NovelToon NovelToon
Sebelum Aku Pergi

Sebelum Aku Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Pernikahan Kilat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Sanayaa Irany

Aku membencinya begitu aku tahu dia seorang janda! Tapi, seiring berjalannya waktu, dia mengubah kebencian itu jadi cinta yang luar biasa. Saat cinta hadir ditengah-tengah kami. Suami pertama nya yang kata nya hangus terbakar saat kecelakaan dulu, kembali dengan sehat walafiat. Yang paling membuat dada ku sakit, ternyata selama ini dia...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sanayaa Irany, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17

Di dalam kamar rumah Arya, layar ponsel Gendis menampilkan tayangan ulang berita skandal yang melilit nama Arya dan Gea. Sorot matanya datar menatap potret pria yang berstatus suaminya itu merengkuh wanita lain di tempat umum.

Tidak ada derai air mata, tidak ada keretakan hati yang mendominasi. Namun, di dalam dadanya, ada sebersit rasa ganjil yang tak kasatmata, perasaan asing seperti ada sesuatu yang terenggut perlahan. Bagaimanapun dingin dan kakunya hubungan pernikahan mereka, pria itu tetap terikat pernikahan dengannya secara agama. Sungguh ironis dan menggelikan rasanya menyadari bahwa pria yang berstatus suaminya akan menikahi wanita lain secara resmi di hadapan publik.

Gendis menarik napas panjang, lalu membuangnya kasar ke udara seolah ingin mengikis sesak yang tersisa.

Brak!

Pintu kamar mendadak terdorong tanpa ada ketukan sebelumnya. Arya melangkah masuk dengan setelan jas yang sudah melonggar dan wajah yang tertekuk gusar.

Ia menyapu pandangan ke sekeliling kamar sebelum matanya tertuju lurus pada Gendis yang masih memegang ponselnya. Arya berjalan mendekat dengan langkah lebar, menatap wanita itu dengan raut yang tak bisa dijelaskan, seolah siap menghadapi amukan atau tangisan histeris dari istri pertamanya.

Namun, yang ia dapati hanyalah tatapan tenang dan dingin dari Gendis. Tidak ada cemburu, seperti istri pada umumnya. Ya... Dia tau sejauh apa hubungan pernikahan mereka. Tapi entah kenapa Arya merasa bersalah sudah membuat keputusan tanpa bertanya dulu pada wanita itu.

"Kamu sudah lihat beritanya?" akhirnya Arya membuka suara, terdengar berat dan datar, mencoba bersikap setenang mungkin.

Gendis perlahan meletakkan ponselnya di atas meja nakas, lalu menatap Arya tanpa gentar sedikit pun. "Sudah. Beritanya cukup meriah untuk ukuran skandal seorang CEO dan aktris muda."

Jawaban santai dari Gendis justru membuat alis Arya bertaut rapat. Ada rasa tidak nyaman yang mendadak menyenggol dadanya melihat ketenangan wanita di hadapannya.

"Kalau kamu sudah dengar, aku tidak perlu berbelit-belit lagi," ujar Arya seraya bersedekap dada, memasang mode arogannya. "Aku akan mengadakan konferensi pers dalam waktu dekat untuk mengumumkan pernikahanku dengan Gea. Aku harus bertanggung jawab atas nama baiknya dan reputasi keluarga Bratadikara."

Gendis mengulas senyum tipis, sebuah senyum yang terasa begitu menyindir bagi Arya. Mendadak ia teringat kembali dengan kejadian naas malam itu. Mereka di paksa menikah karena salah paham. Tapi, Arya barusan. Rasanya mustahil kalau salah paham. Mereka memang melakukannya dengan sadar.

"Tanggung jawab?" bisik Gendis pelan, menatap lurus ke dalam manik mata pria itu. "Atau memang itu alasan yang sengaja Anda tunggu-tunggu selama ini?"

Arya mengepalkan tangannya rapat-rapat, tersindir oleh kalimat tajam itu. "Jaga ucapanmu, Gendis! Ini murni musibah. Gea terguncang hebat dan aku tidak punya pilihan lain."

"Ya, kau memang tidak punya pilihan lain,sama seperti saat kita terpojok malam itu. Tapi sudahlah, itu sudah jadi keputusan kalian berdua. Aku hanya orang asing di rumah ini. Lambat laun aku juga akan pergi."

Arya tertampar, rupanya bukan hanya dirinya yang teringat kejadian malam itu. Gendis juga mengingatnya.

Wanita itu memiringkan kepalanya sedikit, menatap Arya dengan raut bertanya yang sangat tenang. "Menikahi wanita lain secara resmi, memang bukan urusanku, tapi rasanya hal itu tidak ada di dalam daftar kontrak pernikahan kita, Pak."

Arya terdiam sejenak, lidahnya mendadak terasa kelu.

"Lalu bagaimana dengan kelanjutan kontrak itu?" lanjut Gendis lugas. "Apakah setelah Pak Arya menikahi Mba Gea secara resmi, saya juga harus bersiap-siap untuk keluar dari rumah ini?"

"Jangan!" potong Arya cepat, suaranya terdengar tegas namun menyimpan dorongan ego yang aneh. Dia tidak ingin Gendis pergi dari sana. "Kontrak kita tetap berjalan sesuai kesepakatan awal. Masih ada sisa waktu sebelas bulan lagi. Kamu baru boleh pergi dari rumah ini setelah masa kontrak sebelas bulan itu selesai. Tapi, setelah pernikahan ku dengan Gea nanti selesai, aku akan membawa nya kesini untuk tinggal denganku. Kau tidak boleh keberatan dengan itu, Gendis."

Gendis menatap Arya selama beberapa detik. Tak ada bantahan, tak ada emosi yang meluap. Ia hanya mengangguk pelan menerima keputusan itu.

"Baiklah, itu artinya ada draft baru di daftar kontrak kita. Kalau begitu, aku pun ingin kau tidak ikut campur dengan segala urusan ku. Yang tau pernikahan kita hanya Gea. Tolong, jika di luaran sana kita bertemu untuk alasan profesional kerja. Bersikap lah seperti atasanku, bukan suami!" sahut Gendis singkat dan mantap.

Arya terpaku di tempatnya. Ia mengira akan ada perdebatan sengit, tuduhan, atau setidaknya penolakan dari Gendis. Namun kepatuhan yang dingin dan tanpa beban dari wanita itu justru membuat dadanya terasa aneh, seolah ada jarak tak bertepi yang kini membentang makin lebar di antara mereka.

"Aku setuju!"

Setelah Arya melangkah keluar dan menutup pintu kamar dengan rapat, keheningan kembali menguasai ruangan. Gendis membuang napas perlahan, mencoba menetralisir rasa kaku yang ditinggalkan pria itu.

Denting notifikasi ponsel di atas meja nakas memecah kesunyian. Nama Alex tertera di layar.

[Gendis, aku baru lihat berita skandal Arya dan Gea. Kamu baik-baik saja? Gimana perasaan kamu sekarang?]

Gendis menatap diam sejenak sebelum mulutnya mengeluarkan suara dengan jujur.

[Apa yang perlu aku risaukan, kak? Aku tidak punya pilihan lain selain bertahan di rumah ini selama 11 bulan lagi.]

[Jangan bodoh, Gendis! Kau punya rumah yang tak kalah besar dari rumah Arya. Untuk apa kamu bertahan di sana? Apa kau mau dimadu? Bagaimanapun, statusmu itu tetap istri pertamanya!]

Gendis menatap layar ponselnya, lalu mengulas senyum tipis yang sarat akan kepasrahan namun penuh ketegangan luar biasa.

[Apa arti semua itu, Kak? Di mata Arya, aku hanya istri kontraknya. Dan di mataku... pria itu bukan siapa-siapa.]

Di seberang sana, Alex yang mendengar balasan Gendis dengan napas tertahan. Ia bisa merasakan betapa dingin dan mantapnya keputusan adik ketemu gedenya itu. Gendis tidak sedang terluka, wanita itu hanya sedang menunggu waktu yang tepat untuk pergi dengan kepala tegak.

Bersambung...

1
Nar Sih
semoga gk berhasil niat jht mu gea🤣
Nar Sih
terkejutt kan kmu gea ,org yg kmu hina dgn sombong nya kmu ternyata dia lah yg berkuasa atas nasib mu
Nar Sih
wah...👍gendis kta,,mu buat arya
Nar Sih
nah lo arya kesindir ngk kmu dgn kta,,gendis
Nar Sih
sebaiknya kmu pergi aja gendis,dan bnr kta alex
Nar Sih
bnr yg dikatakan ibu mu arya kmu pasti nyeseell
Nar Sih
smoga sgra terungkap kasus kecelakaan alm suami mu ya gendis
Nar Sih
gendis sakit parah ,semoga sgra sembuh
Nar Sih
wah...kta,,gendis mantap bikin arya gk bisa ngomong
Nar Sih
kini kmu nyesell arya🤣
Nar Sih
seperti nya gendhis sedang sakit ya kak ,moga ngk parah
Nar Sih
semagat gendhis💪
Nar Sih
maaf kak bru bisa lanjut bca ,sibuk dunia nyata🙏
Nar Sih
lanjutt kak
Nar Sih
hadir kak ,udah lama menghilang kakak hadir lgi karya terbaru nya👍
Sanayaa Irany: hihihi iya kak, doain lancar lancar nulis yang ini ya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!