Di sekolah, Rendra Adijaya adalah pangeran sempurna yang dingin dan tak tersentuh. Namun di balik pintu kamar, dia hanyalah cowok anxious kronis yang menyembah seorang admin Discord anonim sebagai "pawang mental"-nya. Siapa sangka, admin gaming tempatnya mengemis semangat setiap malam itu ternyata Naya, cewek cuek bermulut tajam yang duduk di pojok kelasnya dan paling anti dengan cowok nyata.
Begitu rahasia terbongkar, saklar obsesi Rendra langsung menyala. Topeng pangeran dinginnya pecah total saat dia nekat menyudutkan Naya di kelas kosong sambil memelas gila, "Tolong jangan block gue... gue rela beliin angkot jalur sekolah ini asal lu tetep mau jadi pawang gue!" Mampukah Naya bertahan menghadapi tingkah bucin akut sang idola sekolah yang aslinya serapuh kerupuk kesiram kuah soto?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TCN_Luna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: Jebakan Lapangan dan Tantangan Dimas
Matahari siang itu terik sekali, membakar permukaan lapangan semen SMA Internasional Garudatama tanpa ampun. Bagi Rendra Adijaya, panasnya matahari sama sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan hawa panas dari ratusan pasang mata manusia asli yang saat ini sedang berkumpul di tribun.
Jam olahraga gabungan antara kelas XI-A dan kelas XII-IPS resmi dimulai. Suasana lapangan sangat bising oleh teriakan murid-murid yang sibuk melakukan pemanasan.
Rendra berdiri kaku di pinggir lapangan dengan kaos olahraga sekolah yang terpasang rapi, membuat proporsi tubuh atletisnya terlihat sangat menonjol. Wajah blasterannya dipasang sedatar tembok benteng, mencoba sekuat tenaga menutupi jiwanya yang saat ini sedang menangis bombay di dalam dada.
“Tuhan... kenapa makhluk hidup di dunia nyata sebanyak ini sih?! Mana cewek-cewek kelas sebelah pada ngeliatin gue sambil bisik-bisik lagi! Gue mau pingsan aja, tolong bawa gue pulang ke kamar!” jerit Rendra histeris dalam batin wibu cemasnya. Tangannya di dalam saku celana olahraga meremas pulpen mekanik hitam keramatnya sampai terdengar bunyi plastik retak tipis.
"Ren, lo dengerin gue kagak sih?" Aldi menyenggol bahu Rendra, membuat cowok kaku itu tersentak kecil. "Tuh, si Dimas dari tadi udah ngeliatin lo kayak macan kelaparan. Jangan melamun lo, ntar mati konyol."
Rendra tidak sempat membalas ucapan Aldi. Dari tengah lapangan basket, sesosok cowok bertubuh tinggi besar dengan otot lengan yang matang melangkah lebar menghampiri barisan kelas XI-A.
Itu Dimas, sang kapten basket sekolah yang memegang sebuah bola basket di tangan kanannya. Langkah kakinya memancarkan aura arogansi senioritas yang sangat pekat, membuat murid-murid di sekitarnya langsung otomatis mundur memberikan jalan.
Wusss!
Tanpa ada angin atau hujan, Dimas mendadak melemparkan bola basket di tangannya dengan sangat keras dan cepat ke arah wajah Rendra dari jarak dekat. Lemparan itu sengaja dilakukan untuk mempermalukan Rendra di depan umum agar cowok kaku itu terkena hantaman telak di hidungnya.
Murid-murid di tribun langsung memekik tertahan karena syok. Keysha dan geng cewek gosipnya bahkan sampai menutup mata mereka ketakutan.
Plak!
Suara benturan kulit bola dengan telapak tangan terdengar sangat nyaring menggema di lapangan terbuka tersebut. Secara ajaib, tangan kanan Rendra bergerak dengan refleks kilat khas pro-player e-sports top global, menangkap bola basket hantaman Dimas tepat beberapa senti di depan hidung mancungnya.
Wajah Rendra tetap sedatar keramik rumah sakit, tanpa ada kedipan mata sedikit pun. Pandangan matanya yang dingin menatap lurus ke arah manik mata Dimas yang kini tampak terkejut karena serangannya berhasil digagalkan dengan sangat mudah.
Padahal, di balik topeng jagonya itu, Rendra sebenarnya sudah tremor tingkat dewa sampai ke ulu hati.
“ANJIRRR! JANTUNG GUE HAMPIR COPOT DI TEMPAT! Untung refleks macro gaming gue kepake di dunia nyata! Kalau kagak, hidung operasi plastik fiktif gue udah patah dan berdarah-darah di depan ratusan mata manusia asli!” jerit Rendra histeris di dalam batinnya yang sedang konser musik cadas penuh ketakutan.
Dimas berdehem pelan, mencoba menetralkan rasa terkejutnya, lalu melangkah maju satu langkah dengan senyum meremehkan yang terukir di wajah rupawannya. Dia sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar jelas oleh seluruh murid yang ada di lapangan dan tribun.
"Heh, Rendra Adijaya. Pangeran sekolah yang katanya pinter dan serba bisa," panggil Dimas dengan nada menantang yang teramat sangat lantang.
"Gue liat kelakuan lo akhir-akhir ini makin songong ya di sekolah. Pake acara tebar pesona bawa angkot mewah segala demi narik perhatian junior," lanjut Dimas sambil menunjuk ke arah tribun tempat Naya sedang duduk.
Rendra tetap diam mematung, mendekap bola basket di dada bidangnya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun untuk menjaga wibawa palsunya.
"Gue ga suka gaya lo yang sok keren itu," tantang Dimas lagi, menepuk dada Rendra dengan ujung jarinya secara kasar. "Hari ini, di depan satu angkatan yang lagi nonton, gue tantang lo duel one-on-one basket lima menit. Berani ga lo?!"
Suasana lapangan langsung riuh rendah oleh sorak-sorai murid-murid yang haus akan drama sekolah.
"Wah, Rendra ditantang Kapten Basket!"
"Gila, taruhannya apa nih?!"
"Dimas sengaja banget mau ngehajar Rendra fisik!"
Dimas tersenyum puas mendengar kehebohan sekitarnya, merasa di atas angin. "Klausul taruhannya simpel. Kalau lo menang, gue ga bakal pernah ganggu atau ngajak Naya pulang bareng lagi seumur hidup lo di sekolah ini. Tapi... kalau lo kalah dan pecundang..."
Dimas sengaja menggantung kalimatnya, lalu menunjuk wajah Rendra dengan pandangan menghina. "...lo harus stop caper bawa-bawa angkot sampah lo itu ke sekolah, dan lo wajib sujud minta maaf di depan kaki gue sekarang juga!"
Mendengar taruhan fisik dan sosial yang teramat sangat mengerikan itu, seluruh sendi di tubuh Rendra mendadak lemas tak bertulang laksana jeli yang meleleh. Otaknya mendadak mengalami blank total, pandangannya berputar, dan lututnya sudah gemetaran parah siap untuk ambruk ke tanah.
“Gak... gak bisa... Gue ga bisa main basket asli! Gue cuma bisa main game basket di PC! Mana ditonton ratusan mata manusia asli kayak gini lagi! Gue mau kabur ke toilet sekarang juga! Persetan sama angkot, gue mau pulang ke kamar!” batin Rendra menjerit ketakutan dalam mode panic attack brutal skala makro.
Di tribun penonton barisan tengah, Kanaya Putri sedang duduk santai sambil menopang dagunya dengan satu tangan. Dia mengunyah permen karet stroberinya dengan tempo lambat, menyaksikan drama lapangan yang melibatkan budak bucin rahasianya itu dengan pandangan malas yang teramat sangat lekat.
Naya menyadari betul bahwa tubuh tinggi Rendra saat ini sudah mulai kaku kaku laksana manekin yang semen pondasinya mau retak. Dia tahu mental tempe wibu cemas Rendra sedang berada di ujung tanduk kehancuran sosial.
Naya mendengus pelan, lalu berdiri dari duduknya. Dia melangkah ke pembatas tribun, menarik napas panjang, lalu berteriak dengan suara malasnya yang cempreng namun terdengar teramat sangat jelas memotong keributan seisi lapangan lapangan.
"Heh, Rendra! Kunyuk kaku!" teriak Naya lantang tanpa sensor.
Rendra otomatis menolehkan kepalanya ke arah tribun dengan gerakan patah-patah laksana robot kekurangan pelumas.
"Dengerin gue ya, King_Ren!" lanjut Naya, sengaja menekankan nama akun Discord Rendra dengan nada mengintimidasi yang teramat sangat kejam.
"Kalau sampai siang ini lo kalah fisik di lapangan dan bikin malu nama besar server kita di depan jamet basket itu... gue mastiin detik ini juga akun Discord lo gue klik tombol ban permanen tanpa ada opsi banding seumur hidup! Paham lo?!" ancam Naya dari atas tribun sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada dengan gaya angkuh.
DEGG!!!
Ancaman maut mengenai "kematian digital" dan kehilangan hak akses menuju satu-satunya matahari dan pawang mentalnya langsung menghantam tempurung kepala Rendra laksana hantaman gada raksasa.
Detik itu juga, seluruh rasa takut panik sosial, tremor tangan, dan kaki lemas wibu cemasnya menguap lenyap tanpa sisa dari seluruh sel tubuhnya dalam waktu kurang dari satu detik. Saklar di dalam otak Rendra Adijaya yang jaringannya sudah konslet permanen itu mendadak bergeser kembali ke mode dark dan intens tingkat tertinggi.
Aura di sekitar tubuh Rendra mendadak berubah menjadi sangat dingin, pekat, dan mematikan, membuat Aldi yang berdiri di dekatnya langsung merinding ketakutan dan mundur tiga langkah secara spontan.
Rendra perlahan menurunkan bola basket di tangannya ke atas permukaan semen lapangan. Wajah blasterannya tidak lagi memancarkan ketakutan, melainkan sebuah ketegangan intens yang teramat sangat dingin. Sepasang mata hitam legam miliknya mendadak berkilat bersinar di bawah terik matahari siang, memancarkan fokus analitis yang mutlak.
Insting pro-player e-sports top global nomor satu miliknya resmi keluar ke dunia nyata. Dia menatap lurus ke arah tubuh Dimas yang berdiri di depannya.
Di dalam pandangan analitis otak Rendra yang sudah geser, pergerakan tubuh Dimas, jarak lapangan, hingga pantulan bola basket tidak lagi terlihat sebagai aktivitas fisik manusia biasa—melainkan barisan coding, pattern, dan algoritma game yang bergerak dalam tempo yang teramat sangat lambat.
"Klausul taruhan lo... resmi gue kunci, Senior," ucap Rendra dengan suara yang teramat sangat rendah, berat, dalam, dan sedingin es batu, membuat bulu kuduk Dimas mendadak merinding disko tanpa sebab di tengah lapangan yang panas.
Rendra mulai memantulkan bola basket ke tanah dengan satu tangan, siap mengeksekusi bantaian analitis pertamanya di dunia nyata demi melindungi eksistensi akun Discord-nya dari kehancuran total.