NovelToon NovelToon
KAMU ADALAH MEMPELAI KU

KAMU ADALAH MEMPELAI KU

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: AME author

Dibuang oleh keluarga, dikhianati oleh orang yang dicintai, dan merasa tidak memiliki siapa-siapa.

Laura mengira hidupnya telah berakhir.
Sampai seorang pria asing datang dan berkata.“Kamu adalah mempelai ku.”

Laura tidak tahu siapa pria itu.
Yang dia tahu, sejak pertemuan malam itu, hidupnya tak akan pernah sama lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30 : JEMPUTAN UNTUK MEMPELAI

Sore mulai menyelimuti kawasan kampus ketika kegiatan perkuliahan perlahan berakhir. Cahaya matahari yang sebelumnya cukup terik kini berubah menjadi lebih lembut, menyinari gedung-gedung fakultas dengan warna keemasan. Angin berembus pelan melewati halaman, membawa riuh rendah suara mahasiswa yang berbondong-bondong meninggalkan kelas.

Di salah satu koridor gedung fakultas, Laura berjalan keluar bersama beberapa teman seangkatan. Tas di pundaknya terasa cukup berat berisi laptop dan beberapa buku tebal. Wajahnya memancarkan pendar lelah setelah seharian bergelut dengan materi perkuliahan.

“Laura, untuk tugas kelompok minggu depan, bagian analisisnya mau kamu yang ambil atau aku?” tanya salah seorang temannya sambil menyejajarkan langkah.

Laura menoleh sebentar, lalu menyahut pelan, “Aku tidak masalah ambil bagian analisis. Nanti malam coba kukirimkan draf awalnya di grup, ya.”

“Wah, terima kasih banyak! Kamu memang bisa diandalkan,” puji temannya ceria.

Laura hanya mengulas senyum tipis. Meskipun mulutnya merespons pembicaraan sang teman, pikirannya sama sekali tidak tertambat pada perkuliahan. Sejak siang tadi, ada satu janji yang terus berputar di kepalanya.

Hero.

Pria itu sempat memberi pesan bahwa ia akan datang menjemputnya sore ini. Awalnya Laura mengira Hero hanya sekadar berbasah-basi untuk menemaninya. Namun, semakin mendekati jam pulang, rasa ragu di benak Laura berganti menjadi kepastian yang mendebarkan.

Begitu melangkah keluar ke halaman depan, langkah kaki Laura mendadak terhenti total.

Sebuah Porsche Panamera mewah berwarna hitam mengkilap terparkir tepat di area depan dekat gerbang utama. Kehadiran mobil itu tampak sangat mencolok di antara deretan kendaraan mahasiswa lainnya. Beberapa pasang mata pengunjung kampus mulai melirik curiga dan berbisik-bisik.

Laura mengenali kendaraan itu dengan sangat baik. “Dia... benar-benar datang,” gumam Laura lirih pada dirinya sendiri.

Belum sempat Laura mencerna keterkejutannya, pintu penumpang belakang terbuka. Seorang pria melangkah keluar dengan stelan jas formal hitam yang masih sangat rapi. Postur tubuhnya yang tinggi dan tegap membuat sosok Hero tampak dominan dan berwibawa di tengah kerumunan mahasiswa. Pria itu menebarkan pandangan tenang ke sekeliling, namun tatkala matanya menangkap sosok Laura, raut wajahnya yang semula dingin mendadak melunak.

Hero melangkah mantap menghampiri Laura.

Langkah kaki Hero yang berwibawa memicu desas-desus di antara para mahasiswa yang kebetulan lewat.

“Tunggu, bukankah itu Hero Valdren?” bisik seorang mahasiswi pada temannya di seberang jalan.

“Iya, betul! Pengusaha muda itu, kan? Kenapa dia bisa ada di kampus kita?” sahut teman di sampingnya terheran-heran.

Mendengar bisikan-bisikan yang kian riuh, Laura refleks menundukkan kepala. Ia sudah bisa membayangkan rumor seru apa yang akan beredar esok hari jika pria ini terus bertindak nekad seperti ini.

Saat sepatu kulit Hero berhenti tepat di hadapannya, Laura mendongak lalu mengulas senyum canggung. “Kamu benar-benar datang,” sapanya membuka suara.

Hero mengangguk santai, memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana. “Aku sudah berjanji akan menjemputmu. Kenapa kamu masih terlihat seakan baru melihat hantu?” tanyanya membalas gurauan.

Laura menghela napas kecil seraya membetulkan tali tasnya. “Aku kira kamu cuma asal bicara. Lagipula, bukankah pekerjaanmu di kantor sangat menumpuk?”

Tanpa meminta izin terlebih dahulu, Hero mengulurkan tangan dan mengambil alih beberapa buku tebal dari dekapan Laura. “Pekerjaan memang selalu ada,” jawab Hero sembari memindahkan beban buku itu ke lengannya sendiri. “Tapi jadwal bisa diatur. Dan menjemputmu sama sekali bukan hal yang sulit bagiku.”

Laura tertegun menatap wajah pria di hadapannya. Jawaban sederhana itu, ntah mengapa, berhasil menyusupkan kehangatan yang familiar ke dalam dadanya.

“Lalu bagaimana dengan urusan kantor?” tanya Laura menyambung percakapan sambil melangkah bersama menuju mobil.

“Sudah beres untuk hari ini,” sahut Hero santai. “bawahan ku masih di sana, mengurus sisa berkas yang tidak memerlukan tanda tanganku secara langsung.”

Laura mengernyitkan dahi, menatapnya penuh selidik. “Jangan bilang kalau kamu sengaja kabur dari kantor hanya demi menjemputku?”

Hero menghentikan langkahnya sebentar, menoleh pada Laura dengan senyum tipis yang penuh pesona. “Kalau aku memang kabur dari pekerjaan demi kamu, memangnya kenapa?” bisiknya menantang.

Pertanyaan itu sukses mengunci mulut Laura. dia membisu.

Hero kembali melangkah menuju mobil seraya melanjutkan perkataannya dengan nada hangat, “Aku sudah pernah bilang kepadamu, Laura. Selama hal itu berkaitan denganmu, aku akan selalu punya waktu.”

Laura hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala mendengar jawaban itu. “Kamu benar-benar terlalu berlebihan, Hero,” gumamnya seraya menyembunyikan rona merah di pipinya.

Hero meliriknya dengan kerlingan jenaka. “Aku hanya melakukan apa yang memang ingin kulakukan.”

Laura berniat mendebat, tetapi senyuman tulus di wajah pria itu meluluhkan niatnya. Akhirnya, Laura hanya pasrah mengekor di belakang Hero.

Setibanya di dekat mobil, Hero membukakan pintu belakang dengan gerakan sopan. Laura masuk dan mengambil tempat duduk, disusul oleh Hero yang duduk di sampingnya. Pintu mobil pun tertutup rapat, memblokir bisingnya suara dari luar.

Valen yang sudah bersiap di kursi pengemudi memutar tubuhnya ke belakang. “Tuan, apakah kita bisa langsung menuju rumah?” tanya Valen meminta arahan.

Hero hendak memberi instruksi, namun matanya terlebih dahulu bergulir menatap raut pucat Laura. “Kamu sudah makan siang?” tanya Hero tiba-tiba.

Laura tertegun sejenak sebelum akhirnya merespons dengan gelengan kepala pelan. “Belum.”

Seketika raut wajah Hero berubah tegang. “Belum makan sejak kapan?” cecarnya menuntut.

“Dari siang tadi,” jawab Laura jujur tanpa berani berbohong. “Tadi di kampus tugasnya menumpuk, jadi aku tidak sempat ke kantin.”

Hero menghela napas berat. Ia mengulurkan tangannya, meraih jemari Laura yang terasa agak dingin lalu menggenggamnya erat. “Kamu tidak boleh membiarkan dirimu seperti ini,” tegurnya penuh kekhawatiran. “Sesibuk apa pun jadwal kuliahmu, kesehatanmu tetap yang utama.”

Melihat raut cemas di wajah pria yang biasanya tampak tak tersentuh itu, Laura tidak bisa menahan senyum kecilnya. “Aku tidak apa-apa, Hero. Cuma terlambat makan sebentar.”

“Aku tidak peduli terlambat sebentar atau lama,” potong Hero tegas. “Aku tidak suka melihatmu menahan lapar hanya karena urusan tugas.”

Valen yang menyaksikan interaksi itu dari kaca spion tengah mengulas senyum tipis. “Kalau begitu, Tuan, sepertinya rute kita harus diubah,” sela Valen menengahi. “Nona Laura jelas butuh asupan makanan terlebih dahulu sebelum kita pulang.”

Hero mengangguk setuju pada saran asistennya. “Cari tempat makan yang tenang dan tidak terlalu ramai.”

“Baik, Tuan,” jawab Valen sigap lalu mulai menginjak pedal gas.

Laura menoleh ke arah Hero, memastikan. “Kita benar-benar tidak langsung pulang?”

Hero mengangguk mantap. “Kamu harus makan dulu.”

“Tapi aku ingin segera istirahat di rumah,” tawar Laura berusaha menawar.

“Makan dulu, baru kita pulang,” putus Hero tak terbantahkan.

Laura mendesah pasrah. Ia tahu betul keras kepalanya seorang Hero Valdren tidak akan bisa ditandingi. “Baiklah, terserah kamu saja,” sahut Laura akhirnya mengalah.

Hero tersenyum puas melihat kemenangan kecilnya.

Mobil perlahan bergerak meninggalkan kawasan kampus. Dari balik jendela kaca yang gelap, Laura masih bisa melihat beberapa pasang mata mahasiswa yang menatap mobil mereka sampai akhirnya kendaraan itu melaju makin jauh.

Laura memutar tubuhnya kembali menghadap Hero. “Hero.”

“Ya?” sahut pria itu lembut.

“Mulai besok, tolong jangan menjemputku tepat di depan gerbang seperti tadi lagi,” pinta Laura memohon.

Hero mengangkat sebelah alisnya heran. “Memangnya kenapa?”

“Semua orang memperhatikan kita,” keluh Laura pelan. “Itu membuatku canggung.”

Hero justru terkekeh kecil. “Biarkan saja mereka memperhatikan.”

Laura menatapnya tak percaya. “Kenapa kamu santai sekali? Kamu tidak malu?”

“Kenapa aku harus malu?” balas Hero tenang tanpa beban. “Aku hanya sedang menjemput wanita paling penting dalam hidupku.”

Kalimat itu telak membuat Laura bungkam. Kata-katanya tertahan di tenggorokan. Untuk menutupi kecanggungannya yang membuncah, Laura buru-buru mengalihkan pandangannya ke luar kaca mobil. Sementara itu, Hero hanya tersenyum tipis menikmati keterdiaman wanita di sampingnya.

Restoran pilihan Valen rupanya sangat nyaman dan privat. Terletak agak jauh dari hiruk-pikuk pusat kota, tempat itu menyuguhkan suasana tenang dengan pencahayaan yang hangat.

Begitu mereka tiba di dalam ruangan, Hero secara refleks menarikkan kursi untuk Laura sebelum ia sendiri mengambil tempat duduk di seberang meja.

Laura memperhatikan gerak-gerik pria itu, lalu berbisik, “Kamu selalu saja melakukan hal-hal seperti ini.”

“Hal seperti apa maksudmu?” tanya Hero sembari membetulkan posisi duduknya.

“Memperlakukanku seolah-olah aku ini sosok yang sangat istimewa,” jawab Laura polos.

Hero mengulas senyum hangat di bibirnya. “Memangnya kamu bukan orang yang istimewa bagiku?”

Laura tertegun, gagal mencari kata-kata untuk membalas.

Hero kemudian meraih daftar menu dan mengulurkan pada Laura. “Pilih makanan apa saja yang ingin kamu santap hari ini.”

Laura menerima menu tersebut, membolak-balik halamannya, lalu memutuskan untuk memesan hidangan yang cukup sederhana. Hero pun menambahkan pesanan untuk dirinya sendiri.

Selagi menunggu hidangan disajikan, Laura diam-diam mengamati wajah Hero. Guratan lelah di bawah matanya tidak bisa tersembunyi sepenuhnya, menegaskan betapa padatnya aktivitas pria itu seharian ini.

“Kamu kelihatan sangat capek,” celetuk Laura membuka suara.

Hero mengangguk pelan, tidak memungkiri. “Lumayan.”

“Kalau tahu sedang lelah, kenapa kamu masih memaksakan diri untuk menjemputku?” tanya Laura heran.

Hero menatap manik mata Laura cukup lama sebelum akhirnya menyahut halus, “Karena aku ingin melihatmu.”

Jawaban yang terucap begitu jujur itu membuat Laura terdiam membisu.

Hero menambahkan dengan senyum tipis, “Rasa lelah setelah seharian bekerja mendadak hilang begitu saja setelah aku bisa melihat orang yang kucintai.”

Laura refleks menundukkan kepala. Jantungnya berdebar kian kencang di dalam dada. Ia memang belum sanggup membalas ungkapan perasaan Hero secara utuh bayang-bayang trauma masa lalunya belum sepenuhnya purna. Namun, ketulusan dan konsistensi Hero secara perlahan mulai meretakkan dinding pertahanan yang ia bangun rapat-rapat.

Berbeda dari orang-orang di masa lalunya yang datang lalu pergi meninggalkan luka, Hero justru memilih untuk tetap berdiri teguh di sisinya.

Tak lama kemudian, pesanan mereka tiba. Suasana di meja makan menjadi lebih santai. Laura mulai menyantap makanannya, sementara Hero sesekali memperhatikannya dengan tatapan penuh kehangatan.

Laura yang merasa diawasi akhirnya tertawa kecil seraya menahan malu. “Jangan menatapku terus seperti itu, Hero.”

“Aku cuma mau memastikan kamu menghabiskan makananmu,” milih Hero beralasan.

Laura terkekeh manis. “Caramu mengawasiku sudah seperti seorang ibu yang takut anaknya kekurangan gizi.”

Hero langsung menggelengkan kepala tegas. “Aku jelas tidak mau menjadi ibumu.”

“Lalu kamu mau jadi apa?” pancing Laura iseng.

Hero mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, menatap Laura dalam-dalam. “Aku ingin menjadi pria yang selalu berdiri di sampingmu, menggenggam tanganmu selamanya.”

Laura tertegun untuk kesekian kalinya. Kali ini, ia tidak memberikan sanggahan apa pun. Sebuah senyuman kecil justru terukir manis di bibirnya dan Hero menangkap momen langka itu dengan sangat jelas.

Malam telah larut ketika mobil akhirnya kembali merapat di halaman kediaman Hero. Memasuki ruang keluarga yang hangat, Laura meletakkan tas kuliahnya di atas sofa lalu melepaskan napas lega. Hari ini benar-benar menguras tenaganya.

Hero yang berjalan di belakangnya segera mengambil tas tersebut dan memindahkannya ke meja samping dengan rapi. “Duduklah dulu,” ajak Hero lembut.

Laura menurut dan merebahkan tubuhnya di sofa empuk. Hero ikut bergabung, mengambil posisi duduk di sampingnya. Untuk beberapa saat, mereka hanya saling diam, menikmati keheningan yang menenangkan di dalam ruangan itu.

Laura menoleh ke arah Hero. Raut lelah di wajah pria itu kini tampak semakin jelas. “Kamu benar-benar sangat capek, ya?” tanya Laura prihatin.

Hero menganggukkan kepala pelan. “Iya, lumayan berat hari ini.”

melihat hal itu, Laura bergeser sedikit ke samping, memberikan ruang yang lebih lapang di sebelahnya. “Kalau begitu, istirahatlah sebentar di sini.”

Hero menatap Laura ragu sejenak, sebelum akhirnya merebahkan kepala dan menyandarkannya di atas bahu Laura.

Laura sempat terkejut oleh tindakan mendadak itu, tetapi tubuhnya sama sekali tidak menolak. “Hero?” panggilnya lirih.

“Biarkan aku seperti ini sebentar saja,” bisik Hero dengan suara baritonnya yang terdengar parau dan lelah.

Laura akhirnya luluh. Jemari tangannya terangkat perlahan, mengusap dan merapikan helai demi helai rambut Hero yang sedikit berantakan. Gerakan tangannya begitu lembut dan penuh ketenangan.

Hero memejamkan mata, mengulas senyum tipis menikmati sentuhan hangat tersebut.

Laura baru menyadari tindakannya ketika Hero kembali membuka mata dan menatapnya dari bawah. “Kamu menyentuh rambutku,” goda Hero pelan.

Dengan canggung, Laura menarik kembali tangannya. “A-aku cuma merapikannya karena kelihatan berantakan.”

“Aku tahu,” sahut Hero tersenyum, lalu kembali memejamkan mata dan menyandarkan kepalanya di bahu Laura.

Laura menatap lurus ke depan dengan senyuman kecil yang tak mampu ia tahan.

Ia memang belum sanggup mengucapkan kata cinta secara terbuka kepada pria ini. Belum saatnya. Namun untuk pertama kalinya setelah sekian lama tenggelam dalam kesendirian, Laura merasa sangat nyaman membiarkan seseorang hadir mengisi harinya.

Bahkan tanpa ia sadari, kehadiran Hero yang dahulu terasa asing dan mengintimidasi, kini telah berubah menjadi sosok yang selalu ia nanti-nantikan setiap harinya.

Dan malam itu, di dalam keheningan ruang keluarga, Laura akhirnya menyadari satu hal... bahwa hatinya tidak akan selamanya tertutup untuk Hero Valdren.

1
Aquarius97 🕊️
nahkan nahkan .. 🙄
Aquarius97 🕊️
firasatku adikmu bakal iri, dan merebut gaun itu deh Laura 🙄
Mingyu gf😘
Setuju, sependapat
Mingyu gf😘
Iya laura tinggal aja di situ, di pastikan akmu tidak akan terkena tekanan batin
Mingyu gf😘
Bagus segera cari tahu, dan bantu dia balas dendam
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
aku ada kake juga gak pernah tuh segitu nya . yang ada di marahin trus setiap main ke rumah nya . kotor lah ini lah itu lah sampe kepala pusing.🥺
Kartika Candra Buwana
bagus tuh. kudoakan sakinah mawadah marohmah. undangannya kapan author?
Kartika Candra Buwana
wah enak tuh..cukup jadi putri yang cantik jelita pendamping pangeran tampan
Myz Pena
the real wanita independent 👍
Myz Pena
pembaca pun tidak menyangka akhirnya kamu terlepas dari neraka dan jeratan siksaan author 🤧
Prayy: di siksa terus pembaca nanti ngamuk🤣
total 1 replies
Myz Pena
senang dalam hati bila terpenuhi segala keinginan.. pasti serba di manja 🤭
Myz Pena
ternyata udah di jemput sama abang hero 🤭
Putry Chan
menurut mu jika Hero beneran gak serius sama Laura knp dia harus datang sendiri menjemput Laura ! ya karena dia khawatir dia takut orang yang di cintai nya terluka
Putry Chan
Diana aja kaget denger cerita Laura , soalnya Hero terkenal dingin dan gak deket dengan prmepuan udh bisa di pastikan dia suka sama Laura , jadi Diana simpan saja khawatir mu itu.
Putry Chan
jadi klo Laura mau pergi pergi harus minta izin Hero dulu ya pasti Hero khawatir dan juga Hero langsung pergi menjemput Laura
ginevra
masih misterius nih apa yang mendorong Hero bilang begitu
ginevra
kenapa kamu nggak jujur aja kalau kamu udah kenal Laura dari lama?
ginevra
kayaknya Hero udah kenal sama Laura deh, apa pas kecil?
ginevra
iya bingung aku tuh, mendadak banget bang
Arni Arlinawati Pratiwi💃
ya.. setelah apa yang terjadi, emak juga heran sama keluarga mu.. tapi, emak juga masih tanda tanya ini, hero jangan jangan orang yang paling berpengaruh di situ.. tiba tiba gitu bos bapa nya laura, MAMPUS kan lu bapa nya lau!!! emak menghayal.. menghayal.. gak maksud bgerubah alur loh, /Facepalm//Curse/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!