NovelToon NovelToon
Dewa Abadi Season 2

Dewa Abadi Season 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Iblis / Romansa / Fantasi Timur
Popularitas:10.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Kemenangan gemilang dan gunungan harta yang dibawa pulang oleh Zeng Niu dan "Kelompok Perampok Tersenyum" ke Sekte Angin Merah harus dibayar dengan harga yang menentang surga. Kematian tragis Pangeran Pertama, Di Tian, di Lautan Bintang telah menghancurkan kedamaian Alam Abadi.

Kaisar Langit Di Shitian, penguasa Benua Tengah, terbangun dari meditasinya dengan amarah kosmik. Mesin perang terbesar dan paling menakutkan di Alam Abadi pasukan dewa dari Istana Pusat kini digerakkan dengan satu tujuan pasti: meratakan Sekte Angin Merah dan menghapus seluruh Benua Utara dari peta keberadaan.

Saat kebahagiaan sekte berubah menjadi kengerian massal, Zeng Niu tidak memiliki pilihan selain bersiap menghadapi badai kehancuran yang ia tarik sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: Terbukanya Retakan Naga Purba

Hening. Kedai Angin Berdarah yang dibangun di dalam rongga tengkorak naga laut itu seolah membeku oleh hawa musim dingin yang mematikan.

Di lantai tulang yang retak, pengawal tingkat Soul Transformation Tahap Akhir dari Klan Naga Banjir masih menggelepar dengan tulang-tulang yang hancur lebur. Darah biru pekat menggenang di bawah tubuhnya. Tidak ada elemen yang digunakan, tidak ada kilatan pedang yang menyilaukan; hanya tekanan murni dari fisik yang membelah udara dan menundukkan kesombongan.

Di hadapan meja kayu, Ao Kuang, sang Tuan Muda dengan tanduk naga biru di dahinya, gemetar hebat. Api biru kesombongan di matanya telah padam, digantikan oleh kengerian yang membuat lututnya lemas. Sebagai keturunan naga banjir, fisiknya jauh melampaui kultivator manusia di ranah yang sama, namun tekanan yang memancar dari pemuda berjubah hitam di depannya ini... terasa seperti tatapan seekor naga leluhur dari jurang primordial!

"K-Kau... siapa kau sebenarnya?!" suara Ao Kuang bergetar, tanpa sadar mundur selangkah. Sembilan pengawal lainnya yang tersisa bahkan tidak berani mencabut senjata mereka.

Zeng Niu perlahan mengangkat wajahnya dari cawan arak. Mata asuranya menatap lurus ke dalam jiwa Ao Kuang.

"Aku menyuruhmu merangkak keluar. Bukannya bertanya nama," bisik Zeng Niu. Suaranya pelan, namun mengandung Niat Ketiadaan yang langsung menyengat Dantian pemuda naga itu.

Ao Kuang menggertakkan giginya. Harga dirinya sebagai pewaris klan penguasa Laut Abadi Utara meronta.

"Kau berani menghina Klan Naga Banjir?! Ayahku adalah seorang Ascendant Sejati! Tetua agung kami sedang berada di kota ini! Jika kau membunuhku—"

BAM!

Zeng Niu bahkan tidak beranjak dari tempat duduknya. Ia hanya memutar cawan arak di tangannya. Seketika, gravitasi di sekitar Ao Kuang melonjak sepuluh kali lipat. Pemuda naga itu langsung jatuh berlutut, kedua lututnya menghantam lantai tulang hingga retak, memaksanya bersujud di hadapan meja Zeng Niu!

"Satu kalimat ancaman lagi, dan tanduk kadal di kepalamu itu akan kujadikan cangkir arak untuk musim dingin," potong Zeng Niu dingin. "Di mataku, ayahmu atau kakekmu hanyalah tumpukan batu roh yang menunggu untuk diambil. Sekarang, serahkan cincin penyimpananmu sebagai kompensasi karena telah merusak selera makanku."

Wajah Ao Kuang merah padam karena penghinaan yang luar biasa. Bersujud di depan manusia fana! Namun, tekanan kematian di tenggorokannya sangatlah nyata. Dengan tangan gemetar, ia melepas cincin giok biru di jarinya dan meletakkannya di atas meja.

Zeng Niu mengambil cincin itu, memindainya dengan Niat spiritual. Senyum perampoknya seketika mengembang.

Di dalam cincin tersebut, selain jutaan batu roh tingkat menengah, terdapat sebuah sisik naga berwarna perak yang memancarkan pendaran aneh, serta peta kuno yang digambar di atas kulit binatang suci. Ini jelas barang yang disiapkan Klan Naga Banjir untuk menjelajahi Istana Naga!

"Bagus. Setidaknya kadal sepertimu tahu cara membayar pajak kehidupan," Zeng Niu melambaikan tangannya seolah mengusir lalat. "Enyahlah. Dan bawa anjingmu yang patah tulang ini. Darahnya membuat udara di sini bau amis."

Kesembilan pengawal yang tersisa buru-buru memapah rekan mereka yang sekarat dan menarik Tuan Muda mereka keluar dari kedai. Ao Kuang menoleh sesaat sebelum keluar dari pintu, matanya memancarkan kebencian abadi, bersumpah dalam hati akan membawa para tetua klannya untuk mencincang pemuda ini.

Setelah kelompok itu pergi, kedai kembali sunyi. Beberapa kultivator yang bersembunyi di balik meja menelan ludah dengan susah payah, menatap Zeng Niu layaknya melihat reinkarnasi dewa pembantai.

Zhao Ying, yang sedari tadi hanya menyesap teh kelopak esnya, meletakkan cangkirnya dengan anggun.

"Kau kembali membiarkan musuh hidup untuk memanggil lebih banyak musuh," ucap Zhao Ying pelan, suaranya sedingin angin utara. "Klan Naga Banjir sangat menjunjung tinggi harga diri. Mereka pasti akan mengerahkan tetua Ascendant mereka untuk memburumu di dalam retakan dimensi nanti."

Zeng Niu tertawa pelan, memutar sisik naga perak hasil rampasannya. "Di dalam retakan dimensi, tidak ada hukum dan tidak ada saksi, Ying'er. Tetua Ascendant mereka hanyalah seorang yang akan mengantarkan lebih banyak harta ke tanganku."

Zeng Niu menatap ke luar jendela rongga tengkorak itu, memandang langit kelam Kota Puing Naga.

"Tiga hari," gumamnya. "Mari kita lihat, harta macam apa yang disembunyikan sang kaisar naga purba."

Tiga Hari Kemudian — Malam Puncak Fenomena Kosmik

Langit di perbatasan timur Langit Selatan tidak lagi berwarna ungu kegelapan, melainkan merah darah. Dua bayangan bulan purnama berwarna merah pekat muncul secara misterius, saling bersilangan di cakrawala.

Fenomena Bulan Kembar Berdarah telah tiba.

Di pusat Kota Puing Naga, lautan kehampaan yang tadinya seperti cermin pecah, kini mulai berputar hebat membentuk pusaran raksasa. Dari dalam pusaran itu, terdengar raungan naga purba yang mengguncang jiwa. Niat Primordial yang luar biasa pekat menyembur keluar, membuat ruang di sekitarnya menjadi sepadat timah cair.

Ratusan ribu kultivator dari berbagai benua telah berkumpul di sekitar pusaran tersebut. Ada para pengembara tunggal, tetua dari klan-klan besar Langit Selatan, hingga makhluk separuh buas dari Wilayah Beast Suci.

Di salah satu puncak menara tulang, kelompok Klan Naga Banjir berdiri dengan formasi penuh. Di tengah mereka, seorang pria paruh baya dengan jubah emas bersisik memancarkan fluktuasi Ascendant Tahap Awal. Ia adalah salah satu Tetua Pelindung klan. Di sisinya, Ao Kuang menatap lautan manusia dengan mata merah menyala, terus-menerus mencari sosok berjubah hitam yang mempermalukannya tiga hari lalu.

"Tuan Muda, pusatkan pikiranmu pada warisan leluhur. Jika kita bertemu dengan semut manusia itu di dalam, aku sendiri yang akan mencabut urat nadinya," ucap sang Tetua dengan suara berat yang menenangkan gejolak Qi di tubuh Ao Kuang.

Di sudut lain yang lebih gelap, tersembunyi dalam bayang-bayang puing-puing kosmik, puluhan sosok berjubah merah darah berdiri tanpa suara. Mereka tidak memancarkan fluktuasi kehidupan layaknya manusia biasa, melainkan hawa pil yang luar biasa beracun.

Mereka adalah Tiga Puluh Enam Bayangan Pil Berdarah, pasukan pembunuh elite yang dikirim oleh Patriark Yan Zun dari Klan Pil Emas. Pemimpin mereka, seorang pembunuh tingkat Ascendant Awal, menyipitkan matanya yang cekung. Tugas mereka bukan mencari warisan, melainkan memenggal kepala pemuda dari Utara yang berani merusak Dantian Tuan Muda Yan Qi.

Di tengah-tengah lautan kultivator dan intrik pembunuhan itu, dua sosok berdiri dengan santai di atas sebuah batu meteorit yang melayang dekat pusaran.

Zeng Niu menepuk-nepuk debu dari jubah hitamnya. Di tangannya, lempengan tembaga berkarat yang ia beli di acara lelang mulai bersinar dengan cahaya keemasan terang, beresonansi dengan pusaran raksasa di depan mereka.

WUUUUUUNG!

Pusaran merah darah itu tiba-tiba meledak terbuka, menciptakan gerbang cahaya raksasa setinggi puluhan ribu tombak. Gerbang menuju Sisa-sisa Istana Naga telah stabil!

"Gerbangnya terbuka! Masuk!"

Sorak-sorai rakus meledak. Ribuan kultivator langsung melesat seperti kawanan laron menuju gerbang cahaya tersebut.

Namun, warisan dewa purba tidak pernah ramah pada makhluk lemah.

Begitu barisan pertama kultivator Nascent Soul dan beberapa Soul Transformation Awal menyentuh gerbang cahaya tersebut...

BAM! BAM! BAM!

Tubuh mereka meledak menjadi kabut darah! Tekanan primordial dari gerbang itu menghancurkan daging dan Dantian mereka tanpa sisa. Raungan kesakitan menggema, membuat gelombang kultivator di belakang mereka langsung mengerem paksa di udara dengan wajah pucat pasi.

"I-Ini adalah Angin Pemisah Daging!" teriak seorang tetua formasi dari Langit Selatan. "Pintu masuk ini menolak Qi elemen! Hanya mereka yang memiliki fisik setingkat Harta Karun tingkat Surga, atau memiliki garis keturunan binatang suci, yang bisa menembusnya!"

Mendengar itu, klan-klan besar mulai bergerak. Klan Naga Banjir, dengan fisik naga mereka, tertawa meremehkan dan menerobos masuk ke dalam gerbang tanpa sedikit pun terluka. Para pembunuh dari Klan Pil Emas menelan semacam pil penguat tulang, lalu ikut melesat masuk.

Zeng Niu tersenyum tipis. "Menolak Qi elemen dan menguji kekuatan fisik? Kaisar naga purba ini benar-benar tahu cara menyaring tamu."

Zeng Niu menoleh pada Zhao Ying. "Ying'er, fisikmu tidak ditempa untuk menahan tekanan murni. Gunakan es abadi-mu untuk melapisi tubuhmu, biarkan aku yang membuka jalan."

Zhao Ying mengangguk pelan. Roda Bintang 7 di punggungnya berputar samar, menciptakan lapisan gaun es yang menempel sempurna di kulitnya.

Zeng Niu melangkah maju. Saat ia mendekati gerbang cahaya, Angin Pemisah Daging langsung menyambar tubuhnya seperti ribuan pedang tak kasat mata.

ZRAASH!

Namun, bukannya darah yang memancar, suara dentingan logam yang memekakkan telinga terdengar! Tulang Perak Asura-nya yang telah diperkuat oleh Benih Dunia dan Kristal Kekacauan memancarkan cahaya perak bercampur emas. Tekanan primordial itu bahkan tidak mampu menggores satu inci pun dari kulitnya!

Zeng Niu melangkah menembus gerbang itu layaknya sedang berjalan-jalan di taman belakang rumah, sembari menggandeng tangan Zhao Ying yang terlindungi di balik punggungnya. Lempengan tembaga di tangannya bersinar terang, menciptakan lorong aman di tengah badai dimensi.

Para kultivator yang tertahan di luar hanya bisa menatap punggung pemuda itu dengan rahang terjatuh, tak percaya ada manusia dengan fisik sekeras monster primordial.

Di Dalam Istana Naga.

Sensasi akibat teleportasi dimensi dengan cepat menghilang. Zeng Niu dan Zhao Ying mendarat di atas permukaan tanah yang terasa aneh.

Langit di alam rahasia ini berwarna kuning suram. Tidak ada matahari atau bulan, hanya pecahan-pecahan bintang purba yang menggantung redup.

Zeng Niu melihat ke bawah dan menyadari bahwa tanah yang mereka pijak bukanlah tanah berbatu, melainkan sisik raksasa yang membentang bermil-mil jauhnya!

Pegunungan di kejauhan bukanlah gunung es atau batu kapur, melainkan tulang rusuk melengkung yang ukurannya menembus awan. Sungai yang mengalir memancarkan cahaya merah keemasan, berisi darah naga yang telah kehilangan esensinya namun masih mematikan bagi kultivator fana.

Mereka berada di dalam, atau mungkin di atas mayat seekor Naga Primal yang ukurannya menyamai sebuah benua kecil!

"Luar biasa," gumam Zeng Niu, insting algojonya mendidih kegirangan. "Bahkan mayatnya saja cukup untuk dijadikan sebuah dunia. Tidak heran kaisar bodoh dari Istana Pusat sangat sombong; alam semesta ini memang menyembunyikan fondasi yang gila."

Zhao Ying mengerutkan kening, matanya menatap tajam ke arah hutan pilar batu di sebelah kanan mereka.

"Kita tidak sendirian. Mereka yang masuk lebih dulu sepertinya sudah menunggu," bisik Zhao Ying, es abadi mulai memadat di telapak tangannya.

Zeng Niu tertawa pelan. Matanya yang tajam menatap ke arah bayangan pilar-pilar batu tersebut. Fluktuasi Niat Membunuh yang sangat familier tercium oleh indranya. Hawa obat beracun dan kebencian alkemis.

"Ah, harta yang diantarkan langsung," Zeng Niu menyeringai, mematahkan lehernya hingga berbunyi krak. "Klan Pil Emas... aku sudah menunggu kalian."

1
Abidin Ariawan
kalo dari Utara semut ,, lha putra mu apa🤣,, mosok gajah. udah pikun
yos helmi
💪💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
😄😄😄😄😄
yos helmi
🤭🤭🤭🤭🤭
saniscara_Patriawuha
hancurrrrkannnn sudahhhhhhh...
saniscara_Patriawuha
serapppppppp semuaaaaa.....
saniscara_Patriawuha
gassssdddd keunnnnnnn deuiiiiii...
Rhaka Kelana
harusnya sungkem atau cium tangan sama bapak mertua bukan malah ngajak gelut...ajak ngopi bareng...kena sentil kan..🤣🤣🤣🤣
Rinaldi Sigar
lanjut
yos helmi
🙏🙏🙏🙏🙏🙏
yos helmi
👍👍👍👍👍👍
yos helmi
😍😍😍😍😍😍
yos helmi
💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
😄😄😄😄😄
Rinaldi Sigar
lanjut
yos helmi
🤭🤭🤭🤭🤭🤭
saniscara_Patriawuha
lumayannnnm lahhhh...
yos helmi
🙏🙏🙏🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!