Luna berjalan menyusuri jalanan yang sepi di malam yang semakin pekat dan dari jauh dia melihat sosok anak kecil berlari kencang dengan napas tersengal-sengal dan di belakang gadis kecil itu terlihat seorang pria bertubuh tinggi berkulit hitam dengan wajah layaknya seorang penjahat, pria itu berlari mengejar gadis kecil itu sambil mengarahkan pistolnya ke udara memberi peringatan keras pada gadis kecil yang semakin ketakutan itu.
Merasa ada yang tidak beres dengan sigap Luna meraih tubuh mungil gadis kecil itu dan membawanya bersembunyi di dalam sebuah gang sempit sambil menutup mulut gadis kecil itu agar tidak bersuara.
Luna menatap gadis kecil yang ketakutan itu sambil meletakkan jari telunjuknya ke mulutnya memberi isyarat, gadis kecil itu menganggukkan kepalanya menurut.
Luna berhasil menyelamatkan gadis kecil itu dari kejaran para penjahat.
yuk ikuti kelanjutannya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.17 Sisi lain sang mafia
Di mansion mewah di dalam kamar Luna tiba-tiba saja Emily datang ke kamarnya dan merengek meminta Luna untuk menemaninya tidur malam ini.
"Mami Luna...," Emily mengetuk pintu kamar Luna yang tertutup itu, Luna yang masih belum tidur dan sedang membaca buku di atas tempat tidur mewahnya itu segera menoleh ke arah pintu kamar utama itu saat mendengar Emily memanggil namanya.
Luna bangkit dari atas tempat tidur dan berjalan ke arah pintu, pintu kamar terbuka dan dia melihat Emily kecil berdiri di ambang pintu kamar sambil memeluk boneka beruang kesayangannya "Emily sayang, kok belum tidur," Luna berjongkok memegang kedua lengan Emily. Emily menggelengkan kepalanya sambil menatap Luna, " Kenapa gak tidur, sayang...?" tanya Luna sekali lagi pada Emily. "Emily gak bisa tidur mami Luna," ucapnya pada Luna.
Luna tersenyum mengusap lembut rambut keriting Emily "Kenapa Emily gak bisa tidur sayang?" tanya Luna.
"Emily mau tidur kalau di temani sama mami Luna," ucap Emily sambil bergelayut manja pada Luna.
"Emmm....boleh sayang, ayo kita ke kamar Emily," Luna menggandeng tangan Emily dan berjalan menuju ke kamar Emily yang terletak tidak jauh dari kamar utama.
Luna dan Emily masuk ke dalam kamar yang bernuansa anak-anak itu, Dengan segera Emily naik ke atas ranjang tidurnya sementara Luna menyandarkan badannya di tumpukan bantal di samping Emily "Mami Luna," panggil emily pada Luna. "Ya sayang," Luna menoleh pada Emily yang berbaring di sampingnya itu.
"Emily mau di bacain buku dongeng, mami Luna,"'ucap Emily pada Luna.
"Iya sayang," kemudian Luna meraih buku cerita yang ada di atas nakas di samping tempat tidur Emily.
Luna sudah bersiap membacakan buku dongeng untuk Emily, Emily menggeser tubuhnya mendekati Luna dan Luna melingkarkan lengannya memeluk pundak Emily.
"Pada suatu hari di sebuah hutan hiduplah seorang putri yang sangat cantik jelita, dia di temani oleh tujuh orang kurcaci yang sangat setia kepadanya, dan suatu hari tibalah sebuah petaka yang mencelakai sang putri, petaka itu terjadi saat seorang nenek sihir yang mengincar sang putri menyamar menjadi seorang nenek baik dan meminta pertolongan pada putri dan putri pun menolong nenek sihir itu dan sebagai imbalannya sang putri di beri sebuah apel merah oleh nenek sihir yang sudah di beri racun sebelumnya dan putri pun memakan apel merah itu dan akhirnya....," Luna menghentikan membaca dongengnya dia melihat Emily yang sepertinya sudah tertidur, Luna meletakkan buku dongeng itu kembali ke nakas di samping tempat tidur Emily kemudian Luna menyelimuti tubuh Emily dengan selimut hangat yang ada di atas kasurnya itu. Luna akhirnya tertidur juga sambil memeluk Emily.
Di tengah malam yang dingin, Luna terbangun untuk mengambilkan air hangat untuk Emily. Saat melintasi koridor, ia melihat celah cahaya lampu dan mendengar berkas yang dikibas keras dari dalam ruang kerja Leon. Dari balik pintu yang sedikit terbuka, Luna melihat Leon yang tampak sangat lelah, memijat pelipisnya di tengah tumpukan dokumen dan luka memar baru di lengan kemejanya.
Secara tidak sengaja, Luna melihat Leon melangkah pelan keluar dari ruang kerja menuju kamar Emily. Luna memperhatikan dari kejauhan saat pria yang biasanya berwajah dingin dan kejam itu dengan sangat lembut membenarkan selimut Emily, mengecup dahi putri kecilnya, dan berbisik pelan memohon maaf karena tidak bisa memberikan kehidupan yang normal dan aman baginya.
Dengan perlahan Leon membuka pintu kamar Emily dan masuk ke dalam kamar itu, Leon berjalan mendekat ke arah tempat tidur dan saat sudah berada di sisi ranjang tidur itu sesaat Leon menatap putri kecilnya yang sedang tertidur lelap itu, dengan perlahan Leon menarik selimut Emily yang melorot lalu menutupkannya kembali ke tubuh Emily. Leon membungkukkan badannya mengecup dahi Emily "Maafkan papa sayang karena papa masih belum bisa membuatmu merasakan kehidupan yang normal seperti anak-anak yang lain, status papa ini membuat kamu selalu menjadi buronan musuh-musuh papa, tapi percayalah papa akan melakukan semua yang terbaik buat kamu dan papa janji suatu hari nanti papa akan memberikan kamu kehidupan yang normal dan aman," Leon mengusap lembut kepala Emily.
Luna yang sempat melihat itu semua dari celah pintu kamar Emily yang sedikit terbuka menjadi terharu, dia tidak mengira ternyata di balik sikap dingin Leon selama ini masih menyimpan sisi lembut dan rasa kasih sayang untuk putri semata wayangnya itu.
Dengan perlahan Leon melangkah keluar dari kamar Emily dan menutup kembali pintu kamar itu kemudian dia berjalan menyusuri koridor rumahnya.
Luna buru-buru masuk ke ruang dapur saat melihat Leon keluar dari kamar Emily dan karena merasa kasihan pada Leon Luna berinisiatif untuk membuatkan teh herbal hangat untuk Leon.
Leon terkejut saat menemukan Luna berdiri di dapur, sedang menyeduh teh herbal hangat. Saat Leon hendak kembali bersikap dingin dan formal, Luna memberanikan diri berbicara padanya "Tuan, ini saya buatkan teh herbal hangat buat Tuan," ucap Luna pada Leon sambil menyodorkan gelas yang berisi teh hangat buatannya itu pada Leon tanpa ragu.
Leon yang keheranan dengan sikap perhatian Luna dengan refleks menerima gelas dari tangan Luna itu "Terimakasih," ucap Leon datar dan duduk di sofa yang terletak tidak jauh dari ruang dapur itu.
Luna kemudian berjalan ke lemari obat dan mengambil kotak P3K lalu dia berjalan ke arah Leon yang sedang duduk di sofa di depan ruang dapur itu lagi-lagi Luna memberanikan diri untuk mengobati luka memar di lengan Leon.
"Tuan, tadi saya melihat lengan Tuan terluka akibat berkelahi dengan anak buah Bruno, saya akan mengobati lengan Tuan, Luna meraih lengan Leon perlahan "Permisi Tuan," ucapnya.
Leon terdiam dan tertegun membiarkan Luna mengobati lukanya dan tanpa banyak bicara Luna mulai mengobati luka di lengan Leon. Dengan hati-hati Luna menuangkan revanol untuk membersihkan luka itu kemudian meneteskan obat tetes ke atas selembar kain kasa dan kemudian menutupnya pada luka itu.
Leon yang sejak tadi diam memperhatikan Luna yang dengan cekatan mengobati lukanya akhirnya membuka suara juga "Kenapa kamu mau membuatkan aku teh hangat dan juga repot-repot mengobati lukaku ini?" tanya Leon pada Luna, Luna yang masih sibuk menutup luka itu dengan perban menjawab pertanyaan Leon "Saya merasa bersalah karena luka Tuan ini gara-gara menolong saya tadi," ucap Luna tanpa menatap pada Leon. Di bawah keheningan malam, ketegangan di antara mereka perlahan mencair.
Dalam momen singkat tersebut, Leon akhirnya sedikit membuka diri. Ia mengungkapkan bahwa semua tindakan tegas dan dunia kelam yang ia jalani semata-mata dilakukan demi melindungi keluarga dan warisan yang tersisa untuk Emily, bukan karena ia menikmati kekerasan. Luna tersadar bahwa di balik sosok mafia yang ditakuti semua orang, ada jiwa seorang ayah yang sangat kesepian dan memikul beban hidup yang begitu berat.
Luna kembali ke kamarnya, dinding pertahanan dan prasangka buruk Luna terhadap Leon runtuh sepenuhnya. Rasa takut yang dulu selalu menghantuinya kini berganti menjadi empati yang mendalam, menyadari bahwa hatinya mulai tergerak bukan lagi sekadar demi kontrak atau rasa kasihan pada Emily, melainkan untuk sosok Leon itu sendiri.