pergi. Ji-eun menunduk dalam-dalam, bahunya berguncang halus menahan tawa, membuat Min-ho menatapnya bingung.

Sore harinya, Ji-eun mengetuk pintu ruang kerja direktur. Saat melangkah masuk, ia menemukan Tae-jun berdiri di dekat jendela besar yang menatap pemandangan kota.

"Anda memanggil saya, Pak?"

Tae-jun berbalik, menyerahkan sebuah map di mejanya. "Ini. Periksa bagian analisis risikonya."

Ji-eun menerima berkas itu dan membukanya. "Laporan ini sudah disetujui dua hari yang lalu, Pak."

Tae-jun diam, enggan menatap langsung mata Ji-eun.

Ji-eun melangkah mendekati meja, meletakkan kembali berkas tersebut. Senyum kecil yang hangat terukir di bibirnya. "Anda benar-benar cemburu pada Manajer Kang?"

"Aku hanya memastikan pekerjaan berjalan baik," kilah Tae-jun, mencoba mempertahankan wibawanya meski suaranya terdengar kurang meyakinkan.

"Padahal Manajer Kang cuma membahas soal resep katering untuk acara kantor minggu depan," gumam Ji-eun pelan.

Tae-jun tertegun. "Apa?"

"Waktu di restoran tadi, kami cuma bahas katering," ulang Ji-eun. Ia menatap Tae-jun lekat-lekat. "Jangan terlalu keras pada Manajer Kang, Pak. Dan... Anda tidak perlu mencari-cari alasan laporan cuma untuk memanggil saya ke sini."

Atmosfer kaku di ruangan itu perlahan menguap. Tae-jun menghela napas panjang, akhirnya menyerah untuk bersikap formal. Ia menyandarkan tubuhnya di tepi meja, menatap Ji-eun dengan binar lelah yang jujur.

"Kau senang sekali melihatku seperti ini, ya?" tanya Tae-jun pelan.

Rona merah tipis muncul di pipi Ji-eun usai menyuarakan kalimat itu. Ia berdeham, mencoba menguasai diri. "Saya permisi kembali ke meja kerja dulu, Pak."

Ji-eun berbalik menuju pintu. Namun baru beberapa langkah, suara Tae-jun kembali menghentikannya.

"Ji-eun-a."

Ji-eun menoleh. Tae-jun menatapnya hangat, tatapan penuh perasaan yang kini tak lagi berusaha ia sembunyikan di balik topeng atasan yang dingin. Ada begitu banyak hal yang ingin Tae-jun sampaikan saat itu juga, namun ia tahu hubungan ini tidak perlu terburu-buru.

"Terima kasih," ucap Tae-jun lembut. "Hati-hati jalan pulang nanti."

Ji-eun membalas senyuman itu dengan tulus. "Kau juga, Tae-jun-ssi."

Pintu ruangan tertutup. Tae-jun berdiri sendirian di ruangannya yang hening. Ia menggelengkan kepala pelan, lalu tersenyum kecil pada dirinya sendiri. Pengakuan resmi mungkin belum diucapkan hari ini, tetapi ia tahu, perjalanan mereka baru saja dimulai dengan alur yang tepat.

...****************...

1
Bintang star_nurul22
Semangat author
Kiara L: terimakasih☺️🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!